RINTIHAN HATI NUNING
Mendung bergayut di bumi Banjarnegara. Beberapa kilo dari Bukit Karangkobar, sebuah perkampungan mulai terlihat ramai. Bencana longsor di akhir tahun lalu masih menyisakan duka. Warga mulai mengelola lahan bekas longsoran yang sudah memadat. Mereka mencangkuli dan menanaminya dengan sayur-sayuran dan palawija.
Nuning termangu memandang Bukit Karangkobar. Juga kawasan Hutan Tlogolele di sekitarnya. Ingatannya menerawang jauh ke masa-masa lalu, saat suami dan ketiga anaknya masih bersamanya.
"Mak, Isah mau belajar puasa," kata anak ketiganya usai Sholat Idhul Adha tahun lalu.
"Pinter," sahut suaminya sambil menjentik ujung hidung Isah, "Isah kan sudah kelas satu SD."
"Nanti belajar puasa dhuhur dulu," sahut Mila, kakaknya.
"Iya, seminggu puasa dhuhur, lalu belajar puasa sampai ashar seminggu juga. Habis itu latihan puasa sampai maghrib," sahut sulungnya, Sofiyah.
"Pinter semua, ramadhan tahun depan Isah bisa mulai belajar puasa. Emak sama Bapak seneng sekali," sahut Nuning pula. Senyumnya mengembang melihat kepolosan tiga orang putrinya.
Alhamdulillah, ya Allah, Kau karuniakan kami putri-putri penyejuk hati. Semoga Kaugenapkan kami dengan putra keempat yang sholih dan menyholihkan, pinta Nuning dalam hati. Diusapnya perutnya yang membuncit, usia kandungannya sudah masuk bulan ke enam kini.
Nuning menyeka bulir-bulir air mata yang tak bisa ditahannya. Dua minggu lagi ramadhan, bulan yang sangat diimpikannya dahulu. Menyiapkan sahur dan berbuka untuk suami dan anak-anaknya. Menemani mereka tarawih di masjid, tadarus bersama, atau sekedar menghias rumah seperti yang biasa dilakukannya saat ramadhan. Tapi semua hanya impian yang harus dia lupakan. Impian yang tak mungkin dia kejar.
Hujan tak begitu deras waktu itu. Suaminya masih menyempatkan mencari kayu bakar di kawasan Hutan Tlogolele. Mereka memang masih memanfaatkan ranting-ranting kayu kering yang banyak terdapat di hutan. Untuk persediaan bilamana gas sulit didapat. Nuning sama sekali tak punya firasat buruk. Dia pun mengiyakan saja saat ketiga putrinya merengek ingin ikut sang ayah.
"Tak apa-apa, Mak. Ini cuma gerimis. Biar mereka belajar membantu mencari kayu bakar," sahut Kang Asep, suaminya, "kalau bareng-bareng, pasti cepat selesai."
Mereka belum dua jam meninggalkan rumah, saat Nuning mendengar suara gemuruh dari arah Bukit Karangkobar. Nuning bergegas lari keluar rumah. Senyumnya mengembang saat melihat suami dan ketiga putrinya sudah mulai terlihat dari teras rumah.
"Lekas pulang, Kang! Anak-anak! Sepertinya akan ada longsor!" teriaknya keras-keras.
Nuning baru selesai bicara, Bukit Karangkobar bergemuruh terpatah. Petir menyambar secepat kilat, air bagai ditumpahkan selautan dari atas langit. Teriakan bersahut-sahutan, suaranya tertelan air bah yang meluncur cepat, membawa gumpalan lumpur dan segala dari atas bukit. Menyapu semua yang ada.
"Kang Aseeep!!!" teriak Nuning panik. Di depan matanya air bah bercampur lumpur menggulung suami dan ketiga buah hatinya. Kakinya berlari menghampiri mereka, tak ayal dia pun ikut tergulung di dalamnya.
Tuhan, selamatkan kami. Demi bayi tak berdosa dalam rahimku ini, ya Allah, selamatkan kami, jerit hatinya berulang-ulang.
Nuning serasa terpendam dalam rawa hitam pekat, diayunkannya kaki dan tangan sekuat tenaga. Sambil tak henti berdoa, dia berenang dalam lumpur. Tak dihiraukannya rasa sakit yang mencengkeram perutnya. Allahu akbar, selamatkan kami, ya Allah. Selamatkan keluargaku, pintanya terus menerus. Entah sudah berapa lama, tiba-tiba seperti ada yang menuntun tangannya untuk meraih batang pohon yang tumbang. Dipegangnya erat, dikumpulkanya tenaga untuk naik di atasnya.
Nuning mengusap wajahnya yang berlumpur, dibukanya mata lebar-lebar melihat sekelilingnya. Hanya sepi, tak ada sesiapa. Tak ada suami dan buah hatinya. Hanya lumpur yang menggenang, dan kampungnya telah hilang binasa.
"Ada orang di tengah rawa!" terdengar orang-orang riuh berdatangan. Nuning sempat melihat mereka sekilas, untuk kemudian tak sadarkan diri. Tahu-tahu dirinya sudah berada di rumah sakit, dan bayinya sudah terbaring di sampingnya.
"Di mana suami dan anak-anak saya, dokter?" tanya Nuning pada setiap petugas yang mendekat.
"Yang terpenting sekarang, memulihkan kondisi Ibu. Kita akan bantu sebisa kami. Mereka tentu juga sedang mencari Ibu. Yang sabar ya, Bu. Ada banyak orang yang seperti Ibu," hibur mereka. Dan Nuning terus menunggu, seminggu, sebulan ..., mereka seperti hilang ditelan bumi. Hingga Nuning pulih, mereka tetap tak kembali.
"Ikhlaskan mereka, Bu Ning. Fokus pada dedek bayi. Mungkin Allah punya rencana lain, "tutur Mbak Menik, relawan yang menyediakan rumahnya untuk penampungan sementara.
Nuning masih menatap nanar Bukit Karangkobar. Bukit itu kini tak setegar dulu. Bayang-bayang suami dan putri-putrinya seolah berlarian di sana.
"Oaaa ... oaaa ... oaaa ...."
Nuning menyeka bulir-bulir air matanya. Suara tangisan si Asep kecil membangunkannya dari lamunan. Bocah enam bulan itu sudah bangun dari lelap rupanya.
"Ya, sayang," sahut Nuning sambil berlari. Diangkatnya si kecil dari ayunan. Digendong dan disusuinya dengan penuh kasih. Bagaimanapun, kehadirannya harus disyukuri.
"Em ... mam ... mam ...," celoteh si kecil dengan lucunya. Nuning menjentik hidung mungilnya.
"Tak apa, sayang. Emak masih punya kamu. Kau masih punya Emak. Dan kita, masih punya Allah. Dia tak akan menelantarkan kita, sayang," gumamnya pada si kecil.
Asep kecil menghentikan isapannya, menatap ibunya lekat-lekat, lalu dimasukkannya tangan mungilnya dalam mulut ibunya. Nuning menangkap tangan mungilnya, dan mengusap kepalanya lembut. Dibawanya si kecil keluar rumah. Rumah yang sudah ditempatinya sejak empat bulan lalu. Rumah sederhana yang dibangun dari kebaikan penduduk desa dan bantuan dari pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Memang tak sebesar rumahnya dulu, tapi cukuplah untuk berteduh dia dan bayinya.
"Lihat, sayang. Bapak dan kakak-kakakmu melambai di sana. Mereka mengingatkan kita. Ramadhan sudah dekat. Mereka menunggu kiriman doa-doa kita. Kalau Emak puasa nanti, Asep jangan rewel ya," gumam Nuning pada bayinya. Anak itu tertawa-tawa seolah mengiyakan perkataan ibunya. Setidaknya, tawanya menepis sedikit duka yang masih menyelimuti hati Nuning. Duka karena kehilangan suami dan tiga buah hatinya.
#Demak, 04062015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar