BUBUR INDIA
Oleh: Titien SDF
Sudah lama sekali aku ingin mencicipi bubur india. Masakan khas satu ini memang cuma bisa ditemui pada bulan ramadhan. Itupun hanya ada di beberapa tempat di Semarang, salah satunya adalah di Masjid Besar Kauman Semarang.
Sudah menjadi tradisi di sini bahwa setiap hari di bulan ramadhan, pengurus masjid menyediakan sajian bubur india untuk berbuka puasa. Bubur itu disajikan hangat-hangat dalam mangkok-mangkok yang tertata rapi di teras masjid. Pengurus menyajikan tak kurang dari seribu mangkok setiap harinya.
Sebenarnya, aku bukan penyuka bubur. Aku hanya penasaran dengan rasanya karena kulihat banyak sekali yang rela antri sampai berdesak-desakan. Dan tepat saat adzan maghrib, bubur itu sudah habis ludes.
Sore itu, kami datang sebelum pukul empat sore. Sampai di sana, bapak-bapak pengurus masjid sedang sibuk menuangkan bubur india ke dalam mangkok-mangkok.
"Belum selesai ditata, Mbak," celetuk seorang bapak.
"Kami bantu menata ya, Pak," kata Isti sok akrab.
"Boleh, kalian bawa mangkok-mangkok yang sudah terisi ke teras ya," jawab mereka.
Aku dan Isti pun segera larut dalam pekerjaan dadakan itu. Sambil bekerja, Isti tak henti bertanya, mulai dari resepnya, cara memasaknya, sampai cerita tentang asal mula tradisi ini. Aku hanya sekali-sekali menimpali. Tak berapa lama, kami selesai menatanya.
"Sudah selesai, Pak," kataku sambil menaruh mangkok terakhir.
"Kemarikan wadah kalian, biar kita isi penuh-penuh," jawabnya.
Aku dan Isti berpandangan. Kami memang sudah diberitahu untuk membawa wadah sendiri karena mangkok buburnya tidak boleh dibawa pulang. Wadah kita ternyata tertinggal di rumah. Aduh, bagaimana ini? Padahal baru jam setengah lima, waktu buka masih lama. Mau kembali takut tidak terburu.
"Eh, oh, wadah kami ketinggalan, Pak," kata Isti penuh kikuk.
Untunglah si bapak berbaik hati. Beliau pun memasukkan bubur bagian kami ke dalam plastik. Setelah berterimakasih kami segera mohon pamit. Alhamdulillah.
Sesampai di rumah, Isti segera loncat dari boncengan motorku. Sementara dari arah dalam rumah adikku Bogi tampak berlari tergesa-gesa sehingga menabrak Isti. Tak ayal, bungkusan berisi bubur pun terjatuh dan pecah berserakan. Kami hanya bisa berpandangan dengan sedih. Duh ... bubur indiaku ....
#Demak, 15072015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar