UMMU HURAIRAH
Sejak kecil, anak ini memang suka kucing. Terkadang ia rela membagi jatah lauknya untuk beberapa kucing yang mampir. Alhasil, rumah kami sering jadi tempat persinggahan kucing-kucing jalanan.
Di suatu hari tetiba kudengar teriakannya selepas pulang sekolah.
"Umiii... anak kucingnya bagus banget, kecil-kecil banget, lucu... "
Saat kuhampiri, dia sudah menenteng kardus bekas supermi berisi 5 ekor bayi kucing. Seekor kucing berwarna telon terlihat menggosok-gosokkan kepala di kakinya. Barangkali itu induknya.
"Lho, nemu di mana, nduk?" tanyaku penasaran.
"Di lemari baju kakak, " jawabnya santai.
Deg, jangan-jangan... Si Pus habis ngelahirin di sana, pikirku cemas, itu artinya ada setumpuk baju yang harus dicuci karena bekas partus kucing. Dan, benarlah... Ulala... Ini pasti karena kakak enggak menutup lagi pintu lemarinya. Tapi gimana lagi? Mau marah juga percuma... Enggak bakal bisa sim salabim jadi bersih lagi 😊😂
Kali lain, dia menghentikan perjalanan kami dengan tiba-tiba.
"Bentar Bi. Berhenti dulu, sebentar... aja..., " katanya seperti cemas.
"Ada apa, Nduk. Kamu ada ketinggalan sesuatu? Ini di jalan raya loh.... "
"Justru itu, Umi. Berhenti dulu, Bi, " pintanya setengah memaksa.
Belum lagi mobil kami benar-benar berhenti, anak itu sudah main buka pintu aja, macam orang yang sudah enggak kuat nahan buang air kecil. Nah, padahal di situ enggak ada toilet. Masak iya, dia mau nekat buang air kecil di semak-semak? Kayaknya enggak ada yang pernah ngajarin begitu deh. So what...? Makanya kuikuti dia.
Setengah berlari dia menuju jalan raya sambil melambaikan tangan kanannya. Sejurus kemudian dia sudah kembali dengan seekor anak kucing dalam pelukannya.
"Kasihan, entar dia ketabrak mobil, Mi. Kita bawa aja yah...."
"Mana boleh begitu, sayang...," jawabku padanya, "entar kalo induknya nyari gimana? Kasihan kan kalo dipisahin sama induknya?"
Agak lama juga membujuk dia agar melepaskan anak kucing itu, untunglah dia akhirnya mengerti.
"Jangan main di jalan raya ya pus. Tunggu aja di sini, sampai indukmu datang. " (Cara dia ngomong sama anak kucing itu sambil mengusap-usap kepalanya, udah persis kaya umi sama anaknya... 😄😄😄)
Kupikir setelah tambah besar, ketertarikannya sama kucing akan berkurang drastis, apalagi kami akhirnya punya beberapa ekor kelinci, bahkan sampai beranak pinak. Ternyata tidak, hingga di satu hari dia mewek habis sambil menngendong seekor induk kucing. Ternyata si empus dia temukan sekarat di selokan dengan perut bengkak dan muntah darah. Mungkin seseorang telah memukulnya dengan sesuatu pada perutnya.
"Ini Mi, kasihan... Umi kan dulu perawat, gimana dong diobatin biar sembuh. Kalo sampai mati kasihan bayi-bayinya...."
Mau gimana lagi? Merawat pasien manusia, sedikit banyak aku tahulah. Tapi kalau merawat kucing yang sekarat? Mana aku tahu? Aku cuma bisa menyelimutinya dan memberinya susu. Sayangnya, si empus enggak bisa diselamatkan. Jadilah kami mencari tempat di mana dia menyembunyika kelima bayinya.
"Mi, kelinci mau nyusuin bayi kucing gak? " tanyanya membuatku tertawa. Lah, kelinci aja baru mau nyusuin bayinya cuma dua kali sehari, itu pun pas dia yakin enggak ada orang di dekatnya. Masih disuruh nyusuin bayinya kucing..., ya enggak bisalah. 😁😁😁
Biar enggak penasaran, kubiarkan dia memasukkan bayi-bayi kucing itu ke kandang kelinci, bersama dengan bayi-bayinya sendiri. Induk kelinci itu selalu saja berpindah tempat saat didekati bayi kucing. Akhirnya dia keluarkan sendiri bayi-bayi kucing itu, dia beli susu bayi, lalu dia susuin pakai pipet kecil. Sayang sekali, bayi-bayi kucing itu cuma bertahan hidup beberapa hari. Dan si dia yang ditinggalkan pun sampai bersedih berhari-hari.
Setelah beranjak dewasa dan mulai kuliah pun, anak gadisku ini masih teramat suka dan peduli sama kucing. Setidaknya itu yang kutangkap beberapa hari yang lalu, saat abinya bertanya padaku, "apa dia habis nabrak kucing? Kok tetangga bilang dia habis nguburin kucing? "
Penasaran, kutanyakan juga padanya, eh dia menjawab sambil mewek.
"Tahu gak Mi, waktu aku otw pulang, aku liat kucing itu tiduran gitu di tengah jalan raya, di depan truk lagi. Lah aku di sampingnya truk. Lah kan pas macet to, jadi aku turun terus takambil taruh di jok bawah motor. Aku dilihatin sama bapak-bapak yang ada di situ og, malu sih... tapi gimana lagi? Kucingnya takgusah enggak mau bangun og, entar kalo kelindes truk kan aku jadi kebayang-bayang. Yo udah, takambil aja, tapi pas takangkat tuh udah lemes kayaknya."
"Mbok taruh di jok mana?" tanyaku.
"Itu Mi, motorku kan bagian depannya bisa buat naruh barang kan ya. Lah taktaruh di situ, taktahan pakai dua kaki di samping-sampingnya biar dia gak jatuh. Kakiku sampai dicakar-cakar sama dia. Eh, terus adzan maghrib, dianya berhenti nyakarin. Takpikir, ini kucing juga ngerti kalo adzan harus diem, ndengerin, terus aku mampir masjid yang dekat situ, buat sholat maghrib. Kucingnya masih di motor. Waktu habis sholat, taklihat kucingnya masih ada, tapi enggak gerak-gerak gitu. Pas aku pegang, udah dingin, terus takselimutin pakai kaosku, pas di bagasi ada. Terus takbawa pulang deh. Tapi sepanjang jalan aku tuh mikir, jangan-jangan ini kucing udah mati yak. Eh bener, Mi. Sampai rumah badannya udah kaku. Aku bingung to, di rumah enggak ada siapa-siapa. Terus aku nyari sesuatu buat nguburin, batangkali di kebun kita ada, tapi enggak nemu. Akhirnya aku pinjem sekop tetangga, eh dikasih cangkul. Yo udah, mana pas mati lampu lagi, akhirnya dibantuin tetangga nguburinnya. Mereka cerita ya ke Umi? "
"Kok bisa sebegitunya sih, mbak?" tanya si adik.
"Ah, kamu. Kasihan yooo.... Sekarang aja aku masih kebayang-bayang og."
Anak gadisku yang satu ini memang spesial. Kakak adiknya terhitung suka kucing juga sih, tapi enggak sampai menghentikan perjalanan gegara kucing di jalan. Duh sayang, kamu layak dijuluki 'Ummu Hurairah' ...(jadi kebayang Abu Hurairah yang daya ingatnya luar biasa. Dan menjadikannya sebagai perantara ilmu bagi umat muslim, semoga Allah meridhoinya, aamiin).
#Demak, 05022018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar