Di rumah aja memang bikin perut cepat lapar. Apalagi kalau perutnya anak-anak yang baru gede. Bawaannya pengen gerak terus. Begitu juga di rumah emak. Ada tujuh anak usia 10 sampai 23 tahun. Sebelum masa stay at home, mereka punya kegiatan seabrek-abrek di dunia nyata. Di masa stay at home ini, kegiatannya pindah di dunia maya, via online semua. Jadi, kemudian mereka cari kegiatan real yang bisa dikerjakan di rumah.
Salah satu kebiasaan anak-anak, nugas online ditemeni camilan. Kalau cemilannya habis, gantian lepinya yang nungguin mereka yang ketiduran . Bila bosan nugas online, mereka bantu pekerjaan rumah emak. Si kakak kalau mau nyuci, bersih-bersih, setrika, musti makan dulu. Mereka bilang, biar punya tenaga ekstra... kendaraan aja butuh bensin kalau mau dipakai. Heehh, bisa aja.... Eh tapi, saat pekerjaannya selesai, mereka lapar lagi. Alibinya, kendaraan kalau habis dipakai kan bensinnya habis, jadi ya... harus diisi lagi.
Ada satu kegiatan lagi yang paling menguras energi mereka di rumah. Apa lagi? Tentu saja ngajak berantem kakak atau adiknya. Karena berantemnya tidak membahayakan masing-masing, emak memaklumi saja. But the way, kegiatan ini jelas bikin lapar seisi rumah. So... selain masak makanan utama, emak musti sediakan sesuatu yang bisa dicemal-cemil. Lidah bergoyang, perut pun kenyang.
Bosan dengan camilan kletak-kletik dan gorengan, emak pun coba bikin brownies kukus sendiri. Emak memang cuma bebikinan kalau anak-anak pas ngumpul di rumah aja. Gak selalu bebikinan sih. Lebih sering beli jadi saja, tinggal santap. But the way bikin sendiri selalu lebih murah kan? Ya udah, kali ini emak bikin sendiri aja.
"Takbantuin ya, Mi."
Tiga gadis kecilku serentak mendekat. Ada yang mecahin telor, ada yang ngelumerin mentega, ada yang bantu emak ngaduk-aduk adonan. Emak pun mundur, mengambil wadah dan mengolesinya dengan mentega. Ketika adonan sudah tercampur semua, adonan pun dituang ke dalam wadah yang sudah diolesi mentega. Panci kukus sudah disiapkan, adonan pun siap dikukus.
Sambil menunggu adonan matang, emak mengecek tugas si Bungsu di buku tugasnya. Anak ini memang kurang suka menulis. Harus selalu dicek, itu pun pasti belum sepenuhnya dikerjakan. Jadi numpuk deh. Gak terasa setengah jam berlalu, saatnya kukusan diangkat.
"Hemmm, baunya enak." Anak-anak pun mendekat.
"Sabar... masih panas." Emak pun membalikkan kukusan dengan hati-hati. Taraa... eh ternyata ada yang belum matang saudara-saudara. Maklum, emak jarang bikin kue, jadi suka lupa ngecekin udah mateng beneran apa belum. Pakainya feeling. Karena udah merasa ngukusin setengah jam, jadi mikirnya udah mateng aja. Terpaksa deh, balikin ke kukusan dan dikukus lagi.
Beberapa saat berlalu. Emak membuka tutup panci. Kali ini emak menusukkan pisau kue ke adonan. Mengecek apakah matangnya sudah merata. Setelah dirasa cukup, barulah kompor dimatikan. Adonan diangkat dan dipindahkan ke piring. Taraaa.... alhamdulillah sudah mateng merata. Sedikit penyok sih... tapi tidak mempengaruhi rasa.
"Alhamdulillah, akhirnya jadi juga... kue brownies bikinan kita-kita." Tiga gadis kecilku terlihat kegirangan.
"Bikinan Umi, kali, " celetuk si Bungsu.
"Sama kita bertiga kan, Mi. " Tiga gadis kecilku tak mau kalah.
"Iya, hasil karya kita bersama. Brownies cinta. Biar penyok tapi sedap rasanya. Endess," sahut emak.
Iyalah, kalau perut lapar, apapun terasa enak di lidah. Apalagi kalau ada tangan emak di sana. Bagi setiap anak, masakan emaknya pastilah yang terenak. Betul, tidak?
#Demak, 18042020
#D18
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar