Proudly powered by WordPress | Theme: Adaption by Automattic.
Sahabat keluarga Indonesia Berbekal ilmu, iman dan amal shalih membangun peradaban mulia
Pengikut
Cari Blog Ini
Pengikut
Senin, 17 Agustus 2015
Jurnal budaya semarang
E-JURNAL ELSAONLINE
Posted on February 26, 2015 Sosial
Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Tradisi Dugderan
Oleh: Muhamad Zainal Mawahib
Pendahuluan
Perkembangan peradaban yang dikenal sebagai era globalisasi di dunia ini semakin menunjukkan eksistensinya sebagai peradaban yang selalu berkembang. Dampak dari perkembangan era yang serba digital ini sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Ia datang kepada manusia untuk memudahkan manusia dalam segala aktifitasnya. Bahkan imbas dari peradaban tersebut masuk ke dalam kebudayaan, termasuk ke dalam budaya-budaya bangsa Indonesia.
Masuknya era globalisasi ke dalam kebudayaan manusia menganggap bahwa sebagian kebudayaan tersebut ketinggalan zaman. Walaupun masih ada sebagian masyarakat yang mentradisikan kebudayaan tersebut. Akan tetapi sebagian masyarakat sebagai pelestari kebudayaan lambat laun mulai meninggalkan kebudayaan yang diciptakan oleh nenek moyang. Bahkan muncul anggapan kebudayaan yang baru dipercaya sebagai kebudayaan yang modern.
Sejatinya apabila ditelusuri kebudayaan merupakan refleksi dari nilai-nilai, pandangan, kebutuhan, keyakinan dan gagasan yang secara integratif diyakini oleh kemunitas pendukungnya. Kebudayaan ini juga dapat dinyatakan sebagai jati diri sebuah masyarakat.[1] Karena kebudayaan itu sendiri adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Diartikan juga sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.[2] Oleh karena itu, betapa pentingnya kedudukannya dalam kehidupan masyarakat, maka perlu adanya pernyataan dan sosialisasi dan proses pewarisan pada generasinya berikutnya.
Seluruh total dari kelakuan manusia yang berpola, tentu bisa kita perinci menurut fungsi-fungsi khasnya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia dalam masyarakatnya. Suatu sistem aktivitas khas dari kelakukan berpola, beserta sistem norma dan tata kelakukannya, serta peralatannya. Ditambah dengan manusia sebagai personal yang melakukan kebudayaan tersebut. totalitas tersebut yang merupakan pranata kebudayaan.[3] Sehingga seluruh komponten tersebut menjadi sebuah satu kesatuan yang membentuk kebudayaan.
Warak Ngendok merupakan salah satu unsur utama dari tradisi Dugderan yang ada di kota Semarang. Tradisi Dugderan ini dilakukan setiap menjelang wulan poso (bulan Ramadlan). Di mana tradisi Dugderan tidak lain merupakan warisan sejarah dan budaya masyarakat Semarang. Keberadaan Warak Ngendok sebagai simbol dalam ritual Dugderan ini mampu bertahan hingga sekarang ini di tengah perubahan sosial-kultur masyarakat. Bahkan Warak Ngendok menjadi maskot masyarakat Semarang.[4] Hal itu karena dukungan secara signifikan dari masyarakat pendukungnya, termasuk pemerintah kota.
Berangkat dari latar belakang di atas, maka makalah ini akan mengkaji tentang bentuk Warak Ngendok yang merupakan simbol dalam tradisi Dugderan yang dilakukan oleh masyarakat Semarang setiap menjelang bulan Ramadlan. Sehingga dalam artikel ini ingin mengurai tentang mengapa masyarakat Semarang menyelenggarakan tradisi Dugderan dan menampilkan Warak Ngendok setiap menjelang bulan Ramadlan? Bagaimana bentuk akulturasi Warak Ngendok dalam tradisi Dugderan? Serta apa nilai-nilai yang terkandung dalam Warak Ngendok?. Dengan demikian kita akan melihat secara komprehenshif dari sebuah simbol Warak Ngendok dalam tradisi Dugderan yang ada di Kota Semarang.
Sosio-kultur Masyarakat Kota Semarang
Masyarakat yang ada di Kota Semarang[5] termasuk masyarakat yang religius. Di mana setiap individu memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing. Hal ini tidak lepas dari sejarah kota Semarang yang merupakan salah satu kota yang menjadi obyek persinggahan dan penyebaran agama, terutama agama Islam yang mayoritas penduduk kota Semarang beragama Islam.[6]
Dalam catatan, sejarah Kota Semarang ini didirikan oleh seorang pemuda bernama Ki Pandan Arang pada tahun 1476 M. Ki Pandan Arang inilah dalam msyarakat Semarang disebut sebagai pendiri Kota Semarang dan sekaligus menjadi bupati[7] Semarang yang pertama.[8] Ki Pandan Arang diberikan izin dari Kesultanan Demak untuk membuka wilayah yang berada di sebelah barat Demak, yang belakang hari disebut Semarang.[9] Sehingga inilah yang menjadikan mayoritas masyarakat Kota Semarang beragama Islam. Selain agama Islam, penduduk kota Semarang juga mengakut agama lain seperti Katholik, Kristen, Buddha, Hindu, Konghucu dan lain-lain.
Dalam kehidupan beragama, masyarakat Semarang juga memiliki ritual-ritual khas keagamaan yang dilaksanakan sebagai tradisi masyarakat. Selain ritual ibadah yang telah diwajibkan agama masing-masing. Ritual tersebut yang mentradisi dilakukan secara kolektif oleh masyarakat secara turun-menurun dengan tata cara tertentu. Dalam proses tersebut terjadi akulturasi antara nilai-nilai agama yang dianut dengan budaya etnik tertentu, bahkan ada yang merupakan akulturasi multikultural. Terlebih dalam sejarahnya Semarang menjadi kota banyak disinggahi dari berbagai etnis pendatang dari berbagai negara.
Keberagaman etnis ini tergambar dengan adanya pemukiman seperti wilayah Pacinan dan Pedamaran. Wilayah ini sekarang berada di sekita jalan Gang Pinggir sampai jalan Mataram. Pemukiman ini didirikan oleh pendatang dari daratan Cina pada masa Laksamana Chen Ho. Kemudian ada pemukiman orang-orang muslim melayu yang mendirikan pemukiman di kawasan Kampung Darat dan Kampung Melayu. Demikian juga orang muslim Arab, India, Pakistan dan Persia yang datang mendirikan pemukiman di wilayah Pakojan. Kawasan ini di sekitar jalan Kauman, jalan Wahid Hasyim sampai jalan Petek di Semarang Bagian Utara.[10]
Keberagaman penduduk tersebut juga membuat keberagaman kebudayaan. Setiap warga Semarang mempunyai kebudayaannya sendiri-sendiri berdasarkan negara asalnya. Namun seiring berjalannya zaman terjadi sebuah pembauran secara kultur. Seolah tidak ada batas antara kelompok masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Sehingga jadi sebuah masyarakat yang multikultul dan multietnis.
Keberadaan Semarang yang termasuk dalam wilayah budaya Jawa pesisiran menjadikan tempat pergumulan budaya lokal dengan berbagai ragam etnis berhasil menghasilkan mozaik budaya lokal yang plural. Tampak pada aktivitas kultur upacara atau tradisi yang berkembang. Karakter masyarakat pesisir yang bersemangat kerakyatan, terbuka, apa adanya dan religius diimplementasikan dalam bentuk tradisi, seminal sedekah laut di kampung nelayan Tambak Lorok dan Bandarjo.[11]
Dalam hal tradisi keagamaan yang masih diselenggarakan oleh pendudukan muslim Semarang misalnya tradisi selamatan atas syukuran, Yasinan, Tahlilan, Khataman, Manaqiban, Berzanzii, Takbiran dan Dugderan. Selain tradisi keagamaan umat Islam, di Kota Semarang juga memiliki tradisi ritual yang dikembangkan oleh warga umat yang lain. terutama dari etnik Tionghua. Semenjak berakhirnya orde baru, tradisi-tradisi budaya maupun ritual warga Tionghua kembali semarak hingga sekarang ini. Tradisi tersebut seperti arak-arakan Dewa Bumi, perayaan Imlek, arak-arakan Sam Po Kong dan larung sesaji untuk Dewa Samudra.[12]
Tradisi yang banyak menarik masyarakat Semarang dan diselenggarakan setiap tahun adalah perayaan ritual Dugderan. Dugderan ini dilakukan setiap menjelang bulan Ramadlan. Sebagai maskot dalam perayaan tradisi tersebut dihadirkan sebuah binatang khayalan yang disebut dengan Warak Ngendok yang merupakan simbol harmonisasi kehidupan budaya yang membentuk kesatuan identitas bersama dalam realitas budaya yang beragam.
Tradisi Dugderan Menjalang Ramadhan
Setiap menjelang datangnya bulan Suci Ramadlan, masyarakat Kota Semarang mengenal tradisi Dugderan. Sebuah pasar malam yang berlangsung meriah dan seru dilakukan hingga sekarang ini dengan berbagai macam perkembangannya. Tradisi ini sudah mulai berlangsung sejak zaman pemerintahan Bupati Kyai Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purbaningrat.
Pada tahun 1881 M, di Kota Semarang pada masa Bupati KRMT Purbaningrat, berkembanglah serbuah tradisi berupa arak-arakan menyambut datangnya bulan Ramadlan atau bulan Puasa. Masyarakat Kota Semarang menyebutkanya dengan istilah Dugderan. Setelah sesaat umat Islam melaksanakan shalat Ashar, tepat sehari menjelang bulan Ramadlan, dipukullah bedug Masjid Besar Kauman disusul dengan penyulutan meriam di halaman pendapa kabupaten di Kanjengan. Begud mengeluarkan bunyi “dug” dan meriam mengeluarkan bunyi “der” yang berkali-kali pada akhirnya digabungkan menjadi istilah Dugderan.[13]
Mendengar suara Dug dan Der yang keras dari sekitar alun-alun pusat kota, masyarakat pun berbondong-bondong datang untuk menyaksikan apa yang terjadi. Masyarakat pun berkumpul di alun-alun di depan masjid, keluarlah Kanjeng Bupati dan Imam Masjid Besar memberikan sambutan dan pengumuman. Pada saat itu yang menjadi Imam Masjid Besar Kauman adalah Kyai Tafsir Anom.[14] Salah satu isinya adalah informasi yang pasti tentang penentuan awal bulan puasa bagi masyarakat pelosok dan golongan. Selain itu ada pula ajakan untuk selalu meningkatkan tali silaturrahim atau persatuan dan ajakan untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah. Tradisi ini pun berjalan berulang-ulang, dari tahun ke tahun dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Semarang.
Bupati RMT Purbaningrat mempunyai tujuan luhur dibalik tradisi baru tersebut. semuanya didasari keprihatinan terhadap kedamaian masyarakat Semarang yang dibangun selama ini. Ketika datang penjajah dari Belanda, ternyata ada gerakan pecah belah yang merusak tatanan masyarakat saat itu. Pembauran masyarakat dari berbagai suku, agama dan golongan, ternyata menjadikan persaingan tidak sehat dengan alasan yang dihembuskan oleh pihak penjajah. Warga Belanda mengemlompok di perkampungan Belanda di wilayah Semarang atas, warga Cina di daerah Pacinan, warga Arab di daerah Pakojan, warta perantauan luar Jawa mengelompok di kampung Melayu dan masyarakat pribumi Jawa menamakan wilayahnya dengan kampung Jawa. Ketegangan tersebut diperparah dengan perbedaan di kalangan umat Islam sendiri dalam menentukan awal bulan puasa yang berujung pada perbedaan hari-hari besar Islam lainnya. Dengan keberanian dan kecerdasan Bupati melakukan usaha untuk memadukan berbagai perbedaan, termasuk salah satunya untuk menyatukan perbedaan penentuan awal bulan Ramadlan. Usaha Bupati ini sangat didukung dari kalangan ulama yang berada di Kota Semarang. Salah satunya yang banyak berperan adalah Kyai Saleh Darat.
Selain itu, tujuan dari diciptakannya tradisi Dugderan tersebut untuk mengumpulkan lapisan masyarakat dalam suasana suka cita untu bersatu, berbaur dan bertegur sapa tanpa pembedaan. Selain itu dapat dipastikan pula awal bulan Ramadlan secara tegas dan serentak untuk semua paham agama Islam berdasarkan kesepakatan Bupati dengan imam Masjid. Sehingga terlihat semangat pemersatu dangat terasa dalam tradisi yang diciptakan tersebut.[15]
Dalam sejarah, Dugderan pertama kali dilaksanakan di Masjid Kauman, Bupati Semarang selaku umara datang ke Masjid Besar Kauman untuk bersama-sama ulama menyampaikan hasil keputusan tantang awal puasa. Dari peristiwa tersebut dapat dipahami bahwa Dugderan merupakan ritual keaagamaan dan masjid merupakan pusat perkumpulan umat.
Prosesi tradisi Dugderan terdiri dari tiga agenda yakni pasar (malam) Dugder, prosesi ritual pengumuman awal puasa dan kirab budaya Warak Ngendok. Tiga agenda tersebut yang sekarang menjadi satu kesatuan dalam tradisi Dugderan. Tradisi hingga sekarang masih terus dilestarikan dan dilakukan dengan segala dinamika dan perkembangannya.
Pasar Dugderan dilakukan selam satu bulan penuh mulai siang sampai malam dan dipusatkan di Pasar Johar atau sekitar Masjid Besar Kauman. Menariknya pasar Dugderan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat pada malam hari untuk menikmati pasar malam. Setelah diadakan pasar malam selama satu bulan penuh kemudian dilanjutkan dengan prosesi ritual pengumumann awal bulan Ramadlan dan kirab Dugderan.
Proses ritual diawali dengan persiapan peserta arak-arakan Dugderan dan pentas Warak Ngendok serta tari Semarangan di Balaikota. Rombongan yang dipimpin oleh Walikota Semarang yang memerankan Bupati Semarang mulai berangkat dari Balaikota menuju Masjid Besar Kauman sekitar pukul 14.00 WIB dengan rute melewati jalan Pemuda. Rombongan Bupati Semarang dikawal oleh prajurti patang puluh dan arak-arakan Warak Ngendok. Sementara itu di serambi Masjid Besar Kauman telah berkumpul puluhan ulama dan habaib termuka di Semarang. Para ulama dan habaib membahas tentang awal bulan puasa dari berbagai dasar ilmu perhitungan. Musyawarah dipimpin oleh ulama tertua Masjid Besar Kauman. Setelah diambil keputusan bahwa puasa dimulai pada besok hari, maka dibuatlah surat keputusan ualama pada selembar kertas.[16]
Tidak lama kemudian, rombongan Bupati dan hadir pul Gubernur Jawa Tengah yang memerankan pemimpin Kesultanan Mataram atasan dari Bupati Semarang. Para ulama menyambut kedatangan para umara dengan suka cita di pelataran masjid. Setelah itu diteruskan dengan ramah tamah dan penyampaikan keputusan ulama tentang awal bulan puasa di serambi masjid. Dalam hal ini Bupati mengikuti keputusan para ulama dan sebagai pengukuhan atas keputusan ulama, Bupati berdiri dan membacakan teks surat keputusan ulama dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadlan. Setelah Bupati selesai membakan surat keputusan, Bupati memukul Bedug Masjid Besar Kauman disaksikan segenap undangan. Bunyi meriam berdentuman dari kawasan Kanjengan seusai tabuhan bunyi gedug. Suasana semakin meriah dengan datangnya arak-arakan Warak Ngendog dan rombongan lainnya.[17]
Pada awalnya, pada saat Bupati membacakan surat keputusan suasana menjadi hehing dan penuh perhatian. Seusai membacakan naskah kemudian Bupati memukul Bedug dan pada saat itu juga disulut meriam sehingga masyarakat merasa gembira dan senang. Dalam suasana bingarnya meriam dan bedug, dikeluarkan sebuah karya fenomenal dan menarik perhatian yang berupa seekor binatang khayal yang selanjutnya disebut dengan Warak Ngendok. Hadirnya Warak Ngendok dalam tradisi tersebut sebagai seekor binatang khayalan yang dapat menarik perhatian masyarakat sekitar. Hingga kemudian disebut dengan Warak Ngendok sebagai simbol tradisi Dugderan yang diadakan setiap menjelang bulan Ramadlan.
Perkembangan selanjutnya tradisi ini tidak lagi menggunakan meriam sebagai penggantinya digunakankanlah bom udara dan sekarang sirene untuk menandai dimulainya tradisi Dugderan. Saat ini, tradisi ini sudah berkembang lebih semarak ditandai dengan datangnya para pedagang “tiban” yang menjajakan aneka permainan anak, makanan dan banyak lagi yang lain. Kondisi demikian memberikan warna baru terhadap trasidi Dugderan.[18]
Warak Ngendok sebagai Simbol dalam Tradisi Dugderan
Menurut penuturan sejarawan Semarang, Amen Budiman dan Djawahir Muhammad, tidak pernah bisa menyebutkan siapa pembuat Warak Ngendok karena tidak pernah ada dalam catatan sejarah.[19] Akan tetapi seperti halnya dengan sejarah Dugderan, Warak Ngendok diyakini juga sebagai kreasi dari Kyai Saleh Darat dan Bupati KRMT Purbaningrat, bisa sebagai kreasi perorangan di antara mereka atau kolaborasi keduanya. Menurut Supramono, bahwa ide Warak Ngendok berkaitan dengan tradisi Dugderan menyambut bulan Ramadlan tidak lain untuk memeriahkan acara sesuai ritual musyawarah dan pembacaan pengumuman awal puasa perlu dipukul bedug dan disulut meriam sebagai simbol pemersatu antara ulama dengan pemerintahan.
Dalam pembacaan pengumuman, tidak semua lapisan masyarakat sekitar Semarang menyaksikan dan mendengar suara bedug dan meriam. Sehingga diperlukan ikon yang menarik perhatian dan fungsinya setara dengan pengumuman awal puasa. Sesuatu yang menarik adalah bentuk binatang yang belum pernah dilihat muncullah Warak Ngendok. Warak Ngendok ini kepalanya berbentuk rakus dan menakutkan, badan, leher, kaki dan ekor ditutup dengan bulu yang tersusun terbalik.
Pada tahun 1881 an, Warak Ngendok terbuat dari bahan-bahan yang sangat sederhana seperti kayu, bambu dan sabut kelapa. Namun pada sekarang ini, bahan-bahan yang digunakan adalah kayu, kertas minyak ditambah berbagai ornamen dari kertas karton, gabus dan sebagainya. Dalam perkembangannya ditemukan tiga kelompok Warak Ngendok berdasarkan bentuknya,[20] yaitu:
1. Warak Ngendok Klasik, Warak Ngendok yang masi menampilkan unsur dan struktur asli serta diciptakan turun-menurun dalam wujud sama. Kepala terdiri dari bagian mulut bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak atau tanduk, jenggot yang panjang lebat. Badan, leher dan keempat kakinya ditutup bulu yang terbalik dengan warna berselang-seling merah, kuning, putih, hijau dan biru. Terdapat ekor panjang, kaku melengkung berbulu serupa badan dan terdapat surai di ujungnya. Bentuk telur atau endhok terletak di antara dua kakai belakangnya.
2. Warak Ngendok Modifikasi, secara umum sama dengan Warak Ngendok Klasik. Perbedaannya hanya dibagian kepala yang mirip dengan kepala naga. Ada kesamaan bentuk naga Cina atau naga Jawa. Mocong yang mirip buaya dengan deretan gigi tajam, lidah bercabang menjulur, mata melotot, berkumis dan berjanggut, bertanduk kecil bercabang seperti rusa, kulit bersisik, bersurai di bagian belakang kepala. Naga Jawa biasanya memakai mahkota di atas kepalanya.
3. Warak Ngendok Kontemporer, secara struktur sama dengan Warak Ngendok Klasik, namun detail-detail kepala dan bulu tidak sesuai. Misalnya kepalanya seperti harimau, bulunya tidak terbalik, tidak berbulu tapi bersisik dan sebagainya.
Ada ragam pendapat mengenai binatang Warak ini. Ada yang berpendapat bahwa binatang Warak ini merupakan perwujudan dari binatang sakti dalam kebudayaan Islam. Ada pula yang mengatakan, karena kota Semarang merupakan kota pelabuhan maka, tidak mustahil terjadi pembauran kebudayaan berbagai bangsa pendatang, di mana Warak ini menyerupai binatang dalam mitos kebudayaan Cina.[21]
Perbedaan pandangan tentang binatang yang disebut Warak ini diakui oleh Supramono dalam penelitiannya. Supramono mengatakan bahwa ada anggapan bahwa Warak ini berasal dari perpaduan beberapa simbol budaya. Binatang itu berkepala Kilin sebagai binatang paling berkuasan dan berpengaruh di Cina dengan badan Buroq sebagai binatang Nabi Muhammad saat Isra’ Mi’raj. Ada juga yang berpendapat bahwa Warak berkepala naga, binatang simbol milik orang cina dengan badan kaming, binatang yang banyak dimiliki orang pribumi Jawa dan sering digunakan untuk berkorban saat Idul Adha.
Selain itu juga ada pendapat yang mengatakan bahwa Warak merupakan hadiah dari warga Cina agar digunakan untuk memeriahkan tradisi ritual Dugderan sebagai bukti ketulusan mereka untuk bersatu dan berdamai guna menebus kesalahannya waktu membakar masjid besar saat pemberontakan warga Pecinan dulu. Namun pendapat tersebut sangat lemah dasarnya, karena hanya mengacu pada pembentukan kepala Kilin atau naga pada Warak Ngendok. Sementara dari unsur nama, bentuk keseluruhan dan makna karya lebih dominan pengaruh kebudayaan Jawa dan Islam.[22]
Sebagaimana yang dikutip dalam buku Semarang Tempo Doeloe menyebutkan bahwa Legirah, seorang pembuat Warak Ngendok dari Kampung Purwodinatan Semarang, tidak mengetahui Warak itu binatang apa, dia hanya bisa membuat. Dia menuturkan bahwa dia juga berpikir terus kenapa binatang kakinya empat dan punya daun telinga tapi bisa memiliki telur.[23]
Belum lama ini, ada warga Trimulyo Genuk, H Kholid yang mengaku mempunyai sanad kesaksian atas sejarah awal mula Warak Ngendok dan tradisi Dugderan. Dia mengau bahwa Warak Ngendok diciptakan oleh Kyai Abdul Hadi seoarang seniman, mantan tukang kau dan pandai mendalang dan membuat patung hewan yang sampai sekarang dikenal dengan Warak Ngendok. Menurutnya Kyai Abdul Hadi merangkai kayu dan rumput menjadi hewan sebagai simbol nafsu manusia, yaitu bersisik, mulutnya menganga dengan gigi bertaring, serta bermuka seram dengan badan seperti kambing. Itu gambaran nafsu yang harus dikalahkan dengan puasa. Maskot yang dilengkapi dengan telur (endhok) ini maksudnya apabila seseorang bisa bersikap wirai atau warak yang artinya menjaga nafsunya, maka akan mendapatkan ganjaran yang disimbolkan dengan telur atau endhok.[24] Meskipun demikian, keragaman budaya multietnik sampai dalam keutuhan karya yang disebut dengan Warak Ngendok.
Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi Budaya
Sebagai maskot kota Semarang, Warak Ngendok merupakan hasil dari sebuah karya seni rupa juga memiliki keindahan secara intrinsik maupun ekstrinsik yang sangat kompleks dan integratif. Warak Ngendok dapat memiliki keindahan secara formalistik, kontekstual, simbolik, dan ekspresionistik. Secara formalistik bahwa tampilan kombinasi antar garis, bentuk, warna, tekstur yang didapatkan dari bahan untuk diolah dengan alat dan teknik kreatornya pada akhirnya telah menghasilkan satu kesatuan bentuk Warak Ngendok yang indah. Penggunaan kertas berwarna-warni, ukuran antar badan dan anggota badan, kepala yang penggarapannya menunjukkan kesan irama, perbandingan, dan pusat perhatian.
Apabila di dari aspek waktu pelaksanaan kirab Warak Ngendok maka keindahannya bersifat kontekstual karena penanda awal bulan puasa yang unik dan khas di Semarang. Dari aspek keindahan simboliknya, kepala dan leher yang bewarna merah merupakan hewan yang rakus dan berangas sebagai simbol nafsu manusia.
Sedangkan dari aspek tingkat ekspresinya, secara deskriptif kepala, leher, kaki, dan badan Warak Ngendok secara dominan memiliki struktur sudut-sudut bentuk dan garis yang lurus, tegas dan kaku. Berbagai konfigurasi unsur-unsur rupa pembentuk raut muka juga telah berhasil memunculkan karakter hewan yang berangas, menakutkan, dan rakus.
Hal ini berbeda manakala dilihat dari sejarah awal kemunculannya maka sesungguhnya, Warak Ngendok bukanlah dimaksudkan sebagai simbol akulturasi budaya Cina, Jawa, dan Arab. Ia hanyalah sebuah binatang rekaan hasil rekayasa ulama pada masa itu yang ditujukan sebagai sarana penanaman nilai-nilai keislaman kepada masyarakat untuk bersemangat dan senang menyambut datangannya bulan suci Ramadlan. Semangat seperti ini yang digambarkan oleh Clifford Geertz melahirkan sebuah kebudayaan sebagai pedoman dan strategi adaptasi dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidup dengan menyesuaikan dan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar.[25]
Sebagai sebuah tradisi budaya ketika sudah menjadi milik dan ekspresi suatu kelompok masyarakat maka akan mengalami perkembangan dan bahkan perubahan baik bentuk maupun pemaknaannya. Dengan didukung kondisi Kota Semarang sebagai kawasan pesisiran maka relatif terbuka dan terpengaruh dari luar dalam dinamika kehidupan masyarakat dan budayanya yang bersifat multietnis dan multikultur. Akhirnya, Warak Ngendok dipersepsikan, ditafsirkan, oleh masyarakatnya sebagai simbol akulturasi budaya karena adanya keinginan atau kebutuhan semua warga masyarakat Semarang yang terdiri atas etnis Jawa, Arab, dan Cina agar beridentitas dan berintegrasi secara budaya.
Meskipun Warak Ngendok ini merupakan hasil ekspresi dari seseorang. Namun sejarah kemunculannya itu sebagai bentuk perayaan menyambut datangnya bulanya Ramadlan. Sehingga berangkat dari sejarah terebut, tentuk makna dan nilai yang ingin disampaikan tidak lepas dari spirit agama Islam untuk mengajak masyarakat Semarang yang beragama Islam menyambut bulan puasa.
Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa, kata Warak mendekati kata bahasa Arab wara’ berarti menghindari yang dilarang oleh Allah Swt. Dari ungkapan bentuk kepala Warak (yang asli) dengan kepala mendongak ke atas mulut membuka lebar sehingga terlihat ada gigi- gigi taring menyimbolkan sifat manusia yang suka makan dan sifat rakus, buas, serta amarah pada manusia. Bentuk leher hingga kepala yang dibalut dengan bulu berwarna merah menyimbolkan watak jelek, negatif, atau angkara murka manusia. Sifat-sifat negatif manusia harus dihilangkan melalui laku puasa melalui simbolisasi bulu keriting seperti bulu pitik walik. Sebaiknya manusia membalik (mengembalikan) sifat atau nafsu jelek manusia menjadi baik kembali melalui kegiatan berpuasa dengan harapan fitrah kembali yang dilambangkan (endhog). Telur adalah simbol kesucian layaknya janin yang ada dalam kandungan yang masih suci dari segala dosa.[26]
Pesan budaya yang terkandung pada Warak Ngendog itu, setidaknya sesuai memiliki nilai, pertama, egaliter, yaitu bersifat kerakyatan tidak memperhatikan hal-hal yang formalitas dan kedudukan. Kedua, religiusitas tercermin pada kirab Warak Ngendok yang merupakan ritual keagamaan menyambut bulan Ramadan. Ketiga, spontanitas, yaitu kehadiran Warak Ngendog merupakan ekspresi keindahan, dan kegembiraan yang lebih bersifat spontan bagi masyarakat Semarang. Keempat, kejawen, yaitu bagi orang Jawa memiliki makna bahwa dalam menyambut datangnya bulan Ramadlan melakukan kegiatan seprti tradisi “Nyadran”.
Berangkat dari penjelasan di atas, maka model empirik realitas ynag disebut dengan nama Warak Ngendok sebagai simbol akulturasi budaya untuk dijadikan sebagai sebuah model strategi untuk membangun integrasi budaya dalam masyarakat multikultur. Dalam peristiwa ritual Dugderan, ada tiga pihak yang secara aktif berperan di dalamnya secara sinergis tradiri Dugderan, yaitu Ulama, Pemerintah dan masyarakat.
Dalam konteks ini, peran ulama sebagai pihak yang memberikan rujukan atau legalitas kepada pemerintah dan masyarakat dalam menentukan awal puasa di bulan Ramadlan. Sedangkan pemerintah selaku penguasa memiliki kewenangan mengatur apa dan bagaimana berjalannya prosesi ritual tersebut. Khususnya dalam hal menentukan awal puasa berdasarkan keputusan sidang para ulama dan menjadikan Warak Ngendok sebagai maskot di dalamnya. Masyarakat selain berperan sebagai pelaku dalam prosesi ritual Dugderan dan pembuat maskot Warak Ngendok, juga beperan sebagai subjek sasaran untuk menikmati sajian ritual Dugderan dan subjek sasaran untuk menerima pengumuman dari pemerintah. Warak Ngendok yang diciptakan dan dikembangkan oleh warga masyarakat kemudian diangkat oleh pemerintah sebagai maskot dalam prosesi tradisi ritual Dugderan.
Seiring perkembangan waktu, kehadiran Warak Ngendok dengan perannya sebagai maskot ritual Dugderan, oleh masyarakat luas dimaknai sebagai simbol akulturasi budaya atas dasar pertimbangan karena keseluruhan perupaannya merepresentasikan simbol budaya tiga etnis warga yang merupakan mayoritas masyarakat Kota Semarang, khususnya di bagian Semarang bagian Utara, yaitu etnis Jawa yang disimbolkan melalui perupaan badan kambing, etnis Arab yang disimbolkan melalui perupaan leher unta dan etnis Cina disimbolkan smelalui perupaan kepala naga.[27]
Dengan demikian interaksi tiga pihak yang berperan dalam peristiwa ritual Dugderan yang kemudian memunculkan penciptaan maskot Warak Ngendok dengan pemberian maknanya sebagai simbol akulturasi budaya bernilai estetik dan edukatif Islami itu, sesungguhnya bermuara pada terciptanya entitas budaya baru milik bersama yang dapat mempersatukan identitas budaya warga masyarakat yang bersifat multikultur. Dengan demikian sebagai simbol budaya akulturasi budaya, Warak Ngendok dapat berfungsi sebagai sarana untuk membangun integrasi budaya masyarakat Kota Semarang secara keseluruhan keseluruhan,yakni warga masyarakat pada umumnya, pemerintah dan ulama.
Epilog
Prosesi tradisi Dugderan merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Kota Semarang. Tradisi ini mulai dilakukan sejak tahun 1881 M di Masjid Besar Kauaman Semarang. Dalam tradisini ini terdiri dari tiga agenda yakni pasar (malam) Dugder, prosesi ritual pengumuman awal puasa dan kirab budaya Warak Ngendok. Tiga agenda tersebut yang sekarang menjadi satu kesatuan dalam tradisi Dugderan. Tradisi hingga sekarang masih terus dilestarikan dan dilakukan dengan segala dinamika dan perkembangannya.
Dalam ritual pengumaman awal bulan Ramadlan bertujuan untuk membertahukan kepada seluruh masyarakat Semarang mengenai penetapan awal puasa. Selain itu, sebagai sarana untuk berkumpulnya masyarakat Semarang yang multientis dalam suasana yang menyenangkan. Berkumpul menjadi satu tanpa memandang perbedaan. Suasana semakin membaur dengan hadirnya binatang khayalan yang dinamakan Warak Ngendok.
Melihat sejarah awal kemunculannya maka sesungguhnya, Warak Ngendok bukanlah dimaksudkan sebagai simbol akulturasi budaya Cina, Jawa, dan Arab. Ia hanyalah sebuah binatang rekaan hasil rekayasa ulama pada masa itu yang ditujukan sebagai sarana penanaman nilai-nilai keislaman kepada masyarakat untuk bersemangat dan senang menyambut datangannya bulan suci Ramadlan.
Walaupun demikian sebagai sebuah tradisi budaya ketika sudah menjadi milik dan ekspresi suatu kelompok masyarakat maka akan mengalami perkembangan dan bahkan perubahan baik bentuk maupun pemaknaannya. Dengan didukung kondisi Kota Semarang sebagai kawasan pesisiran maka relatif terbuka dan terpengaruh dari luar dalam dinamika kehidupan masyarakat dan budayanya yang bersifat multietnis dan multikultur. Akhirnya, Warak Ngendok dipersepsikan, ditafsirkan, oleh masyarakatnya sebagai simbol akulturasi budaya karena adanya keinginan atau kebutuhan semua warga masyarakat Semarang yang terdiri atas etnis Jawa, Arab, dan Cina agar beridentitas dan berintegrasi secara budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Budiman, Amen, Semarang Riwayatmu Dulu, Semarang: Penerbit Tanjung Sari, 1978.
Djawahir, Muhammad, Semarang Sepanjang Jalan Kenangan, Semarang: Kerja Sama DKJT, Pemda Semarang dan Aktor Studio, 1995.
Koentjaraningrat, Membangun Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1987.
Muspriyanto, Edy dkk, Semarang Tempo Doeloe; Meretas Masa, Semarang: Terang Publishing, 2006.
Pemerintah Kota Semarang, Semarang dalam Angka 2012, Semarang: Pemerintah Kota Semarang bekerjsama dengan Bappeda Kota Semarang dan Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2013.
Rosidi, T.R., Kesenian Suatu Pendekatan Kebudayaan, Bandung: Penerbit STISI, 2000.
Sahal, Hamzah, Ihwal Warak Ngendok dan Dugderan, Senin, 01 Agustus 2011, NU Online. Diakses 27 November 2014.
Supramono, Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota Semarang, Tesis, Universitas Negeri Semarang, 2007.
T.O. Ihromi (ed.), Pokok-pokok Antropologi Budaya, Jakarta: Gramedia, 1980.
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. I, Edisi ke-VI, Jakarta: Gramedia, 2008.
Tio Jongkie, Semarang City, a Glance into the Past, Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007.
——–, Kota Semarang dalam Kenangan, Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007.
Triyanto dkk, Warak Ngendhog: Simvol Akulturasi Budaya pada Karya Seni Rupa, Jurnal Komunitas, Edisi 5, Vol. 2, 2013.
Catatan Akhir
[1] Lihat Koentjaraningrat, Membangun Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1987, hlm. 1-4. Lihat juga T.O. Ihromi (ed.), Pokok-pokok Antropologi Budaya, Jakarta: Gramedia, 1980, hlm. 13-14.
[2] Kata budaya ini bisa juga diartikan sebagai adat istiadat, sesuatu yang mengenai kebudayaan yang sudah berkembang dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sudar untuk dihilangkan. Selengkapnya lihat Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. I, Edisi ke-VI, Jakarta: Gramedia, 2008, hlm. 214-215.
[3] Selengkapnya baca Koentjaraningrat, op.cit., hlm. 14-18.
[4] Muhammad Djawahir , Semarang Sepanjang Jalan Kenangan, Semarang: Kerja Sama DKJT, Pemda Semarang dan Aktor Studio, 1995, hlm. 72-75.
[5] Kota Semarang merupakan salah satu kota yang ada di pesisir utara di Jawa Tengah. Secara geografis, Kota Semarang berada di garis 6o 50’-7o 10’ Lintang Selatan dan garis 109o 35’ – 110o 50’ Bujur. Sebelah utara dibatasi oleh Laut Jawa, sebelah timur dibatasi oleh Kabupaten Demak, sebelah selatan dibatasi oleh Kabupaten Semarang dan sebelah Barat dibatasi oleh Kabupaten Kendal. Kota Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan dengan luas wilayah 373,70 Km-2. Selengkapnya lihat, Pemerintah Kota Semarang, Semarang dalam Angka 2012, Semarang: Pemerintah Kota Semarang bekerjsama dengan Bappeda Kota Semarang dan Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2013, hlm. 2.
[6] Ibid.
[7] Mulai tahun 1945, pemerintahan dipimpin oleh Walikota, lihat Triyanto dkk, Warak Ngendhog: Simbol Akulturasi Budaya pada Karya Seni Rupa, Jurnal Komunitas, Edisi 5, Vol. 2, 2013, hlm. 164.
[8] Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, Semarang: Penerbit Tanjung Sari, 1978, hlm. 36.
[9] Selengkapnya baca Ibid., hlm. 47. Mengenai asal-usul nama “Semarang” berasal dari kata “Asam Arang”. Karena di daerah Semarang dulu banyak tumbuh pohon Asam yang sangat berguna untuk masyarakat dan daunnya yang tumbuh bergerombol dan arang-arang (bahasa Jawa untuk Jarang) hingga disebut dengan Semarang. Lihat juga Jongkie Tio, Kota Semarang dalam Kenangan, Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007, hlm. 8-9.
[10] Supramono, Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota Semarang, Tesis, Universitas Negeri Semarang, 2007, hlm. 50.
[11] Triyanto dkk, loc.cit.
[12] Ibid., hlm. 61.
[13] Selengkapnya baca Edy Muspriyanto dkk, Semarang Tempo Doeloe; Meretas Masa, Semarang: Terang Publishing, 2006, hlm. 111-112.
[14] Triyanto dkk, op.cit., hlm. 165.
[15] Supramono, op.cit., hlm. 65-66.
[16] Ibid., hlm. 82
[17] Selengkapnya baca Ibid., hlm. 83-87.
[18] Edy Muspriyanto, op.cit. hlm. 113.
[19] Hamzah Sahal, Ihwal Warak Ngendok dan Dugderan, Senin, 01 Agustus 2011, NU Online. Diakses 27 November 2014.
[20] Ibid., hlm. 93-95.
[21] Jongkie Tio, op.cit., hlm. 37. Lihat juga Jongkie Tio, Semarang City, a Glance into the Past, Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007, hlm. 143.
[22] Supramono, op.cit., hlm. 88-89
[23] Edy Muspriyanto, op.cit,. hlm. 114.
[24] Hamzah Sahal, op.cit.
[25] T.R. Rosidi, Kesenian Suatu Pendekatan Kebudayaan, Bandung: Penerbit STISI, 2000, hlm.3
[26] Triyanto, op.cit., hlm. 169.
[27] Ibid., hlm. 170.
Post navigation
← Rousseau, Kontrak Sosial dan Agama Sipil: Sebuah PengantarAdil Bagimu, Belum Tentu Bagiku; Keadilan dalam Filsafat Hukum →
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Name *
Email *
Website
Comment
You may use these HTML tags and attributes:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar