Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 02 Juli 2020

Ancaman Globalisasi Dalam Kehidupan Keluarga




Menurut John Tom Linson dalam sebuah tulisan “Cultural Globalization: Placing and Displacing the West”, globalisasi adalah “Proses hubungan yang rumit antar masyarakat dunia yang luas, antar budaya, institusi dan individual. Globalisasi merupakan proses sosial yang mempersingkat waktu dan jarak dari pengurungan waktu yang diambil baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi dengan dipersingkatnya jarak dan waktu, dunia dilihat seakan-akan semakin mengecil dalam beberapa aspek, yang membuat hubungan manusia antara yang satu dengan yang lain semakin dekat.

Pada prinsipnya, globalisasi mengacu pada perkembanganperkembangan yang cepat di dalam teknologi komunikasi, transformasi, informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh menjadi hal yang bisa dijangkau dengan mudah.

Di era globalisasi ini, budaya yang ada didominasi oleh budaya Barat, yang sarat dengan konsumerisme, hedonisme dan materialisme. Globalisasi yang melanda dunia ditandai dengan hegemonisasi food (makanan), fun (hiburan), fashion (mode), dan thought (pemikiran). Budaya-budaya ini terkadang dipaksakan masuk ke dalam budaya lain, sehingga tidak jarang terjadi “benturan-benturan” kebudayaan.Bisa dibayangkan, dengan kecanggihan alat komunikasi berbagai produk budaya dari segala penjuru dapat dengan mudah masuk ke rumah-rumah keluarga.

Di era pandemic ini, anak-anak lebih banyak belajar dari rumah. Pelajaran diberikan melalui pesan virtual yang menuntut penggunaan gadget dan internet untuk mengaksesnya. Mau tidak mau, anak- berinteraksi dengan media-media ini lebih lama daripada ketika mereka masih belajar  di sekolah. Disadari atau tidak, sebagian besar anak-anak  telah dijejali sejak dini dengan berbagai budaya yang menyimpang dari norma-norma sosial dan agama melalui media ini (televisi, radio, gadget dan computer). Media-media ini seolah menggantikan peran orang tua dalam pengasuhan. Hal ini menjadikan peran pendidikan dalam keluarga tidak efektif lagi.

Menurut sebuah penelitian yang dialakukan oleh Zakiah Drajat, perilaku manusia 83% dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar, dan 6 % sisanya oleh berbagai stimulus campuran. Dilihat dari perspektif ini, nasihat orang tua yang hanya memiliki efektivitas 11%, dan hanya contoh teladan orang tua saja yang memiliki efektivitas tinggi.

Budaya dalam suatu masyarakat akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter keluarga. Pengaruh ini meliputi perilaku, gaya hidup dan aspekaspek lain. Budaya Barat sangat menjunjung tinggi kebebasan pribadi untuk berekspresi, dan ini tentunya sangat berbeda dengan masyarakat Timur yang masih menjunjung nilai-nilai moral.

Setidaknya ada dua ancaman yang sering terjadi akibat kehidupan modern di era global ini, yaitu,
Pertama, terjadi   erosi kesakralan lembaga perkawinan. Beberapa pasangan menikah apabila mereka sepakat untuk mencari kesenangan daripada berpikir tentang tanggungjawab yang akan mereka pikul bersama. Ketika kehidupan perkawinan itu tidak dapat lagi memberikan lagi apa mereka cari, maka mereka akan memilih jalan mereka sendiri-sendiri (bercerai). Angka perceraian meningkat dari tahun ke tahun.

Anak-anak yang lahir dari pasangan seperti itu hanya sedikit lebih beruntung dari pada anak-anak yatim piatu, walaupun mereka masih memiliki orang tua. Mereka seringkali kurang mendapat perhatian dan pemenuhan hak-haknya sebagai anak. Akhirnya banyak anak-anak yang tidak mendapatkan pengasuhan yang baik dari orangtuanya. Mereka tumbuh tanpa pengawasan. Mau ikut ibu kandungnya, takut dengan ayah tirinya. Mau ikut ayah kandungnya takut dengan ibu tirinya. Sebagian lebih memilih ikut neneknya atau keluarganya yang lain. Sebagian lagi memilih menjadi anak jalanan. Celakanya lagi, industri pornografi dan narkoba juga mengincar anak-anak broken home ini untuk memperbesar jaringan mereka.

Kedua, putusnya sistem keluarga besar yang utuh. Fokus dari perhatian orang tua tidak lagi tertuju pada rumah. Dulu, seorang ibu senantiasa berada di rumah untuk dapat tetap memperhatikan anak-anak. Tetapi sekarang, ada banyak keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja di luar rumah. Sebagian bahkan berangkat kerja saat anak-anaknya masih terlelap, dan pulang hanya mendapati mereka sudah  tertidur pula. Ayah dan ibu ada secara status, tapi tidak dirasakan kehadirannya secara fisik dan spiritual.

Anak-anak mungkin saja dicukupi dengan pangan, sandang dan papan yang mewah. Radio, televise, hanphone, computer, kendaraan, dll, semua serba ada. Namun, tanpa pengawasan yang benar, semua fasilitas tersebut bisa jadi malah membawa dampak negative dan menghancurkan masa depannya.  
Anak-anak pun mencari sosok ayah dan ibunya di luar lingkungan keluarga. Beruntunglah dia, bila menemukan orang-orang baik yang dapat membimbingnya dan membantu mengasuhnya menjadi lebih baik. Tetapi bila tidak, mereka mempunyai nasib yang tidak jauh lebih baik dari anak-anak pasangan yang bercerai. Orang tua ada, tapi tiada.  Punya, tapi serasa tak punya. Mereka bisa saja mengalami kekerasan pelecehan fisik dan seksual tanpa ada yang melindungi.

Bila anak-anak tidak mendapatkan perhatian dan pengasuhan yang cukup, kakek nenek pun tak jauh berbeda. Kesibukan dunia kerja (karir dan prestise) seringkali menjadikan  “sandwich generation” memilih untuk menitipkan orang tuanya ke panti jompo. (Sandwich generation adalah sebutan untuk orang dewasa yang menanggung beban untuk mencukupi kebutuhan hidup anak-anaknya. Dan di waktu yang sama juga dituntut untuk mencukupi kebutuhan orang tuanya).

Kedua ancaman tersebut nyata adanya, dan sangat perlu diwaspadai agar tidak menghancurkan tatanan keluarga.

Referensi:
Elisabeth Guthrie, M. D. dan Kathy Mathews. 2003. Anak Sempurna atau Anak Bahagia: Dilema Orangtua Modern. alih bahasa Ida Sitompul. Bandung: Mizan
Al-Mawarid Edisi XVIII Tahun 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar