Ayah adalah profesi yang disandangkan langsung oleh Sang Pemilik Kehidupan. Melekat karena beban dan tanggungjawab yang tak boleh terabaikan.
Ayah bukanlah sekedar panggilan dari seorang anak yang lahir dari rahim seorang perempuan, di mana benihnya dititipkan. Hakikatnya ayah adalah petani yang menyemai benih di ladang pilihan, dia pula yang harus menyiraminya, memupuknya, menyianginya, menjaganya siang dan malam, dengan penuh cinta dan pengharapan. Lelah tak boleh melengahkan. Hama tak boleh sampai mendekat membinasakan. Biji yang meranum tak boleh melalaikan. Perhatian haruslah selalu dicurahkan.
Ayah haruslah sebaik-baik penjaga. Membangunkan iman membentengi dari azab neraka. Bukan dengan pandangan marah, bentakan keras, tendangan dan kepalan tangannya. Namun dengan sorot hangat penuh cinta, lisan tegas dan bersahaja, serta usapan lembut di kepala. Maka sang permata pun merasa nyaman berlindung dalam rengkuhannya.
Terkadang, kita sulit memahaminya. Namun perannya tak lebih ringan dari ibunda. Air matanya tak pernah tertumpah di depan mata, selalu disimpannya untuk malam gelap gulita, menyertai doa-doa untuk keluarganya tercinta.
Dia memang terlihat tegar dan gagah tak tergoyahkan. Bahu dan pundaknya pun begitu kuat menanggung beban. Petuah nasehatnya janganlah diabaikan, jangan pula dirinya kau banding-bandingkan. Dia kan terluka, harga dirinya jatuh berserakan.
Ayah adalah imam keluarga. Kehati-hatiannya mengantarkan taqwa ke jalan menuju surga. Kecerobohannya menggelincirkan bahtera terjatuh ke dalam jurang neraka. Maka ingatkanlah dia, dengan tutur kata bijaksana, tanpa menggurui dan tetap memuliakannya.
Karena murka Allah melingkupi kemarahannya, dan ridho Allah menyertai ridhonya.
Rasul saw bersabda, "muliakanlah ibumu... ibumu... ibumu... lalu ayahmu."
#Demak,09032015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar