'Maaf, Bun. Benarkah salah satu warga di daerah tempat tinggal Bunda ada yang meninggal karena covid 19?'
Sebuah chat muncul di gawai emak. Bukan hanya satu, tapi beberapa. Semua menanyakan permasalahan yang sama. Emak segera mengetik chat balasan, agar chat serupa tak terlanjur beredar kemana-mana dan menjadi kasak-kusuk.
'Enggak, Bun. Dua hari yang lalu memang ada tetangga beda kompleks yang meninggal. Tapi bukan karena covid 19. Beliau sudah lima hari dirawat karena hepatitis kronis, livernya sudah bengkak. Hanya saja, dia dirawat di rumah sakit yang juga merawat pasien dalam pengawasan covid 19 (beda ruangan juga). Dan karena penyakit hepatitis juga termasuk penyakit menular, pemulasaraan jenazah langsung dilakukan di rumah sakit. Dan jenazah dipulangkan dengan standard penanganan seperti pasien dalam pengawasan covid 19. Alhamdulillah, pagi ini hasil rapid tesnya juga sudah keluar. Hasilnya negatif.'
'Alhamdulillah, berarti enggak ada yang perlu dikuatirkan ya, Bun?'
Sebuah pesan balasan masuk lagi di gawai emak. Yah, beginilah hidup di kampung yang berjubel. Apalagi saat wabah covid 19 seperti sekarang. Saat ada warga yang ke rumah sakit, banyak yang sudah parno duluan, apalagi kalau sampai opname. Beritanya langsung nyebar satu desa, bahkan sampai di desa tetangga. Bila untuk memotivasi agar selalu waspada dan taat himbauan pemerintah untuk stay at home sih, enggak masalah. Sayangnya, sebagian orang kemudian memilih memblokir jalan dan mengucilkan orang yang mereka curigai pdp ataupun covid 19.
Alhamdulillah, gugus covid 19 desa kami solid dalam bekerja sama dengan pihak rumah sakit. Sehingga tidak terjadi penolakan pemakaman jenazah pasien malang tersebut. Jadi teringat kasus penolakan pemakaman perawat yang meninggal karena covid 19 beberapa hari lalu. Semoga beliau husnul khotimah dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, aamiin.
Eh iya, emak segera mengetik pesan balasan, 'Enggak apa-apa, Bun. Tetap waspada, biasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Sampaikan ke warga juga, yang baru pulang dari luar kota agar isolasi mandiri di rumah 14 hari. Setelahnya tetap stay at home, keluar bila sangat perlu saja. Dan tetap pakai masker.'
'Baik, Bun. Semoga warga kita aman semuanya.'
'Aamiin.' Balas emak mengakhiri percakapan.
"Umi! ODP sama PDP itu apa?" tanya si Bungsu.
"Oh itu, ODP itu singkatan dari Orang Dalam Pemantauan. PDP itu singkatan dari Pasien Dalam Pengawasan."
"Maksudnya?" tanyanya lagi.
"Kalau terkait corona, yang termasuk ODP itu orang yang baru pulang dari zona merah. Zona merah itu daerah yang kasus coronanya banyak, kayak Jakarta, Solo, Kalimantan, Bali, Malaysia, dll. Jadi harus dipantau dan diarahkan untuk isolasi mandiri di rumah. Kalau PDP itu pasien yang menampakkan gejala yang ada pada pasien corona. Tapi belum tentu pasien corona. Kalau yang ini biasanya diisolasi di rumah sakit."
"Lha caranya tahu kalau kena corona?"
"Yo tadi, dilihat gejala sakitnya. Terus dites pakai rapid test, khusus buat ngetest corona. Kalau positif berarti terinfeksi virus corona. Kalau negatif berarti enggak."
"Oh gitu? Ada yang bilang, orang kampung belakang ada yang meninggal kena corona. Itu beneran, Mi?"
Lha... rak tenan to. Berita macam begini nyebarnya cepet. Padahal anak-anak enggak keluar-keluar dari rumah. Berjemur juga di halaman rumah, di teras lantai dua.
"Denger dari mana?" selidik emak.
"Itu..., tetangga yang lewat depan rumah ngomongin itu."
"Enggak yo... infonya salah tuh."
"Umi bilangin ibu-ibu tetangga itu kalau pas belanja depan rumah to. Kan kasihan keluarganya yang meninggal."
Duh... sok bijak dia... hehe. Tapi ada benernya. Banyak yang harus dipahamkan agar tak berlebihan dalam menyikapi covid 19 ini. Tapi juga tidak abai. Enggak bisa juga sih menyalahkan yang harus keluar rumah karena memang tidak bisa libur bekerja. Seenggaknya tetep meminimalisir keluar rumah. Tapi yang agak sulit, mengerem lidah emak-emak kalau udah ketemu emak-emak yang lain. Mereka selalu punya topik untuk dibicarakan. Apalagi saat musim covid 19 inj, apapun seakan dikait-kaitkan dengan covid 19. Duh... untung ada masker.
Tetep pakai masker ya mak... buat menghindari masuknya virus atau kuman ke dalam mulut. Buat mencegah penularan juga, soalnya kita enggak pernah tahu, saat ini ada virus yang mbonceng kita atau enggak. Masker juga efektif untuk meminimalisir makanan dan minuman masuk mulut kok. Satu lagi, sedikit meredam suara plus menurunkan minat untuk berbicara dan meminimalisir ngomongin orang lain. Jadi manfaatnya dobel, alhamdulillah. Belum punya masker? Sini, emak kasih...
#Demak, 13042020
#D13
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar