"Persahabatan"
Ant adalah seekor semut hitam yang hidup dalam koloninya. Mereka selalu rukun dan tolong menolong. Mengumpulkan makanan bersama-sama dan membaginya dengan adil sesuai kebutuhan. Setiap hari semua anggota koloni berpencar untuk mencari makanan. Bila ada makanan yang tak bisa dipikulnya maka dia akan memanggil kawanannya agar bisa bersama-sama membawa makanan itu pulang ke sarang. Mereka memang selalu mengumpulkan persediaan makanan untuk berjaga-jaga bilamana musim kemarau tiba berkepanjangan.
Pagi itu Ant mencari makanan seperti biasanya. Matanya menangkap sepotong roti ukuran besar. Memikulnya sendiri tentulah sangat menyulitkan, maka ditandainya semua jalan yang dilalui dan dipanggilnya kawan-kawan untuk membantu.
Tidak perlu waktu lama bagi Ant untuk menunjukkan pada kawan-kawannya ke tempat si roti. Hanya saja, mereka mendapati seekor semut merah mendekati roti itu. Tak lama kemudian, dia pun pergi. Mungkin akan memanggil teman-temannya juga, tak boleh keduluan nih, pikir Ant.
Ant mengajak teman-temannya untuk segera berbagi tugas sesaat setelah semut merah pergi. Karena terlalu besar, mereka membagi roti tersebut menjadi dua bagian. Satu bagian mereka pindahkan di tempat yang lain, dua ekor yang lain bertugas menjaganya. Sedang bagian yang lain mereka angkat bersama-sama menuju sarang.
A dan N, bertugas dengan sangat baik. Dari tempat persembunyian, mereka dapat melihat semut merah datang bersama kelompoknya. Semut-semut yang bertampang seram itu seperti gusar mendapati tempat yang ditunjukkan teman mereka kosong, tak ada makanan.
"Kau berbohong!" kata mereka sengit.
"Tidak, demi Tuhan, tadi aku melihat sepotong roti besar di sini. Maka kupanggil kalian untuk membantu," kata semut merah membela diri.
"Mana buktinya! Di sini tak ada apa-apa. Kau membuang-buang waktu kami saja," jawab mereka gusar. Mereka pun segera pergi meninggalkan semut merah sendiri.
Semut merah penasaran dengan apa yang dilihatnya. Jelas-jelas tadi ada sepotong besar roti di sini, ke mana perginya? Dia tak percaya roti itu hilang begitu saja A dan N segera bersembunyi di balik roti yang mereka sembunyikan. Dengan cemas mereka mengamati apa yang dilakukan semut merah. Semut merah sangat gigih mencari, akhirnya dia pun menemukan roti itu.
"Itu dia! Mengapa menjadi lebih kecil? Mengapa bisa sampai di sini?" gumam semut merah.
"Tapi ini masih terlalu besar untuk kupikul sendirian. Baiknya kupanggil lagi teman-temanku. Kali ini mereka akan buktikan kalau aku tak bohong," gumamnya lagi. Dia pun bergegas pergi.
A dan N menunggu dengan harap-harap cemas. Bagaimana kalau teman-teman mereka tak segera kembali? Bagaimana kalau semut merah dan kelompoknya datang lebih dulu? A dan N berdoa, semoga itu tidak terjadi.
A dan N tak perlu menunggu terlalu lama, teman-teman mereka pun segera sampai. Ant meminta semuanya untuk segera membawa roti itu ke sarang mereka. A dan N menceritakan apa yang dilihatnya. Ant memutuskan untuk tinggal dan bermaksud untuk mencari makanan yang lain. Bangsa semut memang terkenal rajin dalam berusaha dan suka bekerja sama.
Ant sedang duduk melepas lelah di belakang batu besar. Semut merah dan teman-temannya pun sampailah ke tempat itu, namun mereka tak melihat Ant.
"Kau berbohong lagi! Kau memang pembohong!" kata semut merah besar, tampangnya seram sekali.
"Tidak, demi Tuhan, aku tak bohong. Tadi ada di sini, terlalu besar kalau kupikul sendirian," jawab semut merah ketakutan.
Semut-semut merah bertampang seram itu merangsek maju, mereka terlihat marah.
"Kau sudah buang-buang waktu kami! Kau harus dihukum!" kata semut merah besar, yang lain membenarkan. Mereka pun mulai memukuli semut merah yang sudah ketakutan. Ant melihat itu semua dari tempat persembunyiannya, hatinya bergidik ngeri. Untung hal semacam itu tak pernah terjadi di koloninya, Ant benar-benar bersyukur memiliki teman-teman yang baik dan begitu dekat seperti sebuah keluarga.
Semut-semut merah seram itu meninggalkan teman mereka dalam kesakitan, kakinya patah dan sekujur badannya lebam-lebam. Ant sungguh merasa kasihan, didekatinya si semut merah yang sudah tak berdaya. Dia mencari selembar daun kecil dan membantu semut merah berbaring di atas daun kemudian menarik dengan sekuat tenaganya. Dia bermaksud membawa makhluk tak berdaya itu ke sarangnya dan merawatnya di sana. Teman-temannya pasti akan membantunya.
Dengan susah payah, akhirnya Ant sampai juga di sarang. Dipanggilnya teman-temannya untuk membantu mengangkat si semut merah ke dalam salah satu
bilik.
"Akan...kau...a...pa...kan...a...ku...?" tanya si semut merah.
"Jangan takut, aku Ant dan mereka teman-temanku, kami akan menolongmu," jawab Ant, di belakangnya A dan N mengangguk membenarkan.
"Oh...te...ri...ma...ka...sih..., pang...gil...a...ku...Mut...," kata semut merah terbata.
Ant dan teman-temannya merawat Mut dengan tulus. Beberapa hari kemudian Mut mulai membaik. Dia mulai bisa berjalan dan melakukan aktifitasnya sendiri. Meskipun Ant dan teman-temannya memperlakukan dengan sangat baik, namun Mut tetap merindukan keluarganya sendiri.
"Maaf Ant, bolehkah aku pulang?" tanyanya suatu hari.
"Mengapa Mut? Bukankah mereka jahat padamu?" Ant balik bertanya.
"Tidak Ant, mereka hanya menegakkan disiplin. Memang, aturan di koloni kami sangat keras. Semua pembohong harus dihukum agar tak berbohong lagi. Yang malas harus dilatih dengan keras supaya rajin. Itu bukan jahat Ant," jelas Mut.
"Tapi, bukankah waktu itu kau tak berbohong?" tanya Ant lagi.
"Tapi aku gagal membuktikan perkataanku, " jawab Mut," bagaimanapun, mereka adalah keluargaku. Yang membersamai hingga aku tumbuh dan menjadi besar."
Mut sudah membulatkan tekad untuk pulang, Ant pun tak bisa menahannya lebih lama. Mereka berpisah dengan janji akan tetap menjadi sahabat dan saling mengunjungi.
#Demak, 30012015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar