Dari setiap isi gelas kecil ini, ada beragam rasa yang tercecap. Hanya varian teh, kopi dan coklat dari jenis dan campuran yang berbeda. Namun, rasa yang tertinggal terkadang susah untuk dilupa, walau mereka dihidangkan dalam satu meja, oleh tangan yang sama. Semua berbeda, tiada yang sama, walau dicecap lidah yang sama.
Tidak ada yang salah dengan gelas-gelas kecil ini, karena tangan yang mengisinya memang menaruh ramuan yang berbeda di setiap gelasnya. Dan lidah yang mencecapnya pun berhak memilih isi gelas yang paling pas untuk rasa dan hatinya. Semua bebas memilih, mengambil dan menikmatinya, tanpa perlu mencela penikmat isi gelas yang lain. Cicipi saja rasanya, habiskan isinya bila kaurasa cocok di lidahmu, dan tinggalkan bila tidak suka tanpa perlu mencela.
Begitulah Ibu Indonesia, dirimu masih berpijak di bumi yang sama, di bawah langit yang sama. Udara yang kauhirup dan air yang kauminum pun masih berasal dari sumber yang sama. Hampir tiada bedanya walau isi pikir dan rasamu berbeda. Seperti gelas-gelas kecil ini. Engkau memang lahir dari rahim yang berbeda, dan dibesarkan dengan cara yang berbeda. Sudah barang tentu, olah rasa dan pikir pun menjadi berbeda. Apa anehnya?
Tak bijak memaksakan rasamu. Bukankah bunga lebih indah dan tetap hidup berada dalam tangkainya sendiri? Takkan dapat engkau memaksakan bunga melati mekar berseri di atas tangkai bunga mawar. Bahkan sekalipun engkau merekayasanya dengan cara apapun, dia tak akan tumbuh seperti yang kaumau. Sirami saja dia dan biarkan dia tumbuh sebagaimana mestinya. Kelak saat ia berbunga, kau juga akan menikmati keindahannya.
#Demak, 03042018
#bedakepalabedaisi
#bedadaerahbedaadatistiadat
#bedaagamabedasyariat
#janganpaksakansama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar