Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Minggu, 12 April 2020

TIGA KATA


"Ajarkan anakmu tiga kata,  dan biasakanlah mengucapkannya. Tiga kata tersebut adalah tolong,  maaf,  dan terima kasih."

Pesan itu masih selalu kuingat dan kujadikan pembiasaan dalam mendidik anak-anakku.  Memang,  sepintas itu memang kata yang ringan dan mudah diucapkan.  Tetapi tanpa pembiasaan,  kata itu terasa berat di lidah kita. 

Ucapan 'tolong',  'maaf',  dan 'terima kasih acapkali dianggap hanya pantas diucapkan oleh pihak yang dianggap rendah,  bersalah ataupun lemah.  Oleh karena itulah teramat banyak orang yang enggan mengucapkannya.  Meski sangat membutuhkan pertolongan dan berharap ditolong,  sebagian orang gengsi untuk mengucapkannya.  Begitupun untuk meminta maaf,  meskipun tahu dirinya bersalah,  lidah tetap saja berat untuk meminta maaf. Banyak orang berusaha untuk mentolerir perasaan ini dengan mengatakan pada dirinya sendiri, aku minta maafnya dalam hati saja. Hal yang sama berlaku unyuk ucapan 'terima kasih'.  Seolah harga diri mereka jatuh setelah mengucapkan itu. Memang berapa sih harga dirinya...?  Hadeuh...

Sesungguhnya ucapan ini bila kita biasakan akan membentuk karakter yang selalu tawadhu' (rendah hati).  Siapalah kita ini?  Berasal dari tanah dan nantinya juga kembali ke tanah. Tidak berjarga.  Harta,  pangkat dan derajat manusia hanya sesuatu yang Allah tetapkan dan pergilirkan saja.  Terkadang di atas terkadang Allah tetapkan di bawah.  Terkadang Dia limpahkan begitu banyak anugrah,  terkadang Dia sempitkan.  Hanya yang paling bertaqwa,  yang mulia di sisi-Nya. Untuk apa gengsi?

Dan sesungguhnya,  tiga kata tersebut adalah refleksi dari penyempurnaan ketundukan kita pada Allah swt. 

Dalam QS Alfatihah: 5, kita mengatakan,  "Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan."

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Namun,  tak jarang pertolongan  Allah swt  sampai pada kita melalui hamba-Nya yang lain. Ketika kita meminta tolong kepada orang lain,  sebenarnya kita juga berharap Allah swt memberikan pertolongan-Nya melalui orang tersebut.

Namun demikian,  Allah swt membatasi kita dalam hal tolong menolong ini.  Hanya dibolehkan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan tidak boleh tolong menolong dalam keburukan dan permusuhan.  (QS Almaidah:2)

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Demikian juga,  kata maaf merefleksikan kesadaran bahwa manusia itu tempatnya salah dan khilaf.  Karenanya kita dianjurkan untuk banyak istighfar,  meminta ampun dan bertaubat,  kembali pada Allah swt.  Salah satu doa ma'tsurot yang hendaknya selalu dibaca pagi dan petang adalah:

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُبِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ

"Yaa Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui."

Di samping itu,  sebagai makhluk yang tidak diciptakan hanya sendirian di dunia,  sudah tentu di antara manusia sendiri terkadang  berbuat salah kepada yang lain,  baik disadari atau tidak.  Untuk kesalahan dan dosa kita terkait hak Allah,   bisa kita perbaiki dengan istighfar dan taubat.  Namun,  untuk salah dan khilaf kita kepada manusia,  sudah barang tentu kita pun harus meminta maafnya.

Demikian pula halnya dengan ucapan terima kasih.  Sesungguhnya itu merupakan bentuk kesyukuran kepada Allah swt.  Karena,  apapun kebaikan yang kita dapatkan, itu semua tidak akan datang dengan sendirinya.  Selalu ada campur tangan Allah di sana,  selalu ada rahmat dan kasih sayang Allah atasnya. Sehingga kebaikan itu sampai pada kita.  Dan tidak jarang Allah swt menyampaikannya melalui orang lain.  Maka biasakanlah berterimakasih kepada manusia. 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan At-Tirmidzi no. 1954).

Nah,  sudah tahu kan sekarang,  bagaimana keutamaan tiga kata tersebut?  Yuk,  ajarkan pada anak-anak kita. 

#Demak, 12042020

#D12
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar