"Nang, pe-ernya udah selesai?"
Anak itu masih asyik saja dengan hape di tangan seolah tidak mendengar pertanyaan emak. Di depannya ada buku dan alat tulis yang diletakkan begitu saja.
"Nang, pe-er nulisnya udah selesai?" ulang emak. Disentuhnya bahu si Bungsu dari belakang. Rupanya anak itu sedang asyik menggambar di aplikasi autosketchbook. Hmmmm.
"Sini, Umi simpen dulu hapenya. Entar kalau udah nulisnya baru boleh mainan hape lagi."
Diangsurkannya hape ke emak sambil mecucu. Emak menghela nafas. Yah, tiap-tiap anak memang beda. Meski mereka lahir dari rahim yang sama, diasuh dan dibesarkan oleh orang yang sama juga. Ala kulli hal alhamdulillah. Fokus aja pada sisi positifnya. Setiap orang punya sisi positif. Fokus saja pada kebaikannya. Setiap orang punya sisi kebaikan.
Si Bungsu memang termasuk anak yang kurang suka menulis dan membaca. Dia hanya tertarik membaca buku bergambar. Juga suka sekali menggambar. Di media apapun, kertas, buku, lantai, sprei, papan jalan, juga di dinding. Makanya emak suka wanti-wanti biar enggak nggambar di dinding. Separuh buku-buku pelajarannya terisi gambarnya, terkadang memakai pensil, krayon, pensil warna, atau pulpen.
Si Bungsu juga suka meminjam alat gambar kakak ke-dua dan ke-tiga lengkap dengan sketchbooknya. Alhamdulillah kakak-kakak baik, jadi tak masalah bagi mereka. Meski begitu, terkadang mereka senewen juga kalau si Bungsu meminjam tanpa bilang dulu. Bahkan si kakak juga yang mengajari si Bungsu menggambar dan melukis pakai aplikasi.
Selain menggambar, si Bungsu suka sekali mencoba melakukan hal-hal yang menurutnya baru. Seperti tempo hari, saat emak mengupas kentang memakai alat pengupas buah warna-warni (bukan dengan pisau biasa). Baginya itu merupakan hal yang baru, sehingga dia mau mencobanya. Atau saat emak memasuk-masukkan sampah plastik ke dalam botol bekas. Dia jadi ikut bersemangat bikin ecobricks.
Kembali ke tugas sekolah si Bungsu. Setiap hari pak guru rajin kirim whats apps ke emak perihal tugas si Bungsu. Untuk tugas yang harus dikerjakan online, dia menyambutnya dengan sukacita. But, bila tugasnya harus nulis di buku.... Duh, emak kudu-kudu sabar. Kalau enggak, drama TV bisa pindah ke rumah. Udah hampir tiga pekan di rumah, tugas nulisnya enggak kelar-kelar. Jadi inget waktu kelas dua SD dulu. Doi beberapa kali pulang ke rumah saat pelajaran belum usai. Kenapa? Kata bu guru yang belum ngerjakan pe-er enggak boleh masuk kelas. Ya sudah, sekalian pulang aja toh, begitu katanya. Gak berapa lama bu guru nyusul ke rumah. Lah apa gak jadi drama, itu.
"Mi, itu kenapa soldernya dinyalain?"
Emak menoleh, ealah ini bocah, kenapa malah perhatiannya ke peralatan bengkelnya Abi sih.
"Eh, nulisnya udah sampai mana?" tanya emak agak kesal.
"Umi, Umi jangan marah-marah. Aku kerjain kok, ini udah nulis sampai Al Falaq. Eh iya, udah kedengeran adzan tuh. Nulisnya udahan dulu ya. Sholat...."
Ya Allah, ya Robbana, semoga pak gurunya si Bungsu sabar, enggak buru-buru nagih setoran tugas sekolah. Aamiin.
Yuk, sholat dulu.
#Demak, 09042020
#D9
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar