Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 20 April 2018

Kartini dan sebuah perjalanan jiwa

Kartini dan Sebuah Perjalanan Jiwa
Oleh: Titien SDF

RA Kartini adalah sebuah nama besar. Sosok perempuan Jawa yang terkenal kegigihannya dalam mendobrak adat-istiadat yang terasa mengungkung kaumnya. Karenanya, beliau pun dikukuhkan menjadi salah satu pahlawan emansipasi kaum perempuan.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya.

Dari sinilah, kita dapat memahami sosok Kartini beserta perjalanan jiwanya yang sarat dengan hikmah.

Meskipun mendapat hak istimewa untuk belajar/ sekolah sampai usia 12 tahun, tak menjadikan Kartini muda menjadi tenang, jiwanya tetap memberontak terhadap lingkungan adat istiadat Jawa yang melarang kaum perempuan untuk sekolah. Curahan hatinya banyak beliau tuliskan dalam surat dan dikirimkan kepada teman-temannya yang kebanyakan merupakan kaum terpelajar Eropa.

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Begitu pula pada surat-surat yang beliau kirim kepada Rosa Abendanon. Namun, Rosa Abendanon banyak memberikan nasehat dan meyakinkan Kartini, bahwa tempatnya bukanlah di Eropa, tetapi tetap berada di Jawa untuk memperjuangkan kaumnya.

Beliau pun diijinkan mendengar wejangan Kiai Soleh Darat yang diundang sang ayah, dari balik tabir. Apa yang beliau dengar, menjadikan beliau semakin bersemangat untuk menimba ilmu lebih banyak lagi. Atas jasa beliau pulalah, maka kita mengenal huruf Arab Pegon (tulisan Arab gundul dalam bahasa Jawa) yang diciptakan oleh Kiai Soleh Darat untuk menterjemahkan Alqur'an dalam bahasa Jawa, sesuai permintaan Kartini dalam suratnya. Ini karena, pemerintah Hindia Belanda melarang terjemahan Alqur'an dalam bahasa apapun, sehingga Kiai Soleh Darat menerjemahkannya dalam tulisan Arab Pegon, agar tidak ketahuan. Kitab terjemahan ini kemudian diberi judul Kitab Faidurrohman, berisi terjemahan dari QS Al Fatihah sampai QS Ibrahim dan dihadiahkan pada saat Kartini menikah dengan Bupati Rembang, pada tahun 1903

Dari mempelajari terjemahan Alqur'an inilah, Kartini mengalami perjalanan jiwa yang luar biasa, yang merontokkan kekagumannya pada masyarakat Eropa dan menguatkan keyakinannya bahwa Islam sudah mengatur segalanya, yang terbaik yang telah dipilihkan Allah untuknya.

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902). itulah sekelumit surat yang menyatakan bahwa pandangan barat itu salah, dan islam itu lebih indah.

Surat-surat yang dikirimkan berikutnya menjelaskan perjalanan batinnya minadh dhulumati ila nuur (dari kegelapan menuju cahaya). Surat-surat terakhirnya tidak lagi mengungkapkan kekaguman pada masyarakat Eropa, namun mengungkapkan keinginan besarnya untuk menjadi  'sebenar-benar hamba Allah' Surat-surat inilah yang kemudian dikumpulkan Tuan Abendanon dan dibukukan, dan setelah melewati beberapa masa dan revisi, kita mengenalnya dengan nama "Habis Gelap Terbitlah Terang."

Dalam buku tersebut Kartini berpesan, "perempuan harus cerdas,  trampil dan berbudi pekerti luhur agar dapat mengemban tugasnya sebagai ibu bangsa. Karena ibulah pendidik yang pertama-tama." Beliau juga berpendapat bahwa perempuan yang tidak cerdas dan tidak berbudi pekerti luhur hanya akan melahirkan anak-anak yang lalim. 

Karenanya, wahai saudariku. Jangan berlebihan dalam mengejawantahkan makna 'emansipasi'. Islam sudah mengatur segalanya sedemikian rupa, semua sudah ada porsinya, semua sudah ada aturannya. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi dan saling mengisi, bukan untuk direndahkan dan dimarginalkan satu sama lain.

#Demak, 21042016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar