Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Minggu, 16 Agustus 2015

Dasar Bandel

DASAR BANDEL

Setiap tahun, ambalan SMA kami mengadakan kegiatan uji kenaikan tingkat. Acara biasanya diawali dengan kemah bakti yang dilanjutkan dengan jurit malam dan long march sampai pada titik yang ditentukan oleh pembina. Acara ditutup dengan pelantikan penegak bantara atau laksana yang diselenggarakan di lapangan sekolah.

Waktu itu, kegiatan kemah bakti diadakan di Bumi Perkemahan Candrabirawa, Karanggeneng, Semarang. Siswa yang ikut lumayan banyak. Kami terbagi dalam 10 kelompok regu/sangga,  5 putra dan 5 putri. Masing-masing beranggota 9-10 orang. Beberapa orang guru ikut bersama tiga orang kakak pembina.

Kami berangkat dari sekolah jam empat sore. Karena ini acara ujian kenaikan tingkat, sekolah tidak menyediakan sarana transportasi. Jadilah, kami bersama-sama naik bis dari terminal ke Ungaran. Kebetulan sekolah kami hanya berjarak satu km dari terminal bis. Sampai di Jl. Pramuka, Ungaran, kami masih harus berjalan kaki sejauh kira-kira sepuluh km sampai lokasi kemah bakti di Karanggeneng.

Lelah dan lapar segera terbayar ketika sampai lokasi kami disambut oleh beberapa ibu guru yang telah menyiapkan aula serbaguna lengkap dengan nasi kotak siap santap. Sampai di sini kami diperbolehkan istirahat dan menikmati acara bebas.

Pukul dua belas malam, kakak-kakak pembina mengumpulkan kami di depan aula dan menggiring kami ke areal pemakaman setempat. Masing-masing tidak diperkenankan membawa senter. Hanya saja, di beberapa titik dipasang obor. Tugas kami sederhana, mengambil saputangan putih dan selembar kertas berisi perintah selanjutnya. Tapi, kedua barang itu ada dalam sebuah bangunan kosong di tengah-tengah areal pemakaman. Dan kami harus memasukinya satu per satu.

Giliranku pun tiba, kulangkahkan kaki menuju satu-satunya obor yang terpasang di salah satu sudut ruangan. Saat sesosok serba putih terlihat, kutarik dia dengan sekuat tenaga.

"Aduh! jangan begitu dong! Leherku sakit nih!" serunya tertahan.

Kutatap muka belepotan bedak tebal itu lekat-lekat, "ini jelas bukan setan," desisku.

"Huss, diam. Kamu tuh setannya," desisnya agak meradang.

"Udah! Cepet bawa kemari saputangan sama kertasnya! Kalau enggak aku beritahu yang lain loh!" seruku tertahan. Habis, aku lagi males disuruh mencari.

Saputangan dan kertas pun kudapatkan. Segera kuambil semua perlengkapanku menuju pos selanjutnya. Sepanjang malam kami berjalan dari Karanggeneng sampai Kali Pancur. Kakiku benar-benar letih. Akhirnya, kuberanikan diri numpang mandi di rumah penduduk yang kulewati saat waktu subuh tiba. Beberapa teman di belakangku mengikuti, jadilah kami berempat istirahat sebentar untuk mandi dan menikmati teh hangat yang disuguhkan pada kami. Aih hangatnya membasahi kerongkongan. Ditambah sepiring pisang goreng dan seikat rambutan, kesegaran kami pun pulih.

"Eh, sudah jam tujuh lebih nih," celetuk Fitri, "kita pasti tertinggal jauh."

"Iya nih, kamu sih Tin, pake acara mandi segala, gimana nih?" kata Rahma dan Santi ikut menyalahkanku.

"Loh, kalian sendiri yang mau ikut kan? Ya udah, sekarang tinggal kita susul aja. Beres kan? Mereka ndak mungkin ninggalin kita begitu aja kok, percaya deh sama aku," jawabku agak jengkel.

Tanpa menunggu jawaban mereka, kuambil perlengkapanku dan bergegas pamit pada si empunya rumah. Tentunya tak lupa mengucapkan terima kasih, hehe. Mereka bertiga pun mau tak mau mengikutiku. Beruntung sekali, perintah yang kubaca adalah terus ikuti jalan besar sampai ketemu kakak pembina. Jadi kami tinggal berjalan menyusuri jalan besar.

Jalan masih sepi, teman-teman sudah tak terlihat, mungkin kami benar-benar telah tertinggal jauh. Dan kami tak tahu berapa kilometer lagi harus berjalan sampai menemukan mereka. Di tengah kecemasan, sebuah andong pun lewat.

"Bang, boleh numpang?" tanyaku sopan, "kami ketinggalan rombongan."

"Kalian mau ke mana?" tanya si Abang.

"Perintahnya sih suruh ikuti jalan besar sampai ketemu kakak pembina kami," jawab Fitri, "boleh ya, Bang ...."

"Baiklah, ayo naik!" seru si Abang membuat kami lega.

Naik andong ternyata menyenangkan juga, kami bisa menikmati pemandangan dengan santai. Setengah jam kemudian, barulah terlihat teman-teman kami sudah membentuk barisan di lapangan dekat terminal angkot.

"Stop! Stop! Itu teman-teman kami, Bang. Makasih ya, Bang! Semoga Abang dapat rejeki yang banyak dari Allah! Aamiin!" teriak kami sambil berlompatan turun. Si Abang tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

"Wah wah wah! Bagus ya! Pinter! Yang lain capek jalan kaki, kalian enak-enak naik andong!" seru Kak Agus menciutkan nyali kami.

"Iya nih,  kalian ngilang ke mana dulu heh!? Jam segini baru nongol, naik andong pula!" seru Kak Asri, rupanya dia yang jadi pocong semalam.

Merasa bersalah, kami diam saja. Akhirnya kami diperbolehkan bergabung ke barisan dan kembali ke sekolah.

Sesampai di sekolah, kami masih harus menerima hukuman, sementara teman-teman kami yang lain mengikuti upacara pelantikan.

"Kalian berempat, terpaksa tidak ikut dilantik karena pelanggaran yang kalian lakukan. Kalian masih diperbolehkan mengikuti kegiatan kepramukaan, tetapi kalian harus mengulang ujian kenaikan tingkat bulan depan," kata Kak Agus tegas.

Dia segera meninggalkan kami yang hanya bisa saling berpandangan.

"Hemm, siapa takut!" desisku.
"Iya, siapa takut!" timpal yang lain.

Kami pun kembali berhaha hihi sambil membayangkan ujian yang akan datang. Dasar bandel.

#Demak, 16082015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar