Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 13 Februari 2015

Nirmala dan tujuh kurcaci

NIRMALA DAN TUJUH KURCACI

Sudah seminggu ini Nirmala tak bisa tidur. Sekolah mengadakan lomba lari dan Nirmala sangat ingin memenangkannya. Hadiahnya cukup fantastis buat Nirmala, sepasang sepatu baru dan beasiswa satu tahun. Itu bisa memperpanjang usia sekolahnya yang cuma putri seorang sopir angkot.

Aku harus mencari cara, pikir Nirmala. Setiap hari di luar jam sekolah dia berlatih berlari, berlari, dan berlari. Lapangan sepakbola desa jadi tempat favoritnya, sebuah pohon mangga yang rindang tumbuh di salah satu sudutnya. Di sanalah tempat Nirmala melepas lelah, memetik dan menikmati buahnya yang manis, semanis Nirmala.

Dua buah mangga dan sebotol air putih sudah tandas, masuk ke dalam perutnya. Angin bertiup sepoi-sepoi, menggelayutkan beban berat di mata anak kelas lima SD itu. Perlahan kelopak matanya pun tertutup.

"Hoiii... kamu siapa?"

Nirmala mencari-cari sumber suara, tak ada siapa-siapa.

"Hoiiii... aku di sini! Di bawah, dekat kakimu!"

Nirmala menebarkan pandangannya. Terlihat seorang manusia yang sangat kecil di ujung kakinya. Ukurannya hanya sekepalan tangan, membuat Nirmala terheran-heran. Dia memakai sebuah topi kerucut yang menjuntai di kepalanya.

"Aku Nirmala, kamu siapa?" jawab Nirmala balas bertanya.

"Namaku Oki, boleh aku duduk di telapak tanganmu?" jawabnya.

Nirmala meletakkan tangannya di atas rumput, membiarkan manusia kecil itu naik di atasnya.

"Mengapa kau bisa sekecil ini?" tanya Nirmala ingin tahu.

"Tentu saja, kami bangsa kurcaci memang kecil. Kalau tak kecil bukan kurcaci namanya," jawab Oki melucu.

"Kalian tinggal di mana?" tanya Nirmala.

Oki menunjuk sekumpulan jamur yang tumbuh di dekat tempat Nirmala berteduh. "Itu rumah kami," katanya,"itu ada Kiki, Mimi, Lulu, Sasa, Nino dan Inu."

Nirmala melihat beberapa kurcaci lain sedang duduk di atas kelopak jamur yang mengembang seperti payung. Mereka terlihat lucu sekali. Satu per satu dari mereka datang menghampirinya.

"Kamu terlihat tak gembira, ada apa?" tanya Oki pada Nirmala.

"Ada lomba lari di sekolah, aku ingin memenangkannya," jawab Nirmala malu.

"Oh ho ho, bagus itu," kata Inu.

"Kulihat kau selalu berlatih, kau pasti menang!" sahut Kiki dan Mimi serentak. Mereka saling berpandangan, lalu tertawa geli.

"Eit... jangan terlalu yakin dulu. Kau harus berlatih yang tak biasa," sela Lulu,"tanya Sasa dan Nino saja ya, mereka jagonya."

"Bisa kalian jelaskan?" tanya Nirmala. Dipandanginya mereka satu per satu.

"Sasa dan Nino adalah pelari hebat di dunia kurcaci, berlatihlah dengan mereka," jelas Oki.

Gak salah nih? Nirmala benar-benar tak habis pikir, apa hebatnya mereka? Kalau untuk bangsa mereka sih mungkin iya, tapi... kalau harus berlatih dengan mereka...

"Kau tak percaya ya?" Lulu seperti bisa membaca pikiran Nirmala.

"Kalian berlomba saja, biar kami yang jadi jurinya," kata Kiki dan Mimi, lagi-lagi kompak.

Nirmala, Sasa dan Nino akhirnya berlomba, satu putaran yang paling cepat menjadi pemenangnya.

"Jangan kawatir, biar kami kumpulkan sepasang sepatu kami untuk tanda," kata Inu.

"Kita hanya butuh empat pasang sepatu dari empat penjaga," lanjutnya lagi.

"Aku tahu! Aku akan bersiap di sini, menunggu kalian bertiga. Kiki berjaga di sudut lapangan sebelah timur. Mimi berjaga di sudut lapangan sebelah utara. Lulu di pojok barat dan Inu di pojok selatan. Kalian harus membawa sebelah sepatu masing-masing penjaga, untuk memastikan tidak ada yang curang dan mengambil jalan pintas. Bagaimana?" tanya Oki setelah menjelaskan panjang lebar rencananya.

Perlombaan pun dimulai, masing-masing penjaga siap pada posisinya. Nirmala terlihat santai dan agak meremehkan mereka, sementara Sasa dan Nino benar-benar berlari sekuat tenaga.

Sampai di ujung timur, Nirmala mendapati Kiki tanpa sepatu, ternyata Sasa dan Nino sudah mendahuluinya.

Nirmala mempercepat larinya, masih ada tiga peluang. Dia pikir mereka berdua akan cepat lelah karena sudah mengerahkan seluruh tenaga di awal lomba.

Di ujung utara, Mimi menyambut Nirmala tanpa sepatu pula. Lagi-lagi mereka mendahuluinya. Nirmala menyesal telah meremehkan mereka.

Di ujung barat dan selatan pun Sasa dan Nino mendahului Nirmala. Mereka lebih dulu sampai ke tempat semula di mana Oki berada. Dan masing-masing membawa sebelah sepatu penjaga.

Setelah beberapa lama, Nirmala baru sampai diikuti para penjaga yang berlari tanpa sepatu di belakangnya.

"Kalian... me... nang, bagai...ana... bi... sa...?" kata Nirmala terengah-engah. Wajahnya memerah menahan malu,"a... pa... raha... sia... nya?"

"Berlatihlah yang tak biasa seperti mereka. Ikatkan beban di kedua kakimu dan berlatihlah  seperti biasa. Secara bertahap tambahkan berat bebannya. Memang payah rasanya tapi kau akan takjub pada hasilnya. Cobalah, dan teruslah berlatih," jawab Sasa dan Nino kompak.

Hari-hari selanjutnya diisi Nirmala dengan berlatih seperti saran mereka. Awal berlatih serasa ada yang selalu menarik kedua kaki, membuatnya berat untuk berlari. Setelah berkali-kali berlatih, beban itu mulai tak terasa. Nirmala segera menambah beban berat di kakinya. Begitu seterusnya sampai beban itu tak mampu menahan larinya.

Tiga minggu pun berlalu, hari pertandingan segera tiba.

"Yakin pada usahamu dan jangan berbuat curang," pesan Sasa dan Nino pada Nirmala.

"Jangan meremehkan orang lain, tetap berusaha sekuat tenaga," pesan Lulu dan Inu.

"Jangan lupa berdoa," pesan Kiki dan Mimi.

"Jika kau melihat jamur, itu adalah cara kami menyemangatimu," kata Oki pula.

"Terima kasih teman-teman, pesan kalian akan aku ingat," jawab Nirmala.

Hari itu Nirmala berangkat dengan hati mantap. Kakinya terasa ringan sekali tanpa beban. Semua lintasan terasa mudah dilaluinya. Jamur-jamur bertebaran di sepanjang jalan, memompa semangat Nirmala untuk menang.

"Krosak... bruk! Aduh...!" Terdengar suara sesuatu benda jatuh diikuti suara orang mengaduh, datangnya dari arah depan Nirmala.

Kiranya Citata, teman sekelasnya terperosok lubang di depannya. Nirmala berhenti sejenak untuk menolong, dipapahnya Citata keluar lubang. Untunglah Pak guru berkeliling mengawasi jalannya pertandingan. Akhirnya Citata diantar Pak guru kembali ke sekolah dan Nirmala melanjutkan pertandingan.

Nirmala meluruskan pandangan, masih ada dua teman di depan. Garis finish mulai terlihat, Nirmala berlari semakin cepat, semakin cepat... terus... terus... dan...

"Srettt..." badan Nirmala melaju menyobek kertas bertuliskan 'FINISH' di depannya. Di belakang, Deni dan Arif menyusulnya.

"Dan pemenangnya adalah... Nir... ma... la... Nirmala!"

Terdengar Bapak guru mengumumkan sang juara.

"Horeee... Nirmala... Nirmala... Nirmala...."

Nirmala menghela napas lega, bayang-bayang ketujuh kurcaci temannya melintas. Hatinya berbisik, terima kasih teman-teman, kalian takkan terlupakan. Ditebarkannya pandangan ke tepian jalan. Sekelompok jamur berkembang indah, seolah tujuh kurcaci turut hadir di sana, tersenyum bahagia untuknya.

#Demak, 12022015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar