Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 23 Juli 2015

Bab 8_DBT

#Bab_8_DBT
Adakah Jawab?
Oleh : Titien SDF

Siang beranjak petang, Angga dan Lena baru saja tiba dari sekolah. Mereka tampak heran melihat pintu kamar tamu yang setengah terbuka.

"Ada tamukah?" gumam Lena melongok ke dalamnya. Terlihat olehnya Mbok Nah sedang menyuapi Laisa ditunggui seorang gadis kecil.

"Itu siapa, Mbok? Kenapa dia ada di sini?" tanya Lena menunjuk Renata dan Laisa.

"Eh anu ... Non, ini Non Renata, tetangga baru. Non Laisa sakit, Nyonya yang minta dia dipindahkan ke sini," jawab Mbok Nah lirih.

"Oh ... Mama mana?"

"Di kamar Non, sedang istirahat."

"Laisa sakit apa, Mbok?"

"Tidak tahu, Non. Badannya panas, tadi sampai kejang."

Lena, gadis itu hanya menengok ke arah Laisa  dan Renata sebentar saja. Dia bergegas masuk ke kamarnya sendiri. Sekejap kemudian menyusul Angga yang sudah menunggu di meja makan.

"Kalian baru pulang?" tanya Laila yang sedang menuruni tangga, "sudah sore."

"Mas Angga telat jemputnya, Ma," kata Lena mengadu.

"Tadi ada pertandingan futsal di sekolah, sayang kalau dilewatkan, Ma. Tim Angga menang lho," kata Angga memberi alasan. Mulutnya sibuk mengunyah makanannya.

"Laisa sakit, Ma?" tanya Lena yang dijawab dengan anggukan Laila.

"Rina mau nginep di sini nanti malam. Boleh kan, Ma?" tanya Lena.

"Boleh. Ajak tidur di kamarmu saja ya. Kamar tamu dipakai Laisa," jawab Laila.

"Memang Laisa mau seterusnya pakai kamar tamu? Itu kan lebih luas dari kamar Lena, Ma," protesnya.

"Ndaklah. Cuma sementara saja, sampai dia sehat," jawab Laila.

"Ooo ... kirain ... ya udah deh," celetuk Lena sambil berlalu.

"Ma, habis latihan nanti Angga mau nginep di rumah Doni, boleh gak?" tanya Angga. Laila mengangguk.

Mata Laila mengikuti langkah Lena dan Angga menuju kamar mereka. Ah, anak-anak sudah besar, pikirnya. Angga sudah 16 tahun dan Lena, 14 tahun. Mereka sudah memiliki dunianya sendiri. Rasanya terlalu terlambat untuk mengetahui bahwa Laisa adik mereka. Semua salahmu, Laila, bisik hatinya. Kamu keterlaluan, membiarkan anak-anakmu tidak mengenal adiknya, padahal mereka serumah dengannya setiap hari. Apa yang harus kulakukan. Bagaimana menjelaskannya? Laila gundah. Diambilnya air minum, diteguknya sekali habis berharap bisa menghilangkan gundahnya. Deru mobil terdengar memasuki halaman. Pasti suaminya pulang. Laila bergegas berlari keluar menyongsongnya.

"Sudah enakan, Ma?" tanya Sampurno melihat Laila. Dikecupnya kening istrinya dengan lembut. Laila mengambil tangan suaminya dan mengecupnya.

"Laisa sakit, Mas," bisik Laila hati-hati. Entah bagaimana reaksi suaminya nanti, dia berusaha menyiapkan diri.

Sampurno tersentak kaget, "sakit apa? Selama ini dia tak pernah sakit kan?"

Laila menggeleng, "tadi dia kejang. Badannya panas sekali. Aku sudah panggil dokter Adrian untuk memeriksa dan mengobatinya. Sementara, biarkan dia di kamar tamu ya. Setidaknya sampai dia sembuh."

"Kenapa tidak di kamarnya saja? Biasanya dia di sana juga kan?" protes Sampurno tak suka.

"Mas, tolong dengar aku. Dokter Adrian bilang, dia harus dipindahkan di tempat yang lebih terang. Satu-satunya kamar yang masih kosong, ya cuma kamar tamu."

"Dokter itu menanyakan tentang siapa dia?"

"Ya," jawab Laila, "Mbok Nah sudah katakan itu momongannya. Ah sudahlah, aku tak mau membicarakan ini lagi," tukas Laila.

Sementara itu, Mbok Nah sudah selesai menyuapi Laisa. Dia baru akan meletakkan piring kotor ke dapur saat kedua majikannya berbincang sambil berjalan. Sedikit banyak, telinganya ikut menangkap pembicaraan mereka, membuatnya menghentikan langkah dan menunggu sampai mereka berlalu. Orang tua aneh, batinnya.

"Ta ... Sa ... mau ... itu ...," pinta Laisa menunjuk foto di dinding. Foto keluarga Sampurno. Renata mengambilnya dengan takut-takut dan memberikannya pada Laisa. Gadis kecil itu mengusap wajah Laila dengan lembut, juga wajah Lena.

"Sa ... mau ... di sini ...," katanya penuh harap. Didekapnya foto itu di dadanya erat. Renata hanya mengangguk, pemikiran kanak-kanaknya mengatakan, ya minta saja foto bareng. Begitu aja kok repot.

"Sudah sore, Non. Non ndak pulang? Nanti dicari lho," kata Mbok Nah pada Renata, "Laisa sudah baikan. Dia hanya butuh istirahat. Non pulang saja dulu, besok main lagi."

Renata menurut saja, Mbok Nah benar. Apa jadinya kalau papa mamanya pulang saat dia tidak ada. Lagi pula dia harus mulai menyiapkan perlengkapan sekolah yang dia butuhkan. Besok pagi dia sudah harus masuk sekolah baru.

"Ya Mbok. Renata pulang. Mungkin Renata ndak bisa main setiap hari karena besok pagi sudah harus mulai sekolah. Cepat sembuh ya Laisa," pamitnya.

"Na ... Sa ... mau ... se ... kolah. Sama ... Ta ...."

"Non harus sehat dulu ... baru boleh sekolah. Biar nanti Mbok bilang Nyonya."

"Yeee ... Sa ... mau ... sekolah ... sama ... Ta ...."

"Orang kayak gitu mana bisa sekolah, " celetuk Lena dari balik pintu. Ditariknya tangan seorang gadis berkerudung biru ke kamarnya. Si gadis ikut melongok melihat Laisa, dahinya mengernyit memandang Lena dan Laisa berganti-ganti. Wajah mereka memang hampir serupa.

"Adikmu, Len?" tanyanya.

"Please deh, Rin. Masak aku punya adik begitu," jawab Lena ketus. Mbok Nah hanya mengelus dada, matanya mengikuti langkah mereka sampai menghilang di balik pintu. Dia benar-benar adikmu, Non, jerit hatinya.

"Na ... Sa ... boleh ... sekolah?"

"Non lihat-lihat buku ini dulu ya. Sambil belajar," kata Mbok Nah menyorongkan beberapa buku cerita bergambar yang dibawa Renata untuknya. Laisa kegirangan, dibolak baliknya buku-buku itu dengan penuh sukacita.

"Baca ... Na ... baca ...," pinta Laisa pada Mbok Nah.

"Sini Mbok bacakan. Non perhatikan  ya," jawab Mbok Nah mengambil tempat duduk di sebelah Laisa. Tangan keriputnya menunjuk gambar demi gambar yang ada dan dengan sabar membacakan cerita untuk Laisa. Hatinya terus berharap, semoga Nyonya mengijinkan Laisa sekolah. Semoga, untuk kebaikan Laisa. Mungkinkah?

#Demak, 17052015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar