Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Senin, 28 September 2015

Adek ... oh ... adek

ADEK...  OH...  ADEK...

"Assalamu'alaikum." Inna membuka pintu rumah sambil mengucap salam. Matanya terbelalak melihat pemandangan di ruang tamu. Meja dan kursi berantakan tak karuan. Di sudut ruang, mainannya berserakan, antara lego, puzzle, bola-bola, mainan masak-masakan, boneka, semua tumplek blek tidak pada tempatnya. Belum lagi crayon, spidol dan kertas-kertas gambarnya tergeletak begitu saja di lantai.

"Siapa sih yang berantakin punyaku?!" teriaknya.

Inna memunguti crayon dan spidolnya dengan kesal. Ditatanya dan dibawanya masuk ke dalam kamar. Ketika melewati kamar ibu, dilongokkannya kepala ke pintu yang setengah terbuka.

"Adek mainan crayon sama spidolku ya, Bu? Kok dibolehin sih?" tanyanya kesal.

"Ibu lagi pergi, Mbak Inna. Bulek ndak tau kalau itu punya Mbak Inna. Maafin Bulek ya," jawab sebuah suara dari dalam kamar.

Inna melangkah masuk ke dalam kamar Ibu. Ternyata di dalam Bulek sedang menidurkan adek. Tangannya memberi isyarat dengan telunjuk di depan mulut, mengisyaratkan agar Inna mengecilkan suaranya.

Inna berputar ke kamarnya, berganti pakaian dan bergegas kembali ke ruang tamu untuk membereskan mainan dan barang-barangnya. Tak lama kemudian Bulek datang membantunya.

"Adek sudah tidur, Bulek?"

"Sudah. Mbak Inna sudah makan?"

"Ibu sudah masak? Ibu ke mana sih, Bulek?"

"Ibu tadi harus menghadiri rapat di pondoknya Mbak Ita. Jadi, Bulek yang dimintai tolong buat masak sama jagain Adek. Sudah, Mbak Inna makan aja dulu, biar Bulek yang melanjutkan beres-beres. Bulek masak sayur asem sama ayam goreng loh."

Inna meletakkan mainannya dan bergegas ke dapur. Dibukanya tudung saji di atas meja. Diciduknya masakan kesukaannya dan dimakannya dengan lahap. Alhamdulillah.

Selesai makan, dibantunya Bulek yang belum selesai beres-beres. Ibu memang membiasakannya untuk menata barang-barang sesuai jenisnya. Semua lego di tempat lego, puzzle di tempat puzzle, bola-bola di keranjang sendiri, mainan masak-masakan di keranjang sendiri, begitu juga mobil-mobilan, robot-robotan dan boneka. Untuk crayon dan alat tulis lainnya diletakkan dalam lemari khusus alat-alat tulis. Ibu memang membiasakannya rapi, "biar kalau membutuhkan kita bisa langsung ambil, ndak nyari-nyari lagi," katanya.

"Bulek, lain kali kalau Adek mainan, suruh beresin lagi. Jangan bolehin mainin semuanya sekaligus. Kalau begini kan ... jadi lama beresinnya," keluh Inna.

Tak berapa lama kemudian ....

"Assalamu'alaikum, Ibu pulang!"

"Assalamu'alaikum, Ayah pulang!"

"Wa'alaikumussalam!" jawab Inna dan Bulek bersamaan. Inna segera membuka pintu dengan gembira, menyambut Ibu dengan pelukan.

"Ibu lama sekali. Mbak Ita mana? ndak ikut pulang? oleh-olehnya mana?"  tanyanya bertubi-tubi.

"Mbak Ita kan ndak libur, jadi ya ... ndak ikut pulang. Adek mana?" jawab Ibu balas bertanya.

"Adek tidur, tadi habis berantakan semua-semua," jawab Inna bersungut-sungut, sepertinya tanduknya sudah ingin keluar.

Ibu memeluk Inna dan mengusap kepalanya lembut.

"Sepertinya anak Ibu lagi kesal, ada apa Mbak Inna?" tanyanya, "ayo cerita sama Ibu."

"Tadi, pulang sekolah, Inna lihat semua mainan tumplek jadi satu, berserakan di mana-mana. Meja kursi juga berantakan. Sudah gitu, crayon, spidol sama kertas gambar Inna juga tergeletak di mana-mana. Pokoknya kayak kapal pecah deh," cerita Inna panjang lebar.

"Sekarang sudah rapi gitu kok," sela Ibu.

"Iya, Inna yang rapikan, Inna kan capek ...," keluhnya.

"Bulek juga mbantu lho ya ...," timpal Bulek, "eh, karena Ibu sudah pulang, Bulek juga pulang dulu ya," pamit Bulek. Ibu tersenyum mengiyakan, dibawakannya juga sekotak sale pisang untuk oleh-oleh Bulek di rumah, "makasih ya, Lek."

Inna masih saja terlihat merajuk walau Ibu meletakkan sale pisang di hadapannya.

"Ayo, dimakan sale pisangnya. Mumpung Adek lagi tidur, ntar Adek disisain aja," kata Ibu. Dicomotnya sesisir sale pisang dan disuapkan ke mulut Inna yang sedang manyun.

Sambil mengunyah sale pisangnya, Inna melanjutkan gerutuannya, "Ibu terlalu memanjakan Adek sih. Jadi kebanyakan mainan tuh."

"Inna, Ibu bukan memanjakan Adek. Ibu hanya memberi sarana buat dia belajar dan memanfaatkan waktunya."

"Memanfaatkan waktu kok mainan sih, Bu. Memanfaatkan waktu ya belajar, bukan mainan," protes Inna semakin gusar, "dasar bontot."

"Inna, Adek kan baru tiga tahun. Belajarnya sambil bermain. Beda sama kamu yang sudah kelas 4SD. Dulu kamu juga begitu, waktu masih seumurannya."

Inna mencomot sale pisang lagi, "tapi  crayon sama alat tulisku jangan dibuat mainan juga dong, jadi patah-patah dan ndak karuan kan," rajuknya lagi.

"Ya sudah, itu buat Adek saja, nanti kamu Ibu belikan lagi yang baru, bagaimana?"

"Nah, kalau begitu baru sip. Ibu memang baiiik hati," sahut Inna sambil memeluk Ibu, biasa ... kalau ada maunya

"Tapi disimpan sendiri yang rapi ya. Jangan ditaruh sembarangan, ntar dibuat mainan sama Adek lagi," sergah Ibu menjentik hidung Inna.
###

Sore ini Ibu pergi lagi, katanya ada acara dengan teman-teman sekantor Ayah, pulangnya sekalian membelikan crayon, spidol dan alat-alat tulis baru untuk Inna. Inna ditugasi menjaga Adek karena libur sekolah.

Menjaga Adek ternyata cukup melelahkan. Semua jenis mainan mesti dimainkan semua. Dan Adek ternyata juga tidak mau disuruh meletakkan mainan yang sudah selesai dipakai ke tempatnya semula. Jadilah, ketika Inna membereskan yang satu bagian, Adek mengeluarkan bagian yang lain. Inna benar-benar kesal, tapi dia berusaha sabar dan membayangkan perlengkapan alat tulis baru yang akan dibawa Ibu nanti. Karena lelah sekali, Inna pun ketiduran.

"Oh, sudah sore sekali. Sebentar lagi Ibu dan Ayah pulang. Adek di mana ya ...," gumam Inna saat terbangun. Kakinya melangkah mencari Adek. Di kamar, di dapur, di kamar mandi, di ruang tamu, Adek tidak ada. Inna melangkah keluar rumah, berharap Adek main di halaman, ternyata tidak ada.

"Kalian lihat Adek?" tanyanya pada anak-anak tetangga.

"Tadi Adek ngejar-ngejar Mas'ud," kata Fifi, "ke arah sana!"

Inna berlari ke arah yang ditunjukkan Fifi, namun sampai di ujung gang pun dia tak melihat mereka berdua. Tepat ketika saat berbalik, dilihatnya Mas'ud naik sepeda sendirian.

"Adek mana, Ud!" teriaknya.

"Tadi ngikutin aku, ke sana ... ke sana ... terus belok sana ... tahu-tahu sudah ndak ada," jawab Mas'ud.

"La tadi kan sama kamu, ayo dicari. Tadi sepedaannya kemana!" teriak Inna panik. Mereka pun mulai mencari Adek ke mana-mana. Fifi dan teman-temannya juga ikut mencari.

Adzan maghrib sudah terdengar, Adek belum juga ditemukan. Ayah dan Ibu pun pulang.

"Ibu ... Ayah ... Adek ilang ... hiks ... hiks ... hiks ...," kata Inna sambil menangis tersedu-sedu, "sudah dicari ke mana-mana ndak ada ... Inna takut kalau Adek diculik ... hiks ... hiks ...."

"Sudah, Inna sholat maghrib dulu, biar Ibu yang cari. Barangkali ke rumah tetangga."

"Di rumah tetangga ndak ada ... hiks ... hiks ...."

Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Ibu dan Ayah segera keluar. Terlihat Adek turun dari motor dengan gembira, kedua tangannya memegang es krim sambil tertawa-tawa.

"Oh, Adek ikut Bulek to?" tanya Ibu.

"Iya, tadi Bulek lihat Adek sendirian di jalan raya. Karena Bulek terburu-buru mau nganter Mbak Lala ke terminal, Adek Bulek ajak juga, baru dianter pulang sekarang. Maaf ya, Bu."

"Alhamdulillah, Adek pulang dengan selamat, makasih ya Bulek," jawab Ibu.

"Gimana ceritanya, Adek bisa sampai di jalan raya?" tanya Ibu, sesaat setelah Bulek pulang.

"Iya, Inna yang salah, Inna ketiduran saat jagain Adek. Maafin Inna ya, Bu," kata Inna merasa bersalah.

"Mbak mau es klim?" celoteh Adek sambil menyodorkan es krim ke mulut Inna.

"Adek! Kamu bener-bener nyebelin Mbak deh! Tapi ... bagaimanapun ... Mbak sayang kamu ... Mbak takut kehilangan kamu." Inna memeluk Adek dan menciuminya dengan gemas. Ibu menghela nafas lega. Yang dipeluk hanya terbengong-bengong sambil makan es krim. Adek ... oh ... Adek ....

#Demak, 12082015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar