Baju Baru Dinda
Oleh : Titien SDF
Dinda termenung di sudut halaman, teman-temannya asyik berkejaran menuju masjid. Masing-masing memakai baju baru, bagus dan indah.
"Tidak ikut buka bersama di masjid, Din?" tegur Ibu lembut.
"Dinda agak pusing, Bu," jawabnya pelan. Dia tak berani meminta ibunya untuk membelikan baju baru.
"Kalau begitu, istirahatlah, supaya kuat sampai waktu berbuka nanti," sahut ibunya. Dinda mengangguk dan masuk ke kamarnya.
"Kau ingin baju baru ya?" bisik Diah pada adiknya,"beberapa hari ini kakak perhatikan kamu selalu memandangi anak-anak itu dengan iri."
"Aku tak berani minta sama Ibu. Coba kalau Ayah masih ada ...," gumamnya. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, ibunya menjadi buruh cuci yang penghasilannya tak seberapa.
###
Diah membuka bungkusan kain pemberian Tante Monik. Kain itu bermotif bunga-bunga kecil, panjangnya 2,5 meter. Diambilnya lagi bungkusan yang lain. Isinya perca satin warna warni ukuran kurang dari 0,5 meter. Tante Monik memberikannya juga, "untuk latihan menjahit di rumah," katanya.
Hampir dua tahun ini, Diah memang bekerja paruh waktu membantu Tante Monik bersih-bersih tempat kursus jahitnya. Kalau sedang luang, Tante Monik juga mengajarinya jahit menjahit.
Diah tersenyum kecil, digelarnya kain-kain itu di lantai. Dia mulai membuat pola dan memotong seperti yang diajarkan Tante Monik.
"Sedang apa, Diah?" tanya Ibu. Gadis 14 tahun itu menoleh.
"Diah mau latihan membuat baju, Bu. Nanti ajari Diah menjahitnya ya," katanya.
Dengan dibantu ibu, Diah berhasil membuat dua buah baju. Satu untuknya sendiri dan satu untuk Dinda. Modelnya memang sederhana, namun cukup bagus. Diah juga menambahkan pita-pita untuk mempermanisnya.
"Selesai sudah, mudah-mudahan Dinda suka," katanya sambil tersenyum menatap ibunya.
"Aamiin," jawab ibunya tersenyum, "makasih ya, Nak. Kau memang kakak yang baik. Dinda pasti suka." Lalu, Ibu menggantungkan kedua baju itu di kamar mereka.
Sebentar kemudian, Dinda pulang dari belajar mengaji di rumah Ustadzah Rani. Dia langsung saja masuk ke kamarnya. Hatinya langsung dibalut rasa gembira melihat baju-baju baru yang tergantung di sana.
"Ibu, ini baju baru Dinda sama Mbak Diah!?" teriaknya, "bagus sekali, makasih ya, Bu."
Ibu dan Diah sedang menyiapkan masakan untuk berbuka di dapur. Dinda menghampiri mereka dengan senyum mengembang.
"Berterima kasihlah pada kakakmu, dia yang membuatkannya untukmu," kata Ibu sambil menoleh ke arah Diah. Gadis itu tersipu malu bercampur senang.
"Ini juga berkat Ibu kok. Kalau tak dibantu Ibu, mungkin hasilnya tak sebagus itu," sahut Diah.
"Makasih Ibu, makasih Mbak Diah. Dinda benar-benar sayang deh ... sama kalian," jawab Dinda memeluk mereka berdua, "kalian memang yang terbaik."
"Hallah ... begitu ya kalau ada maunya," bisik Diah ke telinga adiknya. Dinda tertawa kecil.
"Terima kasih ya Allah, Kauberi kami keluarga yang saling menyayangi. Segala puji bagi-Mu, lindungilah kami dari adzab neraka. Aamiin," gumam Ibu.
"Aamiin," sahut Diah dan Dinda bersamaan.
#Demak, 01072015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar