Pertemuan Cinta
Oleh : Titien SDF
Gerimis membasahi Stasiun Tawang sore itu. Dingin menyusupi setiap pori-pori kulit. Kutangkupkan dua tangan di dada, mencoba mengusir gigil yang mendera. Gerai Indomaret yang ada di sana, seolah melambaikan tangan, menyeret langkah kaki ke sana. Sepi, hanya tiga orang pembeli, satu penjaga dan satu petugas kasir.
"Ada kopi panas Mbak?" tanyaku padanya.
"Di sana Mas, silakan seduh sendiri," jawabnya sambil menunjuk suatu tempat.
Di salah satu sudut dekat pintu, tumpukan gelas plastik tertata rapi. Sebuah meja dengan beberapa box berisi 'coffe sachet' berbagai merek, semangkuk gula dan semangkuk krimer lengkap dengan sendoknya. Sebuah dispenser menyala di sampingnya.
Kuambil satu gelas, memasukkan satu sachet nescafe, menambahkan gula dan air panas, lalu mengaduknya perlahan. Sebungkus roti isi keju dan sebungkus kacang kulit kucomot, membayar semuanya di kasir dan melangkah keluar.
Di luar gerimis mulai membesar. Butirannya terasa keras menusuk-nusuk kulit. Kulangkahkan kaki menuju ruang tunggu stasiun, meletakkan pantat di atas kursi panjang yang ada di sana. Menunggu istriku tiba.
"Kopi Mbak?" tawarku berbasa basi pada perempuan muda di mana aku mengambil tempat duduk di sebelahnya.
Perempuan berbaju panjang dengan kerudung coklat itu hanya menolehku sekilas, tersenyum dan menggeleng perlahan. Pandangannya kembali tertunduk menekuri halaman demi halaman buku di tangannya.
Kuhirup kopiku, menikmati panas yang mengaliri tenggorokan, menghembuskan uap panasnya. Seteguk demi seteguk hingga hangat memenuhi rongga perut.
"Menunggu siapa Mbak?" tanyaku pada perempuan di sebelahku.
"Suami saya," jawabnya singkat tanpa menoleh. Sombong amat, pikirku.
"Suaminya dari mana?" tanyaku lagi.
"Dari Jakarta," jawabnya, masih pendek.
"Kerja ya Mbak?" tanyaku lagi. Kali ini dia hanya diam.
"Kerja apa Mbak?" aku terus bertanya. Bosan rasanya hanya bisa diam ditemani hujan.
Perempuan itu menutup bukunya, menatapku lekat tanpa suara. Sungguh, wajah itu mengingatkan pada sosok yang sedang kutunggu.
Perlahan peristiwa silam membayang, menghadirkan untaian cerita penuh elegi. Semua bermula saat pesan Ibu kuterima.
"Ali, pulanglah. Bapak sakit, beliau memanggil-manggil namamu. Seperti ada yang hendak beliau sampaikan."
Aku pun bergegas pulang, menaiki kereta pagi yang berangkat pertama sekali.
"Alhamdulillah, akhirnya kau datang juga," sambut Ibu.
Kulangkahkan kaki menuju kamar Bapak. Di sana, terlihat beliau terbaring lemah. Seorang perempuan muda duduk di samping tempat tidur menemaninya. Tubuhnya terbalut gamis biru dengan kerudung menutupi kepala.
"Kau sudah datang?" tanyanya. Aku mengangguk dan mendekatinya.
"Ini Fatimah, putrinya Haji Qosim almarhum. Bulan lalu sebelum beliau meninggal, beliau menitipkannya di sini. Bapak tak ingin ini menjadi fitnah makanya Bapak ingin menikahkannya denganmu. Selagi Bapak masih hidup."
"Tapi Pak, kuliah Ali belum selesai. Kerjaan juga belum bisa menjanjikan harapan," jawabku.
"Ali, pernikahan itu menyempurnakan agama. Kalau kau meniatkannya sebagai ibadah, Allah akan memudahkanmu dalam memenuhi kewajiban," jelas Bapak panjang lebar.
Kulirik Fatimah, perempuan itu hanya menunduk memain-mainkan ujung bajunya. Diam tanpa sepatah pun kata penolakan. Bagaimana bisa? Kami berdua baru pertama kali bertemu. Karena ketundukannyakah? Atau karena mengincar harta warisan bapakku? Berragam pertanyaan memenuhi kepala.
Aku mencoba mencari jawaban pada Ibu. Beliau menarikku menjauh dan bercerita panjang lebar di ruang tamu.
"Fatimah perempuan baik le, Bapak dan Ibu jatuh cinta dengan akhlaknya. Selama bapakmu sakit, dia yang membantu Ibu merawat Bapak."
"Apa harus secepatnya Bu?" tanyaku meminta waktu.
"Sebuah kebaikan harus disegerakan le. Fatimah itu yatim piatu, dia sebatang kara.
Memelihara anak yatim itu dianjurkan agama. Agar tak menimbulkan fitnah, dia harus dimahramkan dulu. Bapakmu sudah terlalu tua, engkaulah yang harus menikah dengannya."
"Ali istikharah dulu ya Bu...," jawabku sambil berpamitan meninggalkannya.
Di kamar, kurebahkan badan di atas pembaringan sekadar mengurangi penat yang datang. Semua pembicaraan dengan Bapak dan Ibu tergiang-ngiang di telinga. Ah..., aku menghela nafas. Masih banyak berjubel tanya memenuhi isi kepala.
Kubersihkan diri dari segala kotoran. Segarnya air mengaliri sekujur badan. Dinginnya membasuh pikiran.
Kugelar sajadah di lantai kamar. Menghadap Sang Pemilik Takdir memohon petunjuk jawaban atas segala tanya yang hadir dalam dada. Menyungkur serendah-rendahnya di hadapan-Nya yang Maha Mulia. Berharap segala keraguan segera sirna.
Esok harinya, kulihat kondisi Bapak. Gurat kelelahan tergambar jelas di wajah yang selalu menyungging senyuman. Dalam tidur pun beliau masih terlihat bijaksana. Tubuh rentanya tak lagi sekuat dulu. Rasa bersalah pelan-pelan mulai merayapi hati. Kuliah dan kerja benar-benar menghabiskan waktu dua tahun ini. Hingga tak tersempat meluangkan waktu untuk pulang mengunjunginya. Terbayang masa-masa indah kenangan masa kecilku. Ah..., aku tak kuasa menolak permintaan Bapak.
"Bagaimana istikharahmu le?" tanya Ibu di belakangku.
Kubalikkan badan ke arahnya, menatap sosok mulia dan menganggukkan kepala.
"Semoga ini jalan terbaik yang ditunjukkan oleh-Nya, tapi Ali cuma punya cuti tiga hari di sini, bagaimana?"
"Bapakmu bilang, yang terpenting nikah secara agama dahulu. Untuk resminya, bisa menunggu setelah kamu wisuda."
Jadilah, malam itu Bapak memanggil KH Muhammad Chudori untuk menikahkan kami. Beberapa tetangga turut diundang menjadi saksi. Malam itu, Fatimah menjadi istriku sesaat setelah sighot nikah kuucapkan.
Fatimah, perempuan itu mencium tanganku dan menunggu.
"Maafkan Abang, Fatimah. Kita memang telah menikah. Tapi Abang harus selesaikan kuliah dan kerja Abang di Jakarta setahun lagi. Sementara Bapak dan Ibu tak ada yang merawat di sini. Kau tak keberatan kutinggal di sini?"
"Fatimah sudah jadi istri Abang, apapun yang Abang putuskan, Fatimah ikut saja."
Subhanallah, kata-katanya terdengar merdu di telinga. Diam-diam kupandangi wajah lembutnya. Rasa sayang pun mulai tumbuh dalam dada. Ah... kurasa belum saatnya untuk memetik bunganya. Biarlah dia bertumbuh mekar sampai waktunya tiba.
Esok harinya kutinggalkan dia utuh seperti semula. Merenda nasib mengejar cita-cita agar selesai pada waktunya. Hanya surat dan beberapa lembar fotonya yang menemani hari-hariku selanjutnya.
Kontrak kerjaku sudah usai minggu lalu, begitu pula kuliahku. Tinggal wisuda minggu depan, saatnya pulang berbagi kebahagiaan.
"Biar kujemput Abang di stasiun Tawang, kabari Fatimah bila Abang hampir tiba."
Itu pesan istriku, kubuka dompet mengeluarkan fotonya. Sedikitnya waktu bersama tak membuatku yakin dapat mengenalinya. Wallahu a'lam, kita lihat nanti saja.
"Maaf Mas, bawaannya jatuh tuh," tegur perempuan sebelah. Kupungut sebungkus roti dan kacang kulit yang belum sempat kubuka. Entah mengapa rasanya pernah mendengar suaranya.
"Mas menunggu siapa?" tanyanya lembut.
"Istri saya janji mau jemput," jawabku.
"Oh... istrinya namanya siapa?" tanyanya lagi. Ini perempuan mulai sok akrab, pikirku.
"Fatimah," jawabku singkat.
"Ehm... tinggalnya di mana Mas?" tanyanya lagi, aku mulai curiga.
"Perumahan Dinar Mas," jawabku.
Perempuan itu terhenyak kaget," Bang Ali? Benarkah ini Abang?" serunya tertahan menyebut namaku.
Astaghfirullah, mungkinkah ini Fatimah? Kutampar muka sendiri. Sekian waktu duduk di sebelahnya tapi tak mengenalinya.
"Maafkan Abang, Fatimah. Abang sungguh-sungguh tak mengenalimu."
"Fatimah yang minta maaf Bang. Fatimah kira akan mudah mengenali Abang karena setiap saat Bapak Ibu selalu menceritakannya. Foto Abang pun ada banyak di rumah. Tapi Fatimah tetap tak mengenali Abang."
Merah mulai merona di pipinya yang ranum. Ah... dia lebih cantik dari yang kubayangkan. Bunga yang belum sempat kusentuh, jantung tiba-tiba berdenyut begitu kencang. Kurengkuh tubuhnya dalam pelukan. Cinta menggelora memenuhi dada.
"Ayo pulang Bang, Bapak Ibu tentu sudah menunggu," katanya mengingatkanku.
Senja hampir menghilang, hujan pun mulai reda. Rinai gerimis mengalunkan simfoni cinta. Kami pun beriringan pulang menembus senja. Berbagi bahagia, melanjutkan mimpi yang tertunda.
#Demak, 14022015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar