.. SEPUTIH HATI IBU
Hari menjelang siang, anak-anak sekolah dan pekerjaanku sudah selesai. Entah mengapa tiba-tiba aku kangen Ibu. Kupacu motorku ke rumah Ibu yang tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya satu jam perjalanan.
Kuparkir motor di halaman, sepasang bunga kamboja menyambutku ramah, bersamanya ada mawar, ephorbia, cempaka dan beberapa gelombang cinta. Semuanya tersusun rapi seolah sekelompok gadis yang berderet-deret siap menerima tamu. Ah, tangan ibuku memang piawai menata taman di halaman rumahnya.
"Assalamu'alaikum," teriakku sambil melangkah masuk rumah. Di ruang tamu tak ada seorang pun, hanya lukisan pemandangan di dinding yang tersenyum memyambutku ramah.
"Wa'alaikum salam, sendiri to Tien? Anakmu ndak ada yang ikut?" Terdengar suara Ibu dari arah kamar. Sekejap kemudian beliau keluar, kucium tangan dan kedua pipinya. Beliau memelukku erat.
"Bagaimana kabar rumah, Nduk? Ibu kangen," tanyanya sambil mengelus kepalaku. Ibu menatapku seolah lama tak pernah bertemu. Maklum, Ibu tidak bersedia ikut dengan salah satu anaknya, " ndak ono sing meri ( nanti ada yang iri)," katanya. Jadilah Ibu tinggal sendirian. Kakakku di Ungaran sama dua orang adikku (tidak serumah), satu adikku di Solo, satu lagi di Kendal dan aku sendiri di Demak. Namun demikian, minimal sebulan sekali kusempatkan sowan Ibu. Kalau Abi sedang luang, biasanya kami ke rumah Ibu bersama anak-anak, namun kalau Abi lagi sibuk tetap kusempatkan ke sana walaupun sendiri, seperti sekarang.
"Ibu heran, Tien. Akhir-akhir ini uang koperasi yang Ibu bawa sering hilang. Kalau Ibu hitung, setiap hari hilang Rp 100.000, ini sudah hari kelima. Mau cerita ke Joko, Ibu ndak enak. Takut kalau dia merasa dituduh, kan setiap hari dia ke sini, jagain bengkelnya Bapak (almarhum). Masak iya sih, ada tuyul di rumah ini," akhirnya Ibu cerita juga.
"Coba deh, kalau Ibu tindak (pergi), usahakan sepuluh menit kemudian pulang lagi. Kalau memang ada yang mencuri, Ibu pasti akan memergoki. Lemari Ibu kuncinya ndak pernah dilepas kan," usulku. Memang, Ibu tinggal sendirian, tapi adikku Joko dan beberapa karyawannya setiap pagi sampai sore pasti datang di bengkel Bapak yang menyatu dengan rumah Ibu. Begitu juga Mbok Nah, buruh cuci yang membantu Ibu. Kadang-kadang Mbok Nah juga menemani Ibu kalau malam.
Keesokan harinya, Ibu mempraktekkan apa yang kuusulkan. Beliau begitu terkejut ketika mendapati Mbok Nah sedang mengambil uang di lemarinya. Hebatnya, Ibu tidak marah. Beliau bertanya pada Mbok Nah tentang masalah keuangannya dan dengan ikhlas membantu menyelesaikannya. Akhirnya, Mbok Nah minta berhenti karena malu, selama ini sudah menyusahkan Ibu namun selalu dimaafkan dan dibantu.
Tidak sekali ini saja Ibu berkorban. Aku sangat tahu bahwa Ibu ingin Umroh dan berhaji maka kami pun menyisihkan sedikit rejeki untuk itu. Setiap kali tabungan sudah mencukupi selalu saja di antara anak-anaknya yang membutuhkan, dan beliau selalu ikhlas menunda keinginannya demi menolong anak-anaknya. Sampai tahun ini, Ibu sudah menunda tiga kali keberangkatan Umroh, dua tahun lagi adalah jadwal keberangkatan Haji beliau yang sudah kami daftarkan di Depag.
Ibu memang bukan pendakwah, namun ia mengajariku nilai kehidupan yang diridhoi Allah. Satu pesannya yang selalu kuingat, "jagalah Allah, jadilah pemaaf dan jangan berhenti berdoa padaNya." Ibu, engkaulah surgaku, ajari aku miliki hati sepertimu.
#Demak, 25 Desember 2014.
Cermin ini kupersembahkan untuk Ibunda tercintaku, Endang Djuwitaningsih, semoga Allah berikan umur yang penuh keberkahan, dimudahkan dan disegerakan menemuiNya di Baitullah dan diberikan husnul khotimah. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar