.PELANGI
Seorang gadis kecil berlari-lari kecil, sesekali melompati genangan air hujan yang membasahi jalan. Terkadang tangannya melambai, membalas sapaan orang-orang yang dilewatinya. Senyum selalu tersungging di bibir mungilnya, menumbuhkan rasa sayang, pada gadis kecil nan ramah bernama Pelangi.
"Pelangi Pelangi, alangkah indahmu
Merah kuning hijau di langit yang biru
Pelukismu agung, siapa gerangan
Pelangi Pelangi ciptaan Tuhan
Prok prok prok...hihihi." Terdengar suara di ujung jalan. Suara tawa dan tepuk tangan setelah nyanyian lagu 'Pelangi-pelangi'.
Pelangi menoleh ke arah suara. Ah, anak-anak itu lagi, gumamnya. Pelangi mempercepat langkahnya, dia tak ingin meladeni anak-anak nakal yang menggodanya itu. Lagi pula tidak ada yang salah dengan lagu itu. Biarpun tidak berada di langit, dia juga bisa membuat orang tersenyum bahagia, dan dirinya memang ciptaan Tuhan juga.
Gerbang sekolah SD Tunas Bangsa sudah kelihatan, Pelangi bergegas menuju kantin sekolah, menitipkan aneka gorengan buatan ibunya.
"Assalamu'alaikum," sapanya di depan kantin.
"Eh, Neng Pelangi, bawa apa saja nih?" tanya Bu Mimin.
"Cuma pisang goreng sama tahu bakso Bu, masing-masing 50 biji. Adik sakit panas, jadi Ibu hanya sempat menggoreng sedikit," jawab Pelangi sopan.
"Tak apa-apa, Bu Mimin doakan supaya dagangannya cepat habis, dan semoga adikmu segera sembuh," kata Bu Mimin, tangannya sibuk menata jajanan di atas meja kantin.
"Aamiin, Pelangi masuk kelas dulu ya Bu, wassalamu'alaikum," pamitnya meninggalkan kantin.
Tak berapa lama, bel tanda masuk berbunyi. Pak Pandu masuk membawa sebuah pengumuman.
"Anak-anak, satu pekan lagi akan ada pemilihan siswa teladan. Hadiahnya adalah, tropi juara dan beasiswa pendidikan selama satu tahun. Rencananya sekolah kita akan mengirim dua orang wakil. Untuk itu... selama sepekan ini kegiatan kita adalah seleksi per mata pelajaran...."
"Huuuu... ceritanya ulangan terus nih," celetuk beberapa siswa.
"Bukan ulangan anak-anak, se-lek-si, untuk menjaring siapa yang benar-benar pantas untuk mewakili sekolah kita," jelas Pak Pandu.
"Satu lagi, yang ketahuan nyontek langsung dicoret. Ayo, sekarang siapkan kertas, kita segera mulai," kata Pak Pandu lagi.
Beberapa siswa menggerutu panjang pendek, mereka kelihatan tidak siap. Tapi tidak demikian halnya dengan Pelangi. Semangatnya langsung tumbuh menggebu-gebu mendengar kata 'beasiswa', dia berharap bisa mendapatkannya.
Siang itu, Pelangi pulang dengan hati gembira. Di kantongnya tersimpan uang titipan dari Bu Mimin. Dagangan Ibu hari ini terjual habis. Di sekolah pun, dia tadi bisa mengerjakan soal-soal seleksi yang diberikan.
"Assalamu'alaikum, Bu...Ibu... Pelangi pulang," sapanya dengan riang.
"Wa'alaikum salam, Pelangi. Dagangannya habis, Nak?" tanya Ibu lembut.
"Alhamdulillah, ini uangnya Bu," jawab Pelangi sambil menyodorkan uang titipan Bu Mimin.
"Kata Pak guru, akan ada pemilihan siswa teladan, hadiahnya beasiswa lo Bu. Do'akan Pelangi ya, supaya Pelangi bisa mendapatkan beasiswa itu. Pelangi ingin mengurangi beban Ibu."
Ibu mengelus kepala Pelangi. "Tentu, Nak," katanya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya dipenuhi syukur melihat kebersihan hati putri sulungnya. Ah, andai ayahmu masih ada, bisik hatinya.
"Ibu, mengapa Ibu memberiku nama Pelangi," tanyanya penuh rasa ingin tahu.
"Kau suka melihat pelangi kan? Dia selalu datang setelah hujan reda, memberi rasa damai dan menyenangkan bagi yang melihatnya. Engkau adalah pelangi milik Ibu. Melihatmu, membuat semua duka sirna," jelas Ibu panjang lebar.
"Tapi, banyak yang suka meledekku dengan lagu Pelangi-pelangi," protes gadis kecil itu lagi.
"Tidak apa-apa, itu tandanya mereka memperhatikanmu, peduli dengan kehadiranmu," jawab Ibu menenangkan.
###
Sepekan pun berlalu, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Tak sabar rasanya melewati setiap jalanan menuju sekolahnya. Hari ini Ibu tidak menitipkan dagangan jadi Pelangi bisa berlari lebih cepat dari biasanya.
"Eh, kamu sudah sampai sekolah, Pelangi? Tidak bawa titipan Ibumu?" tanya Bu Mimin yang sedang membersihkan meja kantin.
"Wa'alaikum salam, eh...iya Bu. Ibu libur, tidak jualan dulu," katanya sambil terus berjalan menuju kelasnya.
Kelas masih sepi, Pelangi mengeluarkan bukunya. Diulangnya pelajaran yang telah diajarkan kepadanya. Baginya, waktu harus dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna. Bukan hanya untuk bermain-main saja. Satu per satu siswa pun berdatangan. Ada yang menghampirinya untuk belajar bersama, ada pula yang menghampiri sekadar mencolek saja.
Tak berapa lama, bel tanda masuk berbunyi. Pak Pandu masuk disambut riuh rendah siswa yang bertanya.
"Tenang, anak-anak. Hari ini Bapak akan mengumumkan hasil seleksi yang kemarin. Terbaik kedua adalah...." Pak Pandu menghentikan ucapannya. Hati Pelangi berdebar kencang menunggu ucapan Pak Pandu selanjutnya.
"Terbaik kedua adalah... Pu... tri...." Semua bersorak menyemangati Putri. Pelangi makin deg-degan..
"Terbaik pertama adalah...Jingga...."
Jingga? Siapa? Semua siswa berpandangan.
"Terbaik pertama adalah...Jingga...Pelangi Jingga..." kata Pak Pandu mengulangi pengumuman.
Hati Pelangi bersorak, itu namanya. Semua berebut menyalaminya.
"Maaf, teman-teman. Sudah dulu gembiranya. Saya... dan Putri... mohon doanya supaya nanti dimudahkan mengikuti lomba pemilihan siswa teladan," kata Pelangi.
Pelangi dan Putri bergegas menyiapkan peralatan sekolah mereka. Siang itu mereka diantar Pak Pandu menuju SD Teladan, tempat diadakannya lomba pemilihan siswa teladan.
###
Pelangi masih menjalani aktifitas seperti biasa. Setiap pagi berangkat sekolah sambil tak lupa menitipkan dagangan Ibu di kantin sekolah. Pelangi sudah hampir lupa dengan lomba yang telah diikutinya sebulan lalu.
Tak seperti biasanya, kelas sudah ramai saat dia datang. Tapi ada yang membuatnya heran, mengapa semua langsung diam setelah melihat kedatangannya. Mengapa kemudian mereka pergi satu demi satu meninggalkannya. Pelangi tak merasa berbuat salah. Pelangi bingung, dilangkahkannya kaki ke kantin, barangkali mereka ada di sana.
"Semua sudah kumpul di aula Neng," kata Bu Mimin.
Pelangi pun bergegas menuju aula. Tapi, mengapa pintunya tertutup? Pelan-pelan dibukanya pintu aula. Tiba-tiba terasa ada yang mengguyur seluruh tubuhnya dengan kertas warna warni. Pelangi kaget, ada apa ini?
"Panjang umurnya... panjang umurnya... panjang umurnya serta mulia...serta mu...li...a...serta mu...li...a..."
Pelangi tertegun, baru teringat olehnya kalau hari ini tanggal 26 Januari, hari ulang tahunnya. Matanya berkaca-kaca, dilihatnya semua guru juga ada di sana.
"Selamat datang Pelangi, selamat ulang tahun. Semoga beasiswa pendidikan satu tahun menjadi kado terindah buatmu," kata Pak Pandu mewakili guru-guru.
Beasiswa pendidikan satu tahun? Pelangi tersentak kaget. Jadi, dia telah terpilih menjadi siswa teladan. Kejutan yang menakjubkan, bibirnya tak putus mengucap syukur. Dibaginya kegembiraannya dengan semua orang. Rasanya ingin cepat-cepat pulang, memberitahukan kabar gembira ini kepada Ibu. Serasa dia benar-benar menjadi pelangi yang sesungguhnya di langit-langit hati ibunya. Perlahan bibirnya bergerak-gerak, menyenandungkan lagu 'Pelangi-pelangi.'
#Demak, 26012015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar