Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Sabtu, 04 April 2020

DI BALIK HUJAN


Hujan memang bukan sesuatu hal yang baru. Sejak kecil pun kita sudah didekatkan Allah dengan fenomena alam ini. Nyaris tiada bedanya, hujan yang kulihat di masa kanak-kanak dengan yang kulihat di masa sekarang. Mendung yang hitam pekat, kemudian diikuti titik-titik air yang jatuh dari langit. Tak jarang bunyi guruh dan kilatan petir ikut berkejaran, membuat hati was-was. Namun terkadang juga tanpa mendung, awan terlihat putih bersih, tapi langit menangis.

Emak teringat celotehan emak-emak lain yang mengeluhkan naiknya kebutuhan hidup. Yah, jaman sekarang yang turun cuma hujan sama celana doang (jangan ngeres ya...). Yang namanya hujan pasti airnya turun ke bawah. Celana juga begitu, kalau mau dipakai dinaikkan, kalau mau ganti ya mesti diturunkan.  

Hujan deras memang kadang bikin bete, apalagi bila sedang dalam perjalanan, dingin, macet, pandangan jadi kabur tertutup air hujan. Sopir kudu tetep fokus jalanan di depannya, sementara temennya sopir terkadang jadi serba salah. Mau ngajak ngobrol, bercandain,  takut sopirnya jadi gak konsen. Kalo diem, so pasti pikirannya melayang kemana-mana. Sama dong kayak emak, he he.  Iya... bener... 

Apa sih yang mampir di kepala emak? Buanyak, bejibun, bergantian, mulai dari harga sembako, iuran bpjs, pekerjaan, sekolah, dakwah, de el el,  mereka ngantri juga kali. Puyeng deh. Sampai akhirnya emak putuskan buat ngamatin air hujan ajah. 

Air hujan diamatin? Serius? Ya seriuslah... dua-tiga rius malah. Emang sih, dulu pas kecil juga udah sering ngamatin air hujan. Yang jatuh dari talang di atap rumah, pas hujan deres jadi mirip pancuran alami gitu. Dan itu artinya mandi air hujan serasa berada di bawah air terjun yang ada di obyek-obyek wisata, gratis sampe puas lagi. Ditingkah orkesta suara Bunda tersayang yang berkali-kali nyuruh udahan mandi hujannya.  Atau ngamatin air hujan dari balik jendela rumah, pas udah mandi air hangat, terus dikunciin pintu sama Bunda, gak boleh keluar rumah lagi. Tapi Bunda selalu sediakan teh sama camilan hangat yang bisa disantap sambil ngamatin hujan. 

"Kenapa sih, air hujan selalu turun ke bawah?  Gak pernah naik ke atas?" tanyaku waktu itu.

"Eh, ya namanya air hujan yo mesti turun ke bawah to, Nduk. Bunda juga gak pernah lihat air hujan naik ke atas. Kamu ini aneh-aneh aja kalo nanya," jawab Bunda sambil ngacak-acak rambutku, bikin mulutku nyengir.
Inget masa kecil emang kadang bikin refleks nyengir. Hingga  paksu yang sedang serius nyopir ikutan heran. 

"Ngapain sih, Mi? Senyum-senyum sendiri...," tanyanya sambil menempelkan tangan di dahiku. 

"Gak apa-apa. Inget masa kecil suka hujan-hujanan."

"Pengen hujan-hujanan, sekarang?" godanya lagi. 

"Ya enggaklah, mana di tengah jalan raya padet begini, malah bikin tambah macet nanti. Emang, Abi rela Umi hujan-hujanan di sini?" 

"Enggaklah... Kirain... ," katanya manyun. Sejurus kemudian dia udah fokus lagi sama jalanan. Dan emak? Kembali mengamati air hujan. 

Ada yang beda dengan air hujan kali ini. Butiran air hujan yang jatuh di atas kaca depan mobil itu bergerak naik, saat hujan rintik, gerakkannya halus. Saat hujan deras dia merambat naik semakin cepat lalu menghilang. Iya, butiran air hujan itu terus bergerak naik dari tepi bawah kaca, terus ke atas, berkecipak, lalu turun bergabung dengan titik air lainnya, mulai lagi dari tepi bawah kaca. Terlihat indah sekali, sayang emak tak pandai memotret, jadi tak bisa mengabadikannya dalam video. 

Emak terpana, maa syaa Allah. Pertanyaan dari masa kecil itu terjawab sudah. Memang, logikanya yang namanya air hujan itu pasti arahnya turun ke bawah. Hampir tidak pernah naik ke atas. Tapi bukan berarti dia tidak bisa bergerak naik. Ketika mobil diam di tempat, butiran air hujan pun hanya bisa bergerak turun ke bawah saat dia menyentuh permukaan kaca. Tetapi, saat mobil melaju, tekanan angin dari depan dan laju mobil bekerja sama membuat butiran air hujan yang menyentuh permukaan kaca depan mobil menjadi bergerak naik ke atas dan bukan turun ke bawah. Mobil itu jelas tidak akan melaju jika tidak dikendalikan oleh manusia. 

Emak jadi teringat bunyi QS Ar Ra'du ayat 11 yang berbunyi:

 إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
 
Tentu saja, Allah menginginkan manusia membuat perubahan dan pemeliharaan atas alam semesta.  Tentunya setelah menpelajari setiap ilmu yang disematkan Allah dalam semua ciptaan-Nya, dan mempergunakannya untuk mensyukuri setiap pemberian-Nya. Yang demikian itu pastilah akan membuatnya dicintai Allah. Dan pada setiap upaya kebaikan yang dilakukan seseorang, pastilah Allah akan memudahkannya untuk mengulangi kebaikan-kebaikan selanjutnya. Dengan demikian keadaan yang buruk bisa berubah menjadi baik. Dan tidaklah upaya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kecuali Allah pasti akan memudahkan jalan untuk mencapai tujuannya. 
"مَنْ جَدَّ وَ جَدَ"

Butiran air hujan saja bisa bergerak naik, masak kamu gak mau bergerak. Gimana akan sampai pada tujuanmu? Bergeraklah, berusahalah, karena Allah swt akan melihat usahamu. 
Keep spirit! 

#Demak,06032020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar