Aku baru saja menyelonjorkan kaki di atas sofa saat kudengar suara 'bruk' dari luar rumah. Sepertinya ada sesuatu yang jatuh, atau mungkin dijatuhkan?! Entahlah, biarkan saja, sekarang waktunya 'ngeluk boyok', rasanya penat sekali seharian ini.
"Umiiii!" Suara cempreng yang kurindukan sepertinya sudah datang. Tapi kenapa terdengar tak seperti biasanya ya? Hm, ada sesuatu nih.
"Assalamu'alaikum," sapaku sambil tetap pada posisi pe we. Bocah sepuluh tahun itu masuk sambil menekuk mulut (pengen takkuncir tuh mulut, asli).
"Kum salam," jawabnya ogah-ogahan. Alamat sesuatunya bikin dongkol dia amat sangat nih. Maka kutarik saja tangan kecilnya saat dia mengulurkan tangan untuk salim. Tubuh kecil itu kini terduduk di atas pangkuanku. Ups, udah lumayan berat juga dia.
"Ada apa dengan jagoannya Umi? Kok mukanya jelek banget?"
"Temen-temen bilang namaku gak keren. Kenapa sih Umi gak kasih nama Boy, Leon atau apalah yang kedengerannya keren. Kenapa harus Rijal?"
Ealah, ini anak. Dikasih nama bagus malah ngerasa malu. Yah, namanya juga masih sepuluh tahun, belum pernah jadi orang tua... eh. Kupeluk dia lebih erat, mencoba menenangkan hatinya yang sedang gundah.
"Boy itu artinya apa?" tanyaku lembut.
"Anak laki-laki, Mi."
"Rijal itu artinya juga laki-laki loh, tapi dari bahasa Arab. Sama kan artinya?"
"Rijal hampir sama dengan rijlun kan Mi? Rijlun kan kaki. Masak Rijal disamakan dengan kaki sih. Kenapa enggak kepala saja...?" sungutnya mulai tumbuh nih anak. Kuusap-usap kepalanya lembut sambil mencari kalimat yang pas dan mudah dimengerti anak seusia dia.
"Memang, Umi-Abi memilih nama Rijal itu terinspirasi ayat arrijalu qowamuna 'ala nisa. Artinya laki-laki itu pemimpin atas perempuan. Nah arrijalu itu sebenarnya bermakna jamak, berarti secara fitrah, semua laki-laki itu pemimpin, kedudukannya lebih tinggi dari perempuan."
"Pemimpin kan qowwam, Mi. Urutannya di atas. Masak disamakan dengan kaki sih. Kaki kan letaknya di bawah. Maksudnya gimana?"
Rijal membalikkan badannya, menatap penuh rasa ingin tahu.
"Setiap apa yang ditetapkan Allah, pasti ada hikmahnya, ada nilai kebaikannya. Menurut Rijal, untuk apa Allah memberi kita sepasang kaki?"
"Buat jalan, lari dan berdiri."
"Kalau mau duduk sama tiduran butuh bantuan kaki ndak?"
"Ya butuh lah, Mi."
Menurutmu, seberapa pentingnya kaki itu bagi kita?"
"Penting bangetlah. Tanpa kaki kita gak bisa kemana-mana. Kalau gak bisa kemana-mana gerak kita juga terbatas, itu... kayak orang yang lumpuh."
"Kalau kepala?"
"Kan kita lagi bahas kaki, Mi."
"Tadi katanya pemimpin itu urutannya di atas, kepala dong."
"Eh iya. Penting buanget nget nget lah. Gak ada kepala ya gak bisa hidup to, Mi."
"Lebih penting mana? Kepala sama kaki?"
Rijal garuk-garuk kepala, bingung. Kusodorkan air mineral di atas meja, dia meminumnya beberapa tegukan.
"Setiap organ yang ada di tubuh kita, itu sama pentingnya, punya fungsi dan kegunaan masing-masing yang tidak bisa digantikan organ yang lain. Kepala, mata, mulut, tangan, kaki. Juga jantung, paru-paru, ginjal dan yang lainnya. Terkadang, kita meremehkan bagian tubuh dari tubuh kita. Seperti kamu bilang tadi, kaki kan tempatnya di bawah, seolah-olah yang dibawah itu selalu remeh dan tidak berharga."
"Umi bahasannya susah."
Duh, rasanya pengen nelen botol deh. Tapi kasihan para pemulung kalau para emak konsumsi air minerak sebotol-botolnya, gak jadi deh. Gemas, kedua tangan ini refleks mengacak-acak rambutnya.
"Kita sederhanakan ya. Arrijalu qowamuna, laki-laki itu pemimpin. Kenapa disebut rijal? Kenapa bukan ro'is. Ro'is itu akar katanya ro'sun, kepala. Tanpa ditambahi kata qowwam sudah jelas kedudukannya di atas, pemimpin. Tapi dipakai kata arrijalu, rojulun, rijlun, punya makna sepadan dengan kaki, kaki letaknya di bawah. Tapi ditambahi kata qowwam. Artinya semua laki-laki, apapun jabatannya, dia adalah pemimpin di rumahnya. Yang namanya pemimpin harus dihormati dan ditaati, betul ndak?"
Bocah sepuluh tahun itu melepaskan pelukanku. Sekarang dia membaringkan tubuhnya, tengkurap di sofa di depanku, kedua telapak tangannya menopang dagu, kedua sikunya dijadikan tumpuan. Mata beningnya menatapku lekat-lekat.
"Seorang pemimpin tidak boleh hanya memikirkan dirinya saja, dia juga harus memikirkan orang yang dipimpinnya, tidak boleh meremehkan dan harus menghargainya juga. Ibaratnya, seorang laki-laki itu harus bisa berfungsi sebagai kepala sekaligus kaki bagi keluarganya. Kepala itu kan tugasnya berpikir. Jadi, dia harus memikirkan yang terbaik untuk keluarganya, bagaimana supaya bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan, buat makan, beli baju, beli rumah, sekolah, ngaji, dan seterusnya. Nah, kaki kan tugasnya menopang seluruh anggota badan. Gak mungkin kan, kaki jalan-jalan sendirian, anggota badannya yang lain ditinggal. Pasti kemana-mana kaki juga membawa seluruh anggota badan di atasnya. Jadi, dia harus menopang seluruh keluarganya, anak, istri, orang tua, bahkan mungkin juga saudara dan kerabat. Laki-laki harus bisa melakukan itu semua, harus kuat, maka dia layak disebut qowam, pemimpin."
"Berarti nama Rijal itu gak jelek kan, Mi?"
"Menurutmu?"
"Keren juga." Mata bocah itu terlihat berbinar sekarang, alhamdulillah.
"Ada satu lagi alasan Umi-Abi memberimu nama Rijal."
"Apa itu, Mi?"
"Apa yang terlihat di pasir pantai saat kita meninggalkannya?"
"Jejak kaki."
"Benar. Harapan Umi-Abi, di mana pun kamu menuju, melangkahlah dengan niat dan tujuan amal kebaikan. Dan dari mana pun kamu akan pergi, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak-jejak kebaikan."
"Iya, Mi."
"Nah, sekarang kamu sudah tahu arti namamu kan. Sebelum menjadi qowam yang sebenarnya, tentu kamu harus lebih dulu belajar menjadi laki-laki. Belajar menjadi shalih, belajar amanah, belajar bertanggungjawab dan belajar mengambil semua peluang kebaikan. Sanggup?"
"In syaa Allah, Mi. Aku sayang Umi-Abi. Aku janji... akan berusaha memenuhi harapan Umi-Abi."
Bocah itu bangun dan memelukku kini, ada gerimis yang seketika turun memenuhi hatiku. Maafkan bila ada kalimat Umi yang takkaupahami, sayang. Umi hanya ingin yang terbaik untukmu. Pun ketika memilihkan nama untukmu. Pelan-pelan bocah itupun melepaskan pelukannya.
"Maaf, Mi. Rijal mau nyenderin sepeda di halaman dulu ya. Tadi Rijal jatuhin begitu saja di depan." Katanya setengah berlari.
"Nah, itu baru namanya belajar bertanggungjawab. Sudah diberi amanah sepeda harus dijaga, biar bisa selalu bermanfaat. Ya, kan." Alhamdulillah ya Allah, atas segala hikmah yang Engkau berikan hari ini. Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yunin waj'alna lil muttaqiina imamman. Aamiin.
#Demak, 13032020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar