Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Minggu, 15 Februari 2015

Petualangan tiga sahabat

PETUALANGAN TIGA SAHABAT

 Keluarga Mimi Monyet tinggal di dalam hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Mereka hidup berkelompok dengan beberapa keluarga monyet ekor panjang yang lain, di antaranya adalah keluarga Yetty dan keluarga Kiki. Mereka bersahabat satu sama lain.
        
Suatu hari, di pagi yang cerah, Mimi merasa bosan. Dia jenuh dengan keadaan sekitar rumahnya. Letusan Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu telah memporak porandakan kampungnya. Banyak sekali pohon yang tumbang ataupun mati karena terkena lahar panas. Beruntung sekali, keluarganya dan beberapa keluarga satwa lainnya bisa menyelamatkan diri dan pindah ke kampungnya yang sekarang, yang letaknya di kaki gunung.
       
Rumah Mimi yang sekarang memang tidak sebesar dan seteduh rumahnya yang dulu. Persediaan buah-buahan sedikit sehingga terkadang ia berebut dengan teman-temannya. Mimi sering teringat rumahnya yang dulu, besar, luas dan juga teduh. Dulu, dia dan teman-temanya sering bermain petak umpet. Terkadang, Riri Rusa dan Sasa Musang ikut bergabung. Mimi, Yetty dan Kiki suka bersembunyi di atas pohon yang tinggi dan rindang. Tentu saja, kan  mereka monyet. Sementara Riri dan Sasa bersembunnyi  di balik semak-semak yang tinggi. Ya iyalah, mereka kan tidak bisa manjat  pohon.
        
Di mana Riri dan Sasa sekarang ya, pikirnya. Waktu itu memang keadaan kacau sekali. Bapak dan Ibu Mimi langsung menarik kedua tangannya, membacanya meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain. Begitu juga halnya dengan Yetty dan Kiki. Sementara keluarga Riri dan Sasa serta satwa-satwa yang lain berlarian entah ke arah mana, dia tidak sempat memperhatikan. Panik sih.
        
" Di mana ya mereka sekarang? Mudah-mudahan mereka juga selamat," gumamnya. Mimi jadi rindu kepada mereka.
        
Sendirian di rumah memang tidak enak. Ibu dan Bapak Mimi sedang rapat bersama kepala keluarga monyet-monyet lainnya di sebuah goa tak jauh dari tempat tinggalnya. Bapak Mimi kan ketua kelompok, ya...semacam kepala sukulah.
       
Mimi benar-benar bosan, kemudian dia memutuskan untuk ke rumah Yetty dan Kiki. Dia ingin mengajak dua temannya itu untuk mencari ikan di sungai. Dia pun bergegas menyiapkan ember.
       
Mimi berayun-ayun dari satu pohon ke pohon lainnya. Kakinya menenteng ember kosong. Sambil berayun dia memilih buah-buahan yang sudah mulai ranum, memetik dan meletakkannya dalam ember. Di tengah perjalanan, dilihatnya Yetty dan Kiki sedang asyik mengupas kacang di bawah sebuah pohon puspa.
       
"Mau kemana Mi?," tanya Yetty dengan heran.
       
"Kebetulan kita bertemu di sini. Aku baru saja mau ke rumah kalian. Kita cari ikan di sungai yuk. Pasti seru," sahut Mimi dengan gembira.
       
"Oke, tapi kita selesaikan mengupas kacang-kacang ini dulu ya. Emak akan mengolahnya nanti,"jawab Yetty.
       
Mimi meletakkan embernya. Dia pun mengambil tempat duduk di dekat Kiki dan mulai membantu mengupas kacang. Tak lama kemudian, tugas Emak Yetty pun selesai dikerjakan. Yetty berpamitan untuk pulang sebentar, mengantarkan sekeranjang kacang yang telah dikupas kepada Emak. Sementara itu, Mimi membantu Kiki mengumpulkan kulit kacang dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong plastik besar. Kiki mengikat ujungnya agar tidak berceceran kembali.
     
"Hei! Jadi cari ikan tidak?," tanya Yetty yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
     
"Jadi dooong!," seru Mimi dan Kiki bersamaan. Kompak deh.
     
Mimi mengambil embernya. Kiki pun menenteng kantong plastik.y
     
"Kamu bawa apa Mi?" tanya Yetty sambil melongokkan kepala, melihat isi ember yang dibawa Mimi.
     
"Oh, ini," jawab Mimi sambil menunjuk embernya." Aku bawa buah-buahan yang aku petik tadi pagi, untuk bekal kita."
     
"Kalau kamu bawa apa Ki?" tanya Yetty menunjuk ke tangan Kiki.
     
"Oh, ini sampah kulit kacang tadi. Mau kubuang ke sungai sekalian," jawab Kiki.
      "Eh, tidak boleh," cegah Yetty.
     
"Iya nih, tidak boleh begitu Kiki," kata Mimi membenarkan ucapan Yetty.
     
"Memangnya kenapa?" tanya Kiki tidak mengerti.
     
"Nanti bisa menyumbat aliran sungai, Kiki," jelas Yetty.
     
"Juga bisa mencemari air sungai, membuatnya menjadi dangkal dan tidak jernih," jelas Mimi pula.
     
"Dan kalau dibiarkan, bisa menyebabkan banjir!!" seru Mimi dan Yetty bersamaan. Lagi-lagi ada yang kompak.
      
"Kalian sudah seperti Bu guru deh. Kalau begitu, sampah ini harus dibuang kemana? Kan juga tidak boleh ditinggalkan di sini begitu saja. Mana di sini tak ada tempat sampahnya lagi," seru Kiki bersungut-sungut.
      
"Tadi aku lihat ada sebuah lubang besar di sebelah sana. Mungkin tadinya bekas perangkap macan tutul.Kita buang di sana saja, lalu kita timbun," kata Yetty sambil menunjuk ke suatu tempat.
      
Kiki dan Mimi setuju, kemudian mereka bergegas menuju tempat yang dimaksud Yetty untuk membuang sampah kulit kacang tadi. Setelah itu mereka berayun-ayun menuju sungai.
      
Tak berapa lama, mereka pun sampai di pinggir sungai. Airnya banyak dan jernih. Di sebagian tempat di sisi sungai terdapat beberapa bongkah batu besar bekas muntahan gunung Merapi. Mimi meletakkan embernya di sampingnya.
      
Kiki dan Yetty duduk di atas batu di bagian pinggir sungai. Mereka menggoyang-goyangkan kaki ke dalam air. Ikan-ikan kecil segera datang  menghampiri dan mengerubuti kaki mereka. Rasanya seperti digelitiki. Tak lama kemudian Mimi ikut bergabung sambil membawa buah-buahan. Mereka bermain air sambil makan buah-buahan. Sesekali mereka membagi buahnya menjadi potongan-potongan kecil dan melemparkannya ke dalam air. Ikan-ikan kecil itu berenang mengejarnya. Tiga sahabat itu tertawa-tawa riang gembira.
     
Tak puas hanya bermain kaki, mereka pun mencebur ke dalam sungai. Mimi menyelam mencari ikan yang besar. Tangannya menyentuh ganggang yang mengambang di dalam air, dia mencabutnya dan melemparkan ke arah dua temannya.
     
"Ulaaarrr....!" teriaknya seolah-olah ketakutan.
      
Yetty dan Kiki terkejut. Mimi tertawa geli. Yetty dan Kiki balas mencipratkan air ke muka Mimi. Mimi gelagapan karena kaget. Mereka pun saling menyipratkan air dan saling melempar apa saja yang tertangkap tangan mereka. Puas bermain air, mereka pun menangkap ikan yang besar. Mereka baru beranjak pulang setelah matahari tinggi di atas kepala.
      
Mimi memasukkan 12 ekor tangkapan mereka ke dalam ember. Pintar juga mereka menangkap ikan. Dalam waktu tidak terlalu lama sudah mendapat 12 ekor ikan besar. Mereka bermaksud memberikan ikan hasil tangkapannya kepada Kakek Hari, seekor macan tutul yang sudah tua. Mereka bertiga kan tidak suka ikan.
      
Kakek Hari memang berbeda dengan macan tutul lainnya. Kakek Hari tak pernah mengejar dan memangsa monyet ekor panjang seperti kebanyakan macan tutul lainnya. Hari lebih suka menangkap beberapa ekor ikan untuk mengganjal perutnya. Oleh karena itu tiga sahabat tidak takut kepadanya. Kadang-kadang mereka malah menangkap ikan untuknya, seperti hari ini.
     
Kakek Hari senang sekali mendapat oleh-oleh ikan. Dia pun memetikkan setandan pisang untuk mereka bertiga sebagai ucapan terima kasih. Tiga sahabat semakin senang.
     
Di tengah perjalanan, Mimi seperti melihat seekor kijang melintas.
     
"Berhenti dulu teman-teman, sepertinya aku melihat seekor kijang. Jangan-jangan Riri. Kalian masih ingat Riri si kijang?" tanya Mimi pada teman-temannya.
     
"Ingat dong, masak sama teman lama lupa sih," jawab Kiki sambil mencari-cari sosok yang disebutkan Mimi.
     
Ternyata di belakang semak-semak ada seekor kijang yang sedang merumput. Tiga sahabat segera mendekatinya. Ternyata benar, kijang itu adalah Riri, teman mereka dahulu.
     
"Eh, Riri, bagaimana kabarnya? Lama tidak pernah bertemu, kamu tinggal di mana?" tanya Mimi.
     
"Aku tinggal di balik bukit. Kalian dari mana, mau kemana? mau mampir ke rumahku?" tanya Riri bertubi-tubi.
     
"Tanyanya satu-satu dong," kata Kiki.
     
"Kami dari rumah Kakek Hari," kata Yetty.
     
"Si Macan tutul tua itu?! Dia juga selamat? Kalian tidak takut?" tanya Riri. Sepertinya dia tidak begitu suka bila tiga sahabat berakrab-akrab dengan Kakek Hari.
      
"Jangan bicara begitu Riri. Kakek Hari baik kok, dia tidak seperti macan tutul yang lain. Lagi pula dia sudah sangat tua. Sesama makhluk Tuhan harusnya saling membantu dan berbuat baik," nasehat Mimi.
      
"Iya Ri, tadi kami menangkap ikan kemudian kami berikan kepada Kakek Hari. Beliau kelihatan senang sekali. Waktu mau pulang, kami diberi oleh-oleh pisang satu tandan. Nih pisangnya, besar-besar dan ranum lagi Hmmmm....," kata Yetty sambil membaui pisang yang dia bawa.
       
"Pisang?...Mauuu...bagi dooong!" seru Riri setelah melihat pisang yang dibawa Yetty.
       
"Eittt....tidak boleh. Tadi mencela Kakek Hari, masak sekarang mau minta pisangnya..," goda Mimi.
      
"Kan aku kira Kakek Hari seperti macan tutul yang lain. Aku minta maaf deh. Sekarang aku minta pisangnya beberapa buah, boleh?" tanya Riri kepada tiga sahabat.
      
"Tentu saja, kami bertiga kan...tidak peliiit!" teriak tiga sahabat kompak. Mereka pun memberikan sesisir pisang untuk Riri. Riri senang sekali, dia mengucapkan terima kasih berkali-kali.
      
Sementara itu, matahari sudah hampir terbenam. Ibu Mimi, Emak Yetty dan Bunda Kiki cemas karena anak-anak mereka belum juga kembali ke rumah.
      
"Mungkin mereka masih di sungai," kata Emak Yetty," soalnya tadi Yetty pamit mau mencari ikan bersama Mimi dan Kiki."
Mereka bergegas menuju sungai, namun sesampai di sana mereka tidak menemukan siapa-siapa. Para ibu semakin cemas. Saat itu terlihat samar-samar seperti nyala api di kawasan hutan pinus, tak berapa jauh dari tempat mereka berdiri.
      
"Jangan-jangan....," seru Ibu Mimi tertahan.
Emak Yetty dan Bunda Kiki terkejut, mereka saling berpandangan.
     
"Jangan-jangan ada kebakaran, jangan-jangan mereka bertiga ada di sana!" teriak mereka bertiga sambil bergegas berayun dari satu pohon ke pohon yang lain dengan sangat cepat agar bisa secepatnya sampai ke tempat itu.
      
Tak berapa lama para ibu pun sampai ke hutan pinus. Terlihat anak-anak mereka sedang asyik membakar pisang. Para ibu segera menggali tanah dengan tangan mereka. Kemudian tanah-tanah itu pun mereka lemparkan di atas api sampai padam. Tiga sahabat pun terkejut.
      
"Ibu??? Mengapa dimatikan?" tanya Mimi heran.
      
"Iya nih, pisangnya kan belum matang!" protes Yetty dan Kiki pula. Mereka bertiga pun berusaha membongkar gundukan tanah itu untuk mengambil pisang mereka.
     
"Maaf sayang, kita tidak bole menyalakan api unggun di kawasan hutan pinus. Apalagi pohon-pohon pinusnya tumbuh rapat begini. Berbahaya," jelas Ibu Mimi.
     
"Apa bahayanya Bu," tanya Yetty ingin tahu.
     
"Bisa terjadi kebakaran besar, nak. Karena pohon pinus mudah terbakar. Kalau sampai terjadi, akan susah sekali memadamkannya. Bahkan, mungkin bisa merambat ke kampung tempat tinggal kita," Bunda Kiki ikut menjelaskan.
      
Tiga sahabat saling berpandangan. Untunglah para ibu cepat menemukan mereka. Kalau sampai terjadi kebakaran mereka akan merasa bersalah.
      
"Sudah, sudah, malam sudah datang, mari kita pulang. Nanti para ayah kebingungan mencari kita. Tapi, Emak harap ini jadi pelajaran berharga buat kalian bertiga. Tempat di mana kita tinggal, kitalah yang harus menjaganya. Kalau tidak dimulai sekarang, mau kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?" kata Emak Yetty panjang lebar.
      
"Iya Mak," sahut tiga sekawan kompak. Mereka berenam pun bergegas pulang.

                   .       
#Demak, 7 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar