BURUNG PIPIT DAN BONEKA SAWAH
Upit adalah seekor burung pipit yang ramah dan suka menolong. Dia hidup berkelompok dengan sekawanan pipit lainnya. Mereka suka mencari makan bersama-sama dan saling membantu.
Musim kemarau belum lagi usai, tak banyak pepohonan yang berbuah. Upit dan kawanannya pun terbang mencari daerah sekitar pegunungan. Di sana masih banyak pepohonan, juga dekat dengan persawahan.
Siang itu, Upit dan kawanannya pun sampai di sebuah areal persawahan. Sepanjang lahan terlihat barisan batang padi yang menghijau, bertabur bulir-bilir padi yang mulai menguning keemasan.
"Alhamdulillah, akhirnya kita temukan juga," gumam Upit perlahan.
"Iya, alhamdulillah, perut kami sudah lapar sejak tadi. Makan yuk!" teriak pipit-pipit lainnya.
"Makan secukupnya saja, jangan berlebihan dan jangan merusak!" seru Upit mengingatkan teman-temannya. Mereka pun bergegas terbang ke arah batang-batang padi.
Klontang klontang klontang. Terdengar suara memekakkan riuh rendah menghalau mereka.. Serentak mereka terbang menjauh kembali dan hinggap di atas pohon yang tumbuh di tepian sawah.
Upit dan teman-temannya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata bunyi-bunyian memekakkan itu berasal dari kaleng-kaleng kecil yang bergelantung di beberapa utas tali yang diikatkan pada boneka sawah.
Upit terbang mendekati boneka sawah, sementara itu teman-temannya tetap diam menunggu. Tak lama kemudian, dia hinggap di bahu boneka sawah.
"Boneka sawah yang baik, bolehkah kami minta beberapa butir bulir padi untuk mengisi perut kami?" tanyanya sopan.
"Tidak boleh, padi-padi itu bukan milikku," jawab boneka sawah ketus. Boneka itu terlihat kusam, pakaiannya pun terlihat basah oleh keringat.
"Engkau terlihat sangat kelelahan, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Upit tetap ramah.
Boneka sawah itu melihat Upit penuh selidik, "aku lelah, sepanjang hari harus berdiri di sini. Apalagi kalau siang begini, panas sekali. Badanku jadi berkeringat dan gatal-gatal, "keluhnya.
"Di mana bagian yang gatal? Aku bisa menghilangkan gatalnya," tanya Upit lagi.
"Itu, kepalaku gatal," jawab boneka sawah. Bagaimana caramu melakukannya? pikirnya.
Upit pun hinggap di atas kepala boneka sawah. Dipatuknya bagian itu dengan patukan-patukan kecil.
"Hei, rasanya seperti digaruk, gatal di kepalaku hilang!" teriak boneka sawah girang, "tapi sekujur badanku juga gatal-gatal. Gimana? Kau bisa membantuku menggaruknya juga?"
"Kalau begitu, aku akan memanggil teman-temanku untuk membantumu. Tapi, biarkan kami mengambill bulir padi barang beberapa butir. Kami baru saja melakukan perjalanan jauh karena di desa kami sudah tak ada makanan lagi untuk dimakan. Kasihanilah kami," pinta Upit memelas.
"Oh, kasihan sekali. Kalau cuma beberapa butir, silahkan saja. Tapi jangan merusak batang padi ya," jawabnya.
"Ya, kami janji, "seru Upit girang. Dengan satu suitan, dipanggilnya seluruh teman-temannya. Mereka pun mematuk-matuk badan boneka sawah dengan hati-hati.
"Alhamdulillah. Kalian semua baik sekali. Gatal-gatalku sudah hilang. Sekarang kalian boleh makan beberapa bulir padi. Ingat ya, secukupnya saja dan jangan merusak," kata boneka sawah sambil tersenyum.
Upit dan kawanannya terbang merendah dan hinggap di atas tali, membuat kaleng-kaleng yang ada di sana bergoyang-goyang dan berbunyi nyaring mengagetkan mereka. Klontang klontang klontang.
"Jangan berisik, pipit cantik. Jangan hinggap di atas tali. Hati-hati," kata boneka sawah mengingatkan.
Tak berapa lama kemudian, bulir-bulir padi sudah memenuhi perut kecil mereka. Upit dan kawanannya pun bergegas pergi.
"Terima kasih, boneka sawah, "kata Upit sebelum pergi.
"Terima kasih kembali, pipit cantik. Semoga harimu menyenangkan!" jawab boneka sawah riang.
#Demak, 14072015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar