Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Rabu, 30 September 2015

Amara

AMARA

Seorang gadis kecil mengayuh sepedanya dengan cepat. Peluh membasahi wajah dan sebagian baju seragamnya. Namun demikian, dia terlihat sangat gembira. Tempat yang ditujunya susah terlihat, sebuah rumah mungil yang asri dan teduh.

"Assalamu'alaikum, Bunda ...! Amara pulang ...!" serunya riang. Disandarkannya sepeda di sudut teras, lalu bergegas masuk menemui dan mencium tangan  sang Bunda yang menyambutnya.

"Wa'alaikum salam, segera ganti baju lalu sholat dhuhur dulu. Makan siang sudah Bunda siapkan di meja makan."

Amara bergegas melaksanakan pesan bundanya. Sehabis sholat, dibukanya tudung saji di atas meja makan.

"Ah, kangkung lagi, tempe lagi,  males ah ...," gerutunya.

Amara berjalan dengan gontai menuju sepedanya, bunda yang melihat segera menegurnya, "mau ke mana, Amara? Kok enggak makan dulu?"

"Bosen, Bunda ... kangkung lagi, tempe lagi, Amara mau main aja ..., ke rumah Rona. Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikum salam, pulangnya jangan kesorean ya. Jangan lupa sholat ashar!" jawab Bunda.

Rumah Rona tidak terlalu jauh dari rumah Amara. Hanya saja, Amara tinggal di perumahan dan Rona tinggal di kampung yang terletak di dekatnya.

Amara menyandarkan sepedanya di bawah pohon mangga yang tumbuh rindang di halaman rumah Rona. Rumah Rona dikelilingi kebun sayuran milik keluarganya. Ada kangkung, wortel, bayam, tomat, kacang panjang, juga cabe dan bawang.

"Assalamu"alaikum! Rona ...! Kamu di mana ...?" panggilnya.

"Di sini! Ayo ke sini aja! Bantuin aku, Amara!"

Amara menoleh ke kanan dan ke kiri, akhirnya ditemukannya Rona, pemilik suara yang dicarinya. Gadis kecil itu sedang membawa keranjang yang setengah terisi sayuran.

"Lagi ngapain, Na?" tanya Amara.

"Nih, metik sayuran buat dimasak nanti," jawab Rona sambil asyik memetik kangkung, "tolong petikin tomat merah dua buah sama cabe beberapa biji ya."

Tak berapa lama, mereka pun selesai memetik sayuran yang dibutuhkan. Rona mengajak Amara masuk ke dalam dapur, mereka pun duduk di atas bangku panjang yang ada di sana. Dengan cekatan, Rona memotong-motong sayuran dan meletakkannya di wadah yang berbeda.

"Kamu mau masak, Na?" tanya Amara heran, "ibumu ke mana?"

"Iya, ibuku bekerja, Amara. Jadi buruh pabrik, pulangnya sore. Ayah juga. Jadi aku yang masak, kalau pulang sekolah. Kalau pas libur, ibuku yang masak. Masakannya enak sekali loh."

"Terus siapa yang belanja?" tanya Amara lagi.

"Kalau libur, ibu belanja bumbu-bumbu, kadang juga ayam sama telur. Tapi kalau enggak libur, ya enggak ada yang belanja. Bapak dan ibu suka berkebun, jadi kalau hari-hari begini kita masak hasil kebun."

Amara memperhatikan Rona yang cekatan menumis bumbu dan memasak sayuran. Tak berapa lama, tumis kangkung buatannya sudah matang. Rona menuangkannya dengan hati-hati dalam mangkuk sayur.

"Makan yuk! Laper nih," seru Rona sambil membawakan piring dan sendok untuk Amara.

Amara mengambil sedikit nasi dan sayur. Bagaimana pun, perutnya juga lapar, dan dia tidak sampai hati menolak tawaran Rona yang sudah berpayah-payah memasak. Siang itu mereka makan dengan sayur kangkung dan kerupuk. Tak jauh beda dengan masakan bundanya di rumah. Amara dtergugu.

"Kamu belajar masak dari mana, Na?"

"Ibu yang mengajariku."

Lagi-lagi Amara tergugu. Mereka sama-sama anak tunggal. Dia yang setiap pulang sekolah selalu disambut Bunda dengan senyuman. Mau makan juga tinggal makan, karena Bunda selalu sudah menyiapkannya. Betapa selama ini dirinya hampir tak pernah membantu bundanya. Sungguh jauh berbeda dengan Rona. Gadis itu hampir setiap hari pulang tanpa disambut ibunya. Bahkan masih harus memasak untuk dirinya dan melakukan pekerjaan rumah yang lain.

"Kok melamun. Kamu kenapa, Amara?"

"Eh, oh ... enggak kok. Eh, kamu enggak bosan, Na? Setiap hari repot sendiri. Kok ibumu enggak berhenti kerja aja sih?"

"Amara ... Amara ..., ibu dan ayahku itu cuma buruh pabrik. Kalau ibu enggak bantu ayah kerja, gimana nanti aku bisa sekolah. Aku kan enggak ingin kalau besar nanti cuma jadi buruh pabrik seperti mereka ..."

"Tapi ... rumahmu cukup besar."

"Ini peninggalan almarhum kakekku. Beliau pernah berpesan agar aku selalu membantu orang tua dan menghormati mereka, bagaimana pun keadaannya. Begitu juga kata guru agama kita kan, Amara."

"Ah, kamu kayak ustadz-ustadzah aja."

"Amara, Amara, kita ini enggak mungkin ada kalau enggak ada mereka ...."

"Assalamu'alaikum, eh ada tamu to ini, siapa namanya?" tanya seorang perempuan setengah baya yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka. Seorang lelaki paruh baya mengikutinya.

"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah Ibu sama Bapak sudah pulang. Ini Amara, teman Rona," sambut Rona mencium tangan mereka. Dengan agak canggung, Amara mencoba tersenyum dan mengikuti Rona  mencium tangan mereka.

"Kayaknya lagi asyik banget nih," tutur ibunya Rona.

"Mungkin Amara pikir, seorang anak hanya punya hak dan kewajiban hanya milik orang tua," tutur Rona.

"Amara senang tidak kalau semua hal dicukupi orang tua?" tanya ibunya Rona.

"Tentu saja, Tante."

"Kalau suatu hari tiba-tiba Amara tidak mendapatkan sesuatu yang biasanya didapat? Misalnya, orang tua tiba-tiba sakit dan tidak bisa melakukan apa-apa yang biasa dilakukan?"

Amara tercenung, hal itu memang tudak pernah terpikirkan olehnya. Namun demikian, dia mencoba menjawab, "kalau begitu, gantian saya yang melayani orang tua."

"Menurut Amara, bisa enggak kita melakukan sesuatu yang enggak pernah kita lakukan."

Amara terdiam.

"Maka, membantu orang tua semasa mereka masih berdaya, masih sehat, itu adalah kewajiban dan kebutuhan. Kewajiban untuk belajar, karena suatu saat nanti kalian juga akan jadi orang tua. Juga kebutuhan untuk mendapatkan kasih sayang yang lebih banyak lagi."

"Amara lebih senang mana? Teman yang suka membantu atau teman yang enggak suka peduli?"

"Tentu saja dengan yang suka membantu, Tante."

"Nah, itu. Setiap orang tua pasti mengasihi dan menyayangi anaknya. Tapi, mereka pasti akan lebih sayang dan cinta, bila anak-anak mereka suka membantu dan patuh pada orang tua. Jadi ...."

Perkataan ibunya Rona membuka tabir yang menyelimuti hati Amara. Terbayang kembali saat-saat dia merajuk marah ketika Bunda atau Ayah tidak segera menuruti permintaannya. Tergambar kembali bagaimana dia selalu meninggalkan kamarnya dalam keadaan berantakan, namun ketika pulang semua sudah tertata rapi. Terlintas saat dia tak suka dengan masakan Bunda, dia selalu pergi main, namun Bunda selalu memasak untuknya. Peristiwa demi peristiwa mengetuk-ngetuk kesadaran Amara akan apa yang selama ini dia lakukan.

"Ehm, sudah sore. Amara pulang dulu ya, Tante, Om. Dadah Rona, makasih untuk semuanya ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam," balas mereka.

Amara bergegas mengayuh sepedanya untuk pulang. Dalam hati dia  berjanji, akan membuang sifat buruknya, belajar membantu orang tua dan menghargai jerih payahnya. Maafkan Amara, Bunda, jerit hatinya.

#Demak, 14092015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar