Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 26 Februari 2015

Hal jazaaul ihsaani illal ihsaan

Hal jazaaul ihsaani illal ihsaan
Oleh: Titien SDF

Malam hening sunyi, anak-anak tertidur lelap di kamarnya masing-masing. Kutunaikan kewajiban sebagai seorang istri kepada suaminya. Mencari ridhonya yang dapat menyelamatkanku dari adzab neraka.

Wajah yang tak pernah marah itu begitu teduh. Rupanya dia merasakan pandanganku yang lekat dan enggan beralih. Dia balik menatapku lekat-lekat, membuatku merasa jengah.

"Umi, Abi ingin jadi sukarelawan di Aceh," katanya mengagetkanku. Memang, tiga hari ini semua media marak memberitakannya. Tsunami yang terjadi menjelang subuh 26 Desember 2004 itu diberitakan sebagai bencana tsunami terdahsyat sepanjang sejarah.

"Apa tidak cukup membantu penggalangan dana untuk mereka Bi?" tanyaku penuh kekawatiran mengingat gempa susulan bisa terjadi sewaktu-waktu. Tentu saja, aku takut kehilangan laki-laki yang telah mengukir lima anak yang sedang bertumbuh.

"Ini panggilan jihad Mi, dakwah. Apa kita rela bila anak-anak Aceh yang sudah kehilangan segalanya harus ikut pasukan kemanusiaan negara lain yang belum tentu muslim? Apa kita rela jasad-jasad saudara kita tidak mendapatkan perawatan jenazah sebagaimana layaknya?" tanyanya menyentuh perasaanku. Dia benar, aku tak bisa menolak selain mengangguk mengiyakan.

"Rencana berangkat kapan Bi?" tanyaku kemudian.

"Besok pagi Abi berangkat ke Jakarta, bergabung dengan teman-teman Mer-c BSMI. Lusa mungkin baru terbang ke Aceh. Semoga tak memakan waktu lama," jawabnya.

Malam itu juga kami mempersiapkan segalanya. Disodorkannya sebuah amplop padaku, isinya uang Rp 400.000. Kuambil setengahnya dan sisanya kuberikan padanya.

"Kenapa dikembalikan Mi? Itu untuk belanja harian dan keperluan anak-anak selama Abi tidak ada," katanya.

"Tak apa Bi, in syaa Allah cukup. Abi lebih butuh di sana. Kalaupun tak Abi gunakan, sumbangkan saja untuk korban bencana," jawabku yakin.

Pagi harinya kulepas dia dengan doa tak terputus. Niat baik akan mendapat kemudahan dan berkah, pikirku penuh dengan husnudhon kepada Sang Pencipta.

"Jangan kabari orang tua kita. Abi tak ingin mereka cemas," pesannya. Kuanggukkan kepala dan memintanya agar sering memberi kabar.

Dua hari setelahnya orang tuaku berkunjung ke rumah kami.

"Amir mana?" tanya Ibu," jangan bilang kalau dia berangkat ke Aceh."

Aku terdiam, tak mampu menjawab pertanyaannya.

"Adik-adik sehat Bu?" tanyaku mengalihkan perhatian.

"Tak usah mengalihkan pembicaraan. Mesti Amir jadi sukarelawan. Ibu tahu benar seperti apa dia. Kenapa kaubiarkan? Kalau ada apa-apa dengan dia, bagaimana...?"

"Sudah Bu, doakan saja. Bukankah doa seorang ibu tak akan tertolak. Suamiku putra Ibu juga kan...," jawabku berusaha menenangkannya. Perlahan kemarahannya mereda, alhamdulillah.

"Biar Bapak tirah di sini ya Tien, sekalian ngancani kamu dan anak-anak," ujar Bapak menenangkan Ibu.

Dua hari kemudian, giliran bapak mertuaku datang. Beliau memang sering mengunjungi kami dan menginap bila kangen dengan cucu-cucunya.

"Kudengar Amir ke Aceh ya? Kalau begitu, biar Bapak menginap di sini, sampai Amir pulang," katanya. Aku pun tak bisa menolak.

Mulai saat itu, kebutuhan harian kami bertambah. Ada dua perut lagi yang harus dipenuhi. Juga biaya pengobatan Bapak. Untunglah ada teman dokter yang tinggal tak jauh dari rumah, sehingga sewaktu-waktu dapat kupanggil ke rumah saat dibutuhkan.

Hari berganti hari, dua minghu pun hampir berlalu. Mas Amir tak juga memberi kabar. Kucurahkan segenap perhatian pada anak-anak dan dua orang tua yang berada dalam tanggunganku. Beras habis, uang di tangan pun menipis. Aku hanya bisa memohon pada Allah agar diberikan jalan keluar dari masalah.

Selepas maghrib, ponsel berdering, dari suamiku.

"Assalamu'alaikum Umi, Abi kangen," ucapnya di seberang sana.

"Wa'alaikum salam, Abi di mana?" tanyaku. Seperti mimpi rasanya, bisa mendengar suaranya lagi.

"Abi masih di Meulaboh. Afwan, baru bisa memberi kabar. Begitu banyak yang harus dikerjakan di sini, saluran komunikasi terputus. Umi dan anak-anak baik-baik saja kan?"

Mas Amir banyak bercerita tentang keadaan di sana, tentang keadaan para korban dan juga para pengungsi. Tentang beberapa keajaiban yang terjadi di sana. Bagaimana mereka menyiapkan hari raya qurban yang ada di depan mata. Ah, aku tak sanggup menceritakan keadaan kami. Kukatakan kami baik-baik saja walaupun sebenarnya tak ada yang tersisa untuk belanja  esok hari.

"Abi kapan pulang?" tanyaku pada akhirnya.

"Secepatnya, Sayang. Setelah semua tugas terselesaikan," jawabnya. Mungkin dia merasa aku teramat rindu padanya. Memang sih, tapi bukan itu yang menyesaki dadaku sebenarnya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa.

"Ya Robb, kutahu Engkau tak pernah menyia-nyiakan hamba-Mu." Kutumpahkan segala rasa di atas sajadah, di sepanjang malam. Aku tak akan meminta pada orang tua untuk menjaga izzah suami. Pun tak mungkin meminjam pada tetangga karena selama ini mereka sering meminjam kepada kami. Pun aku tak pernah tega untuk menagihnya.

Keesokan harinya, kulakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Tiga hari lagi hari raya qurban, tak ada yang bisa kupersiapkan seperti biasanya.

"Sudah siap hewan qurban Bu? Kalau belum, nanti kami siapkan," kata takmir masjid kami saat dilihatnya aku sedang menjemur pakaian di depan rumah.

"Belum pak, mungkin dua hari lagi," kataku tak ingin membuatnya kecewa.

Setelah takmir masjid pergi, seseorang datang diantar tetangga mencari rumah kami.

"Maaf Bu, benar ini rumah Pak Amir Darmanto?" tanya sang tamu padaku.

"Benar, ada apa ya Pak?" tanyaku ingin tahu. Ada rasa cemas, jangan-jangan dia membawa kabar buruk tentang suamiku.

"Ini Bu, saya mendapat tugas untuk mengembalikan uang yang dipinjamkan Pak Amir satu tahun yang lalu," katanya.

"Bapak siapa?" tanyaku setengah tidak percaya.

"Katakan saja pada Bapak, saya orang yang pernah ditolongnya tahun lalu. Maaf, baru bisa mengembalikan. Sampaikan salam saya untuk Bapak ya Bu," kata sang tamu berpamitan.

Aku masih terdiam memegang amplop itu memandanginya sampai hilang di ujung gang. Tangan terasa gemetar membukanya. Uang sebesar Rp 800.000. Subhanallahu walhamdulillahi wa laa illaha illallahu allahu akbar. Tasbih, tahmid, tahlil dan takbir kulantunkan mengiringi syukur yang memenuhi dada. Siang itu aku dapat berbelanja untuk kebutuhan harian kami.

Esok paginya kupanggil takmir masjid dan kuserahkan uang untuk membeli hewan qurban. Uang masih tersisa dan kebutuhan pun tercukupkan sampai suamiku pulang.

Kuceritakan padanya apa yang kami alami selama dia tidak ada.

"Hal jazaaul ihsaani illal ihsaan. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan. Ingat Mi, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Tanamkan pada putra-putri kita, agar cinta-Nya selalu membersamai kita," jawabnya sambil mengecup keningku. Rasanya damai menjalari seluruh jiwa. Satu lagi ujian terlewati. Alhamdulillahi robbal alamiin. Semua ini karena rahmat-Mu.

#Demak, 26022015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar