Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Senin, 28 September 2015

Kunci-kunci Kebajikan

KUNCI-KUNCI KEBAJIKAN
Oleh: Titien SDF

Kerajaan Pelangi dirundung duka. Raja Awan sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan, sementara itu permaisuri juga sudah mangkat tanpa meninggalkan seorang putra. Hanya ada Pangeran Angin, Pangeran Petir dan Putri Hujan, keponakan-keponakan baginda yang masih sangat belia. Baginda sungguh bingung, harus mewariskan tahta kepada siapa. Maka dipanggillah penasehatnya yang bijaksana bernama Resi Semesta ke kamarnya.

"Ada titah apakah sehingga Paduka memanggil hamba?" tanya Resi Semesta penuh hormat.

"Aku bingung mewariskan tahta, Resi. Siapa yang lebih pantas menurutmu? Pangeran Angin, Pangeran Petir atau Putri Hujan?" tanya sang Raja.

"Bagaimana bila kita adakan ujian untuk mereka bertiga, Paduka?" usul Resi Semesta.

"Ujian yang bagaimana menurutmu?"

"Bukankah tongkat pusaka kerajaan berada dalam menara? Bukankah tongkat tersebut hanya bisa diambil setelah melewati tiga pintu? Pintu merah, pintu kuning dan pintu biru? Bukankah pintu-pintu itu hanya bisa dibuka dengan kunci keberanian, kejujuran dan kesetiakawanan?" tanya sang Resi lagi.

"Kau benar, mereka harus mencari kunci-kunci itu dan memasangkannya di setiap pintu. Sekarang, tolong panggil mereka kemari."

Tak lama kemudian, mereka bertiga pun dihadirkan di hadapan Raja Awan.

"Keponakan-keponakanku sayang, usiaku mungkin tak lama lagi. Aku tak memiliki pengganti selain kalian. Tapi, hanya satu yang berhak menjadi raja, karenanya ada ujian yang harus kalian jalani. Hanya dia yang dapat membuka pintu-pintu masuk ruang pusaka. Dan hanya dia yang berhasil mengangkat tongkat pusaka Kerajaan Pelangi yang layak menjadi Raja," titah sang Raja.

"Bagaimana cara kami masuk ke sana, Paduka?" tanya Pangeran Petir penasaran.

"Kalian hanya perlu meletakkan tangan kalian di atas tempat khusus di setiap pintu. Hanya pemilik kunci-kunci itu yang bisa membukanya," jelas sang Resi.

"Baiklah, kami akan segera mengambilnya," kata Pangeran Petir lagi.

"Tunggu dulu, Pangeran. Ruang pusaka itu ada dalam menara yang terletak agak jauh di luar istana. Berhati-hatilah, sesuatu yang tak terduga bisa terjadi," kata Resi Semesta memperingatkan.

Pangeran Angin, Pangeran Petir dan Putri Hujan segera memacu kudanya untuk melaksanakan titah baginda. Pangeran Angin dan Pangeran Petir lebih dulu sampai di depan menara. Ternyata, menara itu dikelilingi danau buatan yang penuh dengan buaya. Serentak, mereka melemparkan tali-tali dengan pengait di ujungnya ke arah dinding menara. Dengan tali itu mereka berayun melewati danau.

Pangeran Petir lebih dulu sampai di pintu merah. Diletakkannya tangannya di atas relief tangan di samping pintu lalu pintu pun terbuka. Dia pun sampai pada kebun strawberi yang indah. Buah-buah strawberi itu terlihat sangat ranum dan menggoda. Pangeran Petir pun tak tahan untuk tidak memetik dan mencicipinya.

Sementara itu, Pangeran Angin terus memasuki pintu yang sudah terbuka. Tak dihiraukannya Pangeran Petir yang masih asyik memetik buah strawberi dan segera mencari pintu kedua yang berwarna kuning. Setelah didapatkannya, diletakkannya tangannya di atas relief tangan di samping pintu. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.

Putri Hujan baru saja sampai di depan danau penuh buaya, dia pun segera memainkan serulingnya yang selalu dibawanya. Ajaib, buaya-buaya itu segera berbaris rapi seperti dikomando. Sang Putri pun dengan sigap meloncat di atas kepala buaya-buaya itu menyeberangi danau. Dia pun bebas melenggang melewati pintu merah.  Dilihatnya Pangeran Petir asyik memetik buah stawberi dan memakannya.

"Apa yang kaulakukan, Pangeran? Buah-buah itu bukan milikmu, kau tak boleh mengambil tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Paduka memerintahkan kita mengambil tongkat pusaka?" tegurnya halus, tak urung mengagetkan sang Pangeran.

Pangeran Petir seperti baru terbangun dari  tidurnya. Mereka pun bergegas melewati pintu kedua yang sudah terbuka.

Sementara itu, Pangeran Angin sudah sampai di depan pintu biru. Berulang kali diletakkannya tangannya di atas relief namun pintu tetap tidak mau terbuka.

"Biar kucoba, Pangeran," kata Pangeran Petir yang sudah berada di belakangnya. Pangeran Angin pun membiarkan adiknya mencoba. Seperti kakaknya, Pangeran Petir meletakkan tangannya di atas relief, pintu tak juga terbuka. Berulang kali dia mencoba, hasilnya pun tetap sama.

Sekarang giliran Putri Hujan, dia pun meletakkan tangannya di atas relief dan pintu pun segera terbuka. Mereka kini berada tepat di depan tongkat pusaka yang menancap kuat di lantai ruang pusaka.

Putri Hujan mempersilahkan kedua kakaknya untuk mengambilnya. Namun, walau seluruh tenaga mereka kerahkan, tongkat tersebut tetap tak mau tercabut dari tempatnya.

Ajaib, ketika tangan sang Putri menyentuh tongkat pusaka tersebut, keluarlah cahaya warna-warni dari tangannya melingkupi tongkat tersebut. Tongkat pusaka itu pun dengan mudah terangkat oleh Putri Hujan.

"Paduka telah berhasil, Tuan Putri. Paduka telah mewarisi sifat-sifat keberanian, kejujuran dan kesetiakawanan. Sifat-sifat itu memang harus dimiliki oleh seorang raja, agar dia bisa bertindak adil dan bijaksana," kata sang Resi diikuti para punggawa istana. Ternyata diam-diam mereka mengikuti dan mengawasinya.

Putri Hujan pun segera dilantik menjadi Ratu, kedua kakaknya ikut membantunya menjalankan roda pemerintahan. Kerajaan Pelangi pun aman sejahtera.

#Demak, 22072015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar