Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 23 Juli 2015

Mutiara Putri Tiram

Mutiara Putri Tiram
Oleh : Titien SDF

Kerajaan Tiram Laut sedang dilanda badai pasir. Entah dari mana datangnya, pasir-pasir itu seakan bala tentara musuh yang ribuan jumlahnya.

"Angkat tinggi-tinggi perisai kalian, jangan sampai pasir-pasir itu masuk istana," titah Raja Tiram.

Para prajurit segera melaksanakannya. Mereka mengangkat sebelah perisainya tinggi-tinggi. Masing-masing membentuk formasi laksana dinding yang tinggi menjulang, melingkari istana raja. Di luar mereka rakyat tiram bahu membahu melakukan hal yang sama.

"Ayahanda tidak adil, berlindung di balik rakyat yang lemah. Bukankah seharusnya kita yang melindungi mereka?" protes Putri Tiram.

"Tidak, sudah seharusnya rakyat yang melindungi rajanya," kata Sang Raja dengan marah.

"Aku akan ikut bersama mereka," kata Putri Tiram.

"Jangan, anakku. Pasir-pasir itu akan melukai seluruh anggota tubuhmu yang lemah,"pinta Ibu Ratu melarangnya.

"Tak apa Ibu, aku akan gunakan perisaiku," jawab Putri sambil berlari. Seluruh prajurit dan hulubalang istana juga sudah keluar semua, maka tak ada lagi yang bisa mencegahnya.

Putri Tiram terus betlari sambil mengangkat tinggi-tinggi perisainya. Badanya yang ramping lincah melompati para prajurit. Terus naik ke benteng istana. Hujan pasir tak dihiraukannya. Rasanya seperti sembilu yang mengiris dagingnya.

"Kalau begini terus, pasir-pasir itu pasti akan mudah mengenai mereka. Seharusnya mereka menangkupkan perisainya untuk melindungi diri. Dan terus bergerak perlahan," gumamnya setelah melihat keadaan yang ada.

"Wahai rakyatku semua! Pakai perisai kalian untuk berlindung. Pasir takkan bisa masuk ke dalam tubuh kalian. Lakukan sampai badai berhenti," teriaknya keras, "tapi usahakan agar terus bergerak, agar tak terkubur hidup-hidup." .

Serentak semua melakukan perintahnya. Mereka semua menangkupkan kedua perisainya, beringsut perlahan agar pasir tak sampai membenamkan tubuh mereka.

Sang Putri beringsut turun perlahan sambil terus menangkupkan perisainya. Tak urung beberapa pasir berhasil masuk melukai tubuhnya. Tak dihiraukannya rasa sakit. Dicobanya untuk mengeluarkan pasir-pasir itu, tetapi sia-sia. Maka dibalutnya butiran pasir-pasir itu dengan air liurnya. Perlahan, rasa sakit itu mulai berkurang. Terus dan terus sampai lelah menidurkannya.

Saat terbangun, badai pasir telah berhenti, tapi semua rakyat Negeri Tiram terkapar tak berdaya.

"Maafkan aku rakyatku, aku hanya bisa menyarankan kalian untuk membalut pasir-pasir yang terlanjur masuk ke dalam mulut kalian dengan air liur, selapis demi selapis. Maka rasa sakit itu akan berkurang. Dan lihatlah, apa yang kudapat setelah melakukannya."

Putri Tiram pun membuka mulutnya. Ajaib, pasir-pasir itu telah berubah menjadi mutiara indah yang berkilauan. Sejak saat itu, semua rakyat di Negeri Tiram melakukan apa yang disarankan Sang Putri. Dari mutiara-mutiara yang mereka hasilkan, mereka dapat membangun negerinya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Raja dan Ratu menyadari kekeliruannya. Mereka pun akhirnya undur diri dari pemerintahan dan menobatkan Sang Putri menggantikannya.

#Demak, 01072015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar