Gara-gara Petasan
Oleh ; Titien SDF
Dudung merapikan baju-bajunya, menatanya dalam tas ransel. Semalam, ayah sudah memberinya ijin untuk berlibur ke rumah nenek. Terbayang sudah serunya libur lebaran kali ini. Ada Wahyu, ada Agus, Arif juga Lim. Juga kembang api warna-warni dan petasan. Amboi ..., rasanya tak sabar untuk segera ke sana.
Sehabis sahur, Dudung segera mandi dan bersiap-siap.
"Yah, kapan berangkatnya nih?" tanyanya pada Ayah yang sedang membaca Alqur'an.
"Nanti Dung, masih terlalu pagi untuk berangkat. Tunggu adzan subuh dulu, kita sholat jamaah di masjid, habis itu baru berangkat," jawab ayah menghentikan sejenak bacaannya.
"Sholat subuh di rumah nenek kan bisa," sungut Dudung.
"Eh, subuh tinggal sebentar lagi," jawab ayah.
"Iya Dung, siap-siapnya juga belum selesai. Ibu masih mau menyiapkan oleh-oleh buat nenek," sahut ibunya pula.
Sedikit kesal, Dudung meletakkan tas ranselnya di atas dipan bambu di teras rumah. Duduk menatap cicak-cicak yang berkejaran di dinding. Dipencetnya ekor cicak yang terdekat dengannya. Cicak itu pun berlari meninggalkan sebagian ekor yang terputus. Dudung memungut dan meletakkannya di atas dipan. Sambil terkekeh dia mengamati potongan ekor yang terus bergerak-gerak lucu.
Sayup-sayup adzan subuh mulai terdengar. Ayah keluar, menggamit pundak Dudung, mengajaknya berjamaah subuh di masjid. Sementara itu, ibu hampir selesai menyiapkan semua yang akan mereka bawa ke rumah nenek.
Subuh tak memakan waktu lama, mereka pun kembali pada rencana semula, berangkat ke rumah nenek di desa.
"Jangan ada yang ketinggalan ya," kata ayah mengingatkan, sesaat sebelum menghidupkan mobilnya.
"In syaa Allah tidak, Ayah. Ayo kita berdoa dulu supaya perjalanan lancar dan sampai dengan selamat," kata ibu.
"Subhanalladzi sakhorolana hadza wa ma kunna lahu muqriniin ...," ucap mereka bersama.
Sepanjang perjalanan, Dudung tak henti-henti mengagumi pemandangan alam yang dilihatnya. Sejuknya udara pagi terasa menyegarkan.
Dua jam kemudian, sampailah mereka di rumah nenek. Kedatangan mereka langsung disambut penuh suka cita oleh nenek. Tak ketinggalan pula Wahyu, Agus, Arif dan Lim. Mereka ternyata sudah sampai beberapa hari yang lalu.
"Dung, kita buat mercon sendiri lho," celetuk Agus bangga.
"Emang bisa?" tanya Dudung tak percaya.
"Bisa dong, kita kan buat bareng-bareng. Ya kan Rif, Yu, Lim?" kata Agus sambil memperlihatkan mercon buatannya.
Dudung mengamati gulungan kertas kecil itu penasaran, lalu berkata, "bisa bunyi kayak mercon sungguhan ndak?"
"Dudung, jangan mainan petasan ya, Nak. Berbahaya," pesan ibu. Beliau kemudian mengikuti nenek masuk rumah, meninggalkan Dudung bersama para sepupunya.
Dudung tak menghiraukan pesan ibunya. Diambilnya mercon buatan itu dari tangan Agus. Diambilnya korek dari tangan Arif. Tak menunggu lama, dia pun berjongkok dan mulai menyalakan sumbunya. Tiba-tiba ....
Dhuar .... Aaa ... aaa ....
Ayah, ibu dan nenek terkaget-kaget mendengar suara ledakan disusul suara teriakan Dudung. Mereka pun memburu keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Di luar, Dudung berteriak-teriak menutupi wajahnya. Anak-anak yang lain mengelilinginya dengan bingung dan ketakutan.
"Ada apa, Dung," tanya ibu dengan panik. Diangkatnya tangan Dudung yang menutupi wajah. Terlihat darah berleleran menutupi sebagian wajahnya. Rupanya petasan yang disulutnya keburu meledak sebelum dia sempat menjauhinya.
"Kalian main petasan lagi ya?!" tegur ayah keras-keras. Anak-anak itu tertunduk lesu dan ketakutan.
Ibu membersihkan wajah Dudung dengan air hangat. Dudung meringis kesakitan.
"Huuu ..., sakit, mata kiri Dudung sakit sekali. Enggak bisa ngeliat ... huuu ... huuu ...," tangis Dudung.
Ibu dan ayah pun membawanya ke puskesmas yang ada di sana. Beruntung, di sana masih ada dokter jaga sehingga Dudung dapat segera ditangani.
Dokter memeriksa luka-luka di wajah Dudung dengan teliti, kemudian menutup mata kiri Dudung dengan plester.
"Beruntung, putra bapak tidak apa-apa. Yang luka hanya tangan, pipi dan sekitar mata sebelah kiri. Tidak sampai mengenai bagian dalam mata, tapi mata kirinya harus diistirahatkan sementara," jelas dokter sambil memberikan obat.
"Wah, jadi pendekar mata satu," goda ayah, "keren tuh."
"Keren gimana, Ayah. Gak enak tau," jawab Dudung kesal.
"Gak nurut pesan ibu sih," sahut ibu, "masih mau main petasan?"
Dudung menggeleng pelan. Duh, gara-gara petasan liburannya kali ini jadi tidak menyenangkan. Dalam hati dia berjanji untuk selalu menuruti nasehat ibunya.
#Demak, 04072015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar