GARA-GARA BOHONG
"Umiii...! Aku mau belajar kelompok di rumah Hanan!"
Seorang gadis kecil berteriak di depan pintu sebuah rumah bercat hijau muda. Badannya masih terbalut seragam putih merah lengkap dengan dan sepatu membungkus kedua kakinya. Disandarkannya sepeda di dinding halaman rumahn tas ya.
Seorang ibu keluar dengan gaun biru dan jilbab putih bunga-bunga. Tersenyum simpul kemudian berkata," assalamu' alaikum Mbak Ifa. Ayo mana salamnya?"
"Wa'alaikum salam," balas Ifa sambil tertawa, kemudian bertanya," boleh ya Mi?"
"Boleh, tapi ada syaratnya," kata Umi, "ganti baju dulu, letakkan perlengkapanmu di tempatnya, lalu makan siang, baru kemudian...."
Bocah kelas empat SD itu segera saja memenuhi syarat Uminya. Makan siang pun berlalu lebih cepat dari biasanya. Bayangan Hanan seolah-olah terus memanggil namanya.
"Umi, Ifa berangkat dulu ya," pamitnya tergesa-gesa.
"Cepat pulang ya," kata Umi mengingatkan. Ifa hanya mengangguk cepat dan bergegas memacu laju sepeda.
###
"Lama banget sih Fa. Aku sudah main tiga kali nih," sambut Hanan.
"Yah, perutku kan harus diisi dulu. Kalau kelaparan bagaimana? Kamu mau tanggung jawab?" jawab Ifa tertawa,"aku pamit Umi mau belajar kelompok nih, dosa gak ya?"
"Hallah...gak apa-apa. Kalau kamu bilang mau main game pasti gak boleh. Tul gak!" celoteh Hanan.
Ifa mengangguk mengiyakan, rasa bersalah dalam hatinya perlahan sirna oleh keasyikan bermain game online. Waktu berjalan begitu cepat, tiba-tiba...
"Assalamu'alaikum, Umi pulang."
Ifa dan Hanan tersentak kaget dari keasyikannya, mereka spontan menoleh ke arah suara. Ternyata Umi Husna, ibunya Hanan baru tiba dari kantor. Hanan melihat jam dinding, sudah pukul setengah enam, air mukanya pun berubah merah.
"Eh, ada Mbak Ifa, kalian sudah sholat asar belum?" kata Umi Husna.
"Eh...oh...sud...eh...belum," jawab Ifa dan Hanan takut-takut.
"Ayo sekarang ambil wudhu lalu sholat asar, sebentar lagi maghrib lho," kata Umi Husna lembut.
Ifa dan Hanan segera melaksanakan perintah Umi Husna. Selesai sholat Ifa segera pamit pulang, hatinya was-was karena tadi Umi sudah berpesan agar cepat pulang. Dikayuhnya sepeda dengan kencang.
"Bruuuk...! Aduh, panas..!" jerit Ifa. Karena kurang hati-hati, sepedanya menabrak gerobak bakso yang berhenti di ujung jalan. Semangkuk bakso pun mendarat tepat di kakinya. Untung gerobaknya tidak apa-apa. Si abang tukang bakso mau marah pun tak tega, melihat Ifa meringis kesakitan memegangi kakinya. Si abang tukang bakso mengambil minyak kelapa dan dioleskan di kaki Ifa.
"Untung luka bakarnya tak terlalu luas, tidak apa-apa, lain kali hati-hati ya neng," katanya.
Ifa mengangguk, sambil menahan sakit dikayuhnya sepeda. Untunglah jarak rumahnya sudah dekat. Tak berapa lama sampailah ia ke rumah. Di halaman terlihat Umi yang sedang mondar mandir melihat ke jalan, mungkin sedang menunggunya pulang. Ifa merasa semakin bersalah.
"Umiii...," panggilnya sambil meneteskan air mata. Umi begitu kaget melihat gadis kecilnya pulang dengan tertatih dengan luka bakar di kakinya.
"Kakimu kenapa Fa?" tanya Umi penuh kekawatiran. Ifa bercerita sejak dari bermula sampai akhir, Umi membantunya masuk ke dalam rumah.
"Jadi kamu ke rumah Hanan bukan untuk belajar kelompok? Tapi untuk main game online?" kata Ummi mencari kejelasan.
"Iya Mi," jawab Ifa pada Umi yang telah membawa sekotak peralatan PPPK untuk mengobati kakinya.
"Mbak Ifa sayang, kalau Umi melarangmu itu bukan karena tak sayang. Karena, game online bisa membuatmu lupa waktu dan segalanya."
"Iya Mi, Ifa ngaku salah. Gara-gara game on line Ifa bohong sama Umi. Karena keasyikan jadi lupa shalat asar, tahu-tahu sudah hampir maghrib. Ifa jadi terburu-buru dan menabrak tukang bakso. Kaki Ifa jadi sakit sekali rasanya."
"Sudah selesai," kata Umi. Diletakkannya kotak PPPK di tempat semula.
"Nah, sekarang segera ambil wudhu lalu sholat maghrib. Istighfar, mohon ampun sama Allah karena tadi sudah berbohong...," kata Umi.
"Iya Mi," sahut Ifa, dalam hati dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Disadarinya kini, satu kebohongan saja bisa menyeret pada keburukan-keburukan yang lain.
#Demak, 06022015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar