Bila mengunjungi Jepara, kita akan mendapati tugu putri Jepara, tepatnya di Bundaran Ngabul, Kabupaten Jepara. Tugu yang diresmikan 22 Desember 2016 dengan menelan biaya APBD sebesar 2,5 milyar lebih ini dibangun untuk mengingatkan kembali pada peran besar tiga tokoh perempuan asal Jepara. Tugu ini menggambarkan tiga orang putri yang menghadap ke tiga arah yang berbeda, yaitu: Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan R.A, Kartini. Ketiga putri ini memiliki nilai historis tersendiri bagi bangsa Indonesia, terlebih bagi kaum Ibu atau kaum perempuan. Salah satu dari ketiga putri tersebut adalah Ratu Kalinyamat, seorang muslimah tangguh yang sering kali hanya dikenal dari sejarah yang terdistorsi. Seorang ratu yang melakukan 'tapa wuda' ( semedi tanpa busana) demi membalaskan dendamnya. Namun, sejatinya tidaklah seperti demikian.
Ratu Kalinyamat adalah seorang bupati Jepara yang memerintah dari tahun 1549 hingga 1579. Ratu Kalinyamat dikenal sebagai seorang tokoh wanita yang tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian gagah berani seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame (seorang wanita yang pemberani). Selain itu orang Portugis, De Couto, dalam bukunya juga mengakui kebesaran Ratu Kalinyamat dengan suatu ungkapan Rainba de Jepara, senbora paderosa e rica yang berarti “Ratu Jepara,seorang wanita kaya dan berkuasa”.
Ratu Kalinyamat adalah puteri Sultan Trenggono, raja Demak yang memerintah pada tahun 1521-1546. Nama aslinya adalah Retna Kencana, pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat yang berasal dari luar Jawa ( Aceh). Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah, Raja Aceh (1514-1528). Pangeran Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Pangeran Toyib. Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadhiri. Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara.
Pada tahun 1549 Sunan Prawata raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi adipati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan. Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Surowiyoto alias Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal. Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang dan Pangeran Kalinyamat tewas.
Hal ini menumbuhkan amarah di hati Ratu Kalinyamat. Beliau pergi berkelana meninggalkan kemegahannya sebagai seorang penguasa dan pergi bertapa di gunung Donorojo. Ratu Kalinyamat bersumpah “Ora pisan-pisan ingsun jengkar soko topo ingsun yen ingsun durung biso nganggo keset jembule Aryo Panangsang”. Bahwa Ratu Kalinyamat tidak akan menyelesaikan tapa sebelum bisa berkeramas dengan darah dan berkeset dengan rambut Arya Penangsang.
Kisah Ratu Kalinyamat juga dituturkan dalam sebuah tembang pangkur dalam Babad Tanah Jawi:
Nimas Ratu Kalinyamat (Nimas Ratu Kalinyamat)
Tilar pura mertapa aneng wukir (Meninggalkan istana bertapa di gunung)
Tapa wuda sinjang rambut (Bertapa telanjang berkain rambut)
Aneng wukir Donorojo (Di gunung Danaraja)
Aprasapa nora tapih-tapihan ingsun (Bersumpah tidak akan memakai pakaian)
Yen tan antuk adiling Hyang (Jika tidak mendapat keadilan dari Tuhan)
Patine sedulur mami (Atas meninggalnya saudaraku)
Perjalanan spiritualitas sang ratu itu terkenal dengan “laku topo wudo sinjang rambut”
Dalam bahasa Jawa kata wuda (telanjang) tidak hanya berarti tanpa busana sama sekali, tetapi juga memiliki arti kiasan yaitu tidak memakai barang-barang perhiasan dan pakaian yang bagus. Penderitaan batin yang ditanggungnya membuat Ratu Kalinyamat meninggalkan kerajaan, melakukan perjalanan dan bertapa di beberapa tempat untuk ngudoroso (mengadu) kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan meninggalkan segala yang pernah dimiliki di keraton dan semua yang sudah terjadi diserahkan kepada Tuhan.
Bagi yang menafsirkan bahwa Ratu Kalinyamat benar-benar telanjang, tanpa busana, tentu saja tafsirnya tidak bisa diterima oleh akal, etika dan agama. Hal itu mustahil dilakukan oleh Ratu Kalinyamat yang merupakan Putri Sultan Trenggono, penguasa kerajaan Islam Demak Bintoro. Dalam sejarah hidupnya, Ratu Kalinyamat bersentuhan langsung dengan aktifitas para wali yang tersohor seperti Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, dua guru ini adalah guru terbesar pada masa Sultan Trenggono yang juga menjadi penasehat kerajaan. Sang Ratu juga dibekali wawasan agama yang dalam, pemerintahan dan ilmu kesaktian oleh mereka berdua, seperti saudara-saudaranya yang lain, yaitu Sunan Prawata, Arya Penangsang dan Hadiwijaya. Ratu Kalinyamat lahir dan dibesarkan di lingkungan kerajaan dengan didikan agama yang ketat, juga dibekali dengan kecakapan pemerintahan.
Kurang lebih setelah sepuluh tahun meninggalnya Pangeran Hadhiri yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Mantingan (karena dimakamkan di Mantingan), Ratu Kalinyamat mendirikan sebuah masjid di dekat makam tersebut yabg kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Mantingan. Arsiteknya adalah ayah angkat Pangeran Hadhiri yaitu Tjie Hwio Gwan atau lebih dikenal dengan Patih Sungging Badar Duwung. Atapnya model tumpang, dinding-dindingnya ada relief mirip dengan bangunan candi sebelum Islam. Di dinding luar dan dalam (sisi timur masjid) juga dihiasi dengan piring-piring Tiongkok berbagai bentuk dan ukuran. Namun pengaruh Islam juga sangat kental terlihat sehingga relief-relief ini dibentuk dengan gaya ukir stilir untuk menyamarkan bentuk-bentuk makhluk hidup yang digambar. Masjid ini menjadi pusat penyebaran agama Islam. Di masjid ini pula, Patih Sungging Badar Duwung mengajarkan kerajinan ukir pada masyarakat sekitar.
Ratu Kalinyamat sebenarnya telah memberikan filosofi hidup yang dikenal dengan rahasia huruf Alif sebagai ajaran Tauhid tingkat tinggi. Ajaran rahasia huruf Alif yang berorientasi tauhid (pernyataan keesaan Tuhan) juga tercermin secara monumental dalam tulisan bahasa Arab pada gapura pintu masuk kompleks masjid Mantingan dan Makam Kramat Ratu Kalinyamat. Gapura ini menjadi “tugu identitas” yang dibanggakan oleh warga Jepara. Bunyinya adalah “asyhadu an lâ ilâha illâh” (saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah).
Diuraikan oleh KH. Masrukhan, Juru Kunci kompleks pertapaan Ratu Kalinyamat Sonder bahwa sebelum bertapa/berkhalwat kepada Allah di Sonder tersebut Ratu Kalinyamat membersihkan diri baik secara lahir maupun batin dengan mangambil air dari sungai yang dikeramatkan di daerah tersebut untuk sesuci dan melakukan “mandi besar”. Dalam mengambil air inilah Kanjeng Ratu mengucapkan semacam mantra yang berbunyi (Said, dkk., 2005: 82):
“Sakdurungi Allah Ta’ala gawe bumi pitu, Allah Ta’ala gawe langit pitu Allah nurunake Huruf Alif. Wujute Alif Nurullah ya Nur Muhamad kang ngebai jagat royo manjing ono ing jiwo rogoku Lailaha illallah Muhamadurrasulullah” (Sebelum Allah SWT menciptakan bumi tujuh, Allah menciptakan langit tujuh, lalu menurunkan Huruf Alif. Wujudnya adalah Cahaya Allah dan Cahaya Muhammad (Utusan Allah) yang memenuhi jagad raya marasuk dalam jiwa ragaku. Tiada Tuhan selaian Allah, Nabi Muhammad utusan Allah).
Kutipan di atas menunjukkan ada rahasia yang sangat mendalam huruf Alif. Huruf Alif itu kalau difathah bunyinya “A” kalau dikasrah bunyinya “I” kalau didzommah bunyinya “U” sehingga berbunyi “A, I, U” yang menjadi semacam akronim yang berartí “aku iki urip” (saya ini hidup). Karena manusia itu memiliki kehidupan, sebagai konsekuensinya akan kembali kepada yang memberi hidup (inna lillâhi wa inna ilaihi rajiûn), sesungguhnya manusia adalah milik Allah dan hanya kepadaNya akan kembali (Said, dkk., 2005: 83).
Setelah kematian Arya Penangsang, tahun 1549, sang ratu mengakhiri pertapaannya. Saat itu, wilayah Demak, Jipang dan Jepara berada di bawah Pajang yang dipimpin langsung oleh Jaka Tingkir atau Hadiwijaya. Ratu Kalinyamat kembali menjadi Bupati Jepara. Sama halnya Bupati Jepara sebelumnya yakni Pati Unus, sang ratu juga antipati terhadap Portugis.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi pusat ekonomi yang besar. Di wilayah kekuasaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan di pantai utara Jawa Tengah bagian timur dan menjadi bandar perdagangan yang banyak menjaring pedagang dari berbagai suku bangsa. Pintu gerbang perdagangan tersebut antara lain Jepara, Juana, Rembang, dan Lasem. Ayah angkat Pangeran Hadhiri (almarhum suami Ratu Kalinyamat) juga tinggal di wilayah Kalinyamat (Mantingan) dan mengajarkan kerajinan seni ukir pada masyarakat sekitarnya. Ketrampilan inilah yang menjadi cikal bakal seni kerajinan ukir Jepara yang turut berpotensi dalam memajukan perekonomian Jepara.
Di bidang politik dan pertahanan, pelabuhan Jepara dipercaya sebagai pusat pengiriman ekspedisi-ekpedisi militer untuk turut memperluas kekuasaan ke Bangka dan Kalimantan Selatan yaitu Tanjung Pura dan Lawe. Pada tahun 1550, Raja Johor meminta bantuan armada perang kepada Jepara untuk melakukan perang jihad melawan Portugis di Malaka. Jepara mengirimkan 40 buah kapal dengan kapasitas angkut 1000 orang prajurit bersenjata. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat sekali lagi diminta oleh Sultan Ali Mukhayat Syah dari Aceh untuk menggempur Portugis di Malaka. Armada yang dikirim sekitar 300 buah kapal, 80 buah kapal masing-masing berbobot 400 ton. Perjuangan Ratu Kalinyamat ini cukup membuat orang-orang Portugis angkat topi hingga beliau dijuluki sebagai De Kranige Dame (perempuan pemberani) dan Rainba de Jepara (ratu dari Jepara).
Selain itu, hubungan baik yang terjalin antara Jepara dengan beberapa wilayah di Nusantara seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon, menegaskan bahwa misi diplomatik yang dibawa Ratu Kalinyamat telah berhasil ditunaikan. Tidaklah berlebihan jika sosoknya dikenal sebagai seorang ratu yang mempelopori hubungan internasional secara damai
Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579 dan dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan. Meskipun tidak dikaruniai anak, semasa hidupnya, Ratu Kalinyamat membesarkan tiga orang pemuda, antara lain: adiknya sendiri, Pangeran Timur Rangga Jumena putera bungsu Sultan Trenggana yang kemudian menjadi bupati Madiun. Yang kedua adalah keponakannya, yaitu Arya Pangiri, putra Sunan Prawata yang kemudian menjadi bupati Demak. Sedangkan yang ketiga adalah sepupunya, yaitu Pangeran Arya Jepara putra Ratu Ayu Kirana (adik Sultan Trenggana).
Selepas kepemimpinan Ratu Kalinyamat, pelabuhan Jepara perlahan kehilangan otonominya sebagai pelabuhan yang kuat. Kehadiran VOC lambat laun menjadikan pelabuhan Jepara sebagai sumber eksploitasi kekayaan kolonial. Atas segala jasanya membangun Jepara, waktu penobatannya sebagai bupati Jepara atau bertepatan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala Trus Karya Tataning Bumi atau terus bekerja keras membangun daerah dan kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Jepara.
#Demak, 21122019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar