YASMIN DAN BURUNG-BURUNG KERTAS
Oleh: Titien SDF
Syahdan, di Negeri Seribu Satu Mimpi, hiduplah seorang raja yang arif bijaksana. Beliau mempunyai permaisuri dan putri yang cantik jelita bernama Yasmin. Mereka pun berbudi pekerti mulia sehingga sangat dicintai rakyatnya.
Yasmin mempunyai kepandaian untuk membuat kerajinan tangan dari kertas. Dia juga suka mengajarkan ketrampilannya pada anak-anak di sekitar istana.
Suatu hari, mereka kedatangan tamu dari Negeri Seribu Malam yaitu Pangeran Saladin, Putri Salsa dan putri mereka yang bernama Wardah. Raja, permaisuri, sang putri berserta segenap keluarga istana menyambut dengan suka cita. Mereka masih mempunyai ikatan kekerabatan, kunjungan itu pun menjadi tempat untuk saling menumpahkan rindu. Raja dan permaisuri asyik berbincang dengan Pangeran Saladin dan Putri Salsa. Yasmin pun asyik bermain dengan Wardah di taman.
Kebahagiaan itu ternyata tidak bertahan lama, karena keesokan harinya sang raja dan permaisuri diketemukan telah meninggal dunia di atas pembaringan mereka. Tak ada tanda-tanda bila mereka dibunuh. Seisi istana pun berduka.
"Yasmin, kami ikut berduka atas meninggalnya ayahanda dan bundamu. Tinggallah bersama kami di Negeri Seribu Malam. Kami akan membesarkanmu bersama Wardah," pinta Pangeran Saladin dan Putri Salsa.
"Ini rumahku, Paman. Aku tak mau meninggalkan istana dan penduduk Negeri Seribu Satu Mimpi. Biarlah aku tetap di sini bersama inang pengasuh dan keluarga istana yang lain," tolak Yasmin halus, "atau ... kalian yang tinggal di sini?"
"Ehm, bagaimana ya ...," gumam Pangeran Saladin, "baiklah. Masih ada kakakku, Pangeran Nurman yang mendampingi Sultan di Negeri Seribu Malam. Bila aku tinggal di sini, pasti tak akan mengacaukan kerajaan."
Akhirnya Pangeran Saladin, Putri Salsa dan Wardah tinggal di istana Negeri Seribu Satu Mimpi. Karena Yasmin baru berumur 15 tahun, maka tahta kerajaan dipegang oleh Pangeran Saladin sampai Yasmin dianggap layak memerintah.
Tahun pertama terlewati dengan baik, Pangeran Saladin memerintah sesuai dengan yang biasa dilakukan ayahanda Yasmin. Tahun berikutnya, segalanya mulai berubah. Pangeran Saladin dan keluarganya lebih sering menyelenggarakan pesta daripada memenuhi hak-hak rakyat. Kemudian, Yasmin pun dikurung dalam salah satu kamar karena dianggap selalu memprotes kebijakan pamannya.
Di dalam kamar, tak ada yang bisa dilakukan Yasmin. Tak seorang pun boleh masuk ke kamarnya dan menemani, kecuali hanya inang pengasuh yang diperbolehkan masuk untuk mengantarkan makanan dan barang-barang yang dibutuhkan Yasmin. Dia pun menyibukkan diri membuat burung-burung kertas.
"Mengapa Putri selalu membuat burung-burung kertas setiap hari?" tanya inang pengasuhnya suatu pagi. Dilihatnya kamar Yasmin dipenuhi dengan burung-burung kertas yang digantungkan di atas tempat tidur.
"Apa lagi yang bisa kulakukan, Inang? Aku ini sudah seperti burung dalam sangkar. Aku rindu kebebasan seperti burung-burung yang bisa terbang ke mana saja. Aku ingin mengejar mimpi-mimpiku," jawab Yasmin sedih.
"Berdoalah, Putri. Hamba yakin, Tuhan akan mendengar doamu," kata inang pengasuh.
"Kau benar, Inang. Terima kasih telah mengingatkanku," jawab Yasmin.
Yasmin pun tak henti berdoa, hingga suatu hari dia mendapatkan sesuatu dalam mimpinya. Dilihatnya burung-burung kertasnya hidup dan terbang selayak burung yang nyata. Satu di antara mereka tumbuh cepat dan semakin besar selayak burung raksasa.
"Naiklah ke punggungku, Yasmin. Aku akan membawamu terbang mengejar mimpimu," katanya ramah.
Dengan agak takut, Yasmin naik ke atas punggung burung raksasa. Burung itu membawanya terbang menembus atap kamarnya diikuti burung-burung kertas lain yang sangat banyak.
Yasmin seperti dibawa ke masa silam, masa di saat Pangeran Saladin dan Putri Salsa pertama berkunjung ke istananya. Waktu itu, dia dan Wardah sedang bermain di taman istana, sementara orang tua mereka berada di ruangan yang lain.
"Aku haus, Yasmin," kata Wardah.
"Tunggu di sini, biar kuambilkan minuman untukmu," jawab Yasmin kecil.
Yasmin kecil pun berlari ke dapur istana. Saat melintasi salah satu ruangan, dia melihat Pangeran Saladin memberikan sebuah lampu yang indah kepada ayahandanya.
"Kau lihat lampu yang diberikan pada ayahmu, Yasmin? Lampu itu beracun. Racunnya hanya bisa bekerja bila dinyalakan. Kau kecil harus mengambil dan memecahkannya sebelum ayahmu menyalakannya!" perintah burung raksasa.
"Bagaimana cara memberitahunya?" tanya Yasmin.
"Katakan pada dirimu sendiri, "Yasmin, cepat ambil lampu itu dan pecahkan!" perintah burung raksasa.
"Apakah ayahanda dan bundaku akan tetap hidup bila aku melakukannya?" tanya Yasmin.
"Tentu saja. Lakukan sekarang, Cepat!" perintah burung raksasa.
Yasmin pun segera berkata pada dirinya sendiri, "Yasmin, cepat ambil lampu itu dan pecahkan.
Ajaib, Yasmin kecil seperti mendengar perintah itu dan berjalan mendekati ayahandanya.
"Ayahanda, lampunya bagus sekali. Bolehkah Yasmin memegangnya?" tanya Yasmin kecil pada ayahandanya.
Sang raja tersenyum dan memberikan lampu itu kepada Yasmin sambil berkata, "tentu boleh, sayang."
Yasmin mengambil lampu itu dari tangan ayahandanya dan menimang-nimangnya. Sementara itu Yasmin yang berada di atas punggung burung raksasa sudah tak sabar untuk memecahkan lampu itu. Dilepasnya cincin yang melingkar di jarinya dan dilempar ke arah lampu. Lemparan itu mengenai tangan Yasmin kecil dan mengagetkannya sehingga lampu itu pun terjatuh dan pecah berkeping-keping. Seketika Yasmin merasakan kantuk yang luar biasa. Saat terbangun, dia mendapatkan dirinya di usia 15 tahun berbaring di atas ranjangnya. Ayahanda dan bundanya berada di sisi kanan dan kiri menatapnya dengan cemas.
"Apa yang terjadi, Ayahanda?" tanyanya saat membuka mata, "mana paman, bibi dan Wardah?"
"Mereka sudah kembali ke negrinya saat engkau belum siuman. Mungkin mereka merasa bersalah saat pecahan lampu itu menusuk jarimu dan membuatmu sakit seperti ini," jawab sang raja.
Terima kasih ya Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku, bisik hati Yasmin. Dia tahu, bukan burung-burung kertas itu yang menolongnya, tapi Tuhanlah yang mengabulkan doanya dengan mengirimkan mereka.
"Terima kasih, Inang, engkau tak pernah lupa mengingatkanku agar tak henti berdoa," bisiknya pada inang pengasuhnya yang juga berada di sana.
#Demak, 16072015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar