Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Minggu, 06 Mei 2018

Fabi ayyi 'ala Robbikumaa tukadzdzibaan

Bagaimana mungkin aku tak merindukan-Mu? Sedang kejutan manis-Mu selalu ada untukku

Kauselipkan oase, hingga  bisa kurasakan sejuk di tengah terik sahara

Kaulukis pelangi di sela-sela gerimis, hingga bisa kunikmati keindahan kasih-Mu di antara ujian yang ada

Kauajarkan 'tuk nikmati hidup lewat semua ciptaan-Mu yang tiada berbilang

Lewat dua samudra nan akur tanpa merusak cita rasa tawar dan asinnya

Juga liukan sirip ikan-ikan yang berenang di lautan tanpa terpagut asin

Dan kerang-kerang yang merubah luka menjadi mutiara

Juga hangat mentari  tak pernah jemu menjalani takdirnya

Dan tak iri walau rembulan mendapat pujian dari cahaya yang dicuri darinya

Pun purnama  nan selalu tersenyum walau terkadang tiada kerlip bintang menemani

Embun pagi  tak pernah bosan  menyapa hari, walau ia tahu usianya takkan lama

Dan waktu  terus berlari tanpa menengok ke belakang

Tiada berbilang sudah yang Engkau ajarkan

Sungguh Maha Benar bila Engkau berfirman, " Fabi ayyi 'ala Robbikumaa tukadzdzibaan

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Maha Suci Engkau, ya Rabb, masukkanlah kami sebagai hamba-Mu yang penuh kesyukuran, aamiin

#Demak, 07052018

Jumat, 20 April 2018

Kartini dan sebuah perjalanan jiwa

Kartini dan Sebuah Perjalanan Jiwa
Oleh: Titien SDF

RA Kartini adalah sebuah nama besar. Sosok perempuan Jawa yang terkenal kegigihannya dalam mendobrak adat-istiadat yang terasa mengungkung kaumnya. Karenanya, beliau pun dikukuhkan menjadi salah satu pahlawan emansipasi kaum perempuan.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya.

Dari sinilah, kita dapat memahami sosok Kartini beserta perjalanan jiwanya yang sarat dengan hikmah.

Meskipun mendapat hak istimewa untuk belajar/ sekolah sampai usia 12 tahun, tak menjadikan Kartini muda menjadi tenang, jiwanya tetap memberontak terhadap lingkungan adat istiadat Jawa yang melarang kaum perempuan untuk sekolah. Curahan hatinya banyak beliau tuliskan dalam surat dan dikirimkan kepada teman-temannya yang kebanyakan merupakan kaum terpelajar Eropa.

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Begitu pula pada surat-surat yang beliau kirim kepada Rosa Abendanon. Namun, Rosa Abendanon banyak memberikan nasehat dan meyakinkan Kartini, bahwa tempatnya bukanlah di Eropa, tetapi tetap berada di Jawa untuk memperjuangkan kaumnya.

Beliau pun diijinkan mendengar wejangan Kiai Soleh Darat yang diundang sang ayah, dari balik tabir. Apa yang beliau dengar, menjadikan beliau semakin bersemangat untuk menimba ilmu lebih banyak lagi. Atas jasa beliau pulalah, maka kita mengenal huruf Arab Pegon (tulisan Arab gundul dalam bahasa Jawa) yang diciptakan oleh Kiai Soleh Darat untuk menterjemahkan Alqur'an dalam bahasa Jawa, sesuai permintaan Kartini dalam suratnya. Ini karena, pemerintah Hindia Belanda melarang terjemahan Alqur'an dalam bahasa apapun, sehingga Kiai Soleh Darat menerjemahkannya dalam tulisan Arab Pegon, agar tidak ketahuan. Kitab terjemahan ini kemudian diberi judul Kitab Faidurrohman, berisi terjemahan dari QS Al Fatihah sampai QS Ibrahim dan dihadiahkan pada saat Kartini menikah dengan Bupati Rembang, pada tahun 1903

Dari mempelajari terjemahan Alqur'an inilah, Kartini mengalami perjalanan jiwa yang luar biasa, yang merontokkan kekagumannya pada masyarakat Eropa dan menguatkan keyakinannya bahwa Islam sudah mengatur segalanya, yang terbaik yang telah dipilihkan Allah untuknya.

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902). itulah sekelumit surat yang menyatakan bahwa pandangan barat itu salah, dan islam itu lebih indah.

Surat-surat yang dikirimkan berikutnya menjelaskan perjalanan batinnya minadh dhulumati ila nuur (dari kegelapan menuju cahaya). Surat-surat terakhirnya tidak lagi mengungkapkan kekaguman pada masyarakat Eropa, namun mengungkapkan keinginan besarnya untuk menjadi  'sebenar-benar hamba Allah' Surat-surat inilah yang kemudian dikumpulkan Tuan Abendanon dan dibukukan, dan setelah melewati beberapa masa dan revisi, kita mengenalnya dengan nama "Habis Gelap Terbitlah Terang."

Dalam buku tersebut Kartini berpesan, "perempuan harus cerdas,  trampil dan berbudi pekerti luhur agar dapat mengemban tugasnya sebagai ibu bangsa. Karena ibulah pendidik yang pertama-tama." Beliau juga berpendapat bahwa perempuan yang tidak cerdas dan tidak berbudi pekerti luhur hanya akan melahirkan anak-anak yang lalim. 

Karenanya, wahai saudariku. Jangan berlebihan dalam mengejawantahkan makna 'emansipasi'. Islam sudah mengatur segalanya sedemikian rupa, semua sudah ada porsinya, semua sudah ada aturannya. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi dan saling mengisi, bukan untuk direndahkan dan dimarginalkan satu sama lain.

#Demak, 21042016

Kamis, 12 April 2018

Ibarat Mengayuh Sepeda

Menjalani pernikahan ibarat mengayuh sepeda.  Ada roda depan,  ada roda belakang.  Ada pedal kanan dan kiri,  apabila yang satu mengarah ke depan,  yang lain akan menyesuaikan diri di belakang.

Begitupun perumpamaan suami istri,  suami diibaratkan roda depan. Posisinya sebagai qowwam,  memimpin. Sedang istri diibaratkan  roda belakang,  yang harus taat kepada suami. Ketika roda depan bergerak maju maka roda belakang harus mengikuti maju,  pun ketika roda depan bergerak mundur,  maka roda belakang pun harus ikut mundur.  Tidak pernah ada dalam sejarah kalau roda depan maju,  roda belakangnya mundur,  atau saat roda depan mundur,  roda belakang malah maju.  Gak bisa bayangin kalo ada 😅

Tapi bukan berarti roda belakang otu boleh dianggap rendah sehingga diremehkan dan diabaikan.  Bukan berarti roda belakang itu gak penting, gak usah dianggap.  Faktanya,  kalau roda belakang bannya kempes/bocor juga gak bisa jalan juga.  Kalau dipaksakan jalan juga gak enak,  malah bisa bikin pelek jadi penyok. Begitu juga roda depan,  sama. Begitupun suami istri,  fungsi dan tugasnya sama-sama penting walaupun beda posisi.  Tetapi mereka harus bisa saling bekerja sama dan saling mengisi agar bisa menyelesaikan misi dan mewujudkan visi masa depan rumah tangga mereka.

Bila istri sebagai ibu menjadi madrosatul ula (sekolah pertama bagi anak-anaknya),  maka suami sebagai ayah adalah kepala sekolahnya/pengelolanya. Sebagai pengelola madrasah,  dia harus memilihkan ibu yang baik untuk menjadi guru pertama anak-anaknya.  Dia juga harus menyiapkan kurikulumnya,  seperti apa nantinya anak-anaknya akan dibentuk dan dididik. Suami dan istri,  masing-masing punya tanggung jawab yang sama besar dalam mendidik anak.

Begitupun dalam tugas-tugas yang lain,  seperti roda depan dan roda belakang sepeda,  suami istri harus  sevisi,  setujuan sehingga bisa saling mendukung, dan saling menjaga.

Ada dua pedal, kanan dan kiri,  ketika yang satu maju ke depan,  yang lainnya menyesuaikan diri dengan mundur ke belakang. Coba kalau dua-duanya berkeras maju ke depan semua,  sepedanya malah mogok gak mau maju.  Begitupun suami istri dalam mengelola emosi/konflik. Bila yang satu agak panas,  yang lain semestinya mendinginkan,  jangan ikut-ikutan  panas. Bila yang satu mulai marah,  jangan ikut-ikutan marah,  lebih baik diam dan berusaha menenangkanya.  Bila yang satu agak melemah,  males atau mungkin mulai putus asa,  yang lain semestinya mendorong  agar terus berusaha tetap tegar dan bangkit.

Bagaimana pun,  pernikahan adalah hajat kerja bersama antara suami dan istri,  dan sebaik-baiknya tujuannya adalah ibadah,  menggenapkan agama,  yang dengannya diharapkan akan dapat sampai pada sebuah rumah surgawi.  Rumah yang di dalamnya tak ada kelelahan dan penderitaan.  Rumah yang kita harapkan menjadi rumah abadi kita bersama orang-orang tercinta. Semoga...

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota 'ayunin waj'alna lil muttaqiina immama,  aamiin

#Demak, 12042018

Selasa, 06 Maret 2018

Perhal Ibu

Perihal Ibu

Ibu adalah profesi terhebat karena bayarannya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, terlintas dalam pikiran kita. Adakah yang lebih berharga dari itu semua?

Ibu juga profesi termulia, pekerjaannya diawasi langsung oleh Pencipta alam semesta, doanya didengar langsung dari langit ke tujuh, dari arsy, singgasana-Nya yang Maha A'la. Adakah yang lebih dahsyat darinya?

Ibu pun profesi dengan ujian berlipat-lipat beratnya. Menyimpan buah hati belahan jiwa. Sembilan bulan dalam rahimnya yang penuh keajaiban. Merelakan air susunya mengaliri dahaga dua tahun sesudahnya. Mendampingi mereka dalam sehat dan sakitnya, dalam senang dan susahnya, dalam keberhasilan dan kegagalannya.
Adakah yang sebanding dengan pengorbanannya?

Ibu pulalah yang setia menunggu kita datang  padanya. Walau sering kali kita melupakannya saat kebahagiaan tiba. Dan datang tiba-tiba untuk mengadukan berbagai macam problema. Lisannya selalu tulus menguntai ribuan dedoa dalam sujud-sujud malamnya. Dedoa penuh harap untuk anak yang dikasihinya.

Karenanya... muliakanlah ibumu.
Muliakanlah ibumu... muliakanlah ibumu...

#Demak, 06032015

Minggu, 04 Maret 2018

Ummu Hurairah

UMMU HURAIRAH

Sejak  kecil,  anak ini memang suka kucing. Terkadang  ia rela membagi jatah lauknya untuk beberapa kucing yang mampir.  Alhasil,  rumah kami sering jadi tempat persinggahan kucing-kucing jalanan.

Di suatu hari tetiba kudengar teriakannya selepas pulang sekolah. 

"Umiii...  anak kucingnya bagus banget,  kecil-kecil banget,  lucu...  "

Saat kuhampiri,  dia sudah menenteng kardus bekas supermi berisi 5 ekor bayi kucing.  Seekor kucing berwarna telon terlihat menggosok-gosokkan kepala di kakinya. Barangkali itu induknya.

"Lho,  nemu di mana,  nduk?" tanyaku penasaran.

"Di lemari baju kakak,  " jawabnya santai.

Deg,  jangan-jangan...  Si Pus habis ngelahirin di sana,  pikirku cemas,  itu artinya ada setumpuk baju yang harus dicuci karena bekas partus kucing. Dan,  benarlah...  Ulala...  Ini pasti karena kakak enggak menutup lagi pintu lemarinya. Tapi gimana lagi?  Mau marah juga percuma...  Enggak bakal bisa sim salabim jadi bersih lagi 😊😂

Kali lain,  dia menghentikan perjalanan kami dengan tiba-tiba.

"Bentar Bi.  Berhenti dulu,  sebentar...  aja..., " katanya seperti cemas.

"Ada apa,  Nduk.  Kamu ada ketinggalan sesuatu?  Ini di jalan raya loh.... "

"Justru itu, Umi.  Berhenti dulu,  Bi, " pintanya setengah memaksa. 

Belum lagi mobil kami benar-benar berhenti, anak itu  sudah main buka pintu aja,  macam orang yang sudah enggak kuat nahan buang air kecil.  Nah,  padahal di situ enggak ada toilet. Masak iya,  dia mau nekat buang air kecil di semak-semak?  Kayaknya enggak ada yang pernah ngajarin begitu deh.  So what...? Makanya kuikuti dia.

Setengah berlari dia menuju jalan raya sambil melambaikan tangan kanannya. Sejurus kemudian dia sudah kembali dengan seekor anak kucing dalam pelukannya.

"Kasihan,  entar dia ketabrak mobil,  Mi.  Kita bawa aja yah...."

"Mana boleh begitu,  sayang...," jawabku padanya, "entar kalo induknya nyari gimana?  Kasihan kan kalo dipisahin sama induknya?"

Agak lama juga membujuk dia agar melepaskan anak kucing itu, untunglah dia akhirnya mengerti. 

"Jangan main di jalan raya ya pus.  Tunggu aja di sini, sampai indukmu datang. " (Cara dia ngomong sama anak kucing itu sambil mengusap-usap kepalanya,  udah persis kaya umi sama anaknya... 😄😄😄)

Kupikir setelah tambah besar, ketertarikannya sama kucing akan berkurang drastis,  apalagi kami akhirnya punya beberapa ekor kelinci,  bahkan sampai beranak pinak.  Ternyata tidak,  hingga di satu hari dia mewek habis sambil menngendong seekor induk kucing.  Ternyata si empus dia temukan sekarat di selokan dengan perut bengkak dan muntah darah.  Mungkin seseorang telah memukulnya dengan sesuatu pada perutnya.

"Ini Mi,  kasihan...  Umi kan dulu perawat,  gimana dong diobatin biar sembuh.  Kalo sampai mati kasihan bayi-bayinya...."

Mau gimana lagi?  Merawat pasien manusia, sedikit banyak aku tahulah.  Tapi kalau merawat kucing yang sekarat?  Mana aku tahu?  Aku cuma bisa menyelimutinya dan memberinya susu.  Sayangnya,  si empus enggak bisa diselamatkan.  Jadilah kami mencari tempat di mana dia menyembunyika kelima bayinya. 

"Mi,  kelinci mau nyusuin bayi kucing gak? " tanyanya membuatku tertawa.  Lah, kelinci aja baru mau nyusuin bayinya cuma dua kali sehari,  itu pun pas dia yakin enggak ada orang di dekatnya.  Masih disuruh nyusuin bayinya kucing...,  ya enggak bisalah. 😁😁😁

Biar enggak penasaran,  kubiarkan dia memasukkan bayi-bayi kucing itu ke kandang kelinci,  bersama dengan bayi-bayinya sendiri. Induk kelinci itu selalu saja berpindah tempat saat didekati bayi kucing.  Akhirnya dia keluarkan sendiri bayi-bayi kucing itu,  dia beli susu bayi,  lalu dia susuin pakai pipet kecil. Sayang sekali,  bayi-bayi kucing itu cuma bertahan hidup beberapa hari.  Dan si dia yang ditinggalkan pun sampai bersedih berhari-hari. 

Setelah beranjak dewasa dan mulai kuliah pun,  anak gadisku ini masih teramat suka dan peduli sama kucing.  Setidaknya itu yang kutangkap beberapa hari yang lalu, saat abinya bertanya padaku, "apa dia habis nabrak kucing?  Kok tetangga bilang dia habis nguburin kucing? "

Penasaran,  kutanyakan juga padanya,  eh dia menjawab sambil mewek.

"Tahu gak Mi,  waktu aku otw pulang,  aku liat kucing itu tiduran gitu di tengah jalan raya, di depan truk lagi.  Lah aku di sampingnya truk.  Lah kan pas macet to,  jadi aku turun terus takambil taruh di jok bawah motor.  Aku dilihatin sama bapak-bapak  yang ada di situ og,  malu sih...  tapi gimana lagi?  Kucingnya takgusah enggak mau bangun og,  entar kalo kelindes truk kan aku jadi kebayang-bayang.  Yo udah,  takambil aja,  tapi pas takangkat tuh udah lemes kayaknya."

"Mbok taruh di jok mana?" tanyaku.

"Itu Mi, motorku kan bagian depannya bisa buat naruh barang kan ya.  Lah taktaruh di situ, taktahan pakai dua kaki di samping-sampingnya biar dia gak jatuh. Kakiku sampai dicakar-cakar sama dia. Eh, terus adzan maghrib, dianya berhenti nyakarin.  Takpikir, ini kucing juga ngerti kalo adzan harus diem,  ndengerin,  terus aku mampir masjid yang dekat situ,  buat sholat maghrib.  Kucingnya masih di motor.  Waktu habis sholat,  taklihat kucingnya masih ada,  tapi enggak gerak-gerak gitu.  Pas aku pegang, udah dingin,  terus takselimutin pakai kaosku, pas di bagasi ada. Terus takbawa pulang deh.  Tapi sepanjang jalan aku tuh mikir,  jangan-jangan  ini kucing udah mati yak.  Eh bener,  Mi.  Sampai rumah badannya udah kaku.  Aku bingung to,  di rumah enggak ada siapa-siapa.  Terus aku nyari sesuatu buat nguburin, batangkali di kebun kita ada,  tapi enggak nemu.  Akhirnya aku pinjem sekop tetangga,  eh dikasih cangkul.  Yo udah,  mana pas mati lampu lagi,  akhirnya dibantuin tetangga nguburinnya.  Mereka cerita ya ke Umi? "

"Kok bisa sebegitunya sih,  mbak?" tanya si adik.

"Ah, kamu.  Kasihan yooo.... Sekarang aja aku masih kebayang-bayang og."

Anak gadisku yang satu ini memang spesial. Kakak adiknya terhitung suka kucing juga sih,  tapi enggak sampai menghentikan perjalanan gegara kucing di jalan.  Duh sayang,  kamu layak dijuluki 'Ummu Hurairah' ...(jadi kebayang Abu Hurairah yang daya ingatnya luar biasa. Dan menjadikannya sebagai perantara ilmu bagi umat muslim,  semoga Allah meridhoinya,  aamiin).

#Demak,  05022018

Sabtu, 17 Februari 2018

Ketika Allah Menagih Cinta Kita

Ketika Allah Menagih Cinta Kita
Oleh: Titien SDFS

Senja masih bergayut indah di ujung ufuk. Cahayanya yang semburat kemerahan berpendar bak selendang para penari, meliuk-liuk semakin menjauh ditelan kelam.

"Aku diajak ke Bandung sama teman-teman. Boleh ya, Mi," pinta Khoirul, sulungku.

"Kapan? Naik apa? Acara apa? Sama siapa saja?" tanyaku tanpa menoleh.

"Besok Kamis sampai Ahad. Naik motor, Mi. Biar bisa muter-muter sekalian di Bandung. Sama teman-teman Husnul, berempat. Kakak kelasku di Husnul dulu married, entar nginep sana. Boleh ya, Mi," rengeknya lagi.

Aku menoleh perlahan, menatap pemuda yang baru beranjak dewasa itu lekat-lekat. Sebongkah cemas langsung hinggap di hati, manakala membayangkan anak-anak itu menempuh perjalanan Demak-Bandung dengan sepeda motor. Aku sangat tahu jalan menuju Bandung berbukit-bukit dan berbahaya, itu menurutku. Namun, melihat keinginannya yang begitu besar, membuatku tak tega melarangnya.

"Tunggu Abi pulang, kalau Abi mengijinkanmu, Umi tidak bisa melarang," kataku akhirnya.

Petang itu terasa begitu panjang bagiku, bagaimanapun sulit bagiku untuk melepas cemas yang semakin menggunung. Kusambut Mas Darma tanpa menyinggung permintaan Khoirul, aku memang tak ingin membicarakannya.

"Alhamdulillah, Abi sudah pulang. Aku diajak ke Bandung sama teman-teman Husnul, boleh gak, Bi?" cetus Khoirul begitu melihat abinya datang.

Mas Darma menatapnya sejenak, lalu berkata,"kapan? Naik apa? Sama siapa?"

"Ah, Abi sama Umi pertanyaannya sama. Besok Kamis sampai Ahad, Bi. Naik motor sama anak-anak Husnul. Kakak kelasku di Husnul dulu mau nikah."

"Lha bukannya seminggu lagi kamu mid semesteran?" tanya Mas Darma.

"Iya sih, refreshing dikit dong, Bi? ," rengek pemuda itu.

Kepalaku berdenyut-denyut, segunung cemas semakin kokoh saja mendengar penjelasan Khoirul kalau mereka juga mau menyempatkan mendaki, jadi bisa makan waktu semakin lama, duuuh ....

"Kalau Umi keberatan, gimana Mas?" tanyaku hati-hati, "pertama, kamu mau mid semesteran. Kedua, Umi cemas membiarkanmu motoran Demak-Bandung. Abi aja belum pernah je."

"Umi ki, mesti gitu, nganggep aku masih anak kecil terus. Katanya tadi, kalau Abi boleh, Umi gak akan melarang," protesnya.

Aku dan Mas Darma saling menatap, membuatnya menangkap kecemasan yang begitu besar dan membuat keputusan untuk tidak memberi ijin padanya. Kuharap tak terjadi sesuatu, tetapi aku salah. Anak itu berteriak marah seiring dengan keputusan kami.

"Tolong pahami Umi, Mas. Kecemasan orang tua tidak bisa dianggap main-main. Bukankah untuk hal-hal lain kami selalu mendukungmu?"

"Tidak, aku tidak mau mendengar kalimat itu lagi. Kalau Umi-Abi gak kasih ijin, aku tetep akan pergi!" teriaknya.

"Biarkan saja, Mi. Dia sudah cukup dewasa. Biar dia rasakan akibatnya kalau melawan orang tua!" teriak Mas Darma tak mau kalah.

Aku tergugu, benar-benar dibingungkan dengan kejadian ini, hingga tak tahu harus bagaimana, membiarkan sulungku pergi? atau menahannya? Hatiku benar-benar kosong, rasanya tak ada yang lebih menyiksa ketimbang menyaksikan pertengkaran ayah dan anak. Dan aku, tak tahu harus memihak siapa. Terlintas begitu saja sebuah pemikiran, anak itu pasti akan pergi ke rumah neneknya, karena dulu waktu kutinggal bekerja dia cukup lama diasuh neneknya/ibuku. Kupencet tuts telepon, memohon ibu untuk menasehatinya. Tak disangka, ibu bergegas datang ke rumah, sedang si sulung baru saja meninggalkan rumah.

"Ibu, kumohon, pulanglah. Dia pasti ke sana sekarang. Maaf, bukan mengusirmu, tapi ...."

"Ya, ibu tahu perasaanmu, mudah-mudahan benar, dia ada di sana," kata beliau berlinang air mata.

Malam itu, tak sepicing pun mata dapat terpejam, apalagi setelah adikku memberi kabar bahwa dia memang datang ke sana, namun pergi lagi dan tak tidur di sana.

Satu hari, dua hari hingga seminggu cepat berlalu. Tak pernah kulewatkan untuk mencari tahu kabar dan keberadaan Khoirul. Semua nihil, bahkan BBM dan WAku pun diblokir olehnya, tak terkecuali Mas Darma dan Muthi', adiknya. Tuhan, ada apa ini? jeritku dalam sujud.

Seminggu dua minggu pun berlalu, kulingkari setiap tanggal yang berlalu. Malam semakin melekat dengan sajadah dan air mata.

"Jangan terlalu dipikirkan, Mi. Khoirul sudah cukup dewasa, biarkan dia menentukan jalannya sendiri. Kewajiban kita hanya mendampingi sampai dia baligh ...," kata Mas Darma menenangkanku.

Apa yang salah dengan caraku mendidik anak? Sejak kecil, kuajarkan dia mengenal Tuhannya, juga ibadah yang menjadi kewajibannya. Kebutuhannya pun selalu terpenuhi. Tapi mengapa dia meninggalkanku? Kubuka Alqur'an sekenanya, dan berharap mendapat jawaban dari ketidakpastian ini. Terbaca olehku QS Attaubah ayat 24 yang artinya, "Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Ampuni aku ya Allah, mungkin ini adalah jawabannya. Dia hendak mengingatkanku yang mungkin terlalu mencintai anakku. Memikirkannya, lebih dari memikirkan Dia yang telah memberiku berjuta-juta kenikmatan. Airmata menganak sungai mengiringi sujud penuh taubat. Ya Rabb, kupasrahkan pada-Mu. Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu, Engkau Maha Berkehendak. Aku hanya minta, kumpulkan kami sekeluarga dalam jannah-Mu. Selepas itu, dada terasa lapang, beban yang menghimpit pun hilang. Yang kuyakini, aku selalu mendidiknya sesuai petunjuk-Nya, maka sekarang biar Dia yang menjaga dan membawanya pulang kembali.

Di hari ke-23, telpon berdering, di seberang sana terdengar suara yang begitu kurindukan, "Mi, apa aku boleh pulang?"

Si anak hilang itu pun kembali, ketika kita menyerahkan segala urusan sepenuhnya pada Dia yang Maha Rahman, dengan mendahulukan cinta-Nya.

#Demak, 29112015

Rabu, 14 Februari 2018

MEMBANGUN RUMAH TANGGA IDEAL

MEMBANGUN RUMAH TANGGA IDEAL

Rahasia Perkawinan Bahagia - Kisah Kotak Sepatu
Ini adalah kisah seorang pria dan wanita yang telah menikah selama lebih dari 60 tahun. Mereka berbagi segalanya. Mereka berbicara tentang segala hal. Mereka tidak menyimpan rahasia satu sama lain kecuali bahwa wanita tua kecil itu mempunyai sebuah kotak sepatu yang ia letakkan di bagian atas lemari. Ia telah mengingatkan suaminya untuk tidak membuka atau bertanya tentang kotak sepatu itu.

Selama bertahun-tahun, pria itu tidak pernah berpikir tentang kotak itu, hingga suatu hari iistrinya itu sakit parah dan dokter mengatakan ia tidak akan dapat sembuh lagi. Dalam mencoba mengingat-ingat hubungan mereka, pria tua kecil itu mengambil kotak sepatu tersebut dan membawanya ke samping tempat tidur istrinya. Dia menilai sudah saatnya ia harus tahu apa yang berada di dalam kotak itu. Ketika ia membukanya, ia menemukan dua serbet kecil dan setumpuk uang sebanyak Rp.250 juta.

Dia lalu bertanya kepada istrinya tentang isi kotak sepatu itu. "Ketika kita akan menikah dulu itu," kata istrinya, "nenek saya bilang rahasia pernikahan yang bahagia adalah tidak pernah berdebat dengan suami. Dia bilang bahwa jika saya marah sama suami, saya hanya harus tetap tenang dan merenda sebuah serbet".

Mendengar jawaban sang istri, pria tua kecil itu begitu terharu, dan ia harus berjuang menahan tangis. Hanya dua serbet kecil yang berada di kotak. "Berarti ia hanya marah pada saya hanya dua kali selama bertahun-tahun hidup bersama". Pria itu hampir meledak penuh kebahagiaan.

Tetapi melihat ada setumpuk uang di kotak itu ia lalu bertanya lagi kepada istrinya, "Sayang," katanya, "itu tadi yang menjelaskan tentang serbet, tapi bagaimana tentang semua uang ini? Dari mana datangnya?"
"Oh," kata istrinya, "itu uang dari hasil menjual serbet yang saya buat."

Memiliki rumah tangga yang harmonis adalah dambaan semua pasangan suami istri. Kenyatannya, tidak semua pasangan mampu mewujudkannya.  Lihat saja, berita perceraian menjadi menu utama infotainment televisi kita. Betapa banyak pasangan yang mengakhiri kehidupan rumah tangganya dengan perceraian hanya karena alasan “tidak cocok lagi”. Ironis, tapi benar-benar ada di sekitar kita.

Kenapa kita menikah? Kenapa kita membangun keluarga? Agaknya pertanyaan ini harus kita jawab sebelum kita benar-benar melangkah ke jenjang pernikahan. Kenapa? Karena menikah adalah pintu memasuki kehidupan berumah tangga. Begitu mulia dan agungnya pernikahan, hingga Allah SWT menyebut pernikahan sebagai sebuah mitsaaqan ghalidza, perjanjian yang kokoh. Allah hanya menyebutkan “mitsaaqan ghalidza” sebanyak 3 kali dalam al Qur’an. Pertama, dalam surat Al Ahzab ayat 7, ketika Allah membuat perjanjian dengan para nabi, yakni Nabi Nuh as, Ibrahim as, Musa as, dan Isa as. Kedua, dalam surat An Nisa’ ayat 154, saat Allah mengangkat bukit Thur di atas kaum bani Israil dan meminta mereka bersumpah setia pada Allah SWT. Kali ketiga adalah janji pernikahan, dalam surat An Nisa ayat 21.

Bila saat ini kita terlanjur menikah, maka mempertanyakan kembali tujuan pernikahan kitapun bukan sesuatu yang terlambat. Rumah tangga seperti apakah yang akan kita bentuk? Keluarga macam apa yang akan kita bangun bersama pasangan kita? Pertanyaan-pertanyaan ini harus kita jawab sebelum kita melangkah lebih jauh.

Sebagian keluarga menganggap bahwa pernikahan hanyalah penyatuan dua manusia yang berbeda. Mereka menikah karena saling jatuh cinta, atau karena kedudukan, karena fisik, atau bahkan karena materi. Maka tak heran, bila yang terjadi kemudian adalah transaksi-transaksi antara suami-istri yang tidak lebih hanya mencari keuntungan pribadi masing-masing. Pada akhirnya, karena tidak adanya tujuan yang sama, keluarga-keluarga itu mudah rapuh dan hancur hanya karena persoalan-persoalan sepele.

Rumah Tangga Ideal
Mari kita simak ayat berikut ini:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Arrum: 21)

Demikianlah, sesungguhnya Allah telah menjamin bagi pasangan yang menikah akan ditumbuhkan dalam hati mereka kecenderungan satu sama lain, rasa tenteram, rasa kasih da rasa sayang. Rasa cinta, tenteram, kasih dan sayang itulah yang akan menjadi modal utama bagi berjalannya roda rumah tangga.

Dalam buku Wonderfull Family, Ustadz Cahyadi takariawan menyebutkan beberapa syarat yang harus dimiliki sebuah keluarga agar menjadi keluarga yang harmonis.

1. Visi yang Kuat
Saat membangun keluarga, kita harus memiliki visi yang kuat tentang akan kita jadikan apa keluarga kita. Visi adalah pernyataan yang luhur atas cita-cita yang ingin dicapai. Visi suami dan istri harus sama. apa jadinya bila dalam sebuah mobil sang sopir ingin pergi ke Jawa Barat sedangkan sang penumpang ingin ke Jawa Timur. Tentu saja akan terjadi perdebatan sengit atau bahkan pertengkaran yang tidak ada ujungnya.

Maka pertanyaan pertama yang harus segera dijawab oleh semua pasangan adalah: “mau dibawa kemana keluarga kita?” Akan kita jadikan apa anak-anak kita?

Maka karena kita seorang muslim, tujuan kita hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Keluarga yang kita bentuk adalah keluarga muslim. Menjadikannya sarana untuk beribadah dan mengabdi. Menjadikan anak-anak kita manusia mulia yang kelak menjadi pemimpin dan penolong umat, meanjadikan keluarga kita sebagai aset dan tiket kita msuk syurga.
Sehingga jelaslah tujuan kita. Tinggal bagaimana kita mengupayakannya. Mencari peta, mencari kendaraan, mencari bahan bakar, dan bekal untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan kita tidak sebatas langit dunia, tapi tembus ke langit akhirat. Sehingga sangat tidak layak manakala alasan  ekonomi, tidak cantik lagi, sudah tidak perkasa, atau alasan duniawi lainnya menjadikan rumah tangga kita kita hancur.

Kalaupun ada alasan komunikasi, tidak cocok lagi, atau konflik-konflik keluarga yang lain, bagi keluarga yang bervisi kuat tidak lebih ibarat jalanan yang sedang macet. Harus sabar sembari mencari celah jalan agar kita tetap bisa melaju ke depan.

2. Pembagian Peran
Suami, istri, dan anak memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam keluarga tidak ada yang menjadi bos atau karyawan. Semua memiliki hak dan tanggung jawab masing-masing. Bila suami bertanggung jawab untuk memenuhi nafkah keluarga, melindungi dan mengayomi seluruh keluarga, maka istri bertanggung jawab mengurus urusan rumah tangganya serta menjaga harta suaminya.

Rasulullah tidak segan menjahit baju beliau sendiri. Ini menggambarkan, bahwa pembagian peran bukan sesuatu yang kaku. Suami tidak segan membantu pekerjaan istri, demikian pula istri tidak segan meringankan tugas suami.

3. Komunikasi efektif.
Banyak rumah tangga yang hancur karena gagal membangun komunikasi. Suami gagal memahami istri, sebaliknya istri juga sulit memahami suami. Suami merasa selalu dituntut, sebaliknya istri merasa tidak dimengerti.

Kemampuan mengkomunikasikan isi hati agar dapat dimengerti pasangan memang tidak dimiliki semua orang. Karena itu kita harus melatih dan mengasah kemampuan komunikasi kita masing-masing.

Banyak suami yang canggung memanggil istrinya dengan panggilan sayang, “dek” atau “yang”. Padahal Rasulullah SAW memanggil Aisyah dengan yaa humaira. Romantis sekali.

Banyak pasangan yang canggung mengucapkan “i love you”, padahal Rasulullah menganjurkan untuk mengungkapkan rasa sayang kita dengan bahasa lisan. Ternyata bahasa tubuh tidak cukup!

Banyak pasangan yang jarang memuji pasangannya, padahal pujian dapat menghilangkan sakit hati, menyenangkan pasangan, dan mempererat hubungan.

Begitulah, seringkali kehidupan rumah tangga kita terasa hanya rutinitas pagi hingga pagi lagi. Kehidupan kita tidak jauh dari tidur, makan, bekerja.

Bicaralah dengan pasangan anda. Ceritakan hal-hal yang anda alami hari ini. Jadikan pasangan kita tempat curhat terbaik kita. Sebaliknya, dengarkan curhatan pasangan anda. Jangan biarkan dia kecewa karena anda tidak mendengarkan ceritanya.
Bila kita mahir berkomunikasi, insya Allah, masalah beratpun akan terasa ringan. Masalahyang pelik akan mudah di urai.

4. Mengelola konflik
Konflik dalam rumah tangga ibarat garam dalam sayur. Harus ada agar rasa sayurnya mantap, tapi bila terlalu banyak juga tidak enak. Suka atau tidak suka, konflik pasti akan ada dalam kehidupan rumah tangga.

Rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang mampu mengatasi setiap konflik yang dihadapinya. Konflik dijadikan pelatihan keluarga untuk menghadapi badai yang lebih besar.

Konflik diselesaikan dengan baik, dengan memperhatikan kemaslahatan keluarga, dimusyawarahkan bersama, dan disepakati bersama. Pada gilirannya, keluarga yang trampil mengelola konflik akan memiliki roadmap kehidupan rumah tangga. Mereka memiliki rumus untuk tiap konflik yang mereka hadapi.

5. Mendidik generasi
Tugas yang sangat fundamental dari sebuah keluarga adalah mendidik generasi. Anak adalah amanah dari Allah. Tugas orang tualah menjaga fitrahnya dan mengarahkannya agar menjadi manusia yang berakhlaq mulia.

Keberadaan anak sangat mempengaruhi kebahagiaan keluarga. Betapa banyak keluarga yang sukses secara materi, tapi memiliki anak yang sulit diatur, bahkan terjebak narkoba. Tapi ada juga keluarga yang secara ekonomi kurang, tapi memiliki anak-anak yang sholih dan sukses dunianya.

Fakta ini membuktikan bahwa kesuksesan mendidik generasi bukan perkara mudah. Tidak selalu berbanding lurus dengan tingkatekonomi atau tingkat pendidikan orang tuanya. Kesuksesan mendidik anak adalah buah dari kerja keras dan doa orang tua.

Seperti yang pernah diungkapkan ustadz Anwar Jufri, anak adalah hasil pesanan orang tua kepada Allah. Hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. Beliau meminta kepada Allah diberi keturunan yang shalih, yang dilahirkan di tengah bangsa yang rusak, dan membawa perbaikan bagi kerusakan umat.

Barangkali ini yang kurang dari kita. Visi kita terhadap anak-anak kita kurang jelas. Atau bahkan kita membiarkan anak berkembang secara natural tanpa arah. Sesungguhnya anak kita milik Allah, maka mintalah pada Allah apapun terkait dengan anak kita. Sertakan anak kita di tiap doa kita. Kita bisa meniru apa yang dilakukan ibunda Abdurrahman as Sudais. Beliau menanamkan pada Abdurrahman sejak kecil bahwa dia kelak akan menjadi imam Masjidil Haram.

6. Interaksi Sosial
Kita tidak bisa hidup sendiri. Begitu pula keluarga kita. Manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka jadikan keluarga kita aset yang berharga bagi lingkungan kita. Tebarkan kemanfaatan keluarga kita untuk masyarakat luas.
Membangun keluarga ibarat membangun pondasi peradaban. Butuh komitmen dan kerja keras dari suami dan istri agar rumah tangga yang ideal bisa terbangun. Komunikasi, saling menerima, tidak saling menuntut, dan senantiasa bersyukur atas apa yang dianugerahkan Allah pada keluarga kita. Semoga Allah memudahkan kita menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Menjadi tiket kita masuk syurga mencapai kebahagiaan hakiki. Aamiin.

#Demak,  14022016

Senin, 29 Januari 2018

Melukis harapan

MELUKIS HARAPAN

Kampung Bedono terlihat senyap. Hanya ada beberapa rumah yang masih bertahan tanpa ditinggalkan penghuninya. Memang,  sepuluh tahun terakhir rob dan abrasi susul menyusul, mengabadikan laut di dalam rumah-rumah warga. Bukan hanya sekali dua, pemkab setempat membantu warga meninggikan jalan dan rumah mereka, namun laut seakan tak mau membiarkan begitu saja daratan bertahan agak lama di sana.

"Pak, kenapa Bapak tak mau pindah saja ke rumah kami?" tanya Ahmad memecah hening malam, "di sini hampir tak ada tempat yang kering, nyamuknya juga luar biasa."

"Rumah Bapak di sini, Ahmad. Sudah berpuluh tahun, sejak kamu belum lahir. Dan Bapak ingin mati di sini," tutur lelaki tua itu sambil melepas udang yang diperolehnya dari jala, "nyamuk-nyamuk itu sudah menjadi teman Bapak sehari-hari. Orang tua itu memang menggantungkan hidupnya dengan menjala udang.

Muna menghela napas, tangannya sibuk menepuk nyamuk yang memaksa hinggap di tubuh Bilqis dan Aisyah. Dua bocah itu tampak tak nyenyak tidurnya. Sebentar-sebentar mereka tampak berebut selimut yang sebenarnya cukup dipakai berdua.

"Apa ndak ada cara untuk mengusir nyamuk-nyamuk ini to, Bi. Sudah dipasang obat nyamuk, mereka makin banyak aja," keluh Muna.

"Ya ndak apa-apa to, Mi. Kan ndak setiap hari kita di sini. Nyamuk-nyamuk itu cuma 'mbagekke' (bahasa jawa, artinya menyambut tamu)."

"Iya nih, apa enaknya tinggal di sini to, Pak? Sudahlah, Bapak sama Ibu tinggal sama kita aja, di kota, ndak ada banjir, nyamuknya juga sedikit," bujuk Muna lagi.

Sayup-sayup lantunan Alqur'an masih terdengar dari balik kamar. Suara Jiddah, terkadang diselingi suara batuknya yang khas. Mereka, bapak dan ibu Ahmad memang tinggal sendiri di rumahnya yang terpencil. Keempat anak-anaknya sudah menikah dan memiliki rumah tangga sendiri, namun mereka tak pernah mau tinggal bersama salah satu anaknya.

"Kau tahu, Ahmad? Bapak-ibumu ini masih bisa melukis harapan. Gusti Allah ora sare, Ahmad. Semua orang punya rejekinya sendiri, jadi jangan cemaskan kami."

Itu kalimat yang selalu diulang-ulang orang tua itu bila mereka bertandang ke sana. Itu pula yang menjadi teka-teki baginya sehingga Ahmad selalu berupaya singgah ke sana, walau diiringi dengan gerutuan istrinya.

"Apa bapakmu punya harta terpendam? Sampai-sampai ndak mau meninggalkan rumah menyedihkan itu?" tanya Muna suatu hari.

Dan mereka begitu tergopoh-gopoh saat mendapat kabar bahwa rumah orang tuanya tertimpa pohon besar. Orang tua itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Beruntung, tim sar dapat mengevakuasi mereka berdua. Hanya saja,  ketika ajal sudah datang siapa pula yang dapat menolaknya? Tak ada raut muka ketakutan, wajah-wajah mereka penuh dengan senyuman.

Ketika jenazah hendak dimandikan, Ahmad menemukan secarik kertas kecil. Kertas itu tersimpan rapi dalam lipatan peci Bapak. Dalam lipatan kain Jiddah pun terdapat lipatan yang sama.

"Dunia hanya perhiasan yang menipu, akhiratlah kehidupan kekal yang akan kita tuju.  Harta, keluarga dan jabatan bukan segalanya, di sisi Allahlah seharusnya kita melukis harapan."

Ahmad mengusap air matanya yang meleleh, mengulurkan carikan kertas pada istrinya, warisan yang membangunkan kesadaran mereka dari kecintaan yang berlebihan pada dunia. Disimpannya kembali carikan kertas itu baik-baik, menunggu ketiga kakaknya pulang. Bersama mereka akan membagi warisan itu, melukis harapan yang sesungguhnya di sisi Allah.

#Demak, 30112015