Merebaknya wabah Corona memang membawa kegalauan tersendiri bagi semua orang. Tak terkecuali kami. Abi yang semestinya bekerja di Jakarta, sudah work from home sejak sebulan yang lalu. Sampai kapan? Kami juga belum tahu. Kakak ke-dua yang sedang mempersiapkan skripsi juga jadi tersendat. Harus kuliah dan bimbingan online. Kakak ke-tiga pun demikian, kuliah dan UTS online dari rumah. Adik-adik juga belajar dari rumah.
Emak sebenarnya agak senang juga. Loh kok? Soalnya di hari-hari biasa sebelum merebaknya wabah Corona ini, paling susah mengumpulkan semua anggota keluarga dalam waktu agak lama. Kan mereka liburnya enggak barengan. Waktu liburan kuliah, yang sekolah enggak libur. Waktu liburan sekolah gantian yang kuliah udah harus masuk lagi. Akhir pekan pun susah dimanfaatkan karena Abi-umi seringkali ada acara mendadak. Tapi... sejak merebaknya wabah, kami semua bisa berkumpul lebih lama. Terhitung sudah tiga pekan, alhamdulillah.
Dulu, setiap pagi emak hampir selalu sendirian di rumah. Si Bungsu dan kakak ke-tujuh biasanya baru pulang menjelang atau setelah ashar. Dua kakak lain mondok, jauh dari rumah. Yang lainnya kuliah dan nginep di wisma masing-masing. Alasannya kalau di rumah malah mager, enggak bisa nugas. Dua bocil udah makan siang di sekolah, masakan jadi jarang habis. Jadi emak lebih sering masak yang praktis-praktis aja, biar enggak kebuang. Sedih rasanya kalau udah capek-capek masak malah enggak ada yang makan.
Alhamdulillah, tiga pekan ini emak masak dua sampe tiga kali sehari. Itu juga baru selesai masak, udah habis lagi. Maklum, anak-anak kalau di pondok atau di wisma pada jaim, makannya dikit. Ya iyalah, kan banyak temennya di sana. Harus pengertian dong, biar semua kebagian. Yang di wisma juga, diirit-irit biar uang sakunya enggak cepet habis... hihi. Kalau makan di rumah, enggak ada jaim-jaiman lagi. Because emak super baik hati. Seneng sih kalau masakannya habis. Masakan habis ya masak lagi. Kalau masih ada yang bisa dimasak.... Cuma ya itu, jadi boros. Pengeluaran buat belanja berlipat. Makanya, emak tentuin maksimal tiga kali masak. Buat ngerem mulut mereka juga. Coba kalau emak sampai lima kali masak dalam sehari. Bisa gendut berjamaah tuh seisi rumah... hihi.
Ada lagi yang paling bikin hati emak seneng. Tiga pekan ini seisi rumah stay at home. Keluar rumah benar-benar bila sangat penting saja. Anak-anak juga bagi-bagi tugas sendiri, nyuci piring, nyapu, ngepel, bersihin kamar mandi, njemur pakaian, nyetrika, sama beresin kamar, semua sudah ada yang kebagian tugas. Emak cuma kebagian masak sama muter mesin cuci. Sebelumnya? Yah, emak kerjakan sendiri-lah. Kan enggak ada khadimah, seumur-umur juga belum pernah punya khadimah. Allah swt memudahkan emak mengerjakan semuanya tanpa khadimah. Ala kulli hal alhamdulillah.
Meski demikian, yang paling membahagiakan emak adalah... kami semua jadi punya waktu yang lebih untuk merapatkan ikatan. Ikatan hati antar anggota keluarga, Abi, emak, dan anak-anak. Ada banyak waktu untuk mempelajari peta jalan masing-masing, karakter, kesukaan dan sisi sensitif mereka. Juga untuk merapatkan ikatan dengan Allah swt, Sang Pemilik Segalanya. Ada lebih banyak waktu untuk sholat berjamaah, ma'tsurotan, tilawah bareng dan saling menyimak bacaan dan hafalan. Ada lebih banyak waktu untuk mengisi rumah dengan lebih banyak bacaan qur'an. Saling memberi nasihat dan saling menguatkan. Karena kami berharap, keluarga ini tak hanya disatukan di dunia. Karena kami berharap, keluarga ini juga disatukan-Nya dalam jannah-Nya. Seperti apa yang telah Allah swt janjikan dalam QS Ath-thur: 21
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Al Furqon:74)
Aamiin.
#Demak, 10042020
#D10
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar