Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 30 Januari 2015

elis di negri ajaib

Elis di Negri Ajaib
Oleh: Titien SDF

Siang terasa panas membakar, menerbitkan haus dan rasa lapar di perut Elis. Anak perempuan usia sepuluh tahun itu bergegas mengayuh sepedanya lebih cepat. Sesekali diusapnya keringat yang menetes di wajahnya, bocah bermata bulat itu lekat memandang ke depan, ke arah rumahnya yang sudah mulai terlihat. Tak berapa lama kemudian, dia pun tiba di rumah. Rumah mungil bercat hijau dan kuning, di halaman terdapat sebuah pohon mangga yang cukup rimbun dan lebat buahnya. Di sudut-sudut halaman berjajar buna mawar dan melati. Sungguh sebuah rumah mungil yang cukup asri.

Elis menyandarkan sepedanya di teras. Masuk ke dalam, meletakkan tas sekolah dan mengganti baju seragamnya. Musik di dalam perutnya semakin keras terdengar olehnya.

"Bu, Ibu..., masak apa hari ini? Elis sudah lapar nih."

Elis menengok ke setiap kamar mencari ibunya. Ternyata ibu sedang menidurkan Sisi, adik bungsunya yang berusia tiga tahun.

Elis bergegas membuka meja makan. Dilihatnya sepiring tempe dan tahu goreng, semangkuk sayur bayam, semangkuk nasi dan dua butir telur tersaji di sana.

"Huh, tempe tahu lagi, bayam lagi... bosan...," gumamnya.

"Elis, kalau sudah selesai makan nanti, tolong cari adikmu. Tadi pamitnya mau beli jajan sebentar tapi kok tak pulang pulang," kata Ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Elis. Rupanya Sisi sudah tidur.

"Elis malas makan Bu. Mau ambil mangga saja," jawabnya bersungut-sungut.

Ibu hanya mengelus dada. Toko Ayah sedang sepi, jadi Ibu harus menyiasati begitu rupa agar akhir bulan mereka tak terlalu kebingungan dengan urusan perut.

Elis melangkah keluar, dipanjatnya pohon mangga dan mengambil beberapa yang sudah masak. Dengan pisau yang dibawanya dari dapur, Elis mulai mengupas dan memotong mangga. Potongan daging buah mangga yang manis itu dimasukkan satu demi satu ke mulut sambil duduk di bawah pohon. Sepoi angin membawa kantuk mengatupkan kedua kelopak matanya.

Tiba-tiba Elis melihat seekor kelinci memakai pakaian layaknya manusia. Dilihatnya dia berlari menuju sebuah lubang besar. Rasa ingin tahu membuat Elis mengikutinya. Elis melongokkan kepala ke dalam lubang di mana kelinci tadi menghilang. Elis mulai memasukkan kakinya ke sana. Terasa badannya meluncur dalam sebuah terowongan yang amat panjang.

"Ini seperti main papan seluncur," gumamnya sambil tertawa.

Ujung terowongan berakhir pada sebuah padang rumput yang amat luas. Terlihat sebuah rumah kecil di sana, bentuknya benar-benar menyerupai tempat tinggalnya.

Elis melangkahkan kakinya, dilihatnya kelinci tadi sedang duduk di teras rumah. Terlihat jelas dia memakai kaus merah bertuliskan huruf B berwarna biru. Itu seperti yang sering dilihatnya di sebuah majalah anak-anak, pikir Elis.

"Hai!" sapa Elis.

"Hai juga! Bagaimana kau bisa sampai sini?" tanya kelinci itu.

"Wowww...kau bisa bicara ya. Aku mengikutimu tadi," jawab Elis.

"Panggil aku Bobo," kata si kelinci menunjuk ke dadanya sendiri.

"Aku Elis. Ehm, mau main ke rumahmu, bolehkah?" tanya Elis lagi.

"Tentu saja boleh, ayo masuk!" ajak Bobo.

Elis melangkah masuk ke dalam rumah. Ditebarkannya pandangan ke seluruh penjuru, penataan dalam rumah ini pun benar-benar menyerupai tempat tinggalnya. Elis tertegun. Di sebuah sudut ada kelinci tua sedang membaca koran.

"Itu Bapak, ayahku," kata Bobo memperkenalkan. Kelinci itu menurunkan sedikit korannya, melihat Elis, tersenyum lebar, kemudian melanjutkan membaca.

Seekor kelinci lain muncul membawa nampan berisi kue-kue dan meletakkannya di meja. Dia memakai rok panjang.

"Itu Emak, ibuku," lanjut Bobo lagi.

Emak mengulurkan tangannya menyalami Elis, kemudian kembali masuk ke dalam.

Seekor kelinci berkaus kuning berlari sambil membawa sesuatu. Satu lagi yang berkaus hijau mengejarnya. Kelihatannya mereka sedang berebut.

Emak kembali muncul dengan beberapa gelas minuman. Sepertinya menyegarkan, pikir Elis. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan saat Bobo menyodorinya segelas. Dituangkannya isi gelas di mulutnya hingga tak bersisa.

"Coreng, berbagilah dengan adikmu!" seru Emak kepada kelinci berkaus kuning. Oh, namanya Coreng, pikir Elis.

"Upik nakal Mak, dia mematah-matahkan krayonku," jawab Coreng sambil terus mempertahankan sesuatu. Kiranya itu adalah sekotak krayon miliknya.

"Upik! Sini!" panggil Bobo. Kelinci berkaus hijau berhenti mengejar Coreng dan bergegas menghampiri Bobo.

"Kakak punya sesuatu untukmu. Ini...," kata Bobo sambil mengeluarkan sekotak krayon dan sebuah buku dari dalam tas dan memberikannya kepada Upik," jangan berebut lagi dengan Kak Coreng ya...."

"Upik, minta maaf dulu sama Kak Coreng. Lain kali jangan merusak milik kakak ya. Itu tidak baik, sayang...," kata Emak menasehati.

Upik pun dengan malu-malu mendekati Coreng. Diulurkannya tangannya untuk meminta maaf. Coreng menyambutnya hangat dan menariknya dalam pelukan.

"Maafkan kakak juga ya," katanya," kakak sayang Upik."

Elis tergugu melihat itu, ada rasa malu yang menjalar di hatinya. Terbayang olehnya bagaimana dia marah saat Asep atau pun Sisi mengambil barang-barangnya tanpa ijin. Elis selalu langsung merebutnya sehingga barang itu menjadi rusak dan Elis selalu menyalahkan adik-adiknya.

Diingat-ingatnya siang tadi, Ibu menyuruh mencari Asep tetapi dirinya sama sekali tak melakukannya. Ah... tiba-tiba perutnya terasa lapar sekali. Elis mengelus perutnya yang sejak pulang sekolah tadi belum diisi.

"Sepertinya sudah waktunya makan nih. Yuk kita makan sama-sama, ayo... Nak Elis, makanlah bersama kami," kata Emak kepada semua. Emak sudah menyiapkan berbagai makanan di atas meja makan. Ada nasi, tempe dan tahu goreng, sayur bayam dan irisan buah mangga. Lagi-lagi seperti di rumah, pikir Elis.

Emak menyendokkan nasi, sayur dan tahu tempe di piring Elis. Sebenarnya Elis ingin menolak, tapi demi melihat ketulusan di wajah Emak dirinya jadi tidak tega melakukannya. Lagi pula musik di dalam perutnya semakin keras menghentak, dia malu kalau yang lain sampai mendengarnya.

"Ayo berdoa dulu!" kata Bapak memimpin yang lain untuk berdoa," ya Allah, berkahilah apa-apa yang Engkau limpahkan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka, aamiin."

"Aamiin...," semua mengaminkan doa Bapak.

Elis mencoba menikmati makanannya seperti yang lain. Ajaib, semua terasa lezat sekali di mulutnya. Dengan malu-malu Elis minta ijin untuk menambah makanannya. Perutnya terasa kenyang sekali sekarang.

"Maaf Mak. Kenapa masakan buatan Emak terasa lezat sekali? Tidak seperti masakan Ibu di rumah. Padahal kan masakannya sama," tanya Elis penasaran.

"Di rumah Elis sudah baca doa sebelum makan?" tanya Emak,"atau... makannya sambil marah?"

Elis menggeleng, kok Emak tahu sih kalau dia sering lupa baca doa.

"Lain kali, jangan pernah lupa berdoa. Keberkahan itu ada pada doa-doa kita, itu yang membuat kita bisa merasakan kelezatan," jelas Emak panjang lebar.

"Satu lagi, kalau kita makan sambil marah, rasa lezat yang ada pada makanan kita akan hilang, tertutup oleh pahitnya rasa marah," kata Emak lagi," kenapa Nak Elis makan sambil marah?"

"Elis kan juga ingin makan pakai lauk ayam, ikan atau daging. Kalau tahu, tempe, telur sama sayur terus kan bosaaan...," rajuk Elis.

"Hargailah jerih payah orang tua, mereka sudah susah payah bekerja. Semua untuk kalian, anak-anaknya. Bersyukurlah, masih banyak anak-anak yang tak seberuntung kalian. Nak Elis pernah lihat anak-anak berrumah kardus di pinggiran kali? Atau yang hidup dekat pembuangan sampah?"

"Pernah lihat mereka di TV, Mak. Memangnya mereka ada?" tanya Elis.

Emak tersenyum, kemudian berkata," mereka ada Nak Elis, bersyukurlah, engkau tidak hidup dalam keadaan seperti mereka."

"Bagaimana cara bersyukur, Mak?" tanya Elis lagi.

"Kita harus tolong menolong, sayang menyayangi, tidak suka bertengkar, tidak suka marah, mau berbagi...bla...bla...bla...," kata Bobo.

Emak tersenyum, mengelus kepala Bobo kemudian berkata," Bobo benar. Kalau kalian berbuat demikian tentu ayah dan ibu akan senang, ridho. Kalau sudah demikian Allah juga akan ridho kepada kita."

Elis menunduk, betapa selama ini dia hanya mementingkan perasaannya saja. Selalu menutup telinga setiap kali Ibu menasehati. Berantem dengan adiknya sudah biasa. Ah, Elis merasa bersalah. Tiba-tiba rindu memenuhi hatinya. Air matanya menetes, ingin rasanya berlari dan minta maaf kepada Ibu dan juga adik-adiknya.

"Hari sudah sore, baiknya Nak Elis pulang. Orang tua Nak Elis tentu cemas mencarimu," kata Emak," Bobo, antar Nak Elis pulang ya."

"Baik Mak. Ayo Elis...ikuti aku," kata Bobo.

Elis pun berjalan mengikuti Bobo, mereka berhenti di bawah pohon mangga. Angin bertiup kencang, Elis pun menutupi matanya dengan dua tangan agar tak kemasukkan debu.

"Mbak Elis! Bangun Mbak! Sudah sore... dicari Ibu."

Sebuah suara terdengar sangat dekat di telinga Elis, serasa ada yang mengguncang-guncang badannya. Elis pun membuka mata.

"Eh...Asep," katanya kaget campur senang. Ditariknya sang adik dalam pelukan dan berbisik," maafkan kakak ya."

Asep mengangguk senang, mereka pun bergandengan masuk ke dalam rumah.

"Eh...kalian sudah pulang, ayo segera mandi gih," kata Ibu saat melihat mereka.

Elis mendekati Ibu, mencium tangannya dan berkata," maafkan Elis, Bu. Selama ini sering menyusahkan Ibu."

"Sudah Ibu maafkan sebelum Elis minta. Ibu sayang Elis, Asep dan Sisi. Ibu sayang kalian semua," kata Ibu lembut, dipeluknya Elis dan Asep dengan bahagia. Elis terharu dan berjanji dalam hatinya, mulai sekarang Elis akan jadi anak yang baik dan sholihah. Senyum pun mengembang di wajahnya. Ah, dunia kini terasa lebih berwarna.

###tamat###
#Demak, 31012015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar