Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 20 Februari 2015

Menjemput cahaya


Menjemput Cahaya
Oleh: Titien SDF

Adalah Rie, seorang gadis mungil, sedikit tomboy, cerdas dan penyuka seni, vokal grup punya dan jago menari, cuek dan tak suka basa basi.

Lepas SMA, Rie melanjutkan kuliah di Akper Depkes Semarang. Rie terpaksa kost, karena terlalu jauh dari rumah, dan terkadang jadwal perkuliahan berlangsung sampai malam. Rie satu kost dengan anak-anak Politek dan FNGT, kampus mereka memang berdekatan.

Mbak-mbak yang berpakaian tertutup rapat dan berkerudung lebar itu ternyata sangat ramah, jauh dari kesan eksklusif yang dia tangkap pada sosok muslimah sebelumnya. Mereka suka mengajaknya ikut kajian di masjid kampus. Awalnya Rie menolak, mbak-mbak itu bahkan memberinya satu stel baju panjang dan kerudung agar Rie tak malu diajak kajian.

Semester berikutnya, kampus mewajibkan semua mahasiswa masuk asrama. Rie pun terpaksa meninggalkan kostnya. Baru sebulan di sana Rie sudah bertemu makhluk horor yang selama ini hanya dibacanya dalam buku cerita. Rie menggigil ketakutan, tak tahu apa yang harus diucapkan, yang dia hafal hanya surat-surat pendek saja. Beruntung ada yang terbangun malam itu, sosok mengerikan itu lenyap bersama tepukan si teman di bahu Rie. Menerbitkan kelegaan di hatinya, menumbuhkan kesadaran untuk mempelajari Islam dengan sempurna.

Kajian di masjid kampus sebelah pun berlanjut, kali ini Rie mulai belajar mengaji, mengeja huruf demi huruf dalam Alqur'an dan menghafalkan surat-surat pendek dalam juz ' amma. Namun masih belum menutup aurat setiap harinya, hanya saat kajian saja.

Lepas lebaran Rie kembali ke asrama setelah liburan ramadhan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Dia tiba di asrama dengan stelan baju panjang, sebuah kerudung tersemat rapi menutup rambutnya. Seisi asrama seolah menatapnya. Gadis-gadis berucap sinis kepadanya, "sensasi ya!" Para mahasiswa menatapnya berlama-lama, membuatnya jengah, salah seorang di antara mereka menyalaminya, "semoga yang demikian ini akan kaupakai selamanya, barokallah."

Rie gamang dan merasa tidak siap untuk itu, tapi ucapan kakak kelasnya tadi benar-benar membuatnya berusaha bertahan, menutup aurat dengan apa yang dia punya, walau hanya bisa dilakukan di luar jam kuliah, karena terikat seragam kampus yang masih jahiliyah.

Satu semester berlalu, satu per satu teman mengikuti jejaknya. Sudah 23 orang yang berhijab seperti dirinya, memang belum sempurna dan masih buka tutup. Beberapa mahasiswa bergiliran meminjaminya buku-buku tentang Islam, membuatnya makin mengerti kewajibannya sebagai seorang muslimah.

Tahun 1991 terbit SK dari Depdikbud tentang diperbolehkannya pemakaian jilbab di sekolah-sekolah. Rie dan teman-teman ingin memperjuangkannya juga. Disusunlah proposal usulan seragam yang menutup aurat. Dibawanya bersama Yudi dan Nur ke rumah Bapak Direktur, namun hanya bisa menitipkan proposal pada istrinya.

Rie tak patah arang, dikunjunginya semua dosen untuk minta dukungan. Alhamdulillah, enam bulan setelahnya usulan diterima, seragam yang menutup aurat boleh dipakai pada jam perkuliahan di kampus.

Perjuangan belum selesai, pihak kampus masih melarang pemakaian jilbab saat praktek di rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin bahkan saat pengabdian masyarakat. Rie dan teman-temannya bergeming, Mereka tetap praktek dengan aurat tertutup rapat.

Suatu hari, sang ibu datang ke asrama, membawa amarah dan tanya. Kiranya pihak kampus mengirim telegram yang bunyinya, "harap datang ke kampus secepatnya, untuk pembinaan atas putri anda."

Sang Ibu memang tak mengetahui sepak terjang putrinya, sehingga berprasangka buruk, beliau pikir putrinya melakukan tindakan asusila.

Rie limbung dengan kemarahan ibunya, sia-sia dia berusaha memahamkan kewajiban menutup aurat, karena latar belakang ibunya berbeda aqidah, menjadi mualaf setelah menikah namun tak mendapat penjelasan yang cukup tentang syariat.

"Jangan panggil aku ibu, kalau kau tak mau buka kerudungmu dan ikuti aturan sekolah. Anak dan istri kyai saja nggak pakai jilbab, nggak usah sok suci kamu."

Rie benar-benar tak mampu menjawab, dunia seakan runtuh, namun Allah masih bersamanya. Malamnya ditemuinya guru ngajinya, kebetulan saat itu jadwal kajian. Oleh Ustadzah Elli, Rie diminta membuka dengan QS Attaubah ayat 24, air matanya mengalir deras, kiranya itu adalah jawaban dari rasa gundahnya. Semalaman dihabiskannya air mata di ujung sajadah, mohon dikuatkan menghadapi ujian.

Apa yang dialami Rie, tak jauh beda dengan teman-temannya, satu per satu pun menyerah, tinggal tersisa enam orang, Aryati, Rie, Yudi, Nurkhasanah, Atun dan Nurhidayah. Bulan berikutnya Aryati memutuskan keluar dan menikah. Tinggallah mereka berlima tidak diperbolehkan ikut ujian karena dianggap tidak pernah hadir pada semua jadwal praktek.

Teman-teman mahasiswa memang luar biasa, mereka masukkan kasus ini dalam surat pembaca berbagai media. Simpati dan dukungan mengalir dari mana saja. Kemudian ada yang memfasilitasi, membawa kasus ini langsung ke Menteri Kesehatan di Jakarta (karena Akper di bawah naungan Departemen Kesehatan).

Allah tak pernah menyia-nyiakan usaha hambaNya, di akhir yang limit, direktur diganti, mereka pun diperbolehkan ikut ujian susulan, dan dapat lulus pada waktunya.
Sebulan sesudahnya, Rie diterima bekerja di RS Roemani Semarang, sang Ibu pun tak lagi marah padanya.

Akulah Rie, terkadang kuberpikir, sekarang serba dimudahkan, kajian digelar di mana-mana, secara langsung ataupun lewat media, namun masih saja
banyak yang mengumbar auratnya dan salah pergaulan, hingga banyak gadis yang hamil sebelum waktunya.

Kuwariskan kesyukuran pada putri-putriku, agar tunaikan semua kewajiban dengan sempurna, maka Allah akan senantiasa menjaga dan memudahkan semua urusannya. Selalu ada jalan untuk menjemput cahaya.

#Demak, 17012015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar