RAHASIA ANNISA
Sebuah kamar tertata eksotik, lukisan tiruan monalisa terpampang apik di atas tempat tidurnya yang bergaya klasik. Nyaris tak berbeda dengan lukisan aslinya. Sebuah meja antik dengan sebuah foto di atasnya. Foto dua orang gadis yang serupa berrangkulan penuh tawa ceria.
Seorang gadis terbaring di atas tempat tidur, sama sekali tak terusik dengan bau menyengat yang memenuhi ruangan. Wajah manisnya terlihat putih pucat dengan bibir tersenyum membiru.
Seorang gadis lain masuk dengan memakai masker menutupi hidung dan mulutnya, menyembunyikan seringai jahat yang menghiasi bibirnya. Dipandangnya lekat-lekat wajah pucat itu.
"Barbie, jaga dirimu baik-baik. Banyak yang harus kulakukan hari ini. Pagi ini aku harus bolos kuliah untuk menghadiri wisudamu. Aku tak egois kan?" katanya sambil tersenyum sinis.
Gadis itu membungkuk dan mencium Barbie. Tak berapa lama dia bergumam, "kau tahu? Aku melukis monalisa sebaik dirimu dan memajangnya di ruang tamu. Kau senang kan? Terima kasih, Sayang. Aku pergi dulu ya."
Kamar itu kembali sunyi seiring lenyapnya suara langkah kaki si gadis yang menjauh pergi. Tinggal Barbie terbaring sendiri, dalam diam.
###
Sebuah taksi berhenti di depan aula kampus UI Jakarta. Sepasang suami istri setengah baya keluar disambut seorang gadis manis lengkap dengan baju toga dan topi di kepalanya. Diciumnya tangan mereka perlahan dan mengajak masuk ke dalam.
"Anita tak kelihatan. Ke mana dia?" tanya mereka.
"Anita ada acara dengan teman-temannya Mom, katanya ada penelitian di rumah sakit," jawab si gadis.
"Oooh... begitu? Dia baik-baik saja kan?" tanya si pria.
"Jangan cemaskan Anita Mom, Dad, Anita baik-baik saja. Oh ya, Anisa gabung teman-teman dulu ya," pamitnya.
Acara wisuda berlangsung lancar. Pak Kusumo dan Bu Arini tampak menikmatinya dengan bahagia.
Setelah acara wisuda selesai, Anisa mengajak kedua orang tuanya melihat rumah yang ditempatinya bersama saudara kembarnya.
"Woww... siapa yang mendesain rumah sebagus ini Nis?" tanya Mom.
"Tentu saja Nisa, Mom. Tapi peliharaan cantik-cantik itu kreasi Nita," jawab Anisa dengan bangga. Ditunjuknya beberapa binatang peliharaan yang sudah diawetkan. Ada kucing anggora yang seolah sedang bermain bola. Seekor anjing pudel seolah menyambut mereka dengan lidah terjulur dan tatapan ramah Juga beragam serangga menempel di dinding, di sela-sela lukisan yang terpampang di sana.
"Woww... mereka seperti hidup," kata Mom takjub.
"Yang jelas mereka gak akan buang kotoran dalam rumah kan Mom," jawab Anisa.
"Ayo Ma, kita sudah telat nih," kata Dad sambil melihat arlojinya.
"Kenapa buru-buru sih? Mom dan Dad menginap di sini saja. Nita juga pasti senang kok," rajuk Anisa.
"Lain kali saja Sayang, Mom dan Dad harus segera terbang kembali ke Bali sekarang. Ada pertemuan penting nanti malam. Salam untuk Nita ya, kalau dia pulang, love you," kata Mom mengakhiri kunjungannya dengan kecupan di kedua pipi Anisa.
"Selalu saja begitu, tak punya waktu untukku... huhhh...," gumam Anisa kesal, sesaat setelah keduanya pergi.
Dihampirinya lukisan monalisa di ruang tamu dan meraba sesuatu di baliknya. Salah satu dinding ruangan bergeser, menampakkan anak tangga. Ringan kakinya melangkah menyusurinya menuju sebuah kamar tersembunyi, ruangan favoritnya. Diambilnya selembar masker dari kantong baju dan dipakainya.
Kamar itu masih tetap sama seperti ketika ditinggalkannya. Barbie masih tertidur tenang di pembaringan.
"Tadi Mom dan Dad kemari. Seperti yang sudah-sudah, mereka segera pergi lagi. Orang tua egois...," gumam Anisa.
"Beep... beep... beep...," terdengar ada sms masuk. Anisa mengambil handphone yang tergeletak di atas perut Barbie dan membukanya, dari Rudi.
"Nisa, aku mencarimu di mana-mana setelah wisuda tadi. Kau ada di mana? Temui aku di cafe 'Segara' satu jam lagi. Bisakah?"
Anisa mengetik pesan balasan, "ya, aku segera ke sana."
"Lihat Barbie, kekasihmu mengajakku kencan. Kau tak keberatan kan, kalau aku mengajaknya ke sini," katanya penuh kemenangan.
"Aku pergi dulu ya, bersiaplah untuk nanti," katanya misterius.
###
Rudi baru saja memarkir mobilnya saat dilihatnya seorang gadis berdiri di depan pelataran parkir.
"Anisa!" panggilnya. Gadis itu melambai ke arahnya.
"Aku baru mau masuk cafe, kau sudah sampai. Cepat sekali ...," katanya.
"Gak usah masuk cafe, ke rumahku saja ..., dekat kok ...," sergah Anisa. Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam mobil Rudi, berputar haluan menuju rumah Anisa.
Sampai di rumah Anisa, reaksi Rudi tak jauh berbeda dengan reaksi Mom dan Dad. Begitu takjubnya, sehingga dia berlama-lama mengamati lukisan-lukisan yang terpampang di sana.
"Lukisanmu sendiri?" tanyanya. Anisa hanya berkedip mengiyakan.
"Ayo, cicipi minuman dan camilannya," kata Anisa.
Rudi mengambil minumannya dan meneguk hampir setengahnya. Entah mengapa dunia terasa berputar di kepalanya. Dia pun memejamkan mata.
"Kau lelah Rud? Kuantar ke kamar ya ..., istirahatlah di sana," kata Anisa, tangannya sigap memapah Rudi ke dalam kamar, membaringkan dan meninggalkannya.
"Bau menyengat apa ini?" gumam Rudi lirih. Dicobanya berdiri, tertatih mengikuti Anisa. Apa yang disembunyikan Anisa? pikirnya.
"Lihat apa yang kubawa untukmu, Barbie. Kekasihmu ..., tak berapa lama lagi dia akan menemani tidurmu. Racunnya mulai bekerja ... dan formalin akan mengawetkannya ... hahaha ... kalian adalah milikku."
"Kau... kau... kau bukan Anisa?"
"Rudi... Rudi... kaulihat dua gadis kecil dalam foto itu?" kata Anisa menuding foto di atas meja. Foto gadis kembar.
"Dulu kami tak terpisahkan. Hobi dan bakat kami pun sama. Terkadang kami bertukar peran, aku jadi mahasiswi seni rupa UI dan dia jadi mahasiswi kedokteran Unpad. Rumah ini pun hasil karya kami berdua."
Anisa tersenyum sinis, tangannya menempelkan sebilah belati di leher Rudi yang semakin lemas tak bertenaga, dia masih terus berkata-kata, "aku Anita, dan dia Anisa. Dia mencoba meninggalkanku untuk kaumiliki. Karena itu aku menahannya di sini."
"Kau... mem... bu... nuh... nya?" tanya Rudi terbata. Badannya terasa lemas tak bisa digerakkan, perlahan ujung belati pun mulai menusuk lebih dalam di lehernya.
"Aku hanya membuatnya tertidur tanpa bisa bangun lagi. Tidur yang cantik, lihat tubuhnya masih utuh seperti dulu."
Anita mengambil sesuatu di saku bajunya, menuangkannya pada sehelai sapu tangan dan membekapkannya di mulut dan hidung Rudi yang sekarat. Telinganya masih sempat menangkap suara Anita.
"Aku tak jahat Rudi..., Anisa mencintaimu..., kuberi apa yang dia mau. Kalian boleh hidup bersama... di kamar ini... tanpa pernah bisa keluar lagi...."
Rudi sudah tak bergerak lagi. Anita menarik tubuh Rudi dan membaringkannya di samping Anisa. Dipandanginya mereka berdua dengan berlinang air mata.
"Barbie, hari ini kubawa Rudi untuk menemanimu. Aku tahu kau masih kesepian .... Aku janji, satu demi satu teman-temanmu akan kubawa untuk menemanimu juga ...."
Kamar kembali sunyi menyimpan rahasia Anisa dan menyembunyikannya.
#Demak,23022015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar