Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 23 Juli 2015

Timun Emas dan Saputangan Ajaib

TIMUN EMAS DAN SAPUTANGAN AJAIB
Oleh: Titien SDF

Syahdan, di sebuah desa di kaki Gunung Semeru, hiduplah seorang ibu tua dengan putri tunggalnya. Si ibu menganggap putrinya yang bertubuh mungil itu sebagai hartanya yang paling berharga. Karenanya, dia memberinya nama 'Timun Emas.'

Timun Emas berhati mulia, dia tak segan berderma walau mereka tak hidup berkecukupan. Setiap hari, dia membuat sulaman yang indah untuk dijual ke kota. Hasil penjualannya digunakan untuk membeli kain dan makanan secukupnya, sisanya dipakai untuk berderma. Timun Emas juga amat menyayangi ibunya.

Suatu hari, ketika hendak menjual hasil sulamannya ke kota, Timun Emas melihat seorang kakek tua. Kakek itu tampak meringkuk di ujung jalan yang dilaluinya. Badannya terlihat gemetar, pakaiannya compang-camping. Timun Emas pun mendekatinya.

"Apa yang bisa kubantu untukmu, Kakek?" tanyanya sopan.

"Aku datang dari jauh, aku kedinginan," jawabnya lirih.

"Beristirahatlah di rumahku, Kek. Rumahku tak begitu jauh kok, hanya di ujung jalan ini," tawar Timun Emas. Dia pun kemudian memapah kakek itu ke rumahnya. Diambilkannya makanan dan  selimut untuknya. Ibunya pun mencarikan pakaian peninggalan ayahnya agar bisa dipakai sang kakek. Mereka benar-benar memperlakukan si kakek seperti keluarga mereka sendiri.

Hari pun berlalu, keesokan paginya si kakek sudah terlihat segar dan sehat. Dia pun pamit untuk melanjutkan perjalanan.

"Bolehkah saya mengantarmu sampai tujuan, Kek?" tawar Timun Emas.

"Tak perlu anak manis, perjalananku sangat jauh. Dan kau juga harus merawat ibumu. Aku sudah sangat berterima kasih dengan bantuanmu," jawabnya.

"Kalau demikian, bawalah  ini agar dapat kaupergunakan di perjalanan, Kek," kata Timun Emas memberikan sebuah bungkusan yang berisi makanan, baju dan selimut. Kakek itu menerimanya dengan senang hati, sebelum pergi dia memberikan sebuah saputangan lusuh untuk Timun Emas.

"Terimalah satu-satunya milikku ini, Nak. Ini saputangan ajaib, simpanlah baik-baik, suatu saat engkau pasti membutuhkannya," kata kakek sebelum pergi meninggalkannya.

Timun Emas memandang saputangan lusuh itu sekilas, kemudian menyimpannya di saku bajunya. Setelah itu, dia pun melanjutkan perjalanannya ke kota untuk menjual hasil sulaman. Karena kurang berhati-hati, sebuah kereta kuda hampir menabraknya. Timun Emas pun terjatuh, kakinya terantuk bebatuan sampai berdarah. Untunglah, bungkusan berisi hasil sulamannya masih utuh dan tidak rusak. Timun Emas mengeluarkan saputangan lusuh pemberian si kakek untuk membebat lukanya kemudian melanjutkan perjalanan.

Sesampai di kota, Timun Emas segera menggelar dagangannya. Dalam waktu tak begitu lama, semua hasil sulamannya terjual habis. Sambil beristirahat, Timun Emas membuka bebat lukanya. Ajaib, kakinya sudah sembuh seperti sedia kala, tak ada bekas luka, pun tak ada bekas darah pada saputangan lusuh itu. Kiranya, inilah keajaiban itu.

"Terima kasih, Tuhan, atas semua karunia-Mu hari ini," gumamnya. Disimpannya kembali saputangan itu dan bergegas membeli beberapa barang yang dia perlukan.

Kota begitu ramai, orang-orang membicarakan tentang penyakit putri raja yang sangat aneh. Sudah begitu banyak tabib didatangkan, tetapi penyakit sang putri tak kunjung ditemukan obatnya. Timun Emas teringat dengan saputangan lusuhnya. Dia bermaksud mencobanya untuk menyembuhkan sang putri.

"Tuan, dapatkah memberitahuku jalan ke istana raja?" tanya pada seorang lelaki berkuda yang lewat di dekatnya.

Lelaki itu memandangnya dan balik bertanya, "ke istana raja? Mau apa kau ke sana, gadis kecil?"

"Aku mendengar tuan putri sakit keras, aku ingin menolongnya. Bila tak mungkin menyembuhnya, setidaknya aku akan menghiburnya," jawab Timun Emas.

Setelah berbincang-bincang sekian lama, lelaki berkuda itu pun bersedia mengantarkannya ke istana raja. Kiranya dia adalah salah seorang prajurit yang bertugas di luar istana.

Sesampai di istana, Timun Emas segera dibawa ke kamar sang putri. Sang putri terlihat pucat terbaring di pembaringan, bibirnya bergerak-gerak ingin menyampaikan sesuatu.

"Selamat siang, Tuan Putri. Ijinkan hamba mengusap Paduka dengan saputangan ini. Mudah-mudahan Tuhan berkenan menyembuhkan Paduka," kata Timun Emas sopan.

Sang putri hanya mengangguk lemah. Timun Emas pun mulai mengusa sang putri dari bagian kepala sampai kaki. Bibirnya tak henti berdoa, "Tuhan, sembuhkanlah Tuan Putri. Sesungguhnya Engkau Maha Menyembuhkan."

Keajaiban pun terjadi, wajah sang putri berangsur-angsur memerah cerah.

"Terima kasih, Gadis kecil. Sekarang aku merasa lebih baik," katanya pada Timun Emas.

"Berterimakasihlah kepada Tuhan, Tuan Putri," jawab Timun Emas lirih.

Seisi istana bergembira dengan kesembuhan sang putri. Raja pun meminta Timun Emas dan keluarganya untuk tinggal di istana. Mereka pun hidup bahagia. Meskipun demikian, Timun Emas tetap rendah hati dan mengerjakan sulaman. Dia juga membagi ilmunya kepada siapa saja yang ingin belajar menyulam.

#Demak, 17072015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar