"Wah, pas lagi ngaji ik. Habis ini aku dulu, ya. Habis itu mau mandi."
Si Sulung yang baru pulang dari kantor langsung bergabung melingkar dan mengambil duduk di sebelah emak. Seperti biasa, habis berjamaah isya' kami melingkar bersama untuk tilawah bareng. Si Bungsu di sisi yang lain memang dapat giliran pertama membaca.
"Aku juga mau mandi dulu," ucap si Bungsu setelah menyelesaikan bacaannya. Si Sulung langsung mengambil alih.
"Dua halaman sekalian," sahut adik-adiknya, "mumpung Mas mampir ke rumah."
Si Sulung mengangguk pelan tanda setuju. Sulungku ini memang sudah menikah dan memberi kami seorang cucu perempuan yang imut dan lucu. Alhamdulillah. Mereka sempat kontrak rumah sendiri di Semarang. Sambil belajar mandiri. Cuma sejak kelahiran si kecil, sementara mereka tinggal bersama besan. Hanya kadang-kadang saja mereka menginap di rumah.
Usai menyelesaikan bacaannya, si Sulung pamit mandi. Sekarang giliran emak. Si Bungsu juga sudah selesai berpakaian. Dia bergegas mengambil tempat duduk di sebelah emak.
"Wih, cepetnya... mandi bebek ya? Kilat...," celetuk kakak ke-tujuh.
"Udah sabunan yo... udah bersih nih. Lagian kan selak gantian. Kan Mas mau mandi juga, " jawab si Bungsu.
Emak menatap mereka berdua bergantian, memberi isyarat agar mereka diam dan menyimak bacaan.
"Habis Umi Abi dulu ya, kan aku udah tadi," celetuknya sambil mulai membuka mushafnya lagi.
"Ye, baru putaran pertama...," celetuk kakak ke-tujuh.
"Iya, nanti putaran kedua kan mulai dari aku lagi," balas si Bungsu.
Jelang ramadhan ini, kami memang berusaha menghadirkan masjid di rumah. Bila dulu hanya Abi dan anak laki-laki bisa berjamaah di masjid. Sekarang kami semua berjamaah di rumah. Semua anggota keluarga dapat pahala sholat berjamaah. Rugi rasanya bila stay at home hanya diisi dengan rebahan dan nonton tivi.
Begitu pula dengan tilawah berjamaah. Kami bisa saling menyimak dan meluruskan bacaan bila ada yang keliru. Dan masing-masing termotivasi untuk membaca Alqur'an. Kami memulai tilawah bareng sehabis sholat isya'berjamaah. Setiap orang membaca satu halaman tiap satu kali putaran. Kecuali si Bungsu, membaca lima baris sampai setengah halaman setiap kali putaran. Terkadang, baru dua kali putaran dia sudah tertidur sambil memeluk mushaf.
Selesai putaran kedua si Sulung sudah bergabung kembali. Meski sambil terkantuk-kantuk, si Bungsu bisa bertahan sampai selesai tiga kali putaran. Alhamdulillah. Sebuah amal baik terkadang memang harus dipaksa. Meski di awal terasa berat, nantinya akan terasa ringan bila sudah terbiasa. Semoga pembiasaan baik ini bisa terjaga selamanya. Ya Robbana, tuntunlah kami agar istiqomah dalam kebaikan. Aamiin.
#Demak, 16042020
#D16
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar