"Siapa jatah kultum nih?" celetuk Umi sambil mesam-mesem. Bukan gak tahu sih, cuma pengen ngetes kesiapan si Bungsu aja. Abi yang duduk di sebelah Umi ikut mesam-mesem, begitu juga yang lain.
"Aku, Mi!" seru si Bungsu mengacungkan jari, "udah tahu kok. Ma'tsurotan dulu kan?"
Alhamdulillah, awal yang baik. Yang penting pede dulu, siap dulu. Perihal yang mau disampaikan apa, itu gak masalah, apapun boleh.
"Iya, hayukkk!" sahut Umi sambil sesekali memberi isyarat kepada yang lain untuk melingkar.
"A'udzubillahi sami'il 'aliimi minnasysyaithonirrojiim. Bismillahir rohmaanir rohiim.... "
Alhamdulillah semua melantunkannya dengan sungguh-sungguh sampai akhir. Tibalah waktu kultum yang kami nanti-nantikan. Iyalah, semua sibuk menduga-duga apa yang akan disampaikan si Bungsu dalam kultumnya. Kalau melihat bahasa tubuhnya sih, ia terlihat siap aja dan gak terdengar keluhan belum siap memberi kultum.
Sejak adanya social distancing dua pekan lalu, otomatis pula menjadi momen 'back to home'. Sekolah dan pondok memberlakukan 'school at home - learn at home'. Begitu pula tempat abinya anak-anak bekerja memberlakukan 'work from home'. Ini jadi momen membahagiakan emak karena bisa kumpul bersama keluarga lebih lama. Korelasinya emak jadi tambah pekerjaan, cucian, kebutuhan masak, listrik, air, kuota dan lain-lain ikut bertambah juga.
Kumpul keluarga dengan tujuh anak dalam waktu lama berarti harus menjadwal ulang kegiatan mereka agar efektif dan bermanfaat, bagi mereka, juga bagi abi-uminya. Jadilah, kemudian kami menambahkan jadwal setiap pagi sehabis jama'ah sholat subuh, membaca alma'tsurat bersama dan mendengarkan kultum. Pengisian kultum ini dijadwalkan bergantian dari abi, umi, kakak ke-dua, ke-tiga, dan seterusnya. Sementara kakak pertama yang sudah menikah dapat giliran setiap kali menginap di rumah kami. Semua dapat giliran tak terkecuali si Bungsu yang baru berusia sepuluh tahun.
"Yuk, Nang. Kultum!" daulat Abi sambil mengusap kepala si Bungsu.
"Isinya sama kayak kultumnya Embak, gak apa-apa yah?" anak itu menatap abi-uminya sambil cengar-cengir.
"Ya, gak apa-apa," sahut Umi sambil melipat sajadah.
"Salam dulu, dong, " celetuk Abi melihat si Bungsu yang masih cengar-cengir sambil memandangi kakak-kakaknya.
"Eh iya, assalamu'alaikum warrohmatullahi wa barokatuh. Saya akan menyampaikan hadits larangan marah. Laa taghdhob wa lakal jannah. Jangan marah bagimu surga. Dah, selesai. "
"Masak cuma gitu thok? Aku kemarin gak segitu aja loh, " protes kakak ke-enam yang dibenarkan oleh yang lainnya.
"Yo wis, itu maksudnya kita enggak boleh suka marah-marah. Nanti gak bisa masuk surga, gitu," tambah si Bungsu.
"Wah, kultum kok singkat amat. Belum ada tujuh menit loh, " celetuk kakak ke-tujuh sambil ketawa.
"Enggak mau nerusin, Embak sih... malah divideo ... Emoh! " protes si Bungsu. Dilemparkannya sajadah ke arah kakak ke-dua yang asyik video-in aksi adiknya. Yang lain tertawa-tawa geli melihat tingkah si Bungsu.
"Lah, kan kultumer. Entar takmasukin you tube, jadi you tuber deh, " goda kakak ke-dua yang dijawab dengan manyunnya bibir si Bungsu.
"Kenapa kita gak boleh marah?" tanya Umi mencoba mengalihkan perhatian si Bungsu dari kakak ke-duanya.
"Karena... karena marah itu... dari..., " sahut kakak ke-lima berusaha membantu adiknya, "dari...?"
"Dari malaikat...," jawab si Bungsu disambut ketawa yang lain.
"Kok dari malaikat sih? " celetuk kakak ke-empat.
"Eh... dari iblis! Salah ngomong og...."
"Iya, terus... terus.... "
"Udah ah, dibedoni terus og, pokoknya gitu. Wassalamu'alaikum warrohmatullahi wabarokatuh. Udah. Hehe, " tutup si Bungsu sambil tetap cengar-cengir.
'ala kulli hal alhamdulillah, pembelajaran memang harus dimulai dari kanak-kanak. Kelak mereka pun akan punya masa untuk memikul beban dakwah ini. Meski ini terbilang agak terlambat karena di Palestina sana anak-anak usia delapan atau sembilan tahun sudah piawai menyampaikan ilmu di hadapan banyak orang. Semoga ini jadi tangga kebaikan bagi anak-anak untuk menyiapkan mereka menjadi generasi tangguh yang tidak alay dan tidak mudah tumbang menghadapi kemajuan teknologi yang tentunya punya dampak negatif yang harus dihindari.
Robbana hablana min azwajina wa qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imama, aamiin
#Demak,01042020
#D1
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar