Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 24 April 2020

IBU DI TENGAH CORONA 4


Ada lagi sebagian ibu yang tidak terlalu terbebani dengan masalah social distancing.  Mereka ini termasuk tipe ibu-ibu  kreatif. Mereka mampu mengubah masalah menjadi berkah.  Pun meski dengan segala keterbatasan yang ada. 

Di antara mereka ada ibu-ibu  pecinta lingkungan.  Tagline kelompok ini adalah go green dan zero waste. Di tangan mereka,  sampah bisa didaur ulang menjadi lebih berguna.  Tak hanya lebih cantik dari sebelumnya namun juga berdaya jual tinggi. Ada yang memanfaatkan limbah kemasan sachet menjadi tas dan tikar cantik.  Atau pemanfaatan botol bekas,  CD bekas,  ataupun kertas majalah yang disulap menjadi kap lampu mewah. Dan masih banyak lagi.  

Sebagian dari mereka memilih untuk memilah limbah dapur yang organik dan non organik.  Limbah dapur organik dikumpulkan dalam wadah khusus dan diolah menjadi pupuk organik.  Ada pula yang memanfaatkan limbah sayurannya untuk ditanam lagi. Sementara itu,  limbah non organik juga dimanfaatkan sebagai pot atau media tanam. Maa syaa Allah.

Namun,  ada pula yang memilih tidak berkreasi dengan sampah atau daur ulang.  Mereka memilih mengisi waktu dengan merajut,  menyulam,  menjahit,  melukis ataupun menulis.
Ibu-ibu  kreatif memang top markotop. Barokallah ya Ibu.

Tapi ada baiknya,  ketrampilan yang dimiliki ini ditularkan kepada ibu-ibu  yang lainnya.  Ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala, bukan.  Apalagi bila dilakukan pada masa corona,  di mana banyak orang yang membutuhkan.  Apalagi dilakukan pada bulan ramadhan,  bulan dilipatgandakannya pahala kebaikan. Dapat menolong sesama,  dapat tambahan aliran pahala pula. 
Maa syaa Allah.  Tabarokallah.

(bersambung)

#Demak,24042020

#D24
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Kamis, 23 April 2020

MARHABAN YA RAMADHAN


Ramadhan telah datang
Lihatlah... Betapa banyak oleh-oleh yang dia bawakan. Ada berlipat-lipat balasan untuk setiap sambutan yang memuliakannya. Senyum-Nya  berbalut keberkahan.  Ridho-Nya  bertabur maghfiroh.  

Fabi ayyi alaa-irobbikumaa tukadzdzibaan.  Marhaban ya ramadhan.  Bersamai kami dalam keberkahan. 

Semoga bersama datangnya ramadhan ini,  wabah corona dan segala hal yang buruk berangsur pergi dari negri kita tercinta.  

Demikian juga dengan segala salah dan khilaf kami selama ini.  Untuk perlakuan dan sikap yang tak menyenangkan.... Untuk semua ucapan yang mungkin menyinggung hati....  Dan untuk keterbatasan kami dalam membersamai....  Kami,  keluarga Amir Darmanto dan Titien Fatmasari, mohon maaf lahir dan batin.  Semoga Allah mudahkan kita semua dalam memuliakan ramadhan.  Dan semoga Allah taburkan keberkahan ramadhan dalam rumah-rumah kaum muslimin. Aamiin.  

#Demak,23042020

#D23
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

BELAJAR BELA DIRI PRAKTIS


"Pemanasan dulu,  yuk.  Entar Abi ajarin bela diri praktis," seru Abi seusai ma'tsurotan subuh. Anak-anak yang udah bersiap masuk kamar lagi pun serentak duduk lagi. 

Kami masih dalam posisi melingkar saat Abi memulai gerakan pemanasan.  Setelah selesai pemanasan,  baru mulai beliau sampaikan perlunya belajar beda diri praktis.  Terutama buat kakak-kakak  yang kuliah sampe malem.  Buat jaga-jaga kalau ada sesuatu di jalan.  Juga buat jaga adik-adik  kalau pas di rumah sendirian.

"Aku mah pilih lari aja, " celetuk kakak ke-dua.

"Kebanyakan lemak gitu,  mana bisa lari..., " canda kakak ke-empat. Yang lain ketawa serempak. Si Bungsu cengar-cengir. Iya sih.  Tiga pekan di rumah aja,  lebih banyak makan daripada gerak. 

"Tumbuh tuh ke atas,  bukan ke samping, " sahut Abi tertawa.

"Hehe,  kayak iklan ya,  Mi, " celetyk si Bungsu, "makan terus sih... hehe. "

Kali ini Abi kasih contoh praktek bersama kakak ke-empat.  Yang perempuan praktek berpasangan juga.  Tinggal si Bungsu yang gak dapat partner.  Jadinya dia bereksplorasi dengan kamera kakak,  jepret sana,  jepret sini,  videoin. 

"Awas ya,  gak boleh upload yang ada kita-kita," pesen kakak-kakak  perempuan serentak.

"Udah,  embak latihan aja.  Yang serius...," balesnya sambil ketawa.

Makasih ya Bi,  atas kesabarannya ngajarin kita-kita yang kebanyakan lemak ini. In syaa Allah kita praktekin kok,  kan baik buat kita juga. Slamet...  slamet...  slamet... aman...  aamiin.

#Demak, 11042020

#D11
#3MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Rabu, 22 April 2020

IBU DI TENGAH CORONA 3


Memasak adalah kegiatan yang mutlak ada dalam daftar pekerjaan ibu rumah tangga.  Bahkan meskipun sebagian mereka seringkali mengakui bahwa mereka bukan jago masak.  Sebagian lagi mengaku hanya bisa masak air dan mie instan.... duh. 

Bicara tentang masakan,  hampir semua orang bilang masakan paling sedap adalah makanan yang dimasak oleh ibu sendiri. Bahkan meski sang ibu mengaku tidak bisa memasak.  

Masakan ibu tetap selalu bikin lapar. Meski barusan pulang dari kuliner bareng teman-teman,  kalau sampai rumah tetep lapar. Hal yang seringkali ditanyakan adalah,  "Ibu masak apa?" Saking istimewanya masakan ibu,  tidak aneh bila kemudian sebagian pemuda hanya mencari  calon istri yang bisa memasak.  

Ada sebagian ibu yang merasa tidak bisa masak. Ada yang kemampuan memasaknya biasa saja. Sebenarnya kemampuan bisa diasah sih,  tinggal niat dan kemauannya ada atau tidak. 
Namun,  ada juga sebagian ibu yang hobi banget dengan kegiatan masak memasak ini. Mereka adalah ibu-ibu  tipe tukang masak (koki) 

Bagi kelompok ibu-ibu  yang doyan memasak ini, stay at home berarti waktunya eksplorasi cooking. Mereka masih bisa menyalurkan hobi memasaknya di rumah. Dia akan rajin berburu resep masakan.  Kemudian mencoba mempraktikkannya. Baik itu resep membuat kue-kue,  minuman segar,  puding,  atau bahkan masakan yang biasa digunakan untuk lauk makan.

Sepaket dengan hobi memasaknya,   ibu-ibu  ini biasanya  juga suka belanja peralatan masak. Peralatan masaknya seabrek-abrek. Meski terkadang hanya beberapa saja yang terpakai.  Jadi mubadzir deh kalau enggak digunakan. 

Di saat stay at home ini,  waktu yang baik untuk menyalurkan hobi memasak.  Ibu-ibu  bisa memasak kue-kue  atau makanan kesukaan keluarga di rumah.  Untuk takjil dan sahur. Bisa juga membuat kue-kue  kering untuk persiapan lebaran.

Selain untuk keluarga sendiri,   bisa juga memasak makanan kesukaan saudara kita yang tinggal nun jauh di sana. Dan mengirimkannya sebagai ganti kehadiran  kita.  Agar tali silaturahim tetap terjaga. 

But the way,  hobi memasak ini juga bisa jadi jalan untuk menghasilkan pundi-pundi uang.  Semakin sering mereka bereksplorasi,  semakin sering praktik,  maka keahliannya akan makin terasah.  Olahan reaep yang sama di tangan ibu biasa dengan di tangan ibu tukang masak,   tentu beda rasa dong. Beda tampilan hasilnya pula. 

Di tangan ibu-ibu  tukang masak,  rasa dan  tampilan inilah yang kemudian menjadi unggulan dari produk olahan mereka.  Apalagi bila dikemas dengan kemasan yang menarik pula. Untuk menjualnya pun mereka bisa melakukannya dari rumah.  Melalui toko online,  market place atau ditawarkan ke tetangga,  teman dan sesama anggota grup media sosial tertentu. Perut kenyang,  hobi tersalurkan,  masih dapat tambahan penghasilan. 

Bulan ramadhan juga merupakan bulan berderma.  Maka,  sisihkan pula sebagian rejeki untuk mereka yang membutuhkan. Banyak ibu-ibu  lain yang masih puyeng memikirkan apa yang akan dimasak untuk keluarganya. Alangkah baiknya bila berbagi masakan ibu dengan mereka.  Kalau memungkinkan ajak mereka untuk bantu-bantu ibu memasak. Tularkan juga  ketrampilan memasaknya. 

Masa corona pun bisa jadi masa mengumpulkan keberkahan.  Dan berbagi kebaikan. Ala kulli hal alhamdulillah. Barokallah ya, Bu. 

#Demak,22042020

#D22
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Selasa, 21 April 2020

IBU DI TENGAH CORONA 2


Masa social distancing dan PSBB memang berpengaruh pada perputaran ekonomi.  Ada banyak bisnis yang omsetnya turun. Banyak perusahaan yang terpaksa merumahkan karyawan.  Tidak sedikit pula yang mengurangi karyawannya dengan pemutusan hubungan kerja.  Sementara yang dagang pun harus memutar otak supaya jualannya laku dan ada pemasukan.  

Bagi ibu-ibu  tipe kedua,  hal-hal semacam di atas tidak terlalu menjadi soal.  Mereka adalah tipe pebisnis yang bisa memanfaatkan situasi.  Mengubah kesulitan menjadi peluang.  Apalagi dengan kemudahan penggunaan media sosial di era globalisasi seperti sekarang.  Selain buka lapak di dunia nyata,  mereka pun jualan online di dunia maya.  Hape dan laptop jadi perkakas untuk pemasaran barang yang mereka jual. 

Memang sih,  di masa-masa ini jasa-jasa event organiser plus bisnis penyertanya bisa jadi sepi pengguna.  Namun,  ibu-ibu  pebisnis banyak yang ganti produk dengan apa-apa  yang dibutuhkan saat ini. Terutama produk-produk yang dibutuhkan untuk pencegahan corona seperti masker,  hand sanitizer, desinfektan,  alat pelindung diri (apd) dan sarung tangan. 

Produk masker yang ada di pasaran sekarang pun tidak terbatas dalam satu macam saja.  Ada masker medis,  ada masker kain biasa,  ada pula masker yang dikreasikan dengan topi ataupun kerudung.  

Demikian pula dengan hand sanitizer dan desinfektan.  Ada yang berbahan dasar alkohol.  Ada pula yang berbahan alam seperti jeruk nipis dan sirih.  Ada yang dijual dalam botol kecil,  ada pula yang literan.  Plus alat/botol semprotnya pula. Pokoknya banyak pilihan. 

But the way,  jelang ramadhan ini, ibu-ibu  jangan lupa buat desinfektan hati dari salah dan khilaf ya.  Minta maaf lahir batin sama suami dan anak-anak musti didahulukan. Kan mereka yang paling sering kena omel ibu-ibu juga... ups. Kemudian orang tua,  saudara,  tetangga, dan yang lainnya.  

Oh ya,  satu lagi...  untuk kebiasaan ibu-ibu  yang suka ngobrolin ini-itu, dan curhat sana-sini.... Meski agak sulit,  tapi harus saya sampaikan ini. Maskeri lisan kita dari ghibah juga ya. Sudah sunnatullah perempuan mengeluarkan kosa kata 20.000 per hari. Meski demikian,  kita bisa memilih kosa kata apa yang mesti dikeluarkan,  mana yang harus ditahan dan dibuang. Energi yang dibutuhkan untuk mengucapkannya sama besarnya juga kan?  Jadi,  kenapa tidak. 

Rasul saw bersabda, " barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,  hendaklah berkata-kata  yang baik,  atau diam."

Okey,  buat ibu-ibu  pebisnis,  selamat berjualan.  Semoga jualannya laris manis. Aamiin. 

(bersambung...) 

#Demak, 21042020
#D21
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Senin, 20 April 2020

BROWNIES CINTA


Di rumah aja memang bikin perut cepat lapar.  Apalagi kalau perutnya anak-anak yang baru gede.  Bawaannya pengen gerak terus. Begitu juga di rumah emak.  Ada tujuh anak usia 10 sampai 23 tahun. Sebelum masa stay at home, mereka punya kegiatan seabrek-abrek di dunia nyata.  Di masa stay at home ini,  kegiatannya   pindah di dunia maya, via online semua. Jadi, kemudian mereka cari kegiatan real yang bisa dikerjakan di rumah. 

Salah satu kebiasaan anak-anak, nugas online ditemeni camilan.  Kalau cemilannya habis,  gantian lepinya yang nungguin mereka yang ketiduran .  Bila bosan nugas online,  mereka  bantu pekerjaan rumah emak. Si kakak  kalau mau nyuci, bersih-bersih,  setrika,   musti makan dulu.  Mereka bilang,  biar punya tenaga ekstra... kendaraan aja butuh bensin kalau mau dipakai.  Heehh,  bisa aja.... Eh tapi,  saat pekerjaannya selesai,  mereka lapar lagi.  Alibinya,  kendaraan kalau habis dipakai kan bensinnya habis, jadi ya...  harus diisi lagi. 

Ada satu kegiatan lagi yang paling menguras energi mereka di rumah.  Apa lagi?  Tentu saja ngajak berantem kakak atau adiknya. Karena berantemnya tidak membahayakan masing-masing, emak memaklumi saja.  But the way,  kegiatan ini jelas bikin lapar seisi rumah.  So...  selain masak makanan utama,  emak musti sediakan sesuatu yang bisa dicemal-cemil. Lidah bergoyang, perut pun kenyang.

Bosan dengan camilan kletak-kletik dan gorengan,  emak pun coba bikin brownies kukus sendiri.  Emak memang cuma bebikinan kalau anak-anak pas ngumpul di rumah aja.  Gak selalu bebikinan sih.  Lebih sering beli jadi saja,  tinggal santap.  But the way bikin sendiri selalu lebih murah kan?  Ya udah,  kali ini emak bikin sendiri aja.

"Takbantuin ya,  Mi."

Tiga gadis kecilku serentak mendekat.  Ada yang mecahin telor,  ada yang ngelumerin mentega,  ada yang bantu emak ngaduk-aduk adonan.  Emak pun mundur,  mengambil wadah dan mengolesinya dengan mentega.  Ketika adonan sudah tercampur semua,  adonan pun dituang ke dalam wadah yang sudah diolesi mentega.  Panci kukus sudah disiapkan,  adonan pun siap dikukus.

Sambil menunggu adonan matang,  emak mengecek tugas si Bungsu di buku tugasnya.  Anak ini memang kurang suka menulis.  Harus selalu dicek,  itu pun pasti belum sepenuhnya dikerjakan. Jadi numpuk deh.  Gak terasa setengah jam berlalu,  saatnya kukusan diangkat.

"Hemmm,  baunya enak."  Anak-anak pun mendekat.

"Sabar... masih panas." Emak pun membalikkan kukusan dengan hati-hati.  Taraa...  eh ternyata ada yang belum matang saudara-saudara.  Maklum,  emak jarang bikin kue,  jadi suka lupa ngecekin udah mateng beneran apa belum.  Pakainya feeling. Karena udah merasa ngukusin setengah jam, jadi mikirnya udah mateng aja.  Terpaksa deh,  balikin ke kukusan dan dikukus lagi.

Beberapa saat berlalu. Emak membuka tutup panci.  Kali ini emak menusukkan pisau kue ke adonan. Mengecek apakah matangnya sudah merata.  Setelah dirasa cukup,  barulah kompor dimatikan.  Adonan diangkat dan dipindahkan ke piring.  Taraaa....  alhamdulillah sudah mateng merata.  Sedikit penyok sih...  tapi tidak mempengaruhi rasa.

"Alhamdulillah,  akhirnya jadi juga... kue brownies bikinan kita-kita." Tiga gadis kecilku terlihat kegirangan.

"Bikinan Umi,  kali, " celetuk si Bungsu.

"Sama kita bertiga kan,  Mi. "  Tiga gadis kecilku tak mau kalah.

"Iya,  hasil karya kita bersama.  Brownies cinta.  Biar penyok tapi sedap rasanya. Endess," sahut emak.
Iyalah,  kalau perut lapar,  apapun terasa enak di lidah.  Apalagi kalau ada tangan emak di sana.  Bagi setiap anak,  masakan emaknya pastilah yang terenak.  Betul, tidak?

#Demak, 18042020

#D18
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS






IBU DI TENGAH CORONA 1


Masa social distancing sudah berjalan lebih dari satu bulan.  Sekarang bahkan sudah mulai diberlakukan  masa PSBB (pembatasan sosial berskala besar loh ya,  bukan penggemukan seluruh bagian badan).  Sejauh ini,  segala sesuatunya dilakukan di rumah,  stay at home,  learn at home,  school from home,  work from home,  shop from home,  dll.  

Dalam masa-masa corona ini,  sebagian besar ibu stay at home bersama anak-anaknya.  Bisa jadi karena mereka memang ibu rumah tangga full timer. Atau karena  diharuskan untuk work from home oleh instansi tempat mereka bekerja. Sebagian ibu masih tetap bekerja dengan mematuhi protokol kesehatan. Mereka yang masih bekerja umumnya adalah yang bekerja di ranah kesehatan, perbankan,  gerai makanan dan minuman,  dan dalam kondisi sehat wal afiat. 

Sebulan berlalu,  ada beberapa tipe ibu yang emak amati.  

Yang pertama,  tipe ibu yang higienis atau cinta kebersihan.  Tipe ibu yang jadi sering bersih-bersih  rumah karena takut virus. Seperti yang kita tahu,  cinta kebersihan itu baik.  Bagi umat muslim, kebersihan juga merupakan sebagian dari iman. Annadhofatu minal iman. Bahkan merupakan salah satu syarat sebelum melakukan ibadah sholat.  Bersih badan,  perlengkapan dan juga tempat sholat. 

Cinta kebersihan tentu juga sangat dianjurkan bagi seorang ibu,  apalagi kedudukannya sebagai robbatul baiti. Dikatakan robbatul baiti karena pemeliharaan rumahnya menjadi tanggung jawabnya,  termasuk dalam hal kebersihannya. 

Halaman dan teras yang bersih akan menghadirkan perasaan nyaman dan aman serta tak mengganggu tetangga dan sekitarnya.  Ruang tamu, kamar tidur, ruang keluarga,  ruang sholat (kalau ada) tentu harus selalu dalam keadaan bersih,  rapi dan wangi. Jangan sampai ada najis dan bau tidak sedap, agar seisi keluarga nyaman dan dapat menjaga kekhusyukan dalam beribadah.  Dapur dan toilet pun tak kalah pentingnya.  Semuanya harus bersih, pengolahan makanan juga bersih,  bak air juga selalu bersih.  

Dalam masa corona ini kebersihan menjadi tagline di semua lini. Pemerintah dan semua sektor layanan masif menyerukan penggunaan masker, desinfektan  dan hand sanitizer serta pola hidup bersih dan sehat. 

Sebagian ibu menuntut  penerapan sikap higienis ini  pada semua anggota keluarga.  Beberapa menyediakan tempat cuci tangan di luar rumah. Setiap yang akan masuk harus cuci tangan dulu memakai sabun yang telah disediakan. Sebagian lagi meletakkan hand sanitizer dekat pintu rumah. 

Mereka juga protektif dengan anggota keluarga yang akan keluar rumah.  Masker dan hand sanitizer selalu disiapkan ntuk dipakai dan dibawa.  Yang baru pulang diharuskan langsung membersihkan badan dan ganti pakaian. Semuanya baik,  bila tidak dilakukan secara berlebihan. 

Higienis tapi berlebihan?  Iya,  sebagian ibu termasuk dalam tipe yang begini,  higienis tapi berlebihan.  Sebentar-sebentar ngepel, sikat-sikat perabotan, semprot-semprot desinfektan. Lah entar pekerjaan yang lain enggak kepegang dong.  Padahal tubuh kita butuh bakteri baik juga. Berlebihan dalam pemakaian desinfektan, bisa ikut mematikan bakteri baik dalam tubuh kita.  

Di masa jelang ramadhan ini,  kebersihan juga sangat ditekankan. Harapannya bisa menyambut ramadhan dengan kondisi yang serba bersih,  bersih hati,  bersih pakaian,  bersih rumah dan perabotannya. Sehingga ibadah ramadhan bisa lebih khusyuk, nyaman dan tidak terasa memberatkan.  

Ngomong-ngomong,  udah bersih-bersih  rumah belum?  Udah siap menyambut ramadhan? 

Bersambung... 

#Demak, 20042020

#D20
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

TUKER JOB, YUK


"Ih,  embak tugasnya enak.  Nyapu cuma sebentar. Aku barusan nyuci piring, sebentar udah penuh lagi cucian kotornya."

"Ya,  udah. Tukeran aja,  kamu yang nyapu sama bersih-bersih  rumah,  aku yang nyuci piring. "

"Enakan,  embak.  Aku barusan selesai nyuci piring ini.  Embak belum ngapa-ngapain. "

"Ya udah,  tukerannya besok aja.  Gantian tiap dua hari sekali.  Jadi sama-sama  ngerasain enaknya,  sama enggak enaknya," sahut emak melerai kakak ke-lima dan ke-enam. Keduanya punya tugas sendiri-sendiri. Tapi,  sebagaimana lazimnya anak-anak baru gedhe,  mereka merasa tugasnya lebih berat dari saudaranya.

"Lha apa tukeran sama aku," sela kakak ke-dua.

"Emoh...!" seru mereka berdua, kompak.

"Aku tahu kok,  enggak akan ada yang mau tukeran job nyetrika baju. Berat,  biar aku saja.... " Si kakak tertawa lepas menimpali.

"Apa mau tuker job sama aku?" kakak ke-tiga ikutan menawarkan jobnya.

"Emoh juga...!" seru dua abg itu serentak. "Dari kemarin embak belum ngelipetin, tuh bajunya sampai numpuk banyak."

"Mau tukeran job sama Umi?"

"Enggak, Umi sayang.  Kerjaan Umi tambah banyak,  berat... kita gak akan kuat.  Biar Umi saja...."

Begitulah anak-anak.  Gak jauh beda sama orang dewasa.  Terkadang galau dengan tugas dan kewajiban diri sendiri.  Suka merasa tugasnya terlalu berat.  Suka merasa selalu kebagian yang enggak enak melulu.  Seolah orang lain kebagian yang enak-enak saja. Manusiawi sih,  sudah sunnatullah juga. "Innal insana khuliqu halu'an." Manusia memang diciptakan suka berkeluh kesah. Emak tidak boleh kesal dan marah saat anak-anak berlaku demikian. Tapi,  harus tetap diarahkan, dipahamkan dan dilatih untuk menerima tugas dan melaksanakannya sebaik mungkin. 

Anak-anak memang tidak sama dengan orang dewasa.  Orang dewasa sudah pernah mengalami fase anak-anak. Tapi anak-anak belum pernah mengalami jadi orang dewasa.  Meski demikian,  mereka adalah calon orang dewasa.  Kelak mereka pun akan memikul beban sebagai orang dewasa.  Jadi,  alangkah baiknya disiapkan dari sekarang. Menyiapkan berarti melatih dengan tugas-tugas  yang bisa mereka kerjakan. Bukan berarti melimpahkan tugas kita ke pundak mereka.  Step by step,  bertahap, sedikit demi sedikit, biasakan dan buat mereka nyaman dengan pembiasaan itu.  Sesekali dirolling,  ajak mereka memilih tugasnya sendiri-sendiri.  Konseksensinya,  harus bertanggung jawab dan optimal dalam tugas yang mereka pilih sendiri.  Jadi,  tidak ada masalah saat kemudian ada yang minta tukeran job. (Asal gak tukeran job sama emak atau abinya,  kata anak-anak sih...  😊)

#Demak, 19042020
#D19
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Jumat, 17 April 2020

SI IMUT SHALIHAH


"Eh...  eh...  papapap...."

Suara itu mewarnai rumah emak sejak semalem, saat si Sulung mengajak istri dan putrinya menginap.  Seisi rumah begitu gembira,  serasa dapat mainan baru.  Ya iyalah,  biasanya si Bungsu yang jadi obyeknya.  Kali ini ada obyek baru. 

Usianya baru 10 bulan.  Lagi seneng-senengnya belajar jalan.  Kebayang kan,  anak baru belajar jalan kan enggak mau diem.  Maunya jalan terus,  dititah terus. Alhamdulillah pasukan emak banyak,  lagi full team lagi.  Jadi selalu ada tenaga yang gantiin megang dia,  saat punggung mulai pegel. 

Tiba saatnya waktu sholat  berjamaah.  Sajadah sudah ditata,  mukena dan sarung sudah disiapkan.  Satu per satu mulai wudhu dan memakai perlengkapan sholatnya.  Si imut langsung mendekat dan menarik-narik mukena yang dipakai amahnya. 

"Dedek mau ikut sholat?" sapa amah.

"Dedek pakai mukena ini saja," sahut amah yang lain.  Di tangannya ada atasan mukena yang sudah kekecilan. Dengan hati-hati,  dipakaikannya mukena itu pada si imut. Si imut pun tidak berontak.

"Maa syaa Allah,  cantiknya  shalihah," puji mamahnya. 

"Eh...  eh...  papapap...," oceh si imut lagi.  Kedua tangannya yang tertutup mukena menarik-narik sajadah.  Amah pun mengangkat dan mendudukkannya di atas sajadah di samping mamahnya. Raut mukanya terlihat gembira.  Kedua tangannya diangkat ke depan,  mulutnya tak henti mengoceh.  Kebetulan amah lagi libur sholat,  jadi bisa ngawasin kalau-kalau si imut rewel atau kenapa-kenapa. 

Alhamdulillah,  sampai jamaah sholat selesai,  keadaan tetap aman. Si imut tidak rewel,  malah asyik memperhatikan mukenanya.  Juga asyik memperhatikan yang sedang sholat. Sesekali dia menyapa yang lain dengan ocehannya.  Bener-bener  bikin gemes.  Maa syaa Allah,  jadi anak shalihah ya,  sayang.

#Demak,17042020

#D17
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS









PEMBIASAAN


"Wah,  pas lagi ngaji ik.  Habis ini aku dulu,  ya. Habis itu mau mandi."

Si Sulung yang baru pulang dari kantor langsung bergabung melingkar dan mengambil duduk di sebelah emak.  Seperti biasa, habis berjamaah isya' kami melingkar bersama untuk tilawah bareng.  Si Bungsu di sisi yang lain memang dapat giliran pertama membaca. 

"Aku juga mau mandi dulu," ucap si Bungsu setelah menyelesaikan bacaannya.  Si Sulung langsung mengambil alih. 

"Dua halaman sekalian," sahut adik-adiknya,  "mumpung Mas mampir ke rumah."

Si Sulung mengangguk pelan tanda setuju.  Sulungku ini memang sudah menikah dan memberi kami seorang cucu perempuan yang imut dan lucu.  Alhamdulillah.  Mereka sempat kontrak rumah sendiri di Semarang.  Sambil belajar mandiri.  Cuma sejak kelahiran si kecil,  sementara mereka tinggal bersama besan.  Hanya kadang-kadang saja mereka menginap di rumah.

Usai menyelesaikan bacaannya,  si Sulung pamit mandi. Sekarang giliran emak.   Si Bungsu juga sudah selesai berpakaian. Dia bergegas mengambil tempat duduk di sebelah emak.

"Wih,  cepetnya...  mandi bebek ya?  Kilat...," celetuk kakak ke-tujuh.

"Udah sabunan yo...  udah bersih nih.  Lagian kan selak gantian. Kan Mas mau mandi juga, " jawab si Bungsu.

Emak menatap mereka berdua bergantian, memberi isyarat agar mereka diam dan menyimak bacaan. 

"Habis Umi Abi dulu ya,  kan aku udah tadi," celetuknya sambil mulai membuka mushafnya lagi.

"Ye,  baru putaran pertama...," celetuk kakak ke-tujuh.

"Iya,  nanti putaran kedua kan mulai dari aku lagi," balas si Bungsu. 

Jelang ramadhan ini,  kami memang berusaha menghadirkan masjid di rumah.  Bila dulu hanya Abi dan anak laki-laki  bisa  berjamaah di masjid.  Sekarang kami semua berjamaah di rumah.  Semua anggota keluarga dapat pahala sholat berjamaah.  Rugi rasanya bila stay at home hanya diisi dengan rebahan dan nonton tivi. 

Begitu pula dengan tilawah berjamaah.  Kami bisa saling menyimak dan meluruskan bacaan bila ada yang keliru.  Dan masing-masing termotivasi  untuk membaca Alqur'an. Kami memulai  tilawah bareng  sehabis sholat isya'berjamaah.  Setiap orang membaca satu halaman tiap satu kali putaran.  Kecuali si Bungsu,   membaca lima  baris sampai setengah halaman setiap kali putaran.  Terkadang,  baru dua kali putaran dia sudah tertidur sambil memeluk mushaf.

Selesai putaran kedua si Sulung sudah bergabung kembali.  Meski sambil terkantuk-kantuk,  si Bungsu bisa bertahan sampai selesai tiga kali putaran.  Alhamdulillah. Sebuah amal baik terkadang memang harus dipaksa.   Meski di awal terasa berat,  nantinya akan terasa ringan bila sudah terbiasa.   Semoga pembiasaan baik ini bisa terjaga selamanya.  Ya Robbana,  tuntunlah kami agar istiqomah dalam kebaikan. Aamiin.

#Demak, 16042020

#D16
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS





Rabu, 15 April 2020

TAK SEINDAH YANG TERLIHAT


"Mi,  rumahnya bagus banget."

Emak spontan menoleh.  Di layar kotak televisi itu memang terpampang rumah mewah tiga lantai. Kamera menyorot seluruh ruangan dari teras, ruang tamu,  ruang keluarga,  kamar-kamar,  juga taman di  samping dan belakang rumah.  Tak lupa kolam renang mewah yang mengundang decak kagum dua bocil.  Seolah keduanya pengen nyebur ke sana.  Memang,  beberapa kali mereka request, minta dibuatin kolam renang dalam rumah. Kalau kolam ikan masih mungkin sih,  kalau kolam renang?  Oh,  no...  enggak kebayang.   Rumahnya saja kecil kok,  kolam renangnya mau seberapa? Kecuali kalau yang mau berenang liliput sama kurcaci.  Tapi kan,  mereka enggak ada.  Kalaupun ada,  kan bukan anggota keluarga kita juga. 

"Kalian mau rumahnya punya kolam renang?" tanya emak yang disambut dua pasang mata  yang berbinar-binar. Uwalah... rasanya gak sampai hati membuat mereka kecewa. 

"Sana masuk tivi.  Pindah ke sana,  berenang sepuasnya, " goda kakak ke-empat.
 

"Gimana,  caranya masuk tivi?" dua bocil serentak cemberut. 

"Aku sih pilih di sini,  di sana gak ada Umi," goda kakak ke-empat lagi.  Kedua tangannya refleks mengacak-acak rambut dua bocil.  

"Ye,  Umi tak ajak ke sana,  to," balas dua bocil tak mau kalah. 

"Emangnya Umi mau?  Emangnya dibolehin Abi?"

"Yo wes,  entar aku kalau udah kerja,  Umi takbuatin rumah besar yang kayak gitu,  ada kolam renangnya. Mau kan,  Mi... ya...  ya.... "

"Umi kan gak bisa berenang,  ye...."

"Kan bisa lihat anaknya sama cucunya berenang,  ye.... "

Anak-anak itu,  kalau dibiarkan enggak akan berhenti saling meledek. Sekarang aja mereka udah tambah saling menggelitiki.  Kalau emak cuma menonton,  pasti akan ada yang nangis nantinya. 

"Sudah,  ah.  Enggak usah bahas kolam renang.  Umi punya puding coklat,  siapa mau."

Serentak mereka berhenti sejenak,  untuk selanjutnya rebutan puding. Emak jadi ingat, saat anak-anak tidak di rumah,  puding buatan emak bertahan lama di kulkas. Kalau ada anak-anak, cepet banget ludesnya.  Alhamdulillah.  

Emak kembali teringat rumah besar tadi. Rumah kecil  ini saja sudah terlalu besar bagi emak saat anak-anak tidak ada di rumah.  Apalagi rumah sebesar itu.  Belum tentu juga yang punya rumah bahagia dan krasan tinggal di sana.  

Begitulah manusia,  terkadang menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain. Meski sebenarnya belum membutuhkannya.  Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.  Meski kita tak tahu,  itu rumput beneran atau cuma rumput imitasi. Yang sebenarnya tak selalu seindah seperti yang terlihat.  Bukankah sudah banyak diberitakan juga di media.  Para bintang yang bertabur kemewahan,  mereka juga punya banyak masalah yang sulit diselesaikan. Kalau disuruh tukar tempat,  emak juga tidak mau. 
Yakini saja,  apa yang diberikan Allah pada kita adalah hal-hal  terbaik yang memang kita butuhkan.  Banyak bersyukur,  in syaa Allah akan selalu diberikan kebaikan.  

Fabi ayyi alaa-irobbikumaa tukadzdzibaan.  Allahummaj'alni min abdan syakuron.  Aamiin. 

#Demak,15042020

#D15
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Selasa, 14 April 2020

KITA SEMUA ODP


"Mi,  temenku bingung.  Enaknya tetep di tempat kost apa pulang ya?"

Kakak ke-tiga nampak kebingungan saat dijapri teman kuliahnya.  Sesuatu yang wajar,  karena tempat kost-nya berada di wilayah yang ditengarai banyak kasus pdp covid 19. Tetap tinggal di tempat kost selama masa learn from home berresiko untuk terpapar.  Gak mungkin kan cuma diem di kamar saja,  kan butuh cari makan dan kebutuhan sehari-hari di luar tempat kost.  Go-food tiap hari jelas boros buat ukuran anak kost. 

Pulang ke Cilacap juga sama-sama berresiko.  Perjalanan Semarang-Cilacap jelas memakan waktu lama.  Dan pasti berjubel dengan penumpang lain. Meski sudah memakai masker dan bawa hand sanitizer,   tetap saja belum aman. Plus belum tahu juga, apakah daerah asalnya termasuk zona aman atau tidak?  Belum lagi internet di sana terkadang tidak bersahabat sinyalnya.  Tidak menjamin bisa mengikuti kuliah daring secara full. Pertimbangan yang paling mungkin hanyalah hemat biaya hidup sehari-hari.  Dan bisa kumpul keluarga tercinta untuk saling menguatkan.

"Gimana,  Mi.  Kasih solusinya?"

Emak menghela nafas, andai situasi ini dihadapkan padanya,  pasti akan merasakan kebingungan yang sama. 

"Temenmu nyambi kerja ndak?"

"Endak,  Mi.  Ini malah ortunya minta dia pulang saja.  Ortunya was-was kalau dia sakit di kost gak ada siapa-siapa."

"Ya udah,  kalau permintaan ortunya begitu ya,  bismillah saja.  Saat ini dia sehat to?  Entar kalau pulang diingetin,  pakai masker,  bawa hand sanitizer.  Begitu sampai rumah,  langsung mandi, ganti baju sebelum nyapa orang rumah.  Terus jaga jarak, isolasi mandiri di rumah.... "

"Kayak ODP dong...," celetuknya. 

"Kita semua ini ODP,  Nduk. Anggap saja begitu.  Karena kita tidak tahu apakah tubuh kita diboncengin virus atau tidak.  Kita memang merasa sehat dan tidak menampakkan gejala apa-apa. Karena imunitas tubuh kita sedang bagus.  Tapi kalau kemudian virus yang mbonceng /menempel di tubuh kita berpindah ke tubuh oramg lain yang imunitasnya sedang turun.... Artinya tanpa sadar kita sudah menularkan virus. Kasihan kan,  yang ketularan...."

Kakak ke-tiga mengangguk.  Jarinya segera mengetikkan balasan ke temannya. 

"Nduk,  status ODP ini...  sebenarnya juga peringatan Allah atas diri kita."

Kakak ke-tiga menatap emak. Raut mukanya menunjukkan ketidakmengertiannya atas ucapan emak.

"Sebenarnya Allah juga sedang mengingatkan kita semua bahwa semua yang ada di alam semesta ini berada dalam pemantauan dan pengawasan Allah swt.  Termasuk manusia.  Seluruh manusia di bumi ini termasuk orang dalam pemantauan Allah swt.  Bila status ODP yang disematkan manusia saja bisa membuat kita cemas dan takut.  Maka,  status ODP yang disematkan Allah swt seharusnya membuat kita lebih berhati-hati  lagi."

*****

Memang benar sahabat,  kita semua adalah ODP di mata Allah swt.  Tak ada seorangpun yang lolos dari penglihatan Allah swt.  Walaupun bersembunyi di mana saja,  pengawasan Allah swt selalu melekat. 

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” [QS. Al-Hadiid : 4].

Ath Thabrani ra mengatakan dalam kitab Jaami’ul-Bayaan,
"Ayat tersebut merupakan persaksian bagi kalian wahai sekalian manusia. Dimanapun kalian berada, Allah mengetahui kalian. Allah mengetahui amal-amal kalian, tempat kalian berusaha, dan tempat kalian tinggal, sedangkan Dia berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit-langit-Nya yang tujuh."

Ibnu Qudaamah Al-Maqdisiy rahimahullah berkata :

وَقَالَ حَنْبَلٌ، قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ: مَا مَعْنَى قَوْلِهِ: وَهُوَ مَعَكُمْ، وَ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ؟ قَالَ: عِلْمُهُ، عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، عِلْمُهُ مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ

“Hanbal berkata : Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) : ‘Apa makna firman-Nya : ‘Dan Dia bersama kamu’ (QS. Al-Hadiid : 4) dan ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7) ?’. Abu ‘Abdillah menjawab : ‘(Yaitu kebersamaan dengan) ilmu-Nya, Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak. Ilmu-Nya meliputi segama sesuatu” [Itsbaatu Shifatil-‘Ulluw, hal. 168].

Dalam QS Ar-Ra’d :10-11, Allah swt berfirman

سوآءٌ منكم مَن أسرَّ القول ومَن جهر به ومَن هو مستخف بالليل وسارب بالنهار . له معقِّبات مِن بين يديه ومِن خلفه يحفظونه من أمر الله

“Sama saja engkau merahasiakan ucapanmu atau menyuarakannya, atau yang bersuara lirih di malam hari dan berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Ia memiliki (malaikat-malaikat) yang selalu mengikutinya bergiliran, yang berada di depan maupun di belakang. Mereka (malaikat-malaikat) itu menjaganya karena perintah Allah Swt. 

Penggunaan kata mu’aqqibaat , menurut Ibn Katsir dimaknai sebagai berikut,

"Bagi setiap hamba ada sekian banyak malaikat yang bergantian silih berganti mengawasinya, di waktu siang dan malam. Ada juga malaikat yang menjaganya dari peristiwa buruk yang menimpanya. Ada juga yang bergiliran mencatat amalan-amalanya yang baik dan buruk. Ada juga yang menjaganya di sisi depan maupun belakang."


Makna ini berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah Ra., dan diriwayatkan secara bersamaan oleh al-Bukhari dan Muslim.

يَتَعَاقَبُونَ فِيكم مَلائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وملائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيجْتَمِعُونَ في صَلاةِ الصُّبْحِ وصلاةِ العصْرِ، ثُمَّ يعْرُجُ الَّذِينَ باتُوا فِيكم، فيسْأَلُهُمُ اللَّه وهُو أَعْلمُ بهِمْ: كَيفَ تَرَكتمْ عِبادِي؟ فَيقُولُونَ: تَركنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ، وأَتيناهُمْ وهُمْ يُصلُّون

"Para malaikat silih berganti bersama kalian di waktu malam, dan ada juga malaikat di waktu siang. Mereka juga berkumpul di waktu subuh dan di waktu ashar. Kemudian, sekelompok malaikat yang menjaga kalian naik (bertemu Allah). Allah lalu menanyai mereka dan Allah Maha Mengetahui tentang mereka. « Mengapa kalian tinggalkan para hamba-Ku ? » Para malaikat menjawab : « Kami tinggalkan dan mereka dalam keadaan shalat. Kami lalu kembali mereka masih dalam keadaan shalat (juga)."

Lalu untuk apa Allah swt mengawasi kita dan menempatkan para malaikat penjaga dan pencatat amal manusia?  Tentunya karena Allah swt hendak meminta pertanggungjawaban manusia atas waktu dan semua anugerah yang Dia berikan selama masa kehidupannya. 

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ

"Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian -wahai manusia- siapa di antara kalian yang paling baik amalnya."(QS AlMulk: 2)

Dalam surah yang lain,  Allah swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " (QS Al Hasyr: 18)

Menurut Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir ayat ini bermakna  perintah bagi orang-orang yang beriman, untuk bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Pada hari kiamat semua jiwa akan melihat segala amal baik yang telah dia kerjakan. Bertakwalah kepada Allah: sebagai penekanan, sungguh Allah Maha mengetahui segala perbuatab kalian. Tidak ada satu pun yang bisa tersembunyi dari pengawasan Allah. Allah Maha memberi balasan atas amal manusia.

Kesemua dalil tersebut menunjukkan bahwa kita semua adalah orang dalam pemantauan Allah swt.  Idealnya orang yang merasa diawasi atasannya akan berhati-hati  dalam mengerjakan sesuatu. Agar tak berbuat kesalahan yang bisa berujung pada hukuman dan pemecatan.  Ini baru manusia.  Nah,  orang yang merasakan muroqobatullah (merasa selalu dalam pemantauan dan pengawasan Allah swt), mereka akan selalu berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu.  Mereka berusaha mengisi kehidupannya dengan amal-amal  terbaik agar kelak bisa mempersembahkan ahsanu amalan di hari pertanggungjawaban ( yaumul hisab).

Bagaimana dengan kita?  Sudahkah bersiap dan berbekal?

#Demak, 14042020

#D14
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS


PAKAI MASKERNYA YA



'Maaf,  Bun.  Benarkah salah satu warga di daerah tempat tinggal Bunda ada yang meninggal karena covid 19?'

Sebuah chat muncul di gawai emak.  Bukan hanya satu,  tapi beberapa.  Semua menanyakan permasalahan yang sama. Emak segera mengetik chat balasan,  agar chat serupa tak terlanjur beredar kemana-mana  dan menjadi kasak-kusuk. 

'Enggak,  Bun.  Dua hari yang lalu memang ada tetangga beda kompleks yang meninggal.  Tapi bukan karena covid 19. Beliau sudah lima hari dirawat karena hepatitis kronis,   livernya sudah bengkak.  Hanya saja,  dia dirawat di rumah sakit yang juga merawat pasien dalam pengawasan covid 19 (beda ruangan juga). Dan karena penyakit hepatitis juga termasuk penyakit menular, pemulasaraan jenazah langsung dilakukan di rumah sakit.  Dan jenazah dipulangkan dengan standard penanganan seperti pasien dalam pengawasan  covid 19. Alhamdulillah,  pagi ini hasil rapid tesnya juga sudah keluar.  Hasilnya negatif.'

'Alhamdulillah,  berarti enggak ada yang perlu dikuatirkan ya,  Bun?'

Sebuah pesan balasan masuk lagi di gawai emak.  Yah,  beginilah hidup di kampung yang berjubel.  Apalagi saat wabah covid 19 seperti sekarang.  Saat ada warga yang ke rumah sakit,  banyak yang sudah parno duluan,  apalagi kalau sampai opname. Beritanya langsung nyebar satu desa,  bahkan sampai di desa tetangga.  Bila untuk memotivasi agar selalu waspada dan taat himbauan pemerintah untuk stay at home sih,  enggak masalah.  Sayangnya,  sebagian orang kemudian memilih memblokir jalan dan mengucilkan orang yang mereka curigai pdp ataupun covid 19.

Alhamdulillah,  gugus covid 19 desa kami solid dalam bekerja sama dengan pihak rumah sakit.  Sehingga tidak terjadi penolakan pemakaman jenazah pasien malang tersebut.  Jadi teringat kasus penolakan pemakaman perawat yang meninggal karena covid 19 beberapa hari lalu.  Semoga beliau husnul khotimah dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,  aamiin.

Eh iya,  emak segera mengetik pesan balasan, 'Enggak apa-apa,  Bun.  Tetap waspada,  biasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Sampaikan ke warga juga,  yang baru pulang dari luar kota agar isolasi mandiri di rumah 14 hari.  Setelahnya tetap stay at home,  keluar bila sangat perlu saja.  Dan tetap pakai masker.'

'Baik,  Bun. Semoga warga kita aman semuanya.'

'Aamiin.' Balas emak mengakhiri percakapan.

"Umi!  ODP sama PDP itu apa?" tanya si Bungsu.

"Oh itu,  ODP itu singkatan dari Orang Dalam Pemantauan. PDP itu singkatan dari Pasien Dalam Pengawasan."

"Maksudnya?" tanyanya lagi.

"Kalau terkait corona, yang termasuk ODP itu orang yang baru pulang dari zona merah.  Zona merah itu daerah yang kasus coronanya banyak,  kayak Jakarta,  Solo,  Kalimantan,  Bali,  Malaysia,  dll.  Jadi harus dipantau dan diarahkan untuk isolasi mandiri di rumah.  Kalau PDP itu pasien yang menampakkan gejala yang ada pada pasien corona.  Tapi belum tentu pasien corona.  Kalau yang ini biasanya diisolasi di rumah sakit."

"Lha caranya tahu kalau kena corona?"

"Yo tadi,  dilihat gejala sakitnya. Terus dites pakai rapid test,  khusus buat ngetest corona.  Kalau positif berarti terinfeksi virus corona. Kalau negatif berarti enggak."

"Oh gitu? Ada yang bilang, orang kampung belakang ada yang meninggal kena corona.  Itu beneran,  Mi?"

Lha... rak tenan to.  Berita macam begini nyebarnya cepet.  Padahal anak-anak enggak keluar-keluar  dari rumah.  Berjemur juga di halaman rumah,  di teras lantai dua.

"Denger dari mana?" selidik emak.

"Itu..., tetangga yang lewat depan rumah ngomongin itu."

"Enggak yo... infonya salah tuh."

"Umi bilangin  ibu-ibu tetangga itu kalau pas belanja depan rumah to.  Kan kasihan keluarganya yang meninggal."

Duh...  sok bijak dia... hehe.  Tapi ada benernya.  Banyak yang harus dipahamkan agar tak berlebihan dalam menyikapi covid 19 ini.  Tapi juga tidak abai.  Enggak bisa juga sih menyalahkan yang harus keluar rumah karena memang tidak bisa libur bekerja.  Seenggaknya tetep meminimalisir keluar rumah.  Tapi yang agak sulit,  mengerem lidah emak-emak  kalau udah ketemu emak-emak yang lain.  Mereka selalu punya topik untuk dibicarakan.  Apalagi saat musim covid 19 inj,  apapun seakan dikait-kaitkan dengan covid 19. Duh... untung ada masker.

Tetep pakai masker ya mak... buat menghindari masuknya virus atau kuman ke dalam mulut.  Buat mencegah penularan juga,  soalnya kita enggak pernah tahu, saat ini ada virus yang mbonceng kita atau enggak.  Masker juga efektif untuk meminimalisir  makanan dan minuman masuk mulut kok.  Satu lagi,  sedikit meredam suara plus menurunkan minat untuk berbicara dan meminimalisir ngomongin orang lain.  Jadi manfaatnya dobel, alhamdulillah.  Belum punya masker?  Sini,  emak kasih...

#Demak, 13042020

#D13
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

RATU KALINYAMAT, RATU DAN IBU KEBANGGAAN JAWA TENGAH


Bila mengunjungi Jepara, kita akan mendapati tugu putri Jepara, tepatnya di Bundaran Ngabul, Kabupaten Jepara. Tugu yang diresmikan 22 Desember 2016 dengan menelan biaya APBD sebesar 2,5 milyar lebih ini dibangun untuk mengingatkan kembali pada peran besar tiga tokoh perempuan asal Jepara. Tugu ini menggambarkan tiga orang putri yang menghadap ke tiga arah yang berbeda, yaitu: Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan R.A, Kartini. Ketiga putri ini memiliki nilai historis tersendiri bagi bangsa Indonesia, terlebih bagi kaum Ibu atau kaum perempuan. Salah satu dari ketiga putri tersebut adalah Ratu Kalinyamat, seorang muslimah tangguh yang sering kali hanya dikenal dari  sejarah yang terdistorsi. Seorang ratu yang melakukan 'tapa wuda' ( semedi tanpa busana) demi membalaskan dendamnya. Namun, sejatinya tidaklah seperti demikian.

Ratu Kalinyamat adalah seorang bupati Jepara yang memerintah dari tahun 1549 hingga 1579. Ratu Kalinyamat dikenal sebagai seorang tokoh wanita yang tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian gagah berani seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame (seorang wanita yang pemberani). Selain itu orang Portugis, De Couto, dalam bukunya juga mengakui kebesaran Ratu Kalinyamat dengan suatu ungkapan Rainba de Jepara, senbora paderosa e rica yang berarti “Ratu Jepara,seorang wanita kaya dan berkuasa”. 

Ratu Kalinyamat adalah puteri Sultan Trenggono, raja Demak yang memerintah pada tahun 1521-1546. Nama aslinya adalah Retna Kencana, pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat yang berasal dari luar Jawa ( Aceh). Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah, Raja Aceh (1514-1528). Pangeran Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Pangeran Toyib. Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat.  Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadhiri. Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara. 

Pada tahun 1549 Sunan Prawata raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi adipati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan. Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Surowiyoto alias Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal. Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang dan Pangeran Kalinyamat tewas.

Hal ini menumbuhkan amarah di hati Ratu Kalinyamat. Beliau pergi berkelana meninggalkan kemegahannya sebagai seorang penguasa dan pergi bertapa di gunung Donorojo. Ratu Kalinyamat bersumpah “Ora pisan-pisan ingsun jengkar soko topo ingsun yen ingsun durung biso nganggo keset jembule Aryo Panangsang”. Bahwa Ratu Kalinyamat tidak akan menyelesaikan tapa sebelum bisa berkeramas dengan darah dan berkeset dengan rambut Arya Penangsang.

Kisah Ratu Kalinyamat juga dituturkan dalam sebuah tembang pangkur dalam Babad Tanah Jawi:
Nimas Ratu Kalinyamat (Nimas Ratu Kalinyamat)
Tilar pura mertapa aneng wukir (Meninggalkan istana bertapa di gunung)
Tapa wuda sinjang rambut (Bertapa telanjang berkain rambut)
Aneng wukir Donorojo (Di gunung Danaraja)
Aprasapa nora tapih-tapihan ingsun (Bersumpah tidak akan memakai pakaian)
Yen tan antuk adiling Hyang (Jika tidak mendapat keadilan dari Tuhan)
Patine sedulur mami (Atas meninggalnya saudaraku)

Perjalanan spiritualitas sang ratu itu terkenal dengan “laku topo wudo sinjang rambut” 
Dalam bahasa Jawa kata wuda (telanjang) tidak hanya berarti tanpa busana sama sekali, tetapi juga memiliki arti kiasan yaitu tidak memakai barang-barang perhiasan dan pakaian yang bagus. Penderitaan batin yang ditanggungnya membuat Ratu Kalinyamat meninggalkan kerajaan, melakukan perjalanan dan bertapa di beberapa tempat untuk ngudoroso (mengadu) kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan meninggalkan segala yang pernah dimiliki di keraton dan semua yang sudah terjadi diserahkan kepada Tuhan.

Bagi yang menafsirkan bahwa Ratu Kalinyamat benar-benar telanjang, tanpa busana, tentu saja tafsirnya tidak bisa diterima oleh akal, etika dan agama. Hal itu mustahil dilakukan oleh Ratu Kalinyamat yang merupakan Putri Sultan Trenggono, penguasa kerajaan Islam Demak Bintoro. Dalam sejarah hidupnya, Ratu Kalinyamat bersentuhan langsung dengan aktifitas para wali yang tersohor seperti Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, dua guru ini adalah guru terbesar pada masa Sultan Trenggono yang juga menjadi penasehat kerajaan. Sang Ratu juga dibekali wawasan  agama yang dalam, pemerintahan dan ilmu kesaktian oleh mereka berdua, seperti saudara-saudaranya yang lain, yaitu Sunan Prawata, Arya Penangsang dan Hadiwijaya. Ratu Kalinyamat lahir dan dibesarkan di lingkungan kerajaan dengan didikan agama yang ketat, juga dibekali dengan kecakapan pemerintahan. 

Kurang lebih setelah sepuluh tahun meninggalnya Pangeran Hadhiri yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Mantingan (karena dimakamkan di Mantingan), Ratu Kalinyamat mendirikan sebuah masjid di dekat makam tersebut yabg kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Mantingan. Arsiteknya adalah ayah angkat Pangeran Hadhiri yaitu Tjie Hwio Gwan atau lebih dikenal dengan Patih Sungging Badar Duwung. Atapnya model tumpang, dinding-dindingnya ada relief mirip dengan bangunan candi sebelum Islam. Di  dinding luar dan dalam (sisi timur masjid) juga dihiasi dengan piring-piring Tiongkok berbagai bentuk dan ukuran.  Namun pengaruh Islam juga sangat kental terlihat sehingga relief-relief ini dibentuk dengan gaya ukir stilir untuk menyamarkan bentuk-bentuk makhluk hidup yang digambar. Masjid ini menjadi pusat penyebaran agama Islam. Di masjid ini pula, Patih Sungging Badar Duwung mengajarkan kerajinan ukir pada masyarakat sekitar.

Ratu Kalinyamat sebenarnya telah memberikan filosofi hidup yang dikenal dengan rahasia huruf Alif sebagai ajaran Tauhid tingkat tinggi. Ajaran rahasia huruf Alif yang berorientasi tauhid (pernyataan keesaan Tuhan) juga tercermin secara monumental dalam tulisan bahasa Arab pada gapura pintu masuk kompleks masjid Mantingan dan Makam Kramat Ratu Kalinyamat. Gapura ini menjadi “tugu identitas” yang dibanggakan oleh warga Jepara. Bunyinya adalah “asyhadu an lâ ilâha illâh” (saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah).

Diuraikan oleh KH. Masrukhan, Juru Kunci kompleks pertapaan Ratu Kalinyamat Sonder bahwa sebelum bertapa/berkhalwat kepada Allah di Sonder tersebut Ratu Kalinyamat membersihkan diri baik secara lahir maupun batin dengan mangambil air dari sungai yang dikeramatkan di daerah tersebut untuk sesuci dan melakukan “mandi besar”. Dalam mengambil air inilah Kanjeng Ratu mengucapkan semacam mantra yang berbunyi (Said, dkk., 2005: 82):

“Sakdurungi Allah Ta’ala gawe bumi pitu, Allah Ta’ala gawe langit pitu Allah nurunake Huruf Alif. Wujute Alif Nurullah ya Nur Muhamad kang ngebai jagat royo manjing ono ing jiwo rogoku Lailaha illallah Muhamadurrasulullah” (Sebelum Allah SWT menciptakan bumi tujuh, Allah menciptakan langit tujuh, lalu menurunkan Huruf Alif. Wujudnya adalah Cahaya Allah dan Cahaya Muhammad (Utusan Allah) yang memenuhi jagad raya marasuk dalam jiwa ragaku. Tiada Tuhan selaian Allah, Nabi Muhammad utusan Allah).

Kutipan di atas menunjukkan ada rahasia yang sangat mendalam huruf Alif. Huruf Alif itu kalau difathah bunyinya “A” kalau dikasrah bunyinya “I” kalau didzommah bunyinya “U” sehingga berbunyi “A, I, U” yang menjadi semacam akronim yang berartí “aku iki urip” (saya ini hidup). Karena manusia itu memiliki kehidupan, sebagai konsekuensinya akan kembali kepada yang memberi hidup (inna lillâhi wa inna ilaihi rajiûn), sesungguhnya manusia adalah milik Allah dan hanya kepadaNya akan kembali (Said, dkk., 2005: 83).

Setelah kematian Arya Penangsang, tahun 1549, sang ratu mengakhiri pertapaannya. Saat itu, wilayah Demak, Jipang dan Jepara berada di bawah Pajang yang dipimpin langsung oleh Jaka Tingkir atau Hadiwijaya.  Ratu Kalinyamat kembali menjadi Bupati Jepara. Sama halnya Bupati Jepara sebelumnya yakni Pati Unus, sang ratu juga antipati terhadap Portugis.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi pusat ekonomi yang besar. Di wilayah kekuasaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan di pantai utara Jawa Tengah bagian timur dan menjadi bandar perdagangan yang banyak menjaring pedagang dari berbagai suku bangsa. Pintu gerbang perdagangan tersebut antara lain Jepara, Juana, Rembang, dan Lasem. Ayah angkat Pangeran Hadhiri (almarhum suami Ratu Kalinyamat) juga tinggal di wilayah Kalinyamat (Mantingan) dan mengajarkan kerajinan seni ukir pada masyarakat sekitarnya. Ketrampilan inilah yang menjadi cikal bakal seni kerajinan ukir Jepara yang turut berpotensi dalam memajukan perekonomian Jepara.

Di bidang politik dan pertahanan, pelabuhan Jepara dipercaya sebagai pusat pengiriman ekspedisi-ekpedisi militer untuk turut memperluas kekuasaan ke Bangka dan Kalimantan Selatan yaitu Tanjung Pura dan Lawe. Pada tahun 1550,  Raja Johor meminta bantuan armada perang kepada Jepara untuk melakukan perang jihad melawan Portugis di Malaka. Jepara mengirimkan 40 buah kapal dengan kapasitas angkut 1000 orang prajurit bersenjata. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat sekali lagi diminta oleh Sultan Ali Mukhayat Syah dari Aceh untuk menggempur Portugis di Malaka. Armada yang dikirim sekitar 300 buah kapal, 80 buah kapal masing-masing berbobot 400 ton. Perjuangan Ratu Kalinyamat ini cukup membuat orang-orang Portugis angkat topi hingga beliau dijuluki sebagai De Kranige Dame (perempuan pemberani) dan Rainba de Jepara (ratu dari Jepara). 

Selain itu, hubungan baik yang terjalin antara Jepara dengan beberapa wilayah di Nusantara seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon, menegaskan bahwa misi diplomatik yang dibawa Ratu Kalinyamat telah berhasil ditunaikan. Tidaklah berlebihan jika sosoknya dikenal sebagai seorang ratu yang mempelopori hubungan internasional secara damai

Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579 dan dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan. Meskipun tidak dikaruniai anak, semasa hidupnya, Ratu Kalinyamat membesarkan tiga orang pemuda, antara lain:  adiknya sendiri, Pangeran Timur Rangga Jumena putera bungsu Sultan Trenggana yang kemudian menjadi bupati Madiun. Yang kedua adalah keponakannya, yaitu Arya Pangiri, putra Sunan Prawata yang kemudian menjadi bupati Demak. Sedangkan yang ketiga adalah sepupunya, yaitu Pangeran Arya Jepara putra Ratu Ayu Kirana (adik Sultan Trenggana).

Selepas kepemimpinan Ratu Kalinyamat, pelabuhan Jepara perlahan kehilangan otonominya sebagai pelabuhan yang kuat. Kehadiran VOC lambat laun menjadikan pelabuhan Jepara sebagai sumber eksploitasi kekayaan kolonial. Atas segala jasanya membangun Jepara, waktu penobatannya sebagai bupati Jepara atau bertepatan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala Trus Karya Tataning Bumi atau terus bekerja keras membangun daerah dan kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Jepara. 

#Demak, 21122019

Minggu, 12 April 2020

TIGA KATA


"Ajarkan anakmu tiga kata,  dan biasakanlah mengucapkannya. Tiga kata tersebut adalah tolong,  maaf,  dan terima kasih."

Pesan itu masih selalu kuingat dan kujadikan pembiasaan dalam mendidik anak-anakku.  Memang,  sepintas itu memang kata yang ringan dan mudah diucapkan.  Tetapi tanpa pembiasaan,  kata itu terasa berat di lidah kita. 

Ucapan 'tolong',  'maaf',  dan 'terima kasih acapkali dianggap hanya pantas diucapkan oleh pihak yang dianggap rendah,  bersalah ataupun lemah.  Oleh karena itulah teramat banyak orang yang enggan mengucapkannya.  Meski sangat membutuhkan pertolongan dan berharap ditolong,  sebagian orang gengsi untuk mengucapkannya.  Begitupun untuk meminta maaf,  meskipun tahu dirinya bersalah,  lidah tetap saja berat untuk meminta maaf. Banyak orang berusaha untuk mentolerir perasaan ini dengan mengatakan pada dirinya sendiri, aku minta maafnya dalam hati saja. Hal yang sama berlaku unyuk ucapan 'terima kasih'.  Seolah harga diri mereka jatuh setelah mengucapkan itu. Memang berapa sih harga dirinya...?  Hadeuh...

Sesungguhnya ucapan ini bila kita biasakan akan membentuk karakter yang selalu tawadhu' (rendah hati).  Siapalah kita ini?  Berasal dari tanah dan nantinya juga kembali ke tanah. Tidak berjarga.  Harta,  pangkat dan derajat manusia hanya sesuatu yang Allah tetapkan dan pergilirkan saja.  Terkadang di atas terkadang Allah tetapkan di bawah.  Terkadang Dia limpahkan begitu banyak anugrah,  terkadang Dia sempitkan.  Hanya yang paling bertaqwa,  yang mulia di sisi-Nya. Untuk apa gengsi?

Dan sesungguhnya,  tiga kata tersebut adalah refleksi dari penyempurnaan ketundukan kita pada Allah swt. 

Dalam QS Alfatihah: 5, kita mengatakan,  "Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan."

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Namun,  tak jarang pertolongan  Allah swt  sampai pada kita melalui hamba-Nya yang lain. Ketika kita meminta tolong kepada orang lain,  sebenarnya kita juga berharap Allah swt memberikan pertolongan-Nya melalui orang tersebut.

Namun demikian,  Allah swt membatasi kita dalam hal tolong menolong ini.  Hanya dibolehkan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan tidak boleh tolong menolong dalam keburukan dan permusuhan.  (QS Almaidah:2)

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Demikian juga,  kata maaf merefleksikan kesadaran bahwa manusia itu tempatnya salah dan khilaf.  Karenanya kita dianjurkan untuk banyak istighfar,  meminta ampun dan bertaubat,  kembali pada Allah swt.  Salah satu doa ma'tsurot yang hendaknya selalu dibaca pagi dan petang adalah:

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُبِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ

"Yaa Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui."

Di samping itu,  sebagai makhluk yang tidak diciptakan hanya sendirian di dunia,  sudah tentu di antara manusia sendiri terkadang  berbuat salah kepada yang lain,  baik disadari atau tidak.  Untuk kesalahan dan dosa kita terkait hak Allah,   bisa kita perbaiki dengan istighfar dan taubat.  Namun,  untuk salah dan khilaf kita kepada manusia,  sudah barang tentu kita pun harus meminta maafnya.

Demikian pula halnya dengan ucapan terima kasih.  Sesungguhnya itu merupakan bentuk kesyukuran kepada Allah swt.  Karena,  apapun kebaikan yang kita dapatkan, itu semua tidak akan datang dengan sendirinya.  Selalu ada campur tangan Allah di sana,  selalu ada rahmat dan kasih sayang Allah atasnya. Sehingga kebaikan itu sampai pada kita.  Dan tidak jarang Allah swt menyampaikannya melalui orang lain.  Maka biasakanlah berterimakasih kepada manusia. 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan At-Tirmidzi no. 1954).

Nah,  sudah tahu kan sekarang,  bagaimana keutamaan tiga kata tersebut?  Yuk,  ajarkan pada anak-anak kita. 

#Demak, 12042020

#D12
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

IBARAT MENGAYUH SEPEDA

Menjalani pernikahan ibarat mengayuh sepeda.  Ada roda depan,  ada roda belakang.  Ada pedal kanan dan kiri,  apabila yang satu mengarah ke depan,  yang lain akan menyesuaikan diri di belakang. 

Begitupun perumpamaan suami istri,  suami diibaratkan roda depan. Posisinya sebagai qowwam,  memimpin. Sedang istri diibaratkan  roda belakang,  yang harus taat kepada suami. Ketika roda depan bergerak maju maka roda belakang harus mengikuti maju,  pun ketika roda depan bergerak mundur,  maka roda belakang pun harus ikut mundur.  Tidak pernah ada dalam sejarah kalau roda depan maju,  roda belakangnya mundur,  atau saat roda depan mundur,  roda belakang malah maju.  Gak bisa bayangin kalo ada 😅

Tapi bukan berarti roda belakang itu boleh dianggap rendah sehingga diremehkan dan diabaikan.  Bukan berarti roda belakang itu gak penting, gak usah dianggap.  Faktanya,  kalau roda belakang bannya kempes/bocor juga gak bisa jalan juga.  Kalau dipaksakan jalan juga gak enak,  malah bisa bikin pelek jadi penyok. Begitu juga roda depan,  sama. Begitupun suami istri,  fungsi dan tugasnya sama-sama penting walaupun beda posisi.  Tetapi mereka harus bisa saling bekerja sama dan saling mengisi agar bisa menyelesaikan misi dan mewujudkan visi masa depan rumah tangga mereka. 

Bila istri sebagai ibu menjadi madrosatul ula (sekolah pertama bagi anak-anaknya),  maka suami sebagai ayah adalah kepala sekolahnya/pengelolanya. Sebagai pengelola madrasah,  dia harus memilihkan ibu yang baik untuk menjadi guru pertama anak-anaknya.  Dia juga harus menyiapkan kurikulumnya,  seperti apa nantinya anak-anaknya akan dibentuk dan dididik. Suami dan istri,  masing-masing punya tanggung jawab yang sama besar dalam mendidik anak. 

Begitupun dalam tugas-tugas yang lain,  seperti roda depan dan roda belakang sepeda,  suami istri harus  sevisi,  setujuan sehingga bisa saling mendukung, dan saling menjaga. 

Ada dua pedal, kanan dan kiri,  ketika yang satu maju ke depan,  yang lainnya menyesuaikan diri dengan mundur ke belakang. Coba kalau dua-duanya berkeras maju ke depan semua,  sepedanya malah mogok gak mau maju.  Begitupun suami istri dalam mengelola emosi/konflik. Bila yang satu agak panas,  yang lain semestinya mendinginkan,  jangan ikut-ikutan  panas. Bila yang satu mulai marah,  jangan ikut-ikutan marah,  lebih baik diam dan berusaha menenangkanya.  Bila yang satu agak melemah,  males atau mungkin mulai putus asa,  yang lain semestinya mendorong  agar terus berusaha tetap tegar dan bangkit. 

Bagaimana pun,  pernikahan adalah hajat kerja bersama antara suami dan istri,  dan sebaik-baiknya tujuannya adalah ibadah,  menggenapkan agama,  yang dengannya diharapkan akan dapat sampai pada sebuah rumah surgawi.  Rumah yang di dalamnya tak ada kelelahan dan penderitaan.  Rumah yang kita harapkan menjadi rumah abadi kita bersama orang-orang tercinta. Semoga... 

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota 'ayunin waj'alna lil muttaqiina immama,  aamiin

#Demak, 12042018

Sabtu, 11 April 2020

BELAJAR BELA DIRI PRAKTIS


"Pemanasan dulu,  yuk.  Entar Abi ajarin bela diri praktis," seru Abi seusai ma'tsurotan subuh. Anak-anak yang udah bersiap masuk kamar lagi pun serentak duduk lagi. 

Kami masih dalam posisi melingkar saat Abi memulai gerakan pemanasan.  Setelah selesai pemanasan,  baru mulai beliau sampaikan perlunya belajar beda diri praktis.  Terutama buat kakak-kakak  yang kuliah sampe malem.  Buat jaga-jaga kalau ada sesuatu di jalan.  Juga buat jaga adik-adik  kalau pas di rumah sendirian.

"Aku mah pilih lari aja, " celetuk kakak ke-dua.

"Kebanyakan lemak gitu,  mana bisa lari..., " canda kakak ke-empat. Yang lain ketawa serempak. Si Bungsu cengar-cengir. Iya sih.  Tiga pekan di rumah aja,  lebih banyak makan daripada gerak. 

"Tumbuh tuh ke atas,  bukan ke samping, " sahut Abi tertawa.

"Hehe,  kayak iklan ya,  Mi, " celetyk si Bungsu, "makan terus sih... hehe. "

Kali ini Abi kasih contoh praktek bersama kakak ke-empat.  Yang perempuan praktek berpasangan juga.  Tinggal si Bungsu yang gak dapat partner.  Jadinya dia bereksplorasi dengan kamera kakak,  jepret sana,  jepret sini,  videoin. 

"Awas ya,  gak boleh upload yang ada kita-kita," pesen kakak-kakak  perempuan serentak.

"Udah,  embak latihan aja.  Yang serius...," balesnya sambil ketawa.

Makasih ya Bi,  atas kesabarannya ngajarin kita-kita yang kebanyakan lemak ini. In syaa Allah kita praktekin kok,  kan baik buat kita juga. Slamet...  slamet...  slamet... aman...  aamiin.

#Demak, 11042020

#D11
#3MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

MERAPATKAN IKATAN


Merebaknya wabah Corona memang membawa kegalauan tersendiri bagi semua orang.  Tak terkecuali kami.  Abi yang semestinya bekerja di Jakarta,  sudah work from home sejak sebulan yang lalu.  Sampai kapan?  Kami juga belum tahu.  Kakak ke-dua yang sedang mempersiapkan skripsi juga jadi tersendat.  Harus kuliah dan bimbingan online.  Kakak ke-tiga pun demikian,  kuliah dan UTS online dari rumah.  Adik-adik juga belajar dari rumah.

Emak sebenarnya agak senang juga.  Loh kok?  Soalnya di hari-hari biasa sebelum merebaknya wabah Corona ini,  paling susah mengumpulkan semua anggota keluarga dalam waktu agak lama.  Kan mereka liburnya enggak barengan. Waktu liburan kuliah,  yang sekolah enggak libur.  Waktu liburan sekolah gantian yang kuliah udah harus masuk lagi. Akhir pekan pun susah dimanfaatkan karena Abi-umi seringkali ada acara mendadak. Tapi...  sejak merebaknya wabah, kami semua bisa berkumpul lebih lama.  Terhitung sudah tiga pekan, alhamdulillah.

Dulu,  setiap pagi emak hampir selalu sendirian di rumah. Si Bungsu dan kakak ke-tujuh biasanya baru pulang menjelang atau setelah ashar. Dua kakak lain mondok, jauh dari rumah.  Yang lainnya kuliah dan nginep di wisma masing-masing.  Alasannya kalau di rumah malah mager,  enggak bisa nugas. Dua bocil udah makan siang di sekolah, masakan jadi jarang habis.  Jadi emak lebih sering masak yang praktis-praktis aja,  biar enggak kebuang. Sedih rasanya kalau udah capek-capek masak malah enggak ada yang makan.

Alhamdulillah,  tiga pekan ini emak masak dua sampe tiga kali sehari.  Itu juga baru selesai masak, udah habis lagi.  Maklum,  anak-anak kalau di pondok atau di wisma pada jaim,  makannya dikit. Ya iyalah,  kan banyak temennya di sana.  Harus pengertian dong,  biar semua kebagian.  Yang di wisma juga,  diirit-irit biar uang sakunya enggak cepet habis...  hihi.  Kalau makan di rumah,  enggak ada jaim-jaiman lagi.  Because emak super baik hati. Seneng sih kalau masakannya habis.   Masakan habis ya masak lagi. Kalau masih ada yang bisa dimasak.... Cuma ya itu,  jadi boros.  Pengeluaran buat belanja berlipat.   Makanya,  emak tentuin maksimal tiga kali masak.  Buat ngerem mulut mereka juga.  Coba kalau emak sampai lima kali masak dalam sehari.  Bisa gendut berjamaah tuh seisi rumah... hihi.

Ada lagi yang paling bikin hati emak seneng.  Tiga pekan ini seisi rumah stay at home.  Keluar rumah benar-benar bila sangat penting saja.  Anak-anak juga bagi-bagi tugas sendiri,  nyuci piring,  nyapu,  ngepel, bersihin kamar mandi,  njemur pakaian,  nyetrika,   sama beresin kamar, semua sudah ada yang kebagian tugas.  Emak cuma kebagian masak sama muter mesin cuci. Sebelumnya?  Yah,  emak kerjakan sendiri-lah. Kan enggak ada khadimah,  seumur-umur juga belum pernah punya khadimah. Allah swt memudahkan emak mengerjakan semuanya tanpa khadimah.   Ala kulli hal alhamdulillah.

Meski  demikian,  yang paling membahagiakan emak adalah...  kami semua jadi punya waktu yang lebih untuk merapatkan ikatan.  Ikatan hati antar anggota keluarga,  Abi, emak,  dan anak-anak. Ada banyak waktu untuk mempelajari peta jalan masing-masing, karakter,  kesukaan dan sisi sensitif mereka. Juga untuk merapatkan ikatan dengan Allah swt,  Sang Pemilik Segalanya. Ada lebih banyak waktu untuk sholat berjamaah, ma'tsurotan,  tilawah bareng dan saling menyimak bacaan dan hafalan.  Ada lebih banyak waktu untuk mengisi rumah dengan lebih banyak bacaan qur'an. Saling memberi nasihat dan saling menguatkan.  Karena kami berharap,  keluarga ini tak hanya disatukan di dunia. Karena kami berharap,  keluarga ini juga disatukan-Nya dalam jannah-Nya.  Seperti apa yang telah Allah swt janjikan dalam QS Ath-thur: 21

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Al Furqon:74)

Aamiin.

#Demak, 10042020

#D10
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Jumat, 10 April 2020

SURAT UNTUK SAHABAT


Sahabat,
Danau itu begitu indah dipandang
Airnya begitu sejuk dan terlihat tenang
Bak cermin memantulkan sinar surya
Membiaskan indah beraneka warna
Terasa damai dan melapangkan dada

Marilah duduk sebentar di tepian
Cobalah lempar sebuah batu di dalamnya
Dia akan berriak menangkapnya
Semakin besar batu yang kau lempar
Akan semakin luas riak gejolaknya
Juga semakin lama melukis pusaran air
Sampai waktu menenangkannya

Namun,
Batu yang kaulempar akan tetap berdiam di sana
Tetap tinggal selamanya
Walau terlihat ketenangan menyapa
Danau itu tak sama seperti sedia kala
Batu itu tetap akan tertinggal di sana
Selamanya

Begitulah sahabat,
Umpama hati manusia ...
Ketika kau menyakitinya
Dia akan bergejolak
Bila palungnya dalam, mungkin tak terlalu terlihat riaknya
Bila ia dangkal, riak akan mengeruhkan tirta
Mungkin waktu akan membuatnya tenang
Memaafkan segala luka

Namun,
Peristiwa yang kau tanam
Akan tetap terekam kuat
Tertinggal selamanya
Di dalamnya
Karenanya ...
Jangan pernah menyakiti 
Usahakanlah ... 
Jangan pernah menyakiti
Buat dirimu menjadi berharga
Dan mulia dengan taqwa
Pada-Nya

#Demak, 10042016