Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Minggu, 06 Desember 2020

Dongeng Untuk Calon Pemimpin Bunda



 Malam itu, hujan mengguyur ibukota. Suara petir bersahutan dengan titik hujan yang jatuh di atas atap baja. Sesekali kilat menyambar-nyambar membuat suasana malam terasa mencekam. Bagus, Gagah dan Ilmi serempak menghampiri Bunda yang sedang asyik di depan laptop kerjanya. 

"Eh, kenapa kalian belum tidur? Enggak usah nunggu Ayah, Ayah masih di luar kota, lusa baru kembali," tegur Bunda.

"Bunda, temani...,kami takut...," rengek mereka   serempak.

Bunda bergegas menyimpan kertas kerjanya dan mematikan laptop. Dipandangnya si kembar tiga yang sekarang duduk di kelas dua Sekolah Dasar itu. Mereka adalah aset masa depan, pikirnya. Calon pemimpin nih, jadi harus disiapkan sedini mungkin dengan baik.

"Oke, cuacanya memang sedang tidak ramah. Gimana kalau Bunda mendongeng untuk kalian?"

"Mau... mau... mau...!"

"Bunda akan cerita tentang Kerajaan Pelangi. Kalian tahu pelangi kan?'

"Yang warna-warni indah di langit itu kan, Bun?" sela Bagus dengan gembira.

"Iya, yang itu, mjikuhibiniu...!" seru Gagah tak mau kalah.

"Aku juga suka pelangi, merah. jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, indah sekali," imbuh Ilmi sambil mengerjap,"tapi sekarang hujan, gelap lagi. Jadi enggak bisa melihat pelangi," keluhnya sedih.

Bunda membimbing anak-anak untuk masuk ke kamar.  Karena Ayah masih di luar kota, anak-anak boleh tidur di kamar Bunda malam ini. Bunda mengambil tempat di atas kasur dan duduk bersandar. Di sebelah kanannya ada Bagus dan Gagah dan di sebelah kirinya ada Ilmi. Mereka menarik-narik tangan Bunda, tak sabar ingin mendengar Bunda bercerita.

"Siap dengerin Bunda, ya. Begini ceritanya, 

Kerajaan Pelangi dirundung duka. Raja Awan sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan, sementara itu permaisuri juga sudah mangkat tanpa meninggalkan seorang putra. Hanya ada Pangeran Angin, Pangeran Petir dan Putri Hujan, keponakan-keponakan baginda yang masih sangat belia. Mereka bertiga adalah putra-putri dari Pangeran Kilat dan Putri Mega. Pangeran Kilat adalah adik kandung Raja Awan yang gugur pada perang bintang membela Kerajaan Pelangi, sehingga Putri Mega beserta putra-putrinya kemudian menjadi tanggungan Raja Awan. Baginda sungguh bingung, harus mewariskan tahta kepada siapa. Maka dipanggillah penasehatnya yang bijaksana bernama Resi Semesta ke kamarnya.

"Ada titah apakah sehingga Paduka memanggil hamba?" tanya Resi Semesta penuh hormat.

"Aku bingung, Resi. Usiaku sudah tua, Putri Mega juga demikian. Kepada siapa tahta ini harus kuwariskan? Siapa yang lebih pantas m??enurutmu? Pangeran Angin, Pangeran Petir atau Putri Hujan?" tanya sang Raja.

"Bagaimana bila kita adakan ujian untuk mereka bertiga, Paduka?" usul Resi Semesta.

"Ujian ? Ujian yang bagaimana menurutmu?"

"Bukankah tongkat pusaka kerajaan berada dalam menara Langit? Bukankah tongkat tersebut hanya bisa diambil setelah melewati tiga pintu? Pintu merah, pintu kuning dan pintu biru? Bukankah pintu-pintu itu hanya bisa dibuka dengan kunci keberanian, kejujuran dan kesetiakawanan?" tanya sang Resi lagi.

"Kau benar. Jadi, mereka harus mencari kunci-kunci itu dan memasangkannya di setiap pintu lalu membawakan tongkat pusaka itu kepadaku?"

"Benar sekali, Baginda. Hanya yang bisa membawakan tongkat pusaka untuk Bagindalah, yang layak mewarisi kerajaan Baginda. Adil, bukan?"

"Ya, cukup adil kurasa. Usia mereka kurasa juga sudah cukup dewasa untuk berusaha mendapatkannya. Sekarang, tolong panggil mereka kemari."

Tak lama kemudian, mereka bertiga pun dihadirkan di hadapan Raja Awan.

"Keponakan-keponakanku sayang, usiaku mungkin tak lama lagi. Aku tak memiliki pengganti selain kalian. Tapi, hanya satu yang berhak menjadi raja, karenanya ada ujian yang harus kalian jalani. Hanya dia yang dapat membuka pintu-pintu masuk ruang pusaka. Dan hanya dia yang berhasil mengangkat tongkat pusaka Kerajaan Pelangi dan membawakannya kepadaku yang layak menjadi Raja," titah sang Raja.

"Bagaimana cara kami masuk ke sana, Paduka?" tanya Pangeran Petir penasaran.

"Kalian hanya perlu meletakkan tangan kalian di atas tempat khusus di setiap pintu. Hanya pemilik kunci-kunci itu yang bisa membukanya. Hanya yang terpilih yang dapat membukanya dengan tangannya sendiri," jelas sang Resi.

"Baiklah, kami akan segera mengambilnya," kata Pangeran Petir lagi.

"Tunggu dulu, Pangeran. Ruang pusaka itu ada dalam menara Langit yang terletak agak jauh di luar istana. Akan ada tiga pintu yang harus kalian lewati untuk masuk ke ruangan pusaka. Warnanya merah, kuning dan biru. Masing-masing pintu itu harus kalian buka. Berhati-hatilah, sesuatu yang tak terduga bisa terjadi. ," kata Resi Semesta memperingatkan.

Pangeran Angin, Pangeran Petir dan Putri Hujan segera memacu kudanya untuk melaksanakan titah baginda. Pangeran Angin dan Pangeran Petir lebih dulu sampai di depan menara. Ternyata, menara itu dikelilingi danau buatan yang penuh dengan buaya. Serentak, mereka melemparkan tali-tali dengan pengait di ujungnya ke arah dinding menara. Dengan tali itu mereka berayun melewati danau.

Pangeran Petir lebih dulu sampai di pintu merah. Diletakkannya tangannya di atas relief tangan di samping pintu lalu pintu pun terbuka. Dia pun sampai pada kebun strawberi yang indah. Buah-buah strawberi itu terlihat sangat ranum dan menggoda. Pangeran Petir pun tak tahan untuk tidak memetik dan mencicipinya.

Sementara itu, Pangeran Angin terus memasuki pintu yang sudah terbuka. Tak dihiraukannya Pangeran Petir yang masih asyik memetik buah strawberi dan segera mencari pintu kedua yang berwarna kuning. Setelah didapatkannya, diletakkannya tangannya di atas relief tangan di samping pintu. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.

Putri Hujan baru saja sampai di depan danau penuh buaya, dia pun segera memainkan serulingnya yang selalu dibawanya. Ajaib, buaya-buaya itu segera berbaris rapi seperti dikomando. Sang Putri pun dengan sigap meloncat di atas kepala buaya-buaya itu menyeberangi danau. Dia pun bebas melenggang melewati pintu merah.  Dilihatnya Pangeran Petir asyik memetik buah stawberi dan memakannya.

"Apa yang kaulakukan, Pangeran? Buah-buahan itu bukan milikmu, kau tak boleh mengambil tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Paduka memerintahkan kita mengambil tongkat pusaka?" tegurnya halus, tak urung mengagetkan sang Pangeran.

Pangeran Petir seperti baru terbangun dari  tidurnya. Mereka pun bergegas melewati pintu kedua yang sudah terbuka.

Sementara itu, Pangeran Angin sudah sampai di depan pintu biru. Berulang kali diletakkannya tangannya di atas relief namun pintu tetap tidak mau terbuka.

"Biar kucoba, Pangeran," kata Pangeran Petir yang sudah berada di belakangnya. Pangeran Angin pun membiarkan adiknya mencoba. Seperti kakaknya, Pangeran Petir meletakkan tangannya di atas relief, pintu tak juga terbuka. Berulang kali dia mencoba, hasilnya pun tetap sama.

Sekarang giliran Putri Hujan, dia pun meletakkan tangannya di atas relief dan pintu pun segera terbuka. Mereka kini berada tepat di depan tongkat pusaka yang menancap kuat di lantai ruang pusaka.

Putri Hujan mempersilahkan kedua kakaknya untuk mengambilnya. Namun, walau seluruh tenaga mereka kerahkan, tongkat tersebut tetap tak mau tercabut dari tempatnya.

Ajaib, ketika tangan sang Putri menyentuh tongkat pusaka tersebut, keluarlah cahaya warna-warni dari tangannya melingkupi tongkat tersebut. Tongkat pusaka itu pun dengan mudah terangkat oleh Putri Hujan.

"Paduka telah berhasil, Tuan Putri. Paduka telah mewarisi sifat-sifat keberanian, kejujuran dan kesetiakawanan. Sifat-sifat itu memang harus dimiliki oleh seorang raja, agar dia bisa bertindak adil dan bijaksana," kata sang Resi diikuti para punggawa istana. Ternyata diam-diam mereka mengikuti dan mengawasinya.

Putri Hujan pun segera dilantik menjadi Ratu, kedua kakaknya ikut membantunya menjalankan roda pemerintahan. Kerajaan Pelangi pun aman sejahtera."

"Alhamdulillah, terima kasih, Bunda" sahut Ilmi sambil menguap. Menguap itu menular rupanya. Diliriknya  kedua saudaranya yang juga sama-sama menguap.   Suara hujan sudah mulai lirih. 

"Baiklah, menurut kalian, apa isi cerita Bunda tadi?"

"Untuk berhasil harus punya sifat keberanian, kejujuran dan kesetiakawanan, Bunda," jawab mereka serempak dengan mata terpejam. 

"Oke, seratus buat kalian. Sifat-sifat itu juga harus kalian pegang ya. Oke, sekarang kalian tidurlah. Ayo baca doa tidur dulu."

"Bismika allahumma ahya wa amut."

Bunda  pun menyelimuti dan mencium kening mereka satu per satu. Semoga kelak kalian menjadi pemimpin-pemimpin yang salih dan adil bijaksana.Aamiin.


#Demak,30112020

Burung Pipit Dan Boneka Sawah


 

Adik-adik manis, kali ini Bunda akan bercerita tentang 'Burung pipit dan boneka sawah.'  

Kisah ini menceritakan tentang sekelompok burung pipit yang kelaparan dan menemukan areal persawahan yang dipenuhi dengan bulir padi yang mulai menguning. Awalnya, mereka merasa sawah itu tak berpenghuni sehingga langsung makan saja. Tetapi pemimpin kelompok pipit itu kemudia menyadari bahwa sawah itu ada penjaganya, maka dia pun meminta ijin untuk makan beberapa bulir padi bersama kelompoknya. Seperti apa kelanjutannya? Begini ceritanya... baca sampai habis ya.


Upit adalah seekor burung pipit yang ramah dan suka menolong. Dia hidup berkelompok dengan sekawanan pipit lainnya. Mereka suka mencari makan bersama-sama dan saling membantu.

Musim kemarau belum lagi usai, tak banyak pepohonan yang berbuah. Upit dan kawanannya pun terbang mencari daerah sekitar pegunungan. Di sana masih banyak pepohonan, juga dekat dengan persawahan.

Siang itu, Upit dan kawanannya pun sampai di sebuah areal persawahan. Sepanjang lahan terlihat barisan batang padi yang menghijau, bertabur bulir-bulir padi yang mulai menguning keemasan.

"Alhamdulillah, akhirnya kita temukan juga," gumam Upit perlahan.

"Iya, alhamdulillah, perut kami sudah lapar sejak tadi. Makan yuk!" teriak pipit-pipit lainnya.

"Makan secukupnya saja, jangan berlebihan dan jangan merusak!" seru Upit mengingatkan teman-temannya. Mereka pun bergegas terbang ke arah batang-batang padi.

Klontang klontang klontang. Terdengar suara memekakkan riuh rendah menghalau mereka.. Serentak mereka terbang menjauh kembali dan hinggap di atas pohon yang tumbuh di tepian sawah.

Upit dan teman-temannya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata bunyi-bunyian memekakkan itu berasal dari kaleng-kaleng kecil yang bergelantung di beberapa utas tali yang diikatkan pada boneka sawah.

Upit terbang mendekati boneka sawah, sementara itu teman-temannya tetap diam menunggu. Tak lama kemudian, dia hinggap di bahu boneka sawah.

"Boneka sawah yang baik, bolehkah kami minta beberapa butir bulir padi untuk mengisi perut kami?" tanyanya sopan.

"Tidak boleh, padi-padi itu bukan milikku," jawab boneka sawah ketus. Boneka itu terlihat kusam, pakaiannya pun terlihat basah oleh keringat.

"Engkau terlihat sangat kelelahan, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Upit tetap ramah.

Boneka sawah itu melihat Upit penuh selidik, "aku lelah, sepanjang hari harus berdiri di sini. Apalagi kalau siang begini, panas sekali. Badanku jadi berkeringat dan gatal-gatal, "keluhnya.

"Di mana bagian yang gatal? Aku bisa menghilangkan gatalnya," tanya Upit lagi.

"Itu, kepalaku gatal," jawab boneka sawah. Bagaimana caramu melakukannya? pikirnya.

Upit pun hinggap di atas kepala boneka sawah. Dipatuknya bagian itu dengan patukan-patukan kecil.

"Hei, rasanya seperti digaruk, gatal di kepalaku hilang!" teriak boneka sawah girang, "tapi sekujur badanku juga gatal-gatal. Gimana? Kau bisa membantuku menggaruknya juga?"

"Kalau begitu, aku akan memanggil teman-temanku untuk membantumu. Tapi, biarkan kami mengambill bulir padi barang beberapa butir. Kami baru saja melakukan perjalanan jauh karena di desa kami sudah tak ada makanan lagi untuk dimakan. Kasihanilah kami," pinta Upit memelas.

"Oh, kasihan sekali. Kalau cuma beberapa butir, silahkan saja. Tapi jangan merusak batang padi ya," jawabnya.

"Ya, kami janji, "seru Upit girang. Dengan satu suitan, dipanggilnya seluruh teman-temannya. Mereka pun mematuk-matuk badan boneka sawah dengan hati-hati.

"Alhamdulillah. Kalian semua baik sekali. Gatal-gatalku sudah hilang. Sekarang kalian boleh makan beberapa bulir padi. Ingat ya, secukupnya saja dan jangan merusak," kata boneka sawah sambil tersenyum.

Upit dan kawanannya terbang merendah dan hinggap di atas tali, membuat kaleng-kaleng yang ada di sana bergoyang-goyang dan berbunyi nyaring mengagetkan mereka. Klontang klontang klontang.

"Jangan berisik, pipit cantik. Jangan hinggap di atas tali. Hati-hati," kata boneka sawah mengingatkan.

Tak berapa lama kemudian, bulir-bulir padi sudah memenuhi perut kecil mereka. Upit dan kawanannya pun bergegas pergi.

"Terima kasih, boneka sawah, "kata Upit sebelum pergi.

"Terima kasih kembali, pipit cantik. Semoga harimu menyenangkan!" jawab boneka sawah riang.


Nah, begitu ceritanya, adik-adik manis. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil  dari cerita ini.

Pertama, membiasakan diri minta ijin ketika memasuki rumah orang lain. Juga ketika kita menemukan sesuatu, harus dicari dulu pemiliknya, baru boleh mempergunakannya setelah meminta ijin pada pemilikn y Pelajaran lainnya

Kedua, bila memang terpaksa harus meminta, maka mintalah secukupnya saja, jangan meminta lebih dari apa yang kita butuhkan.

Ketiga, dalam melakukan segala sesuatu, hindari membuat kerusakan yang mungkin akan timbul sebagai akibat perbuatan kita.

Keempat, hendaklah senantiasa tolong menolong karena kita tidak dapat hidup sendirian di dunia. Setiap makhluk memerlukan pertolongan dalam kehidupannya. Dan setiap makhluk juga dikaruniai kemampuan untuk menolong makhluk yang lainnya.Dengan adanya sikap tolong menolong maka kerusakan dan permusuhan dapat dicegah, dunia menjadi damai.

#Demak,04122020

Rabu, 04 November 2020

"Batik dan Kehidupan" (1)


Batik  berasal dari bahasa jawa yaitu 'amba' (lebar, meleber) dan 'titik'. Batik,  amba dan titik  lalu disatukan menjadi 'ambatik' atau lebih dikenal sebagai 'mbatik'. 

Mbatik diterjemahkan sebagai melukis titik-titik (menghubungkan titik-titik) di atas kain yang kemudian menghasilkan suatu bentuk baru yang lebih besar dari sebuah titik. Maka hasil yang kemudian kita lihat adalah terbentuknya ukiran/lukisan dengan bentuk yang beragam corak dan bervariasi. Dalam satu kain,  selalu terdapat corak dan variasi yang berulang. 

Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik serupa ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. 

Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). 

Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.

Pada umumnya mereka memakai media kain linen yang dilapisi lilin atau bubur kanji kemudian menorehkan jarum atau pisau atau benda runcing lainnya di atasnya untuk membuat suatu ukiran atau gambar tertentu. Kemudian mencelupnya untuk mewarnai bagian yang sudah diukir atau dibersihkan dari lilin. 

Seni batik sendiri masuk ke Indonesia pada abad ke6 dari India pada jaman Raja Jayanegara yang menikahkan putrinya dengan putri India. Meski demikian, tehnik "nyanting" sendiri baru ditemukan di Jawa pada abad ke12 kemudian. 

Seni batik Indonesia menjadi populer mulai akhir abad 19 dan dijadikan kain persembahan untuk para raja.  Seni ketrampilan ini dipelajari  dan dipergunakan perempuan-perempuan Jawa untuk menambah penghasilan. Sementara pada daerah pesisir,  ketrampilan ini justru digeluti oleh kaum laki-laki.  Setiap daerah mempunyai ragam corak dan variasi yang berbeda dan memiliki kekhasan dalam warna. 

Dewasa ini kegiatan membatik (seni batik) bisa dikerjakan dengan beberapa cara, di antaranya:

* batik tulis, dikerjakan dengan canting, biasanya memakai cairan malam atau lilin dan membutuhkan proses yang panjang hingga menghasilkan selembar kain batik. 

* batik cap, dikerjakan dengan cetakan (ada banyak motif yang ada) yang dicelupkan ke dalam cairan lilin panas dan dicetakkan di atas kain. Walau proses pengerjaannya hampir sama dengan batik tulis namun penyelesaiannya bisa bisa lebih cepat dari batik tulis.

* batik lukis/batik colet,  dikerjakan dengan menggunakan kuas seperti umumnya melukis. Biasanya menggunakan cat khusus untuk kain sehingga bisa dicuci dan tidak merusak kain.

 * batik celup ikat,  kain digulung,  dilipat dan diikat dengan teknik tertentu, kemudian dicelupkan ke dalam cairan warna yang diinginkan. 

* batik sablon, dikerjakan dengan cara sablon dan memakai cat khusus, pengerjaannya bisa lebih cepat.

* batik printing, dikerjakan dengan mesin cetak dengan pola-pola atau motif yang sudah ada di komputer. Berbeda dengan batik-batik yang lain, yang pengerjaannya dibatasi, per motif antara 2 sampai 4 meter, untuk batik printing, karena memakai mesin, sekali pengerjaan bisa berpuluh-puluh meter kain sekaligus.  

Dahulu,  seni batik hanya dipakai di atas kain mori berwarna putih.  Namun dewasa ini, juga dikerjakan di atas rayon,  poliester,  kain sintetis lainnya atau bahkan sutra.

Meskipun seni batik bisa dikerjakan dengan berbagai cara, masyarakat kita lebih akrab dan menganggap bahwa kegiatan membatik itu ya nyanting. 

Karena waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan selembar kain batik itu  relatif lama, maka dijadikan pameo (ungkapan). Pada orang yang tidak bersegera dalam menyelesaikan pekerjaannya dikatakan 'kayak lagi mbatik.'
Padahal batik itu sendiri ada filosofinya loh.... 

Bersambung... 

#Demak,05112020

Senin, 26 Oktober 2020

miftahul Jannah


Miftahul jannah laa ilaaha illallah. laa ilaha illallah, muhammadurrasulullah.

Kalimat itu acapkali kita dengar,  dilagukan dengan merdu sebagai pengingat. Kunci surga (adalah) tiada tuhan selain Allah. (Meyakini)  tiada Tuhan selain Allah swt,  Muhammad saw utusan Allah swt. Demikianlah artinya. 

Surga,  rasanya tak ada seorang pun  yang tak ingin memasukinya.  Surga, dengan segala kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia, juga memiliki pintu-pintu untuk memasukinya. Pintu-pintu surga itu memerlukan kunci untuk membukanya. Apakah gerangan kunci surga itu?

Kunci surga sesungguhnya telah dijelaskan secara gamblang oleh Baginda Rosulullah SAW dalam sabdanya 

مَنْ كاَنَ أَخِر كَلامِهِ لاإِلَهَ إلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنّةَ

“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallaah ( tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah),  maka ia akan masuk surga.” (HR Abu Dawud)

Ternyata, kunci surga adalah dua kalimat syahadat (syahadatain). Dua kalimat yang tak asing bagi umat Islam bahkan begitu sering didengar dan diucapkan. Namun, apakah semudah itu surga dapat dibuka dan dimasuki hanya dengan dua buah kalimat? Jika demikian tentu semua orang sangat mungkin bisa mengucapkannya meski harus dibimbing terlebih dahulu dan akhirnya berhak masuk surga.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa seseorang pernah bertanya kepada Imam Wahhab bin Munabbih, seorang tabi’in terpercaya dari Shan’a, “ Bukankah Laa ilaaha illallah itu kunci surga?” Wahhab menjawab, “Benar, akan tetapi setiap kunci pasti bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu.”

Gerigi-gerigi kunci itulah yang kemudian menjadi syarat diterimanya dua kalimat syahadat. Asy-Syaikh Muhammad Said Al Qohthoni menjelaskan tujuh syarat diterimanya syahadat.
 
Pertama, Al ‘Ilmu (mengetahui). Setiap orang yang bersyahadat harus mengetahui dengan benar apa makna dan maksud yang terkandung dalam dua kalimat tersebut.   

 Allah swt berfirman, 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“ Dan janganlah engkau mengikuti apa-apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua akan dimintai pertanggungjawaban.”(QS. Al Isro’: 36). 

Syarat kedua, Al Yaqin (meyakini). Setiap orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat ini harus meyakini sepenuh hati tanpa ada keraguan di dalamnya. 

Allah swt berfirman, 

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNYA kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 15). 

Syarat ketiga, Al Qobul (menerima). Syahadat baru diterima di sisi Allah SWT jika menerimanya dengan total atas konsekuensi yang menyertainya dengan hati dan lisannya. Jika seseorang mengucapkan syahadat hanya di lisannya tanpa mengakui kebenaran di hatinya maka syahadatnya ditolak. Ia adalah seorang munafiq I’tiqodiy.

 Allah swt mengecam kaum musyrik lagi munafiq yang menolak kalimat syahadat ini dalam firman-Nya, 

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ 
 
“ Orang-orang musyrik itu apabila dikatakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illallah, mereka menyombongkan diri seraya berkata : apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya karena ucapan penyair yang gila ini.”(QS. Ash Shoffat : 35-36).

Syarat keempat, Al Inqiyad (tunduk patuh). Ikrar syahadat harus diikuti dengan sikap tunduk patuh terhadap kandungan maknanya. 

Allah SWT berfirman, 

وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا۟ لَهُ

“ Kembalilah ke jalan Tuhanmu, dan tunduklah kepadaNYA.” (QS. Az Zumar : 54). 

Firman Allah dalam Quran surah Luqman ayat 22 menjelaskan hal ini. 

وَمَن  يُسْلِمْ  وَجْهَهُۥٓ  إِلَى  اللَّهِ  وَهُوَ  مُحْسِنٌ  فَقَدِ  اسْتَمْسَكَ  بِالْعُرْوَةِ  الْوُثْقَىٰ  ۗ  وَإِلَى  اللَّهِ  عٰقِبَةُ  ﴾ الْأُمُورِ 

“ Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada ikatan tali yang amat kokoh (kalimat Laa ilaaha illallah).” 

Syarat kelima, Ash Shidq (jujur atau benar). Syahadat harus diucapkan dengan sungguh-sungguh tanpa kepalsuan dan kepura-puraan. Ucapan lisannya harus sejalan dengan pikiran dan hatinya. Karena Allah Maha Mengetahui setiap hamba yang jujur dalam keimanan dan yang melakukan penipuan. 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ . يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ . فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذّابٌ أَلِيمُ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dan di antara manusia ada yang mengatakan, “ Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal mereka itu sebenarnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal pada hakikatnya mereka hanya menipu diri sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.”(QS. Al Baqoroh : 8-10).

Syarat keenam, Al Ikhlash (ikhlas). Ikrar syahadat harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap ridha Allah swt.  

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

 “ Mereka itu tidaklah diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan kepatuhan kepadaNYA (ikhlas) dalam menjalankan agama secara lurus…”(QS. Al Bayyinah : 5).

Syarat terakhir adalah Al Mahabbah (cinta). Seorang yang telah mengikrarkan syahadat maka ia harus mencintai Allah di atas segalanya dan mencintai segala sesuatu dalam rangka mencintai Allah swt. 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ 

 “ Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat mencintai Allah di atas segala-galanya.”(QS. Al Baqarah : 165).

Demikianlah syarat-syarat diterimanya syahadat yang merupakan gerigi-gerigi kunci surga. Seseorang yang hanya mengucapkan syahadat namun tidak memenuhi syarat-syaratnya maka ia bagaikan orang yang memegang kunci surga yang tak bergerigi. Ia tak dapat membuka pintu surga dan mustahil masuk kedalamnya. 

#Demak, 27102020

#Allahdulu
#Allahlagi
#Allahterus
#lailahaillallah
#muhammadrasulullah
#cintaislam
#cintakalimattauhid

Sabtu, 17 Oktober 2020

Belajar Dari Air

Bersabarlah seperti air. Terus mengalir ke bawah sesuai hukum alamnya. Ketemu rintangan dia berbelok, ketemu celah sempit dia menyelip, ketemu batu besar dia menyibak, ketemu tanggul dia mengumpulkan diri, membesar lalu meninggi dan menumpahkan diri melewati bendungan untuk terus mengalir lagi hingga kembali ke samudra luas. 

Dalam perjalanannya, terkadang ikut pula terbawa kotoran berbagai macam, terkadang mengotori lahirnya yang tak lagi terlihat bening, tapi keruh, menghijau, kecoklatan atau bahkan menghitam. Namun dia akan terus berjuang, walau terkadang panas mentari menghabiskan raganya hingga tak bersisa, atau tertatih- tatih hingga percikannya  sampai ke muara, membersihkan segala daki dan kembali suci lagi mensucikan dalam samudra luas.

Bersabarlah laksana air, yang terkadang terlihat seperti diam, tenang dan seolah tak melakukan apa-apa, sejatinya dalam tenang dan diamnya, dia terus berjuang habis-habisan agar bisa terus mengalir menuju muaranya.

Bersabarlah bagai air yang mengalir melewati apa saja. Sesungguhnya, bersabar itu bukan diam tak bergerak, tetapi terus berjuang menapaki jalan-Nya walau dalam kesunyian. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Kamis, 01 Oktober 2020

Ketika Aku dan Kau Menjadi Kita (3)


Ketika seorang lelaki dan seorang menikah,  mereka tak hanya pindah dari satu status ke status yang baru. Dari lajang berganti menikah. Dari panggilan mas atau mbak menjadi tuan dan nyonya.  

Juga tak sekadar berpindah dari rumah yang lama ke rumah yang baru. Bukan cuma menambah keluarga lama dengan keluarga yang baru. Dulu hanya terikat dengan orangtua dan saudara-saudaranya sendiri saja. Setelah menikah maka masuk dalam lingkaran yang lebih luas lagi. Ada suami/istri, ada mertua dan keluarganya. 

Pernikahan menyatukan dua insan dalam satu ikatan yang lebih spesifik. Suami adalah pakaian istri,  demikian juga sebaliknya. Namun bukan pula sekadar berganti pakaian,  namun menjadi ruh dan nyawa dalam keluarga barunya. Mereka menjadi hal yang paling penting dan merupakan bagian inti di dalamnya. 

Suami istri ibarat sepasang paru-paru dan jantung dalam satu tubuh. Paru-paru bertugas mengikat oksigen yang masuk melalui organ pernapasan luar dan melepaskan karbon dioksida dalam darah yang mengalir menuju jantung.  Jantung kemudian mengalirkan darah bersih yang berisi oksigen ke seluruh tubuh dan membawa darah kotor yang berisi karbon dioksida untuk diproses dan dibersihkan oleh paru-paru. 

Begitupun suami dan istri. Mereka bertugas mengambil semua nilai-nilai kebaikan dari luar dirinya. Kemudian menanamkannya dalam rumah tangga. Mereka juga punya kewajiban untuk membersihkan setiap keburukan yang muncul dalam rumah tangga. Tanggung jawab untuk mengedepankan sifat-sifat positif dan menurunkan ego,  membuang sifat-sifat negatif yang acapkali muncul. Dengan demikian akan tercermin akhlak yang mulia dalam rumah tangga tersebut. Dalam diri suami,  istri maupun anak-anak yang lahir kemudian. 

Suami istri  ibarat organ pencernaan sekaligus organ pembuangan dalam satu tubuh. Mereka menyerap zat-zat baik dan berguna bagi tubuh dalam makanan yang dikonsumsi. Kemudian membuang ampasnya keluar tubuh. Mereka juga bertugas menyaring kembali zat-zat baik dan berguna dalam cairan hasil metabolisme. Lalu mengeluarkan sisanya bersama dengan cairan yang sudah kotor melalui saluran pembuangan. 

Begitulah suami istri. Punya kewajiban untuk mengambil manfaat dan membuang mudharat. Maka mereka juga harus memperhatikan  makanan dan minumannya. Menjaga kehalalan dan kethoyibannya. Agar lebih mudah menyaringnya dan tak semakin memperberat tugas. 

Lebih dari itu,  suami istri adalah qolbu sekaligus akal bagi rumah tangganya. Punya kewajiban untuk selalu membersihkannya.  Yang dengannya menampakkan aktifitas yang bermanfaat dan bernilai positif (kebaikan).  Bagi diri,  keluarga dan masyarakatnya. 

Rasulullah saw bersabda, "ingatlah,  di dalam jasad ada segumpal daging.  Bila ia baik maka baiklah seluruh jasad. Bila ia buruk maka burukkan seluruh jasad. Ingatlah,  ia adalah qolbu (hati). " Qolbu yang baik akan mendorong akal melakukan aktifitas kebaikan dan menjauhi aktifitas keburukan. Memberi manfaat dan tidak menimbulkan mudharat. 

Semoga Allah swt mengistiqomahkan kita dalam kebaikan agama ini. Dan memasukkan kita dalam golongan yang disebut khoirunnas. Khoirunnas anfauhum linnaas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat. Aamiin. 

Nb: fotonya duduk semua ya,  udah capek berdiri. 

#anniversary 
#mitsaqongholidzon 
#29sept2020

Selasa, 29 September 2020

Ketika Kau dan Aku Menjadi Kita (2)

Ketika kau dan aku menjadi kita,  maka hakikatnya kita melebur menjadi satu. Apapun yang berkaitan dan mengenai rumah tangga kita,  kita hadapi dan selesaikan bersama. 

Suami istri adalah sepasang tangan dan sepasang kaki yang melakukan berbagai aktifitas dan pergerakan bagi rumah tangganya. 

Tangan kanan biasanya dipakai untuk melakukan aktifitas-aktifitas yang berkelas dan dipandang orang. Untuk berjabat tangan,  interupsi,  mengetuk palu,  menulis,  mengangkat, memberi,   memotong,  memukul,  dan aktifitas lainnya.  Begitulah simbol seorang qowwam. 

Seorang qowwam harus kuat menanggung beban dan berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya dengan pekerjaan yang halal dan mulia. Dia juga harus dapat membawa nama baik dan kehormatan keluarga/ rumah tangganya di mata publik. 

Sementara istri,  seorang istri lebih  sering mewakili tangan kiri.  Dia bisa melakukan apa yang dilakukan tangan kanan dengan porsi/kekuatan yang sedikit lebih rendah di bawahnya.  Namun,  ada kelebihan yang acap dilakukan tangan kiri dan tak biasa dilakukan dengan tangan kanan. Aktifitas yang berhubungan dengan urusan belakang yang sering dianggap remeh tapi penting. Urusan yang dianggap tidak berkelas tapi harus dilakukan,  seperti cebok dan sejenisnya. 

Begitupun dengan urusan yang berhubungan dengan anak. Ada hal-hal yang tak bisa dilakukan para ayah dan hanya bisa ditunaikan oleh para ibu yaitu mengandung dan menyusui. Maka Allah muliakan ibu dan mendahulukannya daripada ayah. Begitupun membersamai anak-anaknya di tiga tahun pertama dan di masa sakit mereka. Merupakan tugas yang lebih sering disandangkan pada ibu. 

Begitulah pekerjaan seorang istri/pekerjaan rumah tangga,  seringkali tidak dianggap sebagai pekerjaan yang berkelas dan menghasilkan.Namun dia setara dengan beberapa profesi sekaligus. Dan bila beberapa profesi itu dinilai sesuai  standar gajinya,  maka seorang suami takkan sanggup menggaji istrinya.

Suami istri ibarat sepasang tangan bagi rumah tangganya. Ada kalanya mereka melakukan aktifitas yang sama,  ada kalanya mereka melakukan pembagian tugas dengan aktifitas yang berbeda.  Ketika yang satu tidak berfungsi,  maka pekerjaan yang harus ditunaikan pun akan terasa lambat dan tidak sempurna. 

Suami istri ibarat sepasang kaki dalam mengarahkan keluarga/rumah tangganya. Dalam adab keseharian  disunnahkan mendahulukan yang kanan untuk setiap aktifitas. Dan yang kiri akan mengikutinya.  Dibawa ke masjid dia ikut,  dibawa ke pasar dia ikut,  dibawa kemana pun dia ikut.   

Begitupun seorang qowwam,  dia bertanggungjawab  dan  berkewajiban mengarahkan rumah tangganya untuk kebaikan. Membawanya menapaki jalan menuju kemenangan/surga.

Sepasang kaki selalu melangkah bersama,  baik saat berjalan maupun berlari.  Ketika kaki kanan di depan,  maka dia pasti akan menunggu pasangannya dan takkan meninggalkannya, bahkan mendorongnya maju selangkah lagi. Ketika kaki kiri di depan, dia pun akan menanti pasangannya dan mendorongnya untuk maju selangkah lagi. Saat yang satu naik,  yang lain ikut naik. Ketika yang satu turun,  yang lain akan mengikuti dan menahannya agar tak terjerembab. 

Begitu pun suami istri,  saling mendorong pasangannya untuk lebih maju dan tidak meninggalkannya saat berada di posisi belakang. Di saat mapan dan berjaya, pun di saat lemah dan terpuruk. 

Alhamdulillah,  27 tahun suka duka telah kita lalui bersama. Allah swt telah pilihkan engkau sebagai qowwamku. Maka bawalah kami untuk istiqomah menapaki jalan menuju cinta dan keridhoan-Nya. Dan semoga kelak kita beserta keluarga dan keturunan kita  termasuk dalam golongan orang-orang yang dikumpulkan Allah swt di dalam firdaus-Nya yang kekal,  aamiin. 


#anniversary 

#mitsaqongholidzon 

#29sept2020

Senin, 28 September 2020

Ketika Kau dan Aku Menjadi Kita (1)


Dua puluh tujuh tahun yang lalu,  kau dan aku sepakat melebur menjadi kita. Ikrar yang terucap dari lisanmu disaksikan Sang Maha Cinta,  pemilik semesta beserta segenap isinya. Menjadi mitsaqon gholidzon sepanjang sisa usia.

Ketika kau dan aku melebur menjadi kita,  hakikatnya kita menyatu dalam satu tubuh, saling seiring,  selaras,  seia sekata dalam banyak hal.

Ibarat sepasang mata,  kau  sebelah kanan dan aku sebelah kiri. Bila kau terbuka,  akupun terbuka. Apa yang ada padaku tak luput dari penglihatanmu,  begitupun sebaliknya. Baik burukku,  puji celaku tiada yang luput dari netramu,  begitupun sebaliknya. 

Engkau adalah pakaianku dan aku adalah pakaianmu. Maka kita saling menampakkan apa yang biasa terlihat  dan menyembunyikan apa yang tidak seharusnya terlihat. Keburukanmu aman dan mengendap bersamaku,  aibku pun aman dan terlindung bersamamu. 

Bila kau mengerjap,  akupun mengerjap,  bila kau terpejam,  akupun terpejam. Apa yang membuatmu berbinar pasti membuatku berbinar bahagia. Apa yang membuatmu menangis,  sudah pasti juga membuatku menangis. 

Ketika kau dan aku menjadi kita,  ibarat dua telinga,  kita saling mendengarkan meski terkadang jarak memisahkan. Kalam Illahi menjadi panduan hingga desau bising suara-suara yang mengganggu kan terabaikan. Dia menjanjikan adanya sakinah mawaddah warrohmah ketika kita selalu menapaki jalan sesuai petunjuk-Nya. 

Maka jadilah pelita kami,  ya Robbana. Ihdinash shirotol mustaqim,  shirotolladziina 'an amta 'alaihim,  wala addhooliin. Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota 'ayuni waj'alna lil muttaqiina immaman,  aamiin. 

#anniversary
#mitsaqongholidzon
#29sept2020

Jumat, 07 Agustus 2020

Amalan Ahli Surga atau Ahli Neraka? (bagian ke 2)

 

Oleh: Titien SDF


Golongan selanjutnya atau golongan kelima adalah golongan yadun sahiyyun. Yaitu golongan orang-orang yang suka berinfak, dermawan dan ringan tangan dalam membantu kesulitan orang lain.  Golongan yang seperti ini sangat dicintai Allah seperti yang difirmankan-Nya dalam QS Ali Imron ayat  133-134,


} وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ


Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,


{134} الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.


Sebaliknya, golongan yang keenam diisi oleh orang-orang yang bakhil/ kikir sehingga tidak disukai sesamanya. Juga tidak disukai Allah dan Rasul-Nya.


Orang yang bakhil/ pelit adalah orang yang menahan (hartanya) dengan tidak menunaikan (hak dan kewajiban) yang berkaitan dengan harta yang dimilikinya tersebut. 


Sedangkan orang kikir adalah orang yang tamak/rakus terhadap apa-apa yang sebenarnya bukan miliknya, dan tentu saja ini lebih parah dari bakhil, karena orang yang kikir itu selalu berambisi terhadap apa-apa yang dimiliki oleh orang lain, dan dirinya tidak menjalankan apa-apa yang Allah wajibkan kepadanya, seperti zakat, berinfak, dan hal-hal lain yang sudah selayaknya dia lakukan (dengan harta yang dimilikinya)


Orang yang bakhil dan kikir akan Allah masukkan ke dalam golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak. Adapun bagi mereka yang dermawan dan mau menginfakkan hartanya di jalan Allah, maka mereka akan tergolong orang-orang yang beruntung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS At-Taghabun [64]: 16) atau (QS Al-Hasyr [59]: 9)


Di dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa makna dari ayat ini adalah barangsiapa yang selamat dari sifat kikir, maka sungguh ia tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung dan sukses. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ


“Berhati-hatilah kalian terhadap perbuatan dzalim, karena sesungguhnya dzalim itu merupakan kegelapan yang paling gulita kelak di hari kiamat. Dan berhati-hatilah kalian dari sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir pulalah yang telah membuat mereka tega menumpahkan darah dan menghalalkan kehormatan sesama mereka.” (HR Muslim)


Golongan yang ketujuh adalah golongan orang-orang yang berhati bersih dan lembut, penuh dengan ketaqwaan. 


Mereka senantiasa menyucikan hatinya dari sifat-sifat iri, dengki, khianat, dan sifat-sifat buruk lainnya. Dengan demikian mereka dimudahkan Allah melihat cahaya petunjuk-Nya dan diteguhkan-Nya pula untuk senantiada berjalan di atas jalan-Nya yang lurus.


Ada begitu banyak balasan yang dijanjikan Allah untuk orang-orang yang bertaqwa, baik yang disegerakan-Nya di dunia maupun yang ditahan-Nya untuk kehidupan akhirat (surga). Di antaranya tertuang dalam firman-Nya,


QS Ath Tholaq ayat 2, yang artinya," Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."


QS Ath Tholaq ayat 3,  "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."


QS Ath Tholaq ayat 4 ,"Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."


QS Ath Tholaq ayat 5, "Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya."


Sedangkan golongan yang kedelapan, adalah golongan orang-orang yang membiarkan hatinya dipenuhi dengan kotoran dan keburukan,  hatinya pun menjadi gelap dan keras, sehingga tak dapat melihat cahaya petunjuk-Nya dan tersesat dari jalan-Nya.أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَة


ِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.


Saudaraku di jalan Allah, setiap kita pasti menginginkan surga sebagai tempat kembali. Karenanya, berhati-hatilah dalam berucap, beramal dan bertindak, jangan sampai amalan yang kita lakukan justru menyeret diri kita ke dalam neraka, na'udzuu billahi min dzalik. Allah memperingatkan kita dengan firmannya dalam QS Al-Ĥashr ayat 18 , 


" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."


Alhaqu min robbikum, walaa takuunana minal mumtariin, "kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu dan janganlah kalian termasuk golongan yang meragukannya." Wallahu a'lam bishshowab.


#Demak, 080817

Amalan Ahli Surga atau Ahli Neraka? (bagian 1)



Sesungguhnya, dunia ini diisi oleh delapan golongan manusia,  empat di antaranya termasuk golongan yang mengerjakan amalan ahli surga, in syaa Allah, dan empat di antaranya termasuk golongan yang mengerjakan amalan ahli neraka, na'udzuu billahi min dzalik.


Golongan yang pertama adalah golongan orang-orang yang senantiasa menampakkan wajah yang cerah, berseri-seri, kapan pun, di mana pun dan dalam situasi apapun. 


Nabi Muhammad saw bersabda:

((لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ))

"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun (hanya dengan) engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri."[1]

Dan telah diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu ketika beliau ditanya tentang al-birr (kebajikan), beliau menjawab:

وَجْهٌ طَلْقٌ وَلِسَانٌ لَيِّنٌ

"Wajah yang berseri-seri dan ucapan yang lembut."


Maka berseri-serinya wajah akan memasukkan kegembiraan kepada orang dan menarik simpati dan kecintaan, serta menyebabkan lapangnya dadamu dan dada orang yang menemuimu.

 

Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Tuhannya. Maka Allah pun menambah karunia-Nya berlipat ganda, juga banyak teman dan saudara. Banyak kemudahan pula yang akan didapatnya. Ini sejalan dengan firman Allah ta'ala dalam QS Ibrahiim ayat 7,


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Golongan yang kedua adalah kebalikan dari golongan yang pertama, yaitu golongan orang-orang yang suka bermuka masam.


Jika engkau bermuka masam, suka merengut, sungguh manusia akan lari darimu. Mereka tidak akan merasa lapang untuk duduk bersamamu atau berbicara denganmu. Dan mungkin saja engkau bisa dihinggapi oleh kerumitan-kerumitan kejiwaan, atau mungkin saja engkau akan terserang penyakit yang berbahaya yaitu stress. Maka kelapangan dada dan bermanis muka termasuk ramuan yang paling berkhasiat untuk mencegah penyakit ini.


Berkaitan dengan muka masam ini, Rasulullah saw pernah ditegur langsung oleh Allah swt dalam QS Abasa. Dalam surat ini dikisahkan bagaimana Allah menegur Rasulullah saw yang bermuka masam kepada Abdullah Umi Maktum, seorang sahabat yang buta matanya. Subhanallah, bermuka masam kepada orang buta saja tidak diperbolehkan, apalagi kepada saudara kita yang tidak buta. 


Orang yang bermuka masam juga akan membuka celah kepada orang lain untuk berprasangka buruk sehingga tumbuh bibit-bibit kebencian dan permusuhan yang sangat merugikan dan dibenci Allah.


Golongan ketiga adalah lisan yang lembut dan berkata baik.


'Mulutmu harimaumu', pepatah ini memang sangat tepat. Lisan/ lidah, adalah organ kecil yang sering menggelincirkan pemiliknya ke jurang permasalahan, di dunia maupun di akhiirat. Karenanya, Nabi saw berpesan kepada kita,


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ


Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.


Hadits ini menjelaskan beberapa hal, antara lain:

*  termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.

* berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.

Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.

* tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.

* wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.


Diam bisa mengendalikan lidah dan menjadikan pikiran lebih konsentrasi. Luqman Al Hakim berkata,


“Diam itu hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya (lidah) dan apa yang ada diantara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjaminnya surga.


Sebaliknya, golongan keempat adalah golongan orang-orang yang suka berbicara buruk/ kotor ataupun mengajak kepada kemaksiyatan/ kejahatan. Amalan yang seperti ini hendaklah dihindari sejauh-jauhnya karena bisa menyeret pelakunya pada bencana.


#Demak, 060817

Jumat, 03 Juli 2020

Dampak Globalisasi Terhadap Keluarga



Era globalisasi  identik dengan modernisasi dan industrialisasi. Perkembangan teknologi yang semakin maju dan canggih mempersingkat  jarak dan waktu. Dunia dilihat seakan-akan semakin mengecil dalam beberapa aspek. Hal ini membuat hubungan manusia antara yang satu dengan yang lain semakin dekat, bahkan meski mereka secara fisik terpisah jarak bermil-mil kilometer jauhnya.

Kemajuan teknologi ini memang membawa dampak yang cukup signifikan terhadap cara hidup masyarakat, termasuk dalam kehidupan keluarga. Di sisi pengetahuan dan kemudahan banyak sisi positifnya. Namun di sisi yang lain, tidak sedikit pula sisi negatifnya yang dapat mengancam keberlangsungan kehidupan berkeluarga.

Bila ditelaah lebih lanjut, era globalisasi telah membawa dampak sebagai berikut:

1.  1..  terjadinya perubahan dari pola hidup sederhana dan produktif cenderung berubah ke arah konsumtif.

Hal ini terjadi karena masuknya hegemonisasi food (makanan), fun (hiburan), fashion (mode), dan thought (pemikiran) secara massif melalui informasi yang sangat mudah diakses. Manusia cenderung menyukai apa yang terlihat menyenangkan baginya dan mereka cenderung berusaha meniru dan mengadopsinya.

2.    2.   Terjadinya perubahan struktur keluarga, dari  extended family cenderung ke arah nuclear family, bahkan sampai single parent family.

Hubungan kekeluargaan/emosional antar anggota keluarga besar (extended family) yang semula lekat dan hangat (family right), cenderung menjadi longgar (family loose). Yang tadinya antar keluarga adik dan kakak masih sering berkunjung dan saling bantu, akhirnya tidak. Bahkan tak jarang terjadi pertikaian antar saudara masalah warisan dan perawatan orang tua mereka yang sudah lansia. Tidak sedikit pula yang memilih menitipkan orang tua mereka ke panti jompo atau penitipan manula.

Hubungan emosional antar keluarga inti pun ikut berubah, antara suami-istri dan anak seringkali tidak memiliki waktu yang cukup untuk bertemu secara kuantitas maupun kualitas. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri, keluarga sudah bukan prioritas lagi, perbedaan pendapat lebih sering terjadi, akhirnya banyak yang memilih menjadi single parent.  

3.   3.   Terjadi perubahan nilai, yang awalnya memegang teguh nilai-nilai agama, sedikit demi sedikit cenderung berubah ke arah sekuler dan serba membolehkan (premisive society);

Hal ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman nilai-nilai agama yang benar dan mendasar. Orang cenderung lebih suka searching hal-hal yang menyenangkan dan menghibur ketimbang searching ilmu agama yang seringkali dianggap membebani dan memberatkan. Akhirnya, yang halal dan haram pun menjadi campur aduk dan tidak lagi dianggap sebagai hal yang penting. 

4.      4.   Perubahan gaya hidup dan pemikiran banyak memberi masukan bagi manusia untuk melakukan tawar-menawar dalam perkawinan. Banyak di antara mereka yang menikah atas dasar kesenangan dan kenikmatan hidup bersama, tetapi abai dalam memikirkan tanggungjawab bersama. Padahal, yang namanya kesenangan dan kenikmatan sudah tentu mudah berubah. Akhirnya, ketika kesenangan dan kenikmatan itu sudah tidak mereka dapatkan dalam pernikahan, mereka memilih bercerai. 

Banyaknya angka perceraian yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadikan lembaga perkawinan mulai diragukan dan masyarakat cenderung memilih hidup bersama tanpa nikah. “Buat apa nikah, kalau cuma untuk sementara, lebih enak begini. Tidak usah ngurus surat nikah, tidak repot ngurus surat cerai. Selesai ya selesai.” Demikian alibi mereka.

5.        5.    Ambisi karir dan materi juga punya andil besar dalam  mengganggu hubungan ipersonal, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Ambisi karir ini mendorong istri untuk berkarir di luar biasanya mengakibatkan:

pertama, suami sering mengeluh bahwa sejak istri turut bekerja dan berpenghasilan, dirasakan wibawa dirinya terhadap istri menurun karena istri telah belajar mandiri dan mengurangi ketergantungannya kepada suami;

kedua, bagi istri yang karir dan berpenghasilan lebih tinggi dari pada penghasilan suami, dapat mengakibatkan rasa rendah diri pada suami dan menimbulkan rasa cemburu,

ketiga, peran sebagai kepala rumah tangga dan sebagai pencari nafkah dapat berbalik manakala suami tidak bekerja. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan rasa rendah diri, harga diri menurun wibawa menurun di dahadapan istri dan anak-anak berkurang, dan kendali kepemimpinan keluarga berpindah kepada istri.

6.  6.  Terjadinya perubahan pola hidup masyarakat dari sosial religius cenderung ke arah individu materialistik.     Sikap individualis/egois merebak dan merajalela, menimbulkan kerenggangan hubungan antar anggota keluarga dan relasi dengan masyarakat. Sikap kepedulian mulai terkikis karena sebagian besar orang hanya memikirkan dirinya sendiri.

 

Referensi:

Mustofa, Imam. 2008. “Keluarga Sakinah dan Tantangan Globalisasi”


Kamis, 02 Juli 2020

Ancaman Globalisasi Dalam Kehidupan Keluarga




Menurut John Tom Linson dalam sebuah tulisan “Cultural Globalization: Placing and Displacing the West”, globalisasi adalah “Proses hubungan yang rumit antar masyarakat dunia yang luas, antar budaya, institusi dan individual. Globalisasi merupakan proses sosial yang mempersingkat waktu dan jarak dari pengurungan waktu yang diambil baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi dengan dipersingkatnya jarak dan waktu, dunia dilihat seakan-akan semakin mengecil dalam beberapa aspek, yang membuat hubungan manusia antara yang satu dengan yang lain semakin dekat.

Pada prinsipnya, globalisasi mengacu pada perkembanganperkembangan yang cepat di dalam teknologi komunikasi, transformasi, informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh menjadi hal yang bisa dijangkau dengan mudah.

Di era globalisasi ini, budaya yang ada didominasi oleh budaya Barat, yang sarat dengan konsumerisme, hedonisme dan materialisme. Globalisasi yang melanda dunia ditandai dengan hegemonisasi food (makanan), fun (hiburan), fashion (mode), dan thought (pemikiran). Budaya-budaya ini terkadang dipaksakan masuk ke dalam budaya lain, sehingga tidak jarang terjadi “benturan-benturan” kebudayaan.Bisa dibayangkan, dengan kecanggihan alat komunikasi berbagai produk budaya dari segala penjuru dapat dengan mudah masuk ke rumah-rumah keluarga.

Di era pandemic ini, anak-anak lebih banyak belajar dari rumah. Pelajaran diberikan melalui pesan virtual yang menuntut penggunaan gadget dan internet untuk mengaksesnya. Mau tidak mau, anak- berinteraksi dengan media-media ini lebih lama daripada ketika mereka masih belajar  di sekolah. Disadari atau tidak, sebagian besar anak-anak  telah dijejali sejak dini dengan berbagai budaya yang menyimpang dari norma-norma sosial dan agama melalui media ini (televisi, radio, gadget dan computer). Media-media ini seolah menggantikan peran orang tua dalam pengasuhan. Hal ini menjadikan peran pendidikan dalam keluarga tidak efektif lagi.

Menurut sebuah penelitian yang dialakukan oleh Zakiah Drajat, perilaku manusia 83% dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar, dan 6 % sisanya oleh berbagai stimulus campuran. Dilihat dari perspektif ini, nasihat orang tua yang hanya memiliki efektivitas 11%, dan hanya contoh teladan orang tua saja yang memiliki efektivitas tinggi.

Budaya dalam suatu masyarakat akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter keluarga. Pengaruh ini meliputi perilaku, gaya hidup dan aspekaspek lain. Budaya Barat sangat menjunjung tinggi kebebasan pribadi untuk berekspresi, dan ini tentunya sangat berbeda dengan masyarakat Timur yang masih menjunjung nilai-nilai moral.

Setidaknya ada dua ancaman yang sering terjadi akibat kehidupan modern di era global ini, yaitu,
Pertama, terjadi   erosi kesakralan lembaga perkawinan. Beberapa pasangan menikah apabila mereka sepakat untuk mencari kesenangan daripada berpikir tentang tanggungjawab yang akan mereka pikul bersama. Ketika kehidupan perkawinan itu tidak dapat lagi memberikan lagi apa mereka cari, maka mereka akan memilih jalan mereka sendiri-sendiri (bercerai). Angka perceraian meningkat dari tahun ke tahun.

Anak-anak yang lahir dari pasangan seperti itu hanya sedikit lebih beruntung dari pada anak-anak yatim piatu, walaupun mereka masih memiliki orang tua. Mereka seringkali kurang mendapat perhatian dan pemenuhan hak-haknya sebagai anak. Akhirnya banyak anak-anak yang tidak mendapatkan pengasuhan yang baik dari orangtuanya. Mereka tumbuh tanpa pengawasan. Mau ikut ibu kandungnya, takut dengan ayah tirinya. Mau ikut ayah kandungnya takut dengan ibu tirinya. Sebagian lebih memilih ikut neneknya atau keluarganya yang lain. Sebagian lagi memilih menjadi anak jalanan. Celakanya lagi, industri pornografi dan narkoba juga mengincar anak-anak broken home ini untuk memperbesar jaringan mereka.

Kedua, putusnya sistem keluarga besar yang utuh. Fokus dari perhatian orang tua tidak lagi tertuju pada rumah. Dulu, seorang ibu senantiasa berada di rumah untuk dapat tetap memperhatikan anak-anak. Tetapi sekarang, ada banyak keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja di luar rumah. Sebagian bahkan berangkat kerja saat anak-anaknya masih terlelap, dan pulang hanya mendapati mereka sudah  tertidur pula. Ayah dan ibu ada secara status, tapi tidak dirasakan kehadirannya secara fisik dan spiritual.

Anak-anak mungkin saja dicukupi dengan pangan, sandang dan papan yang mewah. Radio, televise, hanphone, computer, kendaraan, dll, semua serba ada. Namun, tanpa pengawasan yang benar, semua fasilitas tersebut bisa jadi malah membawa dampak negative dan menghancurkan masa depannya.  
Anak-anak pun mencari sosok ayah dan ibunya di luar lingkungan keluarga. Beruntunglah dia, bila menemukan orang-orang baik yang dapat membimbingnya dan membantu mengasuhnya menjadi lebih baik. Tetapi bila tidak, mereka mempunyai nasib yang tidak jauh lebih baik dari anak-anak pasangan yang bercerai. Orang tua ada, tapi tiada.  Punya, tapi serasa tak punya. Mereka bisa saja mengalami kekerasan pelecehan fisik dan seksual tanpa ada yang melindungi.

Bila anak-anak tidak mendapatkan perhatian dan pengasuhan yang cukup, kakek nenek pun tak jauh berbeda. Kesibukan dunia kerja (karir dan prestise) seringkali menjadikan  “sandwich generation” memilih untuk menitipkan orang tuanya ke panti jompo. (Sandwich generation adalah sebutan untuk orang dewasa yang menanggung beban untuk mencukupi kebutuhan hidup anak-anaknya. Dan di waktu yang sama juga dituntut untuk mencukupi kebutuhan orang tuanya).

Kedua ancaman tersebut nyata adanya, dan sangat perlu diwaspadai agar tidak menghancurkan tatanan keluarga.

Referensi:
Elisabeth Guthrie, M. D. dan Kathy Mathews. 2003. Anak Sempurna atau Anak Bahagia: Dilema Orangtua Modern. alih bahasa Ida Sitompul. Bandung: Mizan
Al-Mawarid Edisi XVIII Tahun 2008

Rabu, 01 Juli 2020

Memahami Hakikat Sebuah Keluarga



Pengertian keluarga menurut beberapa ahli:

·         Keluarga adalah  sekelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan, keturunan, atau hubungan sedarah atau hasil adopsi, tinggal bersama dalam satu rumah, berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran sosial, serta mempunyai kebiasaan/kebudayaan yang berasal dari masyarakat, tetapi mempunyai keunikan tersendiri.(Bergess, 1962)

·         Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan(WHO,1969)

·         Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1988)

·         Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. (UU no 10/1992)

·         Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungan.(BKKBN,1999)

·         Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri, dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.(UU no 52/2009)

 

Karakteristik Keluarga:

Secara umum, keluarga memilik 4 (empat) karakteristik yaitu:

(1)   Keluarga tersusun oleh beberapa orang yang disatukan dalam suatu ikatan seperti perkawinan, hubungan darah, atau adopsi.

      Sekelompok orang yang tinggal dalam satu rumah tanpa adanya ikatan perkawinan, hubungan darah atau adopsi, tidak bisa dikatakan sebagai sebuah keluarga, misal: sekelompok orang yang kost atau kontrak di sebuah rumah yang sama. Atau dua orang berlainan jenis yang hidup bersama tanpa ikatan perkawinan. Mereka bisa menjalin hubungan kekeluargaan tetapi bukan dengan makna sesungguhnya sebagai sebuah keluarga

(2)   Anggota keluarga hidup dan menetap secara bersama-sama di suatu tempat atau bangunan di bawah satu atap dalam susunan satu rumah tangga.

      Idealnya demikian, namun adakalanya karena satu dan lain hal, tidak semua anggota keluarga dapat tinggal di bawah satu atap untuk sementara waktu, misalnya: karena urusan pekerjaan, sekolah, atau tugas-tugas tertentu. Namun demikian, hal tersebut terikat dengan batasan waktu, tidak untuk selamanya. Bukan sebuah keluarga yang sesungguhnya bila tidak  tinggal dalam satu atap dari awal sampai akhir, hanya sebuah keluarga maya (semu).

(3)  Setiap anggota keluarga saling berinteraksi, berkomunikasi, dan menciptakan peran sosial bagi setiap anggota seperti: suami dan isteri, ayah dan ibu, putera dan puteri, saudara laki-laki dan saudara perempuan, dan sebagainya. Bahkan meskipun untuk sementara waktu terpisah jarak, interaksi dan komunikasi ini tetap harus berjalan. Seiring dengan berkembangnya teknologi, interaksi dan komunikasi antar anggota keluarga sudah lebih mudah.

   Ada banyak aplikasi yang menjembatani antar anggota keluarga meski terpisah jarak. Meski demikian, ada sisi negatifnya juga. Ada ungkapan bahwa gadget mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat. Ungkapan ini muncul ketika sebagian orang lebih sering berinteraksi dengan gadget mereka daripada berbincang-bincang santai dengan anggota keluarga mereka. Bagaimana pun, interaksi dan komunikasi fisik (secara langsung) lebih baik dan lebih menguatkan ikatan hati. Sentuhan, belaian dan bahasa tubuh yang diungkapkan melakui interaksi langsung jelas berbeda dan tidak bisa didapatkan dari gadget. 

(4) Hubungan antar anggota keluarga merupakan representasi upaya pemeliharaan pola-pola kebudayaan bersama yang diperoleh dari kebudayaan umum di komunitas.

Ada pembagian peran antara anggota keluarga sesuai tugas fungsionalnya masing-masing.  Peran sebagai suami, istri, ayah, ibu, anak, maupun anggota keluarga tambahan lainnya (nenek, paman, bibi, pembantu, dll). Ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi secara proporsional. Ada keterikatan hati, dan hubungan timbal balik antar anggota keluarga.

 

#Demak,01072020 

Referensi:

Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga : Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga. Jakarta : Prenada Media Group