Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 23 Juli 2015

Lebaran punya siapa?

Lebaran Punya Siapa?
Oleh: Titien SDF
Jenis: Cermin

Subuh mulai menggema, sesekali disela suara takbir Idhul Fitri. Bersahut-sahutan membangunkan Fitri dari lelap yang baru saja didapatkannya.

"Sudah subuh rupanya," gumamnya mengucek-ucek mata. Hampir semalaman dia terjaga, menyelesaikan pekerjaannya. Subuh ini, dia harus segera mengantar baju-baju setrikaan milik Bu Haji Maemun.

Fitri bergegas turun, mendirikan sholat subuh, lalu membangunkan anak semata wayangnya.

"Dudung, bangun, Sayang. Sholat subuh dulu terus mandi. Emak mau nganter baju-baju Bu Haji dulu."

"Hari ini lebaran kan, Mak?" tanya Dudung setengah merem.

"Iya, makanya cepetan gih, jangan sampai ketinggalan jamaah Idhul Fitri ...."

"Assalamu'alaikum, mau ngambil baju setrikaan, Bu," terdengar suara dari balik pintu.

"Oh, Mang Asep. Ini, Mang, sudah saya siapkan. Baru mau saya anter," jawab Fitri menyodorkan baju-baju yang dimaksud.

"Makasih, Bu. Ini ada titipan zakat dari Bu Haji," kata Mang Asep balas menyodorkan sebuah amplop.

"Alhamdulillah, sampaikan terima kasih saya pada Bu Haji ya, Mang," jawab Fitri sumringah.

Baru saja Mang Asep pulang, beberapa lelaki kekar mendatangi rumah Fitri. Salah seorang di antara mereka langsung merampas amplop yang setengah terbuka di tangan Fitri.

"Ini zakat buat gue, ha ha ha ...," katanya sambil tertawa, "lumayan seratus lima puluh ribu rupiah. Heh, uang sewa rumah mana?!"

"Tapi Bang, kami belum ada uang. Beri kami waktu sampai bulan depan, Bang ...."

"Gak bisa, ini kan lebaran. Kau pasti dapat banyak zakat. Kemarikan! Cepat! Kalian sudah nunggak tiga bulan, bayar sekarang! Kalo tidak, angkat kaki dari rumah ini!"

"Tapi ... kami benar-benar tak punya uang, Bang ...," kata Fitri memelas. Diraihnya Dudung yang ketakutan dalam pelukannya. Bocah yang belum genap 7 tahun itu membenamkan kepalanya dalam-dalam.

Para lelaki itu dengan enaknya mengobrak-abrik semua yang ada di rumah Fitri. Dan ketika mereka tak menemukan apa yang dicari, mereka menyeret Fitri dan anaknya keluar rumah, menjerembabkannya di jalanan. Tak ada yang bisa dilakukan Fitri selain mendekap Dudung erat-erat dan menenangkannya.

"Mak, kita mau ke mana?" tanya Dudung bingung. Fitri hanya menggeleng lemah. Sejenak kemudian bayangan Bu Haji melintas di kepalanya, menuntun langkah untuk ke rumahnya.

Rumah Bu Haji tak seberapa jauh, namun sesampainya di sana tiada sesiapa. Pintu pagar terkunci rapat, hanya ada seorang satpam yang berjaga di sana.

"Bu Haji dan keluarganya baru saja berangkat keluar kota. Saya enggak tau kapan pulangnya," jelas penjaga.

Fitri termangu diam, yang dia tahu, dia harus terus berjalan walau tak tahu ke arah mana mencari harapan. Sementara takbir masih terus bersahutan.

"Ini hari lebaran kan, Mak? Kita ikut merayakan lebaran kan, Mak?" tanya Dudung penuh harap.

Fitri menggeleng pelan, "lebaran bukan untuk kita, Le."

"Lalu, lebaran punya siapa, Mak?" tanya Dudung mengetuk-ngetuk relung hatinya. Pertanyaan yang belum bisa dijawabnya.

#Demak, 21072015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar