Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 19 Februari 2015

Sang idola

SANG IDOLA

"Sharmay...! Sharmay...! Sharmay...!"

Terdengar riuh rendah penonton pertandingan basket mengelu-elukan pemain favorit mereka. Teriakan yang memompakan semangat pada Sharmay, Anna dan teman-temannya. Terlebih Sharmay sudah berhasil memasukkan bola ke keranjang lawan beberapa kali.

"Priiit...waktu habis. Pertandingan ini dimenangkan oleh SMA Bina Bangsa dengan score 6:2...."

Terdengar wasit mengakhiri pertandingan. Anak-anak SMA Bina Bangsa kembali bersorak, mengelu-elukan tim basket pujaan mereka.

"BB Basket...memang top, Sharmay...Sharmay...Sharmay...."

Sharmay mengusap peluh yang mengalir deras di wajahnya, sebotol coca cola telah habis memuaskan dahaganya. Beberapa anak SMA Bina Bangsa serentak mendekat dan menyalaminya. Sharmay tersenyum senang menyambut tangan mereka.

"Selamat ya May...," kata seorang gadis menyalami Sharmay. Gadis yang manis, berkulit putih, mata lentik, postur aduhai, membuat Sharmay menatapnya lekat untuk beberapa lama.

"Siapa ya?" tanyanya.
"Lia...Lia Dahlia, anak kelas 11 Bahasa," kata gadis itu sambil menyelipkan secarik kertas terlipat rapi dalam genggaman tangan Sharmay.

Lia mengedipkan sebelah mata dan kemudian berlalu meninggalkan Sharmay dalam tertegun, mencoba mengurai ingatan tentang adik kelasnya itu. Dibukanya lipatan kertas dalam genggamannya, hanya dua baris kalimat isinya,"aku sangat mengagumimu, berbagilah suka duka denganku."

"Apaan sih May, serius amat bacanya."

Tiba-tiba Anna sudah berada di depannya, mengambil kertas dalam genggaman Sharmay lalu bertanya,"dari siapa May? Pengagum rahasia ya?"

"Ih...apaan sih? Ini dari Lia, tau! Anak kelas 11 Bahasa," jawab Sharmay.

"Haaa...si Lia itu kan sukanya jeruk makan jeruk. Udah ah, gak usah dipikirin. Mendingan kita rayakan kemenangan kita ini di cafe Mpok Lilis aja...yuk...," ajak Anna sambil menarik tangan Sharmay. Yang digandeng menurut saja.
###

Hari itu Sharmay latihan basket seperti biasa. Tulisan Lia pun sudah dilupakannya. Tempat latihan masih sepi. Entah kenapa personil BB Basket belum kelihatan batang hidungnya. Sharmay pun berjalan menuju kantin yang terletak di seberang lapangan basket. Dilihatnya seseorang sedang duduk meringkuk sendirian di pojok taman dekat kantin sekolah. Rasa ingin tahu membawa langkahnya untuk menghampiri. Ternyata gadis itu adalah Lia.

"Lia...," serunya tertahan," sedang apa sendirian di sini?"

Lia menoleh, menatapnya sejenak kemudian memeluknya dengan berurai air mata.

"Tolong aku May, aku tak tahu harus bagaimana. Orang tuaku benar-benar bercerai sekarang, dan aku bingung harus memilih ikut siapa. Keduanya sama-sama egois, tak pernah menganggapku ada du antara mereka...," keluh Lia panjang lebar.

Sharmay terhenyak mendengar kisah kehidupan Lia yang begitu menyedihkan. Dia merasa jauh lebih beruntung, empatinya pun muncul. Dianggukkannya kepala ketika Lia memintanya untuk berbagi suka dan duka.

Hari-hari selanjutnya memberi warna pada kehidupan mereka. Lia ternyata asyik juga diajak ngobrol apa saja. Sharmay mulai sering lupa saat jadwal latihan basket tiba. Dia lebih sering mengisi hari-harinya bersama Lia.

Suatu hari Anna tak sengaja berpapasan dengan Sharmay di gerbang sekolah. Saat itu dia hanya sendirian saja.

"Wuih...sibuknya, sampai gak pernah ikut latihan. Kalau begini terus, gimana BB Basket mempertahankan gelar juara?"

Ucapan Anna membangunkan kesadaran Sharmay, selama ini dirinya benar-benar jatuh cinta pada dunia basket. Bagaimana mungkin seorang Lia bisa menjauhkannya dari dunia yang dicintainya. Ah, Lia pasti tak keberatan menunggunya saat latihan, begitu pikirnya.

"Ah, kamu kan sudah jadi bintang basket May. Tak perlulah sering-sering latihan, bikin capek saja. Lagipula aku gak suka kalau mereka mengerumunimu," jawab Lia saat Sharmay mengutarakan keinginannya.

Sharmay benar-benar tak habis pikir, apa jadinya BB Basket kalau dia tak ikut latihan. Padahal sebulan lagi akan diadakan kejuaraan basket tingkat propinsi di kotanya. SMA Bina Bangsa harus bisa membawa medali, BB Basket harus jadi juara. Itu artinya harus latihan dan latihan.Dia pun mulai membagi waktunya untuk latihan dan menemani Lia.

"May, kenalin. Ini Dito, kapten basket SMA Tunas Harapan. Tahun kemarin tim mereka juara nasional lho. Belajar sama dia yuk, biar BB Basket bisa jadi juara terus."

Ucapan Anna tadi pagi terngiang-ngiang di telinga. Bayangan Anna dan Dito silih berganti memasuki pikirannya. Anna benar dan Dito kelihatannya bukan cowok yang sok jual mahal, dia pasti mau diajak berlatih bersama, begitu pikir Sharmay.

"Mikirin apa sih May? Pasti basket lagi ya...aku gak dianggap," rajuk Lia yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Kok bisa sih, ini anak mengikutinya terus ke mana-mana, Sharmay mulai jengah.

"Bulan depan ada kejuaraan basket, Lia. Aku tak bisa diam saja. BB Basket harus menang, dan itu artinya kami harus lebih banyak latihan. Kau harus mengerti," kata Sharmay mencoba menjelaskan.

"Ini pasti gara-gara Anna dan Dito. Kau lebih memilih mereka daripada aku kan? Karena mereka jago basket dan aku tak bisa apa-apa!"

Lia berteriak marah, matanya menatap penuh rasa benci.

"Lia, semua orang punya kelebihan. Kamu juga. Cantik, langsing, pintar, kalau tak egois pasti banyak yang suka padamu," balas Sharmay.

"Kau...kau..., tak taukah engkau bila aku mencintaimu? Aku ini milikmu May, kekasihmu...!"

"Tidak Lia, kita ini sama-sama wanita. Tak boleh saling mencinta. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adik yang harus kulindungi."

"Kau...kau...aku tak mau bertemu denganmu lagi!" teriak Lia sambil berlari.

Sharmay memandangnya  penuh iba, namun ditahannya langkah agar tak berlari mengejar. Barangkali, inilah jalan yang ditunjukkan Allah padanya sebelum hubungan mereka semakin dalam. Biarlah Lia dan dirinya di atas jalan masing-masing. Dalam hati Sharmay berharap agar Lia dapat segera menemukan jalan yang benar.

Hari-hari selanjutnya mulai mengembalikan Sharmay pada aktifitasnya semula. Personil BB Basket sangat gembira seiring dengan kembalinya semangat sang kapten, Sharmay. Sharmay berusaha fokus untuk menghadapi kejuaraan yang akan digelar. Latihan dan latihan menyibukkan hari-harinya. Dito banyak berbagi strategi dan trik untuk BB Basket.
Sharmay bersyukur, Anna telah mempertemukan mereka.

"Kalau kalian rajin berlatih, bukan tidak mungkin kalian menjadi juara nasional tim basket putri," itu kata-kata Dito yang selalu diingat Sharmay.

Sementara itu, Lia diam-diam masih memperhatikan Sharmay dari kejauhan. Terngiang lagi ucapan Sharmay padanya,"kau juga punya kelebihan Lia, pasti banyak yang suka denganmu jika kamu tak egois."

Perlahan tapi pasti, Lia mulai berubah. Terkadang, dia ikut nimbrung dalam latihan tenis meja, permainan yang dulu sering dilakukannya bersama orang tuanya, saat mereka masih harmonis. Seiring waktu, dia pun masuk dalam tim tenis meja sekolah. Lembaran abu-abu yang pernah dilaluinya pun mulai memberkas putih.

Hari digelarnya kejuaraan basket pun tiba, Sharmay dan timnya sudah sangat siap. Kali ini mereka harus berhadapan dengan tim putri SMA Tunas Harapan, sekolah Dito.

"Sekolah kita bertanding May, kuharap BB Basket tidak mengecewakan," kata Dito padanya sesaat sebelum pertandingan.

"Eh...kau menjagokan sekolahku nih?" Sharmay membalas dengan pertanyaan yang menggoda.

"Bukan begitu, tim sekolahku tetap yang terbaik bagiku. Tapi kalau tim kalian menang, aku juga bangga, kan aku ikut latihan juga," jawab Dito.

Sharmay tersenyum, Dito benar-benar cowok yang baik, patut dicontoh nih, begitu pikir Sharmay.

Pertandingan pun dimulai. Lia berdoa untuk kemenangan Sharmay dan tim sekolahnya di antara penonton. Kedua tim sama-sama kuatnya, mereka benar-benar bersaing ketat.

Tak terasa waktu cepat bergulir, pertandingan pun hampir berakhir.  Di titik nadhir Sharmay berhasil memasukkan bola, ketegangan pun mencair. Penonton bersorak riuh rendah.

"Sharmay...Sharmay...Sharmay...BB Basket...juara!"

Teriakkan para penonton pun menutup pertandingan yang dimenangi oleh tim Sharmay dengan angka tipis.

Sharmay menyeka peluhnya, pertandingan kali ini benar-benar menguras tenaganya. Tapi dia bahagia, atas apa yang telah diusahakannya.
Disambutnya tangan orang-orang yang menyalaminya dengan senyum gembira.

"Selamat ya May, tim kalian benar-benar hebat. Aku salut," kata Dito.

"Ah, ini berkat kamu juga, makasih ya...," balas Sharmay.

"May, selamat ya," kata Lia mendekati Sharmay. Lia Dahlia yang berbeda, kini dia seorang atlit tenis meja yang diperhitungkan.

Sharmay tersenyum dan berkata,"aku senang, kau banyak berubah."

"Maafkan salahku dulu ya May, semua ucapanmu benar. Kaulah yang telah merubahku menjadi yang sekarang, dan aku menikmatinya. Bolehkah aku menganggapmu kakak? Aku ingin menjadi adik yang baik bagimu," kata Lia.

"Ajak aku juga dong," kata Anna, tiba-tiba dia sudah berada di antara mereka.

Sharmay tersenyum dan merangkul mereka semua, bisiknya," tapi harus janji, saling mengingatkan untuk lebih baik."

Dunia pun tersenyum menyambut kembalinya sang idola.

#Demak, 06022015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar