Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Rabu, 24 Juni 2015

Kopiah pak haji

Judul: Kopiah Pak Haji
Oleh : Titien SDF
Jenis: Cermin

Siang begitu terik serasa membakar kulit kepala. Kuangkat keranjang cucian ke atas kepala, berharap dapat mengurangi sedikit rasa panasnya. Keranjang itu lama-lama terasa berat juga. Isinya cucian bersih yang sudah disetrika. Ibuku memang buka usaha laundry di rumah, dan aku bertugas mengantarkan ke pemiliknya.

Kuturunkan keranjang dari atas kepala. Sebuah kopiah tersembul di atasnya. Kebetulan nih, pikirku sambil memakainya. Sedikit mengurangi panas matahari, batinku. Rumah pak haji sudah terlihat, tak sampai lima menit lagi cucian ini sampai ke pemiliknya. Pak Haji Yusman orang baik, dia pasti tak keberatan kalau kopiahnya kupinjam sebentar.

"Hoi! Siapa saja yang di situ! Tolong  bantu saya sebentar!" teriak sebuah suara. Sepertinya dari arah rumah Bu Khosnia.

Kuhentikan langkah, meletakkan keranjang cucian di poskamling depan rumah Bu Khosnia, lalu memberanikan diri masuk halaman rumahnya. Terlihat Bu Khosnia sedang berada di dalam kolam pojok halaman rumahnya. Beliau tampak sibuk.

"Eh, Wahyu! Tolong kamu jaga dekat pojok kolam sana. Jangan sampai ikannya menerobos lubang masuk dalam selokan!" perintahnya sambil masih sibuk mencari sesuatu di dalam kolam.

Aku melangkah ke arah yang ditunjukkan Bu Khosnia, ternyata air mengalir deras ke arah sana. Ikan-ikan lele peliharaannya ikut terbawa menuju selokan besar.

"Mau dikuras, Bu?" tanyaku sambil menutupi lubang dengan dua tanganku, tapi masih ada celah juga.

"Iya, tadi sudah kutaruh keranjang untuk menutup lubangnya, tapi malah diambil Ryu buat main pasar-pasaran. Duuuhhh ...," keluhnya.

Tanpa pikir panjang, kulepas kopiah di atas kepala, kupakai untuk menutup lubang lalu menahannya dengan dua tangan. Air tetap mengalir deras, tapi ikan-ikannya tak dapat melewatinya. Beberapa lama tanganku tetap menahannya sampai air habis. Kubantu Bu Khosnia memunguti ikan-ikan yang menggelepar kehabisan air dan menaruhnya dalam.ember besar.

"Terima kasih ya, Wahyu. Kamu boleh bawa beberapa ikan untuk dimasak ibumu. Ini, bawalah ...," katanya sambil memasukkan beberapa ikan lele ke dalam kantong plastik, lalu diberikannya padaku.

"Alhamdulillah, terima kasih, Bu. Ibu pasti senang," jawabku.

Selesai menolong Bu Khosnia, aku teringat pada tugas yang belum selesai kukerjakan. Kuangkat kembali keranjang cucianku dan mengantarkannya ke rumah pak haji.

Pak haji sedang duduk-duduk di teras saat aku sampai ke rumahnya.

"Eh, Nak Wahyu sudah datang. Sini, sini, sudah saya tunggu sejak tadi. Kopiah saya ndak ketinggalan to? Nanti mau saya pakai untuk tarawih di masjid," sambutnya ramah.

Kopiah? Aku tersentak kaget. Bagaimana ini? Pasti masih tertinggal di kolam Bu Khosnia. Aku yang salah, aku akan jujur saja, tekadku.

"Eh, oh, maaf, Pak Haji ..., tadi ... bla-bla-bla .... Jadi, kopiahnya ... belum bisa saya kembalikan," jawabku takut-takut.

"Oh begitu? Ya sudah, ndak apa-apa. Kalau begitu tolong anterin Bapak beli kopiah baru ya," sahutnya ringan. Sedikit beban terlepas dari hatiku. Alhamdulillah.

"Naik apa, Pak?" tanyaku, masih takut-takut. Kan tadi cuma jalan kaki dari rumah.

"Ealah, ya masak jalan kaki to, Nak Wahyu. Naik motor Bapak saja. Bapak kan sudah tua, jadi kamu yang boncengin Bapak."

Aku mengangguk lega, alhamdulillah. Karena kopiah pak haji, aku bisa menolong orang. Karenanya pula, ibu bisa memasak ikan. Dan Pak Haji tidak marah padaku, sepanjang jalan beliau malah memujiku karena menggunakan kopiahnya untuk hal yang baik dan berterus terang kepadanya. Beliau bahkan memberiku hadiah sarung lengkap dengan pecinya. Alhamdulillah, kopiah pak haji memang benar-benar berkah.

#Demak, 23062015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar