Ketika seorang lelaki dan seorang menikah, mereka tak hanya pindah dari satu status ke status yang baru. Dari lajang berganti menikah. Dari panggilan mas atau mbak menjadi tuan dan nyonya.
Juga tak sekadar berpindah dari rumah yang lama ke rumah yang baru. Bukan cuma menambah keluarga lama dengan keluarga yang baru. Dulu hanya terikat dengan orangtua dan saudara-saudaranya sendiri saja. Setelah menikah maka masuk dalam lingkaran yang lebih luas lagi. Ada suami/istri, ada mertua dan keluarganya.
Pernikahan menyatukan dua insan dalam satu ikatan yang lebih spesifik. Suami adalah pakaian istri, demikian juga sebaliknya. Namun bukan pula sekadar berganti pakaian, namun menjadi ruh dan nyawa dalam keluarga barunya. Mereka menjadi hal yang paling penting dan merupakan bagian inti di dalamnya.
Suami istri ibarat sepasang paru-paru dan jantung dalam satu tubuh. Paru-paru bertugas mengikat oksigen yang masuk melalui organ pernapasan luar dan melepaskan karbon dioksida dalam darah yang mengalir menuju jantung. Jantung kemudian mengalirkan darah bersih yang berisi oksigen ke seluruh tubuh dan membawa darah kotor yang berisi karbon dioksida untuk diproses dan dibersihkan oleh paru-paru.
Begitupun suami dan istri. Mereka bertugas mengambil semua nilai-nilai kebaikan dari luar dirinya. Kemudian menanamkannya dalam rumah tangga. Mereka juga punya kewajiban untuk membersihkan setiap keburukan yang muncul dalam rumah tangga. Tanggung jawab untuk mengedepankan sifat-sifat positif dan menurunkan ego, membuang sifat-sifat negatif yang acapkali muncul. Dengan demikian akan tercermin akhlak yang mulia dalam rumah tangga tersebut. Dalam diri suami, istri maupun anak-anak yang lahir kemudian.
Suami istri ibarat organ pencernaan sekaligus organ pembuangan dalam satu tubuh. Mereka menyerap zat-zat baik dan berguna bagi tubuh dalam makanan yang dikonsumsi. Kemudian membuang ampasnya keluar tubuh. Mereka juga bertugas menyaring kembali zat-zat baik dan berguna dalam cairan hasil metabolisme. Lalu mengeluarkan sisanya bersama dengan cairan yang sudah kotor melalui saluran pembuangan.
Begitulah suami istri. Punya kewajiban untuk mengambil manfaat dan membuang mudharat. Maka mereka juga harus memperhatikan makanan dan minumannya. Menjaga kehalalan dan kethoyibannya. Agar lebih mudah menyaringnya dan tak semakin memperberat tugas.
Lebih dari itu, suami istri adalah qolbu sekaligus akal bagi rumah tangganya. Punya kewajiban untuk selalu membersihkannya. Yang dengannya menampakkan aktifitas yang bermanfaat dan bernilai positif (kebaikan). Bagi diri, keluarga dan masyarakatnya.
Rasulullah saw bersabda, "ingatlah, di dalam jasad ada segumpal daging. Bila ia baik maka baiklah seluruh jasad. Bila ia buruk maka burukkan seluruh jasad. Ingatlah, ia adalah qolbu (hati). " Qolbu yang baik akan mendorong akal melakukan aktifitas kebaikan dan menjauhi aktifitas keburukan. Memberi manfaat dan tidak menimbulkan mudharat.
Semoga Allah swt mengistiqomahkan kita dalam kebaikan agama ini. Dan memasukkan kita dalam golongan yang disebut khoirunnas. Khoirunnas anfauhum linnaas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat. Aamiin.
Nb: fotonya duduk semua ya, udah capek berdiri.
#anniversary
#mitsaqongholidzon
#29sept2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar