KURCACI RAKUS DAN KUE AJAIB
Oleh: Titien SDF
Kiku dan Nuni adalah dua kurcaci kecil yang tinggal di tepi hutan. Walaupun bersaudara, mereka sangat berbeda temperamennya. Kiku bertubuh kurus kecil dan selalu ramah. Sedang Nuni bertubuh bulat pendek dan selalu bertampang masam dan cemberut.
Suatu pagi, mereka berjalan-jalan untuk mencari jamur kesukaan mereka menyusuri tepian hutan. Tiba-tiba ....
"Nu, lihat! Apa yang kutemukan?!" teriak Kiku.
"Ah, hanya keranjang. Apa sih isinya? Paling-paling cuma bunga," sahut Nuni. Mereka pun bersama menghampiri keranjang yang mereka temukan di balik pohon dan melihat isinya.
"Lihat, ada sepotong kue di dalamnya. Mungkin milik seseorang tertinggal di sana," kata Kiku lagi.
"Huh, cuma sepotong kue kecil begitu. Kumakan juga enggak kenyang," sahut Nuni.
"Kau tidak lapar?" tanya Kiku pada adiknya.
"Sangat! Tapi kue itu kecil sekali. Kelihatannya juga tidak enak."
Kiku mencubit pinggiran kue dan mencicipinya, "enak," katanya. Dicuilnya lagi pinggiran kue tersebut. Ajaib, setiap kali dia memotongnya, kue itu segera kembali utuh seperti sedia kala. Maka dipotongnya lagi kue itu dengan potongan yang lebih besar untuk Nuni, adiknya.
Nuni pun tertarik untuk ikut mencicipi kue tersebut, "ehm, benar-benar enak," katanya. Dipotongnya lagi kue tersebut, lagi dan lagi, dan kue itu pun tetap kembali utuh seperti semula.
"Nu, kita sudah cukup kenyang, sebaiknya kue ini kita simpan untuk besok sebagai persediaan makanan."
Mungkin kalau kumakan semuanya sekaligus, aku takkan pernah merasa lapar lagi, suara hati Nuni. Sifat serakahnya tak lagi mempedulikan anjuran kakaknya untuk berhenti makan. Kemudian, diambilnya kue tersebut dan dimasukkan ke dalam mulutnya bulat-bulat.
Kiku tak bisa berbuat apa-apa melihat adiknya menghabiskan kue persediaan makanan mereka. Tak berapa lama kemudian ....
"Aduh, Kak. Perutku terasa sakit sekali. Rasanya seperti mau meledak," keluh Nuni sambil memegangi perutnya yang semakin lama semakin membesar. Kiku pun kebingungan, dia tidak tahu bagaimana cara menolong Nuni. Dia pun segera teringat pada kurcaci tua yang tinggal di rumah pohon di dalam hutan. Konon, kurcaci tua itu adalah tabib.
"Tunggulah sebentar di sini, aku akan membawakan tabib untukmu," pesan Kiku pada Ninu.
Untunglah, Kiku tak membutuhkan waktu lama untuk mencari kurcaci tua itu dan membawanya kepada adiknya. Kurcaci tua itu memeriksa Nuni dengan seksama.
"Apa yang dia makan sebelumnya?" tanyanya.
Kiku pun menceritakan apa yang dilakukannya bersama sang adik tadi. Kurcaci tua mendengarkan dengan seksama, sebentar-sebentar kepalanya manggut-manggut.
"Bagaimana, Tabib? Apa yang harus kami lakukan?" tanya Kiku.
"Yang kalian makan adalah kue ajaib milik peri hutan. Kue itu memang diperuntukkan untuk mereka yang kelaparan, tapi tak boleh dimakan bulat-bulat, agar selalu kembali utuh dan dapat dinikmati oleh yang lainnya," jelas kurcaci tua.
"Aduh, lalu bagaimana ini, Kek? Aku terlanjur memakannya bulat-bulat. Kupikir, dengan begitu tak akan pernah merasa lapar lagi, tapi ternyata akhirnya jadi seperti ini," keluh Nuni.
"Satu-satunya cara, kalian harus mencari peri hutan dan minta pertolongannya, hanya dia yang punya obatnya," jawab kurcaci tua.
"Di mana kami bisa menemuinya?" tanya Kiku.
"Temuilah di tempat kalian menemukan keranjangnya. Panggillah dia, mohonlah padanya dan tunggulah sampai dia menampakkan diri."
Kiku dan Nuni pun kembali ke tempat mereka menemukan keranjang. Mereka melakukan seperti apa yang dikatakan kurcaci tua. Setelah begitu lama menunggu, mereka pun tertidur kelelahan.
"Aku sudah memaafkan kalian," kata seorang putri dalam mimpi mereka.
"Kaukah peri hutan?" tanya Kiku.
"Ya, benar. Aku peri hutan. Karena kalian telah menyesal, maka aku akan mengambil kembali kue ajaib itu dari perut Nuni," jawabnya.
"Beb beb bagaimana caranya? Aku tak mau perutku dirobek!" kata Nuni takut.
"Jangan takut, tak perlu merobeknya untuk mengambil kue itu. Namun, kuharap ini jadi pelajaran buat kalian," jawab peri hutan lembut. Diusapnya perut Nuni dengan lembut, kue ajaib itu pun keluar dengan sendirinya dari dalam perut Nuni. Perlahan perutnya berangsur kembali seperti semula.
"Segala puji bagi Tuhan, perutku tak sakit lagi. Mulai saat ini, aku tidak akan serakah lagi!" seru Nuni. Kiku pun senang mendengarnya.
#Demak, 24072015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar