SENJA TERAKHIR
Sofi memandang senja dari teras rumah bercat jingga. Rimbunnya pohon mangga di sudut halaman menyaring sinar surya yang tersisa untuknya. Meneduhkan sekaligus menghangatkan. Berlama-lama, direguknya tarian senja yang indah gemulai menampilkan semburat aneka warna. Ah, andai setiap saat adalah senja.
"Minum obat dulu, Sayang," tegur ibunya dari dalam rumah.
"Sebentar, Mi. Sofi masih ingin duduk di sini," jawabnya pelan.
Seorang perempuan setengah baya keluar. Gamis biru senada dengan jilbab tosca yang menutup kepala membuatnya terlihat anggun di usianya yang sudah tidak muda lagi. Diusapnya putri sulungnya dengan lembut, seolah ingin mengambil selembar duka yang menyelimuti wajah manisnya. Gadis yang baru menginjak 17 tahun ini menoleh sejenak, ada banyak tanya yang ingin disampaikan, tapi seolah kehilangan kata.
"Apa Sofi masih punya harapan, Mi?" tanyanya sendu.
"Tentu, Sayang. Makanya, Umi ikutkan kamu bergabung dengan Komunitas Penderita Lupus. Bukan untuk mengucilkanmu dari teman-temanmu dan yang lainnya, tapi agar kamu tahu bahwa setiap kita punya harapan. Agar kalian bisa saling memberi semangat. Ayolah, Sayang ... harapan itu masih ada," tutur ibunya menenangkan.
"Tapi, Sofi juga ingin menikmati pagi, merasakan hangatnya mentari, pergi bersama teman-teman dengan bebas. Tanpa rasa was-was ...."
Utari tergugu, bergumpal-gumpal lava memenuhi rongga dadanya. Menyentak-nyentak ingin keluar. Ia sangat tahu apa yang dirasakan putrinya, ia pun merasakan hal yang sama. Tidak, aku tak boleh lemah, aku harus menguatkan Sofi, bisik suara hatinya.
Sejenak, ingatan Utari melayang. Masa kanak-kanak Sofi begitu ceria, tak jauh beda dengan dua adiknya. Sofi yang cerdas, Sofi yang tidak banyak tingkah, selalu juara kelas, Sofi yang berhasil meraih beasiswa untuk kuliahnya. Ah, semuanya serba membanggakan baginya. Rupanya Tuhan menguji mereka, hingga di saat puncak keberhasilannya, Sofi ternyata mengidap penyakit lupus eritomatosus, penyakit langka yang setahunya belum ada obatnya.
Dunia serasa terbalik bagi Sofi. Dia yang biasa mandiri dan menjadi penolong bagi yang lain, sekarang harus hidup dalam keterbatasan. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya di luar rumah, karena tubuh rapuhnya tak kuat menerima paparan sinar matahari. Kebisingan dan polusi memperparah keadaannya.
Dan Utari pun terpaksa cuti setahun lamanya agar bisa merawat dan menemani Sofi. Disediakannya alat-alat tulis agar ia bisa membunuh waktu, menuangkan segala perasaan dalam bentuk tulisan dan gambar. Terpaksa dibatasinya menggunakan layar komputer dan sejenisnya karena paparan sinarnya pun mempengaruhi ketahanan tubuh Sofi.
Hari-hari adalah senja bagi Sofi, yang hanya bisa berdiam dalam kamar, dan baru boleh keluar saat senja tiba, untuk waktu yang tak terlalu lama. Seperti saat ini.
"Umi melamun?" tanya Sofi setengah berbisik, entah mengapa dadanya mulai terasa sesak.
Utari menoleh, menatap Sofi penuh iba. Dia yang dulu bagai matahari dan tak kenal lelah, kini ibarat senja yang merangkak pelan dan sekejap menghilang.
"Mi, bisakah senja hadir lebih lama?" bisiknya kelu. Rupanya semburat jingga di ufuk mulai memudar gelap, senja akan segera pergi.
Utari menarik tubuh Sofi, mengajaknya masuk. Merangkulnya dalam dekap hangat, mencoba melumerkan gundah yang menggumpal, "kau tahu, Sayang? Tuhan mempergilirkan siang dan malam tanpa pernah lupa memberi harapan. Dihadirkannya senja untuk kita, membagikan cerita. Kau lihat? Warna-warna yang ditampilkannya menyemburat berganti-ganti, kemerahannya memudar hampir tiada berbatas, terus begitu ... hingga sepenuhnya gelap. Lalu Tuhan menghiasi langit dengan rembulan dan bintang-bintang agar gelap tak kehabisan cahaya."
"Sofi tahu, Mi. Setiap kita punya kondisi terang dan gelap, kuat dan lemah, menyenangkan dan menyedihkan. Setiap kita akan melewati ujung yang satu menuju ujung yang lain lalu kembali ke tempat semula. Tapi ... mengapa gelap ini terasa begitu lama?"
"Tidak, Sayang. Seorang mukmin tak akan pernah kehilangan cahaya. Tuhan tak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya. Ikhlaslah, Dia sudah begitu banyak memberi karunia. Ujian ini hanya sementara, akan selalu ada harapan bila kita hanya bergantung pada-Nya. Biarkanlah senja pergi, esok dia pasti kembali menyapa,"
"Bagaimana bila esok Sofi gagal menjemput senja, Mi? Sofi lelah ...."
Utari terhenyak, adakah ini suatu isyarat?
"Tidak, Sayang. Ada Umi di sini. Umi akan tetap mengupayakan kesembuhanmu. Masih akan ada senja-senja yang lain, juga matahari ...."
"Sofi ... lelah, Mi ...."
Dan tubuh gadis itu pun semakin limbung. Utari menggigit bibir kuat-kuat, sedikit rasa asin melumeri lidah. Tidak, dia harus menyiapkan diri, mengikhlaskan kembali Sofi, seperti mengikhlaskan ayah dan kedua adiknya, saat kecelakaan merenggut nyawa mereka, genap setahun lalu. Mereka milik Allah, bukan miliknya, dia harus mengikhlaskannya.
"Sofi ... pusing ... sekali, Mi ... Sofi ... ingin ... tidur ... bareng ... Dik Arun ... sama ... Dik Risa ...."
Utari berusaha menahan tubuh ringkih Sofi dan memapahnya ke dalam kamarnya. Air mata menderas seiring tahlil yang dibisikkannya di telinga buah hatinya. Perlahan, bibir gadis itu bergerak-gerak mengikuti suara ibunya.
Utari membaringkan tubuh Sofi di pembaringan. Bibirnya masih bergerak-gerak melafalkan tahlil. Hatinya serasa terbang melayang bagai daun tertiup angin, seiring nafas yang kian hilang di hadapannya.
"Allahu akbar, aku ikhlas ya Allah. Engkau pasti akan hadirkan senja yang jauh lebih indah untuknya. Juga untukku. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un."
#Demak, 30072015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar