.
Cermin Retak
Penulis:Titien SDF
"Mah, taklihatin statusnya Pakd
e Putra," kata Musa tiba-tiba. Tina yang sedang membaca koran mendongak seketika. Dihampirinya Musa yang sedang asyik di depan laptop. Di layar terlihat jelas akun facebook dengan nama 'Pangeran Sambernyowo' dengan gambar seorang laki-laki muda tampan melipat tangan di depan dada. Jelas sekali itu bukan gambar kakaknya.
"Lihat, Mah. Statusnya berpacaran sama Aisyah. Aisyah itu temanku, Mah. Dia anak SMA kelas 3 di Semarang, ini taklihatkan fbnya.
"Ah, masak sih. Di situ kan tidak ada foto-foto Pakde," jawab Tina tak percaya.
"Fbnya Pakde gak cuma ini Mah. Ada lima, pertemanan sama aku semua. Nih taklihatkan kalau Mamah gak percaya." Musa memperlihatkan beberapa akun fb dengan nama 'Denmas Sastro, George Michael, Peniup Seruling dan Lukisan Malam'. Semua dengan gambar orang lain, dan semua berstatus berpacaran dengan anak-anak SMA.
"Di situ juga gak ada foto-foto Pakde, jangan ngaco ah," kata Tina, tetap tak percaya.
"Ya udah, Mamah gak percayaan, kasihan Bude Mah, Pakde main gila." Setengah putus asa, Musa mematikan laptopnya, dan berpamitan mau main futsal dengan teman-temannya. Tina hanya tersenyum mengiyakan.
"Kriiiinnng....kriiiinnng!"
"Assalamu'alaikum," jawab Tina.
"Wa'alaikum salam. Dek Tina ya, Mas Putra di situkah?" Rupanya itu suara
Mbak Omi, istri Mas Putra, ada apa gerangan ya, pikirnya.
"Gak ada ki Mbak, memangnya ada apa?" tanya Tina.
"Beberapa waktu yang lalu, hapenya kubuka saat dia tidur. Isinya buat kumenangis. Sms-an dengan anak-anak SMA, isinya menjurus-menjurus gitu. Waktu kutanyakan, dia malah marah dan pergi dari rumah," kata Mbak Omi sambil terisak. Oalah, jangan-jangan yang disampaikan Musa benar.
"Memangnya Mas Putra sms-an sama siapa sih, Mbak?"
"Banyak kok, Dik. Ada Aisyah, Cacha, Meli, Santi sama Novi."
"Masak iya sih, Mas Putra pacaran dengan banyak gadis remaja. Gak level kan kalau pria 40 tahun pacaran dengan gadis belasan tahun. Apa mereka lihat sambil merem?" sergah Tina masih tak percaya.
"Kata Bagus, mereka kenal lewat fb," kata Mbak Omi.
"Jadi, Bagus tahu kalau ayahnya begitu?" tanya Tina.
"Iya, Bagus pernah bilang dulu, katanya Musa juga tahu, tapi aku gak percaya." Tina terhenyak, jadi Musa benar. Kalau begitu, penyakit lamanya kambuh. Dia tahu betul Mas Putranya itu memang playboy waktu muda. Tapi, saat menikah dengan Mbak Omi, dia jadi bapak dan suami yang baik, setidaknya menurut pemikirannys. Siapa sangka penyakitnya itu bisa kembali setelah sekian lama. Bagus sudah tujuh belas tahun, seumuran Musa dan dua adiknya Aji dan Nana, masing-masing usia dua belas dan delapan tahun. Ini mesti gara-gara facebook, pikirnya.
"Ya sudah, Dik. Kalau Mas Putra mampir situ, suruh pulang ya, Nana sakit," kata Mbak Omi menutup pembicaraan.
"Beep...beep...beep." Ada sms masuk, dari nomor yang tak ada dalam kontak, siapa ya," pikir Tina.
"Dik, tolong mintakan restu Ibu, Mas mau nikah. Ttd: Mas Putra." Ternyata dari Mas Putra, dicobanya menelponnya, tidak ada yang mengangkat. Dicobanya lagi beberapa kali, masih tak ada jawaban. Ditulisnya sms balasan.
"Kenapa Mas? Nana sakit, Mbak Omi mencarimu ke mana-mana, kok Mas malah mau nikah lagi?"
"Mas terpaksa, keluarganya mengancam kalau Mas gak menikahi Aisy, dia sudah telat dua bulan, Mas khilaf," bunyi sms balasan.
"Sudah berapa lama Mas, kamu menjalin hubungan dengannya?"
"Dua tahun, tapi baru ketemu lima kali," balasnya lagi.
"Baru ketemu lima kali, dan sekarang sudah hamil dua bulan? Bagaimana bisa?"
"Jangan menghakimiku, mintakan restu saja pada Ibu, aku malu mengatakannya sendiri," balasnya lagi. Dasar keras kepala, Tina benar-benar bingung menghadapi kakaknya.
Ibu marah besar ketika mendengar kabarnya, maklum Ibu pemuja kesetiaan dan beliau down saat tahu anak kesayangannya ternyata pengkhianat kesetiaan.
"Aku tak mau dia datang ke sini dengan istri barunya. Bagiku menantuku hanya Omi, cucuku hanya Bagus, Aji dan Nana," katanya sambil berurai air mata.
"Anak-anakku cucu Ibu juga kan, suamiku masih menantu Ibu juga kan?" kata Tina agak cemas, jangan-jangan dia harus ikut menanggung kesalahan Mas Putra.
"Tentu saja," jawab Ibu. Huft lega rasanya.
Tina tak habis pikir, apa yang ada di kepala Mas Putra. Punya banyak akun facebook dengan nama yang berbeda satu sama lain, identitas palsu dan status yang mengundang kontroversi hati. Apa enaknya hidup dikejar-kejar masalah. Keluarga berantakan, ortu marah, saudara juga tak ada yang mau membela. Seperti cermin retak.
"Sa, Mamah gak mau kamu ikut-ikutan Pakde, merugikan banyak orang tahu. Dan, suatu saat nanti itu pasti mengundang banyak masalah buat dirimu sendiri. Seperti pakdemu," nasehat Tina pada Musa.
"Tentu dong Mah, kalau Musa mau nakal, Musa gak akan ceritakan keburukan Pakde sama Mamah, karena Musa pengen Mamah nasehatin Pakde. Kan gak pantes kalau Musa yang nasehatin," jawab Musa.
Tina bersyukur, hatinya tak putus berdo'a," robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota 'ayunin waj'alna lil muttaqiina imaama, aamiin."
#tamat#
Demak, 01012015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar